"Kenapa ada manusia papan itu di sini? Merusak mood saja!"
Baru turun dari taksi, Airin sudah mengomel dengan mulut merconnya. Kadang aku heran, apa dia itu menelan kamus bahasa sarkas kali, ya, selalu punya koleksi u*****n tak terduga di setiap kesempatan.
"Manusia papan?" Aku mengedarkan pandangan, mencoba menemukan sumber yang menjadi bahan u*****n Airin.
"Tuh!" Gadis itu mengedikkan dagu ke arah pintu.
Rupanya di undakan terakhir tangga menuju kafe Gibran, ada dua orang penjaga yang berdiri tegap. Salah satunya Marvel, pengawal yang kemarin menyeret paksa Ellin pulang.
"Tiati, Neng, dendam kesumat begitu nanti jatuh cinta, loh."
"Amit-amit jabang jenglot!" ucapnya sambil mengetuk kepala dua kali. "Kalau di dunia ini hanya ada dia satu-satunya pria yang tersisa, aku akan lebih memilih menikahi robot tampan seperti Nam Shin ketimbang manusia salju berwajah papan seperti Marvel."
"Yakin? Kalau dilihat-lihat, Marvel itu mirip pedang abadi, loh. Tubuhnya tegap, selalu sigap, dan wajahnya juga lumayan tampan."
Aku serius, Marvel itu memang tampan. Mirip Woo Do Hwan si pedang abadi Raja Lee Gon sekilas, tapi matanya tidak sesipit itu. Wajahnya bersih meski yang dikatakan Airin ada benarnya. Dia mirip manusia papan yang ekspresinya selalu datar.
"Sudahlah, lebih baik kita segera masuk, atau nenek sihir itu akan mengomel."
Airin menyeret tanganku, menaiki anak tangga setengah berlari, dan yang membuatku nyaris tertawa adalah bagaimana Airin membuang muka di hadapan Marvel. Gadis itu memalingkan wajah kasar, sambil membuka pintu kafe.
Seperti biasa, pengunjung hari ini juga cukup ramai, meski tidak seramai hari itu.
Aku tersenyum dan mengangguk sopan ketika Nyonya Diana melambai ke arah kami. Perempuan itu terlihat kuyu. Dandanannya tidak segelamor biasa, meski warna lipstiknya masih merah menyala.
"Ayy, aku duduk di sini saja, ya." Airin menunjuk kursi yang tidak jauh dari pintu masuk.
Aku tahu persis alasannya, dia pasti ingin mencuri-curi pandang ke arah Gibran. Dari beberapa kursi yang kosong, sudut inilah yang paling cocok untuk hobinya itu. Dari sini, Airin bisa memandangi Gibran tanpa takut akan ketahuan.
"Tidak mau ikut berkenalan dengan mamanya? Katanya naksir Gibran?"
"Naksir, sih, tapi seperti yang kamu bilang waktu itu. Nenek sihir seperti dia tidak bisa menjadi mertuaku, jadi aku memutuskan untuk hanya naksir saja. Tidak lebih."
"Ya, sudah. Semoga tidak menyesal, ya."
Aku menghampiri Nyonya Diana dengan jutaan tanya di benak. Aku ingin menanyakan banyak hal tentang Ellin, dan juga, kenapa sekarang tempat ini dijaga oleh Marvel.
"Nyonya."
"Silakan–"
Aku segera menarik kursi yang berhadapan dengannya, tanpa menunggu perempuan itu mempersilakan. Nyonya Diana sampai menghentikan kata-katanya, dan menampilkan ekspresi kurang suka padaku.
"Ada apa Nyonya memintaku datang kemari? Apa ini ada kaitannya dengan Gibran atau Ellin?"
Nyonya Diana meraih tanganku di atas meja dan menampilkan wajah sedih.
"Papanya Ellin tahu kalau kemarin aku menyembunyikannya di rumahmu, karena itu sekarang aku jadi terus diikuti oleh mereka."
Perempuan itu mengedikkan dagu ke arah pintu. Meski tidak disebutkan, aku tahu kalau yang dimaksud itu adalah Marvel.
"Lalu bagaimana keadaan Ellin sekarang? Apa dia baik-baik saja?"
"Untuk apa menanyakan lagi apa yang sudah kuberitahu?"
Bagus! Si perusuh otak malah ikut bergabung dan berdiri di dekatku. Mendadak aku berharap agar banyak pengunjung yang datang, agar Gibran sibuk melayani para pelanggan saja dari pada merecokiku begini.
"Bisa tidak, Anda tidak ikut campur kali ini?" Aku mencebik kesal. Pria bernama Gibran ini benar-benar sangat menyebalkan. Bukannya pergi, dia malah ikut bergabung denganku dan mamanya.
"Ikut campur bagaimana? Yang kalian bicarakan itu Ellin, adikku. Semoga kalian tidak lupa."
Aku memutar bola mata malas dan tidak bisa membantah lagi. Biar bagaimana pun, dia benar. Dibanding dirinya, akulah yang lebih asing di sini sekarang.
"Jadi, bagaimana?"
"Dia dikurung, seperti yang sudah kuberitahu." Gibran baru saja mendaratkan bokongnya di kursi sebelahku.
Tahu apa yang paling menyebalkan?
Pria itu menggeser kursi lebih dekat, sampai lenganku nyaris bersinggungan dengan lengannya.
"Papanya sangat kecewa, jadi mengurung Ellin di kamar dengan penjagaan super ketat." Itu Nyonya Diana yang berbicara. "Tapi, Gibran, kenapa kamu di sini? Tsurayya benar, sebaiknya kamu kembali ke tempatmu saja. Mama perlu membicarakan banyak hal dengan gadis ini."
"Aku juga ingin membicarakan sesuatu dengan Mama."
"Nanti saja, Mama harus bicara dulu dengannya."
"Tidak bisa, Ma. Ini tentang calon menantu yang selalu Mama tanyakan."
"Maksud kamu? Apa sekarang kamu sudah punya pacar?" sahut perempuan itu antusias. Wajahnya yang murung, seketika berubah cerah.
"Bukan pacar, Ma, tapi calon istri."
Gibran menyikut lenganku, dan tersenyum lebar sambil memandangiku. Wajahnya benar-benar sangat dekat dengan wajahku karena posisi duduk kami yang nyaris berdempetan.
"Gadis ini, yang ada di sampingku, dia adalah perempuan yang sebentar lagi akan menjadi menantu mama."
"Apa? Bagaimana ... bisa? Jadi, gadis itu ternyata kamu sendiri, Ayy?"
Sekarang Mak Lampir yang tiba-tiba ikut bergabung dan sudah berdiri di dekat Nyonya Diana. Dua perempuan itu sama-sama memasang wajah terkejut yang sangat tidak elegan.
"Tunggu sebentar, saat jam Cinderella waktu itu memang benar, bukan hanya ada aku tapi juga kamu." Airin terlihat sedikit berpikir, matanya menyipit dan alisnya nyaris bertemu. Dalam sekejap, dia sudah menjadi petugas introgasi paling menyebalkan di muka bumi. "Lalu bagaimana dengan cinta masa kecil yang kamu bicarakan, apa mungkin ...."
Airin berganti melihat ke arah Gibran. Pria itu memasang wajah tidak mengerti. Aku yakin, saat ini otak Gibran pasti sedang berusaha keras memahami kata-kata si Mak Lampir ember.
"Apa-apaan ini? Apa yang kalian bicarakan sebenarnya?"
Nyonya Diana meneliti wajah kami bertiga satu satu. Sepertinya dia tidak paham dengan apa yang sedang terjadi.
"Jadi begini, Tante,"ucap Airin sambil bersedekap. "Sebelumnya Ayya bilang, Gibran bukan tidak mau menikah, tapi sedang menunggu cinta masa kecilnya."
"Kalian membicarakanku?"
"Memangnya siapa lagi di sini yang namanya Gibran?" jawab Airin ketus.
"Cinta masa kecil?"
"Iya. Ini sedikit rumit untuk dijelaskan, tapi faktanya memang begitu. Aku menunggu gadis ini selama tujuh belas tahun."
"Ap-apa?!" Aku yakin, saat ini perempuan itu pasti sedang salah paham.
"Nyonya, aku sama sekali–"
Aku hendak menjelaskan kalau semua ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pena ajaib. Aku tidak mau klienku berpikir bahwa aku memanfaatkan pena ajaib itu untuk diri sendiri. Namun belum sempat membuka mulut, ponsel Gibran berdering dan menghentikan semua yang hendak kukatakan.
"Ellin?"
Gibran mengerutkan kening ketika mengeja deretan huruf yang ada di layar ponsel.
"Load, Mama mau dengar juga," pinta Nyonya Diana sebelum Gibran mengangkat telepon.
"Hallo?"
Pria itu meletakkan ponsel di atas meja, lalu menekan tombol load speaker.
''Kakaaak! Tolooong!''
Ellin berteriak dengan suara serak. Aku yakin gadis itu sedang menangis sekarang.
"Ellin! Ellin, ada apa?"
"Jangan bunuh aku, kumohon," rengek gadis itu di seberang sana. Entah dengan siapa dia berbicara.
"Ellin, jawab Kakaaak!"
Gibran berdiri dengan gerakan sangat cepat dan terlihat panik sekarang. Aku juga merasakan hal yang sama, apalagi saat mendengar perkataan Ellin.
"Tidak, kumohon. Biarkan aku dan bayiku hidup."
"Aku tidak membunuhmu. Aku hanya ingin membantu mengakhiri penderitaan."
Suara orang laki-laki yang sepertinya sedang mengancam Ellin. Tiba-tiba aku teringat dengan bayangan gadis yang memegangi perutnya dengan tangan penuh darah. Apa mungkin itu Ellin?
"Gibran, Nyonya, lebih baik kita ke sana sekarang. Sepertinya Ellin dalam bahaya."