Jangan Pergi

1222 Words
Selalu ada hal aneh yang terjadi setiap kali aku berusaha menuliskan kisah Gibran. Seolah dia adalah tokoh yang menentukan jalan hidupnya sendiri. Sejak pertama kali mencoba menggoreskan pena dengan namanya, bagian yang tidak direncanakan selalu muncul. Aku mulai tidak yakin dengan keajaiban pena itu, ketika menyadari bahwa setiap apa yang tertulis justru berbalik, dan terjadi pada diri sendiri. Seperti pertemuan yang kubuat tentang cinta masa kecilnya, juga tentang dua orang yang berlari di bawah hujan waktu itu. "Apa keajaibanmu sudah musnah?" Aku berbicara sambil mengayun-ayunkan pena itu di depan wajah. Menatapnya seolah dia bisa melihat dan mendengar semua yang kukatakan. Pikiranku kembali pada nasib Ellin. Kemarin Marvel tetap membawanya pergi. Meski Gibran bilang kalau papanya tidak melakukan apa-apa selain mengurung gadis itu, tapi aku khawatir dengan keadaannya. Biar bagaimana pun, aku juga pernah merasakan apa yang dirasakan Ellin. Ingin diperhatikan oleh orang tua. "Apa aku menulis kisahnya saja, ya?" Tangan refleks mengetuk-ngetukkan pena ke kepala, berharap sesuatu yang ajaib akan terjadi, tapi tidak ada apa pun. "Aih, aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang gadis itu, selain dia adalah adik tirinya Gibran. Bagaimana bisa aku menulis kisahnya? Lagipula, aku juga tidak bisa menulis dua kisah sekaligus," gumamku panjang pendek. Tidak ada yang menyahut sama sekali, meski itu jangkrik sekalipun. Bahkan udara hari ini juga seakan mengejek kebuntuan otak, dan juga kegilaan mengomel sendiri. Lihat saja, dia malah membuat gorden jendela kamar menari-nari, seolah mereka juga sedang mengolok ketidakberdayaanku atas keadaan ini. "Ayy, aku tidak menyukai Ellin, tapi setelah dia pergi, kenapa aku merasa kehilangan, ya?" Airin tiba-tiba saja masuk ke ruang kerjaku. Tempat di mana aku menerima klien dan juga menulis kisah yang mereka inginkan. "Aku juga sedang memikirkannya. Kupikir tadinya aku akan menulis kisah anak itu, tapi ternyata pena ini menolak untuk menulis dua kisah sekaligus." Airin mengembuskan napas kasar, dia terlihat sangat berbeda hari ini. Maksudku, mulut wasabi yang biasanya meledak-ledak seperti petasan, sejak kepergian Ellin hanya bicara seperlunya saja. "Kamu tahu, kenapa kemarin aku pulang lebih cepat?" tanyanya mengingatkan tentang apa yang juga menjadi pertanyaanku saat melihatnya pulang kemarin. Aku menggeleng tanda tidak tahu. Tidak ingin menebak, juga tidak punya tebakan yang kurasa tepat. "Sebenarnya kemarin itu aku masih ada kelas, tapi tiba-tiba saja ingin sekali pulang. Anak manja itu terus muncul di kepalaku. Aku merasa kalau sebenarnya aku juga tidak jauh berbeda darinya," jelasnya panjang lebar. "Seperti sekarang, alasanku tinggal di rumahmu adalah karena mama dan papa yang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Mereka terus memikirkan bisnis dan hanya memberiku uang. Kalau masalahnya hanya uang, aku bahkan mendapatkan banyak dari hasil endorsment, tapi kealpaan orang tua selalu menyisakan rasa sakit." Aku tahu persis perasaan Airin. Sejak kecil, aku tidak pernah tahu seperti apa sosok ayahku. Selama dua puluh tujuh tahun, aku hanya satu kali melihat mama tersenyum di hadapanku. Hari di mana dia mengajakku jalan-jalan sebelum dibuang ke panti asuhan. Airin pernah jatuh sakit dan harus menjalani operasi usus buntu saat kedua orang tuanya tidak di rumah. Dia harus melewati masa-masa sulit itu sendirian di rumah sakit, dan terus merengek padaku agar mau menemaninya. Sejak saat itulah, Airin lebih memilih tinggal di rumah ini setiap orang tuanya pergi. "Kepalaku sakit, Rin. Aku tidak pernah memikirkan hidup orang lain sebelumnya seperti memikirkan Ellin, ini benar-benar menyebalkan. Kenapa aku harus berurusan dengan keluarga Nyonya Diana yang rumit itu?" Aku mengacak rambut yang sudah sejak dua hari lalu tidak disisir. Hanya dicepol lagi dan lagi. Di saat seperti ini, bahkan getaran ponsel ikut membuat kepalaku semakin sakit. [Bisa kita bertemu?] Pesan masuk dari Nyonya Diana. Aku mengembuskan napas kasar, berharap ada sedikit beban yang turut serta menghilang, tapi semuanya sia-sia. Aku tetap tidak bisa mengabaikan semua ini begitu saja. [Di mana?] Sebenarnya aku malas bertemu dengan nenek sihir itu, tapi bagaimana pun, aku juga penasaran dengan nasib Ellin. Mungkin setelah papanya mengurung gadis itu, dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Daniel lagi, dan yang paling buruk adalah papanya akan memaksa Ellin menggugurkan kandungannya. Itu yang kudengar dari Gibran, semoga dari semua kemungkinan buruk itu, masih ada keajaiban lain yang bisa terjadi. Lagi pula, memangnya bisnis apa yang lebih penting dari kebahagiaan seorang anak? Ah, lupakan saja. Sampai hari ini bahkan aku masih tidak tahu alasan mama selalu menatapku penuh kebencian. Bagaimana mungkin aku tahu hal apa yang para orang tua anggap penting? [Kafe Gibran.] "Kenapa harus di sana, sih?" gerutuku setelah membaca balasan dari Nyonya Diana. "Ada apa?" Airin mengerutkan kening saat bertanya. Mungkin dia heran dengan kekesalanku. "Nenek sihir itu mengajak bertemu di kafe milik Gibran." "Lalu, kenapa kamu kesal? Bukannya itu bagus? Kamu bisa sekalian mengamati pria itu, 'kan?" Aku memutar bola mata malas. Mengamati apanya? Yang ada dia akan terus merecokiku lagi dengan omong kosongnya. "Kamu bisa ikut?" "Tentu! Dengan senang hati." "Cih, dasar ganjen. Tadi saja kamu terlihat mirip manusia normal yang peduli dengan orang lain, sekarang, begitu membahas Gibran jiwa centilmu langsung kembali." "Aku bukan centil, Ayya. Asal kamu tahu saja, melihat wajah pria tampan itu bisa membuat kita bahagia, dan kebahagiaan akan meningkatkan imunitas tubuh. Aku hanya sedang ingin menjadi pribadi yang sehat." Aku hanya menggeleng, tidak habis pikir dengan orang-orang di sekitar yang selalu mudah berubah-ubah. Seperti Airin dan Gibran, tingkah laku mereka benar-benar sulit ditebak. "Lagian, sampai detik ini, masih menjadi misteri tentang siapa yang lebih normal dan siapa yang tidak waras di antara kita," lanjutnya masih membela diri. "Aku waras, asal kamu tahu." "Tapi jorok, jarang mandi, jarang sisiran, sering lupa makan, tidur di mana saja, dan tidak pernah pacaran. Itu adalah indikasi ketidaknormalan." "Tapi cantik, kan?" balasku cepat sambil memamerkan senyum penuh percaya diri. "Cantik pantatmu!" Aku hanya merangkulnya dan menjepit leher gadis itu di ketek. "Kamu benar, pantatku saja cantik, apalagi wajahku." "Yak! Tsurayya! Ketekmu bau. Sudah berapa hari tidak mandi?" teriaknya sambil menjepit hidung dan berusaha melepaskan diri. "Hanya kemarin dan hari ini aku tidak mandi, tapi dua hari ini aku lari pagi, jadi lumayan banyak memproduksi keringat." "Dasar jorok! *** Setelah dipaksa mandi oleh Airin, aku berangkat ke kafe dan menemui Nyonya Diana dengan ditemani oleh si Mak Lampir. Airin terlihat sangat bahagia hanya karena akan bertemu Gibran. Aku yakin, dia pasti akan mengomel panjang lebar kalau sampai tahu apa yang dilakukan oleh Gibran padaku tempo hari. Tentang sepatu itu, juga pengakuanya tentang penantian tujuh belas tahun. Hahaaa! Aku masih saja merasa kalau Gibran benar-benar konyol. "Rin, aku mengantuk. Bangunkan aku kalau sudah sampai, ya," pintaku sambil merapatkan jaket, lalu memejamkan mata. Sebenarnya sayang sekali, membuang uang hanya untuk naik taksi online ke kafe Gibran yang tidak terlalu jauh. Hanya saja, aku sedang tidak bersemangat untuk jalan kaki. Baru saja memejamkan mata, aku seperti terlempar ke sebuah tempat asing. Aku bisa mendengar obrolan Airin dengan supir taksi, tapi seluruh tubuhku tidak bisa digerakkan dan tidak bisa memilih untuk membuka mata. Lagi-lagi bayangan itu muncul. Seperti ada dentingan musik mengiringi langkah sepasang kaki yang menjauh, dan seorang gadis memegangi perut dengan tangan yang berlumuran darah. "Jangan pergi." Aku tersentak ketika mendengar perempuan yang mengatakan jangan pergi dengan suara lemah. Selalu saja bayangan itu yang muncul. Perempuan yang terluka dan berada di tempat gelap, tapi setiap kali penglihatan itu datang, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku hanya tahu kalau dia seorang perempuan berambut panjang yang menggunakan dress selutut dan tanpa lengan. Siapa sebenarnya orang itu, dan kenapa dia terluka? Pertanyaan itu terus berputar di kepala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD