Terlatih patah hati!!!

1378 Words
Zya memutuskan untuk kembali ke kelas untuk mengambil tas untuk segera pulang ke rumah, entah kenapa ini pertama kali nya zya ingin sekali berada di rumah dan merasa lebih nyaman di rumah yang biasanya membuat nya tak pernah nyaman. di susul oleh tiara dan sheren yg ikut akan pulang . Saat menuju kelas terlihat pemandangan yg entah kenapa seperti ada yg menusuk di d**a, terlihat di ujung luar kelas milen tersenyum sambil memegang tangan aga yg tampak membelakangi zya, milen langsung menatap zya sambil tersenyum dan menyapanya " hei zya" sapa milen, zya menjawab dengan anggukan dan senyum sedikit sambil memasuki kelas untuk mengambil tas, hati zya merasa ingin sekali cepat cepat ada di rumah bahkan ingin hilang sekejap. " hmm, udah lah ya. lo ga usah berharap lagi" potong sheren membuyarkan lamunan zya. " hei , gw duluan ya mau jalan dulu sama hendi" teriak tiara sambil berlalu terburu karna pacar nya hendi menyusul nya. " ok" kompak zya dan sheren menjawab " gw mau ngomong, tapi gw nunggu tiara pergi dulu" ucap sheren, membuat zya bertanya tanya " gw tau lo berdua ada feel yg sama, tapi gw harap sebaik nya lo stop di sini ga usah lo berharap dan ga usah lo ber urusan sama milen lagi, kalo dia ajak lo buat berteman saran gw sekedar nya saja ga usah terlalu deket, lo tau sendiri kan tabiat nya dia" perjelas sheren " gw...." zya bingung harus jawab apa yang sudah di perjelas sheren " terus buat apa dia dateng ke rumah gw ,mohon ke gw sampai dia janji hutang penjelasan ama gw ren " tanya zya kesal sambil menunjuk ke arah aga yg masih terlihat di ujung luar kelas. " gw tau , lo pasti kecewa sebelum mulai. tapi lo harus tetep happy gw ga mau lo ga di sekolah, ga di rumah, lo bad mood" sheren coba menenangkan zya sambil mengajak nya untuk bergegas pulang. ketika keluar kelas kembali milen menyapa zya sambil memegang jari aga, " balik zya?" tanya milen mencoba ramah padanya setelah apa yg dia lakuin pada zya kemarin. di lanjut aga yg menoleh ke arah zya namun dengan bola mata yg berlarian agar tak tertuju kepada zya. " ada apa ini? kenapa sakit sekali melihat sikap nya yang seperti itu" tanya zya pada diri sendiri. Zya membuat janji untuk diri sendiri untuk membuat jarak dengan aga dan milen, untuk menjaga kewarasan nya. Hari hari setelah nya zya coba melalui seperti biasa, menganggap aga seperti biasa juga namun kali ini beda tanpa rasa kagum. seperti biasa kita kumpul rame rame di base camp lantai 3 , karena lantai 3 masih banyak kelas kosong karena sekolah ini masih gedung baru. syukur zya mulai terima keadaan kemarin sambil menikmati keadaan yg sekarang. kemudian tetiba sanu memanggil nya, sanu merupakan salah satu yg terdekat dengan aga selain deni di bandingkan dengan yg lainnya. zya pun coba menghampiri sanu, namun anak cowo yang lain sambil gitaran menggoda nya " ciee" sorak mereka dan terlihat sheren dan tiara juga terlihat senyum. " ish pada kenapa sih" tanya zya heran sambil memberi kode pada sheren seraya bertanya ada apa. namun sheren malah memberi kode mengangguk kepala nya, makin membuat zya tidak mengerti. sanu mengajak zya ke pinggir tangga untuk bicara, " hmm ada apaan nih curiga gw" zya curiga seperti yg sudah sudah pasti sanu bakalan menyatakan perasaan nya, seperti yg pernah di lakukan oleh pandu, komo, ijal. Tapi nyatanya zya belum bisa menerima. salah satu dari mereka. sanu mulai pembicaraan dengan basa basi... tiba tiba ada suara memanggil nama zya dari arah tangga. suara itu... iy itu suara aga manggil nama nya seraya memotong apa yg akan di bicarakan sanu. sontak zya dan sanu menoleh ke arah bawah tangga terlihat aga menaiki tangga satu persatu menghampiri mereka. " Apaan sih ga? ganggu aja lo!!" saut sanu yg terlihat keki " zya di cariin sama bu vina, katanya ada masalah di nilai ujian matematika lo" potong aga , seraya memotong pembicaraan sanu. " heh,.iy ...iy bu vina di mana" sontak zya , siapa murid yg ga khawatir kalo berurusan dengan bu vina, guru killer di sekolah ini. " di bawah" jawab aga. " eh iy, san bentar ya, ada yang lebih urgent " pamit zya meninggal kan sanu, dan entah mengapa aga mengekori zya dari belakang, zya jalan bergegas ke arah kantor alih alih apa yang di katakan aga mengenai nilai nya yang bermasalah. ketika turun ke lantai 2 menuju ke ruang guru, tetiba aga menggapai tangan zya dan menariknya turun ke lantai satu, zya coba lerai untuk melepas nya, namun genggam an aga makin kencang dan menarik nya ke lantai satu bawah tangga yang di mana tangga ini tidak pernah di lewati penghuni sekolah lainnya karena pagar nya selalu ter kunci sehingga penghuni sekolah lainnya menggunakan tangga yg di sebelah utara sekolah. langkah aga berhenti di sudut bawah tangga lantai 1, zya langsung menghentakan tangannya agar lepas dari genggaman aga. " apa apaan ini??" tanya zya kesal, padahal zya baru saja mengusir aga dari pikirannya, namun saat ini aga berdiri tepat di hadapan zya dengan tinggi diatas nya , kulit yg sedikit lebih cerah dari nya. terpampang jelas wajah nya di depan wajah zya " ya tuhan apalagi ini? kenapa dia muncul lagi di hadapan ku" isi kepala zya seraya agar hati dan pikirannya tak goyang karena dengan jelasnya wajah aga di hadapan zya yg mempesona. " sanu bilang apa ke lo?" tanya aga "apa apaan ini tanpa babibu langsung nanya yg bahkan gw ga tau apa yang mau sanu omongin" jawab zya dengan nada kesal. " maksud lo apa, narik gw ke sini? jangan bilang lo bohong kalo gw di panggil bu vina? " tuduh zya pada aga seraya sambil menunjuk jari telunjuk nya pada wajah aga. " jadi sanu belum ngomong apa apa ama lo" potong aga dengan mengalihkan pertanyaan zya. " apaan sih? ngomong apa?" tanya zya berpura-pura tak tahu . " sanu mau nembak lo" jelas aga " terus ...urusannya ama lo apa?" tanya zya sinis. kembali aga terdiam " yang gw tau lo kan deket ama sanu di bilang best freind, lo tau temen lo mau nembak cewe, terus kenapa cewe yang mau di tembak ama temen lo malah lo ajakin ke sini, dengan pertanyaan bodoh lo" perjelas zya di liputi rasa yg makin kesal terhadap nya. " kalau seandainya sanu nembak lo, apa yang bakal lo jawab?" kembali tanya aga " hei... apa urusannya ama lo tentang jawaban gw, mau gw terima atau engga bukan urusan lo" pertegas zya. terlihat raut wajah aga seperti penyesalan membuat bergidik di d**a nya, " apa gw terlalu keras terhadapnya" tanya zya dalam hati " harus nya kalo lo memang temen yang baik lo dukung temen lo biar punya cewe" singkat zya sambil beralih meninggalkan aga terpaku agar hati nya tak goyah karena berhadapan dengan jarak yg dekat dengan nya " Jangan terima " perkataan aga yang singkat yg membuat langkah zya menaiki anak tangga yg ke tiga terhenti "apa? apa maksudnya? kenapa dia meyuruh ku menolak teman baik nya." tanya zya dalam hati , sambil berbalik ke arah aga untuk bertanya maksud perkataannya. namun aga sudah ada di hadapan zya tepat berada satu anak tangga di bawah zya namun tinggi nya menyamai nya, karena postur tubuh aga memang tinggi . deg pipi zya memerah wajah, aga tepat berada sangat dekat di depan wajah zya. " plizz jangan terima, jangan terima sanu kalau nanti nya akan nyakitin hati sanu atau pun lo hanya karena pelampiasan" ucap aga dengan nafas nya yang juga menembus ke pori pori wajah zya, hingga membuat bulu kuduk di leher zya berdiri. " apa maksud lo? pelampiasan??" tanya zya sinis " gw perjelas ga, gw bukan cewe sepicik yang lo pikir, atau cewe yang gampangan. otak gw masih waras untuk milih sama siapa gw mau berhubungan tanpa di atur oleh siapa pun, termasuk lo" umpat zya dengan kesal namun sedih . bergegas zya meniinggalkan aga karena makin lama berhadapan dengan aga benteng yang zya bangun agar tak luluh pada aga akan runtuh. " iy ini bukan rasa kagum, sheren benar rasa ini lebih dari itu" gumam zya dalam hati sambil berjalan meninggalkan aga menjauh. tapi sebelum memulai kenapa bisa se sakit ini yang di buat oleh seorang AGA WIRYAWAN KUSUMA.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD