BAB 8: DARAH AYAH

1176 Words
"Tara! Bangun!" Alex nggak bisa gerak leluasa dengan Tara di punggungnya. Berat. Tangga darurat sempit. Gelap. Langkah kaki makin deket. Dari atas. Dari bawah. Mereka terkepung. Alex nelen ludah. Pilihan dikit. Waktu makin tipis. Tara masih pingsan, napasnya lemah. Darah dari kakinya terus ngucur, ninggalin jejak di lantai. "b*****t!" Alex nendang pintu lantai dua. Terkunci. Suara derap kaki makin deket. Tiga—mungkin empat—orang turun dari atas. Langkah berat. Sepatu boots. Alex kenal suara itu. Pasti bawa senjata. "Di sana!" Suara teriakan dari bawah. Alex ngeliat ke bawah. Dua orang berjaket item naik tangga. Tangan keduanya pegang pistol. Terjebak. Pikiran Alex berpacu. Otak survival-nya nyala. Lima tahun ngejar buron ngebuat dia hapal trik lolos dari kepungan. Tapi sekarang beda. Dia bawa Tara yang terluka. "Hai, Raja." Suara berat dari atas. Lelaki tinggi besar. Berotot. Kepala plontos. Bekas luka di pipi. "Udah lama nggak ketemu." Cecep. Yang katanya nembak Tara. "Turunin cewek itu," Cecep turun pelan-pelan. "Bos cuma mau lo. Dia nggak perlu mati." "Maju satu langkah lagi, kepala lo bolong," Alex ngancem, walau nggak bawa pistol. Cecep ketawa. "Sok jago. Mau lawan gue? Lima orang dengan senjata? Lo pikir masih di arena?" Benar. Dia bukan lagi Raja Gelap di arena. Sekarang dia cuma Alex yang terjebak di tangga sempit. Bawa cewek terluka. Tanpa senjata. Tanpa jalan keluar. Pikir. Pikir. Otaknya scanning opsi. Lompat? Terlalu tinggi. Serang? Terlalu berisiko. Menyerah? Nggak mungkin. "Woy!" Cecep mulai nggak sabar. "Gue kasih lo tiga detik. Satu..." Alex mundur pelan ke pojok tangga. Jemarinya neraba dinding. "Dua..." Ada. Panel listrik kecil. "Ti—" PRANG! Alex ngehantam panel dengan sikunya. Percikan api. Gelap total. Alarm kebakaran nyala. Sprinkler air muncrat dari langit-langit. "b*****h!" Cecep teriak. "TEMBAK DIA! TEMBAK!" Dalam gelap, Alex bergerak. Refleks petarung. Naluri predator. Dia turun dua anak tangga, bungkuk, terus nendang lutut orang pertama yang ngedeket. Suara retak. Jeritan. Satu jatuh. "DI MANA DIA?" Air dari sprinkler bikin lantai licin. Gelap. Alarm bikin panik. Alex memanfaatkan kekacauan. Dia ngeloncat ke dinding, nendang d**a orang kedua. Bunyi bedebuk keras. Tara masih di punggungnya. Pingsan. Basah kuyup. Alex harus cepet keluar dari sini. "JANGAN BIARKAN DIA LOLOS!" Teriakan dari atas. Suara tembakan. Peluru nyasar kemana-mana. Alex liat kesempatan. Dia lari turun. Cepet. Kaki-kaki terlatih menghindari tubuh yang tersungkur. Napasnya teratur. Jantung stabil. Mode petarung aktif. Lantai dasar. Pintu keluar darurat. Alex nendang. Terbuka. Alarm semakin keras. Orang-orang panik. Berlarian. Sempurna. Di lorong, Maya nunggu. Muka kaget liat Tara lemas di punggung Alex. "Kenapa lama banget?" Maya narik Alex ke lorong sepi. "Gue kira lo mati!" "Hampir," Alex ngos-ngosan. "Mereka kepung gue di tangga. Irfan ketembak." "Irfan?" Maya ngerutin dahi. "Bukannya dia..." "Dia nolong gue, sial." Alex potong. "Kita harus bawa Tara ke tempat aman. Dia butuh dokter." Maya ngangguk, nuntun ke pintu belakang. Motor udah siap. "Gue tau tempat aman. Naik!" Mereka naik motor. Alex di tengah, nahan Tara yang masih pingsan. Maya nyetir. Motor melaju cepet menembus malam Jakarta. Basah. Dingin. Berbahaya. "Tara bilang apa aja?" Maya teriak di tengah deru angin. "Banyak," Alex bales teriak. "Termasuk soal hardisk!" "Hardisk?" "Ceritanya panjang! Nanti aja!" Alex makin erat meluk Tara. Tubuhnya dingin. "Kita harus cepet!" Motor berbelok tajam masuk kawasan kumuh di Kemayoran. Gang sempit. Bau sampah. Gelap. Maya memperlambat laju, menyelip-nyelip di antara rumah sempit. "Di sini?" Alex nanya pas motor berhenti di depan gubuk reyot. "Tempat persembunyian terakhir yang bakal diduga orang," Maya turun, buka pintu reot. Alex masuk, ngebaring Tara di dipan bambu. Dia masih nggak sadar. Muka pucat. Bibir membiru. "Dia butuh dokter," Alex cemas. "Lo lupa gue muridnya siapa?" Maya ngeluarin kotak P3K dari lemari. "Bono ngajarin gue bukan cuma bertarung." Maya dengan cekatan ngebuka perban, ngeliat luka Tara. "Pelurunya masih di dalam. Harus dikeluarin." "Lo bisa?" "Pernah ngeluarin peluru dari paha Bono." Maya nyiapin peralatan. "Tapi bakal sakit. Banget." "Gue pegang dia," Alex duduk di samping Tara. Maya nyari pinset steril, alkohol, perban. "Pegang kakinya kuat-kuat." Tara tiba-tiba sadar saat pinset masuk ke lukanya. Jeritannya diredam Alex. "Sshh... tenang. Ini gue. Lo aman," Alex bisik. "Ka...rim..." Tara ngomong lemah, kesakitan. "Kita bakal nyari dia," Alex janji. "Tapi lo harus sembuh dulu." Maya kerja cepet. Profesional. Pinset menembus daging. Tara mengerang. Akhirnya peluru keluar. Kecil. Mengkilat merah. "Mantep. Nggak kena arteri," Maya lega. "Dia bakal selamat." Alex ngelap keringat di dahi Tara. "Lo tidur dulu. Gue janji bakal ngejaga lo." Tara ngangguk lemah. Matanya merem pelan. Napasnya mulai teratur. Alex berdiri, ngajak Maya ke luar. "Kita perlu bicara." Di luar, hujan rintik-rintik. Langit Jakarta nggak pernah bener-bener gelap. Selalu ada pendar lampu kota. Seperti dosa yang nggak pernah hilang. "Tara bilang ada hardisk yang gue bawa kabur dulu," Alex mulai. "Berisi data backing pertarungan ilegal. Nama-nama besar." Maya ngangguk. "Gito pernah cerita. Tapi dia nggak tau di mana lo nyimpen." "Masalahnya, gue juga nggak tau," Alex mengusap wajah, frustasi. "Mereka manipulasi ingatan gue. Pake obat." "Jadi peta itu buat apa dong?" "Entahlah," Alex duduk di tangga reot. "Tapi Tara bilang Karim dalam bahaya. Mereka nyari anak gue." "Kenapa anak lo?" "Dia bilang Karim itu... 'kunci'," Alex ngusap kepalanya yang berdenyut. "Gue nggak ngerti." Maya diem. Mikir. "Lo perlu inget, Ram. Sebelum mereka semua nemuin kita." "Gimana caranya?" "Otak punya mekanisme aneh," Maya ngomong pelan. "Kadang tempat yang sama, bau yang sama, atau orang yang sama bisa ngebalikin ingatan yang hilang." Alex ngerutin dahi. "Jadi gue harus balik ke tempat terakhir gue bertarung?" "Atau..." Maya natap Alex dalem-dalem. "...ke tempat terakhir lo ketemu Gito." Potongan memori tiba-tiba muncul di kepala Alex. Gito. Hujan. Tas berat. Hardisk kecil. Dan... sungai. Sungai Ciliwung. "Gue ingat sekarang," Alex berbisik. "Gito nunggu gue di pinggir Ciliwung. Kita sembunyiin hardisk itu. Tapi nggak di tempat yang sama dengan duitnya." "Dimana?" "Di..." Alex meringis, kepalanya sakit. "Di bawah jembatan Kampung Melayu. Di dalam ban bekas." Maya langsung berdiri. "Kita harus ke sana. Sekarang." "Nggak bisa," Alex nunjuk ke dalam. "Tara butuh gue." "Lo pikir mereka bakal nyerah nyari lo?" Maya ngebentak. "Mereka bakal nemuin tempat ini. Cepat atau lambat." Belum selesai Maya ngomong, HP-nya bunyi. Pesan. Maya ngebaca, muka berubah pucat. "Gila..." "Kenapa?" "Mereka nyulik Karim," Maya nunjukin layar HP. Foto bocah kecil diikat di kursi. Ketakutan. Mata merah nangis. "Mereka minta tukeran. Hardisk dengan anak lo." Alex ngerasain darahnya mendidih. Hatinya mencelos. Baru tau punya anak, sekarang anaknya diculik. "Siapa yang ngirim?" Suara Alex dingin. Terkontrol. Tapi matanya nyala berbahaya. "Krisna." Maya ngeliat Alex. "Mereka tau lo bakal nyari hardisk itu." Alex ngepalin tangan sampe buku-buku jarinya memutih. Darah mengalir dari telapak karena kuku yang menancap. "Anak itu..." Alex bisik pelan. "...dia bahkan nggak kenal gue." "Tapi dia punya darah lo." Maya nelan ludah. "Dan sekarang, lo harus nentuin: jadi ayah, atau tetep jadi Raja Gelap." Alex diem. Hujan makin deras. Air mata Karim di foto itu seperti hujan yang jatuh di hatinya. Dia udah buang terlalu banyak waktu. Terlalu banyak kehilangan. "Gue bakal ambil Karim, hardisk, dan kepala Krisna," Alex berdiri. "Dalam satu malam." Maya tersenyum tipis. "Itu baru Raja yang gue denger ceritanya." "Gue bukan Raja lagi," Alex natap ke arah jalan. "Gue sekarang ayah yang marah."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD