BAB 9: CILIWUNG BERBISIK

1192 Words
Gerimis makin deras. Ciliwung berwarna coklat. Deras. Banjir dadakan dari hulu. Sampah berdesakan di bawah jembatan Kampung Melayu. Bau busuk nyengat hidung. Alex jongkok di pinggir tepian, nggak peduli celananya kotor kena lumpur. "Yakin di sini?" Maya ngeliat sekeliling. Cemas. Jam dua pagi. Jakarta sepi. Cuma suara aliran sungai yang berisik. Sesekali motor lewat di atas jembatan. Selebihnya, cuma ada jangkrik dan katak yang bersahutan. "Yakin," Alex turun lebih bawah. Kaki terendam air. Dingin. "Gue ingat malem itu hujan gede. Kayak gini." Maya ngikutin, hati-hati melangkah di bebatuan licin. Senter kecil di tangannya nyorot lemah. "Lima tahun lalu," Alex terus jalan, meraba-raba tepian sungai. "Gue ketemu Gito di sini. Dia yang nyaranin nyimpen hardisk terpisah dari duit." "Kenapa harus dipisah?" "Asuransi." Alex berhenti, ngulurin tangan bantu Maya turun. "Kalo satu ketangkep, masih ada yang laen." Mereka sampe di bawah jembatan. Gelap. Bau pesing. Sarang tikus dan kecoak. Tempat dimana manusia jarang mau nengok. "Di sana," Alex nunjuk tumpukan ban bekas. Lima tumpuk. Hitam. Berlumut. "Ban ketiga dari bawah." Maya maju, nyorot senter. Alex mulai ngangkat ban. Berat. Licin. Berbau busuk. Ban pertama. Kedua. Akhirnya ketiga. "Nggak ada," Maya bilang. Alex ngerutin dahi. "Nggak mungkin." "Yakin ini tempatnya?" "Gue yakin banget," Alex makin panik. "Gue yang taro pake tangan gue sendiri." Keduanya diem. Hujan turun makin deras. Air sungai naik. Sedikit lagi nyampe kaki mereka. "Mungkin Gito pindahin," Maya ngasih pendapat. "Atau..." Alex ngeliat ke atas. "Ada yang udah nemuin duluan." Tiba-tiba suara tepukan tangan dari ujung jembatan. Alex dan Maya refleks berbalik. Siaga. "Kalian telat lima jam," suara serak terdengar. Sesosok tubuh jangkung mendekat. Berjalan santai. "Anak buah Krisna udah ngubek-ngubek tempat ini tadi sore." "Siapa lo?" Alex ngelangkah maju. Melindungi Maya. "Nama gue Joko," dia berhenti lima meter dari mereka. Basah kuyup. "Tukang sampah yang kerja di sini tiap hari." "Dan lo tau soal hardisk?" Maya curiga. "Gue tau banyak hal," Joko ngulurin telapak tangannya. Basah oleh hujan. "Termasuk siapa Raja Gelap." Alex tetep waspada. Nggak ada yang bisa dipercaya sekarang. "Lo kerja buat siapa?" "Diri sendiri," Joko nyengir. Gigi depannya tonggos. "Dan kadang buat Gito, kalo dia butuh bantuan." "Lo kenal Gito?" Alex kaget. "Siapa yang nggak kenal hansip tukang mabok itu," Joko natap Alex lekat-lekat. "Dia sering cerita soal temennya yang jagoan. Yang ninggalin dia." Alex nelen ludah. "Gito udah mati." "Gue tau," Joko mangut. "Mayatnya gue yang nemuin di pinggir kali ini. Overdosis katanya. Tapi lehernya lebam. Aneh kan?" Maya ngedeketin Alex. Berbisik. "Jangan percaya. Bisa jadi jebakan." "Kalo lo temen Gito," Alex nyoba memancing, "lo pasti tau dia simpen apa di sini." "Hardisk hitam kecil," Joko jawab tanpa ragu. "Berisi nama-nama penting. Bukti korupsi, bukti suap, rekaman video pejabat lagi main perempuan." Alex dan Maya saling pandang. Ini orang beneran tau. "Dimana sekarang?" Alex nanya to the point. "Di tempat aman," Joko nenggak air dari botol plastic kumel. "Gito nitip ke gue sebelum mati. Katanya suatu hari bakal ada yang nyari." "Buktiin lo beneran kenal Gito," Maya masih nggak percaya. Joko ngebuka kerah bajunya. Nunjukin tato kecil di leher. Tiga titik segitiga. Simbol yang sama dengan di tangan Maya. "Gue juga muridnya Bono dulu," Joko senyum tipis. "Sebelum lutut gue ancur." Alex mulai percaya. "Hardisknya, Mas. Gue butuh sekarang. Nyawa anak gue taruhan." "Gue tau," Joko ngangguk pelan. "Bono udah kontak gue tadi siang. Sebelum dia ditembak." "Bono udah rencanain semua ini?" Maya nggak percaya. "Dia tau cepat atau lambat hari ini bakal dateng," Joko ngeluarin bungkusan plastik dari sakunya. "Ini. Ambil." Alex nerima bungkusan itu. Berat di tangannya. Dia buka sedikit. Hardisk kecil. Masih bagus. Kering. "Kenapa lo nolongin gue?" Alex nanya, masih nggak percaya semudah ini. "Karena gue bosen," Joko melangkah mundur. "Bosen ngeliat orang-orang kayak Krisna dan Dewan maen-maen. Seenaknya. Ngebunuh semau mereka. Termasuk ngebunuh temen gue." "Gito..." "Dia orang baik," Joko natap ke sungai yang deras. "Dia yang ngasih gue kerjaan pas nggak ada yang mau nerima bekas petarung cacat kayak gue." Alex nunduk. Rasa bersalah mencekik. Gito. Sahabatnya. Mati gara-gara nyimpen rahasia dia. "Makasih," Alex ngulurin tangan. Joko nggak nyambut. "Lo masih punya satu masalah lagi. Anak lo." "Gue tau." "Krisna nggak bakal ngelepasin begitu aja," Joko mengingatkan. "Dia tau isi hardisk itu bisa ngehancurin banyak orang. Termasuk diri dia sendiri." "Gue bakal urus Krisna," Alex masukin hardisk ke saku dalam jaketnya. "Gue kenal dia lebih lama dari siapapun." "Tapi dia nggak sendiri," Joko memperingatkan. "Dewan punya orang dimana-mana. Polisi. Tentara. Bahkan di kalangan pengemis kayak kita." Alex ngangguk. Dia tau risikonya. "Lo punya rencana?" Joko nanya. "Punya," Alex ngeliatin air sungai yang semakin tinggi. "Tapi gue butuh bantuan." "Gue nggak bisa nolong banyak," Joko mengangkat kakinya yang pincang. "Tapi gue bisa kasih info." "Apa?" "Krisna nyimpen anak lo di arena Manggarai," Joko melempar batu ke air. "Tempat pertarungan lo terakhir dulu." Ingatan Alex langsung melesat. Arena bawah tanah. Bekas gudang tekstil. Tempat dia terakhir kali bertarung. Tempat semuanya dimulai. "Simbolis banget," Maya mendengus. "Dia sekarat," Joko ngangkat bahu. "Orang sekarat suka dramatis." Alex ngangguk. Krisna pasti sengaja milih tempat itu. Tempat dimana Raja Gelap "mati" lima tahun lalu. "Berapa orang penjaga?" Alex nanya. "Banyak," Joko menjawab. "Tapi nggak semuanya loyal sama Krisna. Banyak yang udah pindah kubu ke Dewan." "Bagus," Alex tersenyum tipis. "Kita bisa manfaatin itu." Tiba-tiba HP Maya bunyi. Pesan masuk. Dia buka, mukanya langsung pucat. "Tara menghilang," Maya nunjukin pesan dari tetangga yang dia minta jaga rumah. "Rumah berantakan. Ada tanda-tanda perlawanan." "Anjing!" Alex menggeram. "Mereka nemuin tempat persembunyian kita." "Atau..." Maya menatap Joko penuh curiga. "Ada yang ngasih tau?" Joko mengangkat tangan. "Heh, jangan nuduh sembarangan. Gue nggak tau apa-apa soal tempat persembunyian kalian." Alex terdiam. Berpikir keras. Tara hilang. Karim disandera. Hardisk di tangan. Waktu semakin sempit. "Mereka pasti bawa Tara ke tempat yang sama dengan Karim," Alex menyimpulkan. "Krisna tau gue bakal dateng." "Itu pasti jebakan," Maya memperingatkan. "Gue tau," Alex mengangguk. "Dan gue tetep bakal masuk." Joko tersenyum tipis. "Dengerin, Raja. Kalo lo mau masuk ke sarang buaya, lo butuh lebih dari sekedar keberanian." "Lo punya usul?" Alex nanya. "Lo pernah denger King Cobra nggak?" Joko tanya balik. Maya mengerutkan dahi. "Petarung dari Bandung? Yang nggak pernah kalah itu?" "Ya." Joko mengangguk. "Dia musuh besar Dewan sekarang. Dan dia punya dendam pribadi sama Krisna." Alex menatap Joko. "Dimana dia sekarang?" "Kebetulan," Joko nyengir lebar, "dia lagi butuh bantuan juga. Dan gue tau dimana nemuin dia." Alex menatap hardisk di tangannya, lalu ke arah jembatan. Hujan masih turun. Membersihkan kota yang kotor. Tapi nggak pernah bener-bener bersih. "Bawa gue ke King Cobra," Alex memutuskan. Maya narik lengan Alex. "Lo yakin? Kita nggak kenal dia." "Gue kenal," Alex menatap jauh. "Dia lawan terakhir gue sebelum gue 'mati'. Dan gue yang bikin dia babak belur." "Dia pasti benci lo setengah mati," Maya menyimpulkan. "Tepat," Alex mengangguk. "Dan itu yang kita butuhin sekarang. Seseorang yang benci gue lebih dari dia takut sama Krisna." Joko tertawa kecil. "Raja Gelap emang nggak pernah berubah. Selalu punya rencana gilâ." Alex natap Joko tajam. "Gue bukan Raja lagi. Gue cuma ayah yang mau nyelametin anaknya." "Tapi dunia nggak liat lo gitu," Joko mulai berjalan mendaki tepi sungai. "Dunia masih inget lo sebagai Raja Gelap. Dan mungkin... itu yang bakal nyelametin anak lo."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD