BAB 6: ANAK YANG HILANG

1128 Words
"Anak?" Alex ngerasain kakinya lemes. "Lo ngomong apa sih?" Maya natap Alex tanpa kedip. "Tara nggak keguguran. Dia bohong ke semua orang. Anak itu sekarang umur empat tahun. Namanya Karim." Alex jatuh ke kursi. Dunianya runtuh. Anak? Dia punya anak? Selama ini? "Nggak mungkin," Alex geleng kepala. "Tara pasti cerita ke gue." "Kapan? Lo menghilang, t***l!" Maya naik nada. "Lo tinggalin dia sendirian, hamil. Lo pikir dia mau nyariin lo?" Alex megang kepalanya yang berdenyut. Potongan ingatan bermunculan. Percakapan terakhir dengan Tara. Dia bilang "ada yang mau diomongin", tapi Alex terlalu fokus sama pertarungan besoknya. "Dimana... dimana anak itu sekarang?" "Sama neneknya. Ibu Tara." Maya ngeluarin HP. Nunjukin foto bocah kecil. Mata Alex persis. Rahang Tara. "Ini dia." Alex ngeliat foto itu lama. Nggak bisa ngomong. Di dadanya ada rasa aneh. Campur aduk. Marah, sedih, kaget, rindu, semua jadi satu. "Karim tau soal gue?" "Dia tau ibunya dulu punya pacar yang petarung. That's it." Maya masukkin HP lagi. "Tapi anak itu pinter. Dia mulai nanya-nanya. Dan entah gimana dia nemuin foto lo." Alex ngeremes tangannya sendiri. Kuat. Sampe buku-buku jarinya memutih. "Dan dia yang ngirim pesan ke gue?" "Pake HP Tara. Dia nemuin nomor lo di kontak lama ibunya." Alex ketawa getir. "Gue punya anak... dan dia nguber-uber gue tanpa tau siapa gue sebenernya." "Lucu ya hidup." Maya nyindir. "Nah, sekarang fokus. Tara sekarat. Bono kritis. Kita perlu gerak cepet." Alex narik napas panjang. Bener. Urusan anak bisa nanti. "Gimana rencana lo?" "Simpen peta itu di tempat aman." Maya nunjuk kertas lusuh di tangan Alex. "Rencana kita simpel. Masuk lewat UGD, naik lewat tangga darurat, bawa Tara keluar." "Terlalu simpel." Alex ngelipet peta, masukin ke sol sepatu. "Pasti ada penjagaan." "Dua orang di pintu kamar. Dua lagi jaga Bono." Maya masang pistol di balik jaketnya. "Gue ambil yang jaga Bono." "Lo mau bunuh mereka?" Alex ngerutin dahi. "Cuma kalo perlu." Maya ngebuka pintu. "Kalo bisa, cukup dibikin pingsan." Alex ngikutin Maya keluar. Di depan ada motor sport hitam. Maya naik, nyalain mesin. "Naik. Kita nggak punya banyak waktu." Alex nggak nanya lagi. Dia naik. Motor melaju cepet, belok ke jalan utama. Di perjalanan, pikiran Alex berkecamuk. Anak. Bono terluka. Tara sekarat. Krisna nyari dia. Dewan. Peta. Dokumen. Semua kacau. "Gue nggak ngerti," Alex ngomong di tengah deru angin. "Kenapa Krisna ngejar gue sekarang? Lima tahun udah lewat." "Karena dia baru nemuin peta itu enam bulan lalu." Maya teriak ke belakang. "Dan dia butuh lo buat nemuin lokasinya. Cuma lo yang tau persis." "Tapi gue lupa." "Dia nggak percaya itu." Maya belok tajam, nyalip truk. "Orang sekarat bakal ngelakuin apa aja buat ngejar obsesinya." Mereka masuk jalan tol. Maya ngebut, zigzag di antara mobil. Alex terbiasa naik motor cepet, tapi cara Maya nyetir bikin jantungnya mau copot. "Lo petarung yang jadi pembalap?" Alex teriak. "Nggak," Maya bales teriak. "Gue pembalap yang jadi petarung!" Tiga puluh menit kemudian, mereka sampe di area parkir Rumah Sakit Medika. Maya markir di spot motor yang agak tersembunyi, di belakang ambulans. "Rencana kita gini," Maya ngelepas helm. "Lo masuk lewat UGD, pura-pura pasien. Pake nama samaran. Bilang kecelakaan motor. Gue lewat belakang, lantai dua. Ketemu di tangga darurat lantai tiga." "Tara di lantai berapa?" "Empat. Kamar 407." Maya ngeluarin kertas dari sakunya. "Ini denah rumah sakit." Alex ngamatin denah itu. Matanya jeli nyari jalan tercepat, jalur evakuasi, dan blind spot kamera. Keahlian lama yang kembali. "Seandainya gagal?" Alex nanya pelan. "Plan B: lo lari, gue tangani semuanya." Maya natap lurus. "Prioritas lo adalah aman. Lo satu-satunya yang tau lokasi dokumen itu." "Dan lo?" "Gue?" Maya senyum tipis. "Gue udah mati sejak Gito tiada." Alex nggak mau ngebahas lebih jauh. Dia ngerti perasaan itu. Hidup tanpa tujuan. Cuma digerakkan dendam. "Tunggu," Alex nahan tangan Maya. "Kalo anak gue yang ngirim pesan-pesan itu, gimana dia bisa tau soal pertarungan terakhir gue? Soal Raja Gelap?" Maya diem. Keliatan ragu. "Karena ada yang cerita ke dia." "Siapa?" "Irfan." Alex ngerasa darahnya mendidih. "Polisi b******n itu? Ngapain dia deket-deket anak gue?" Maya ngehela napas. "Karena Irfan... adalah pacar Tara sekarang." Dunia Alex berputar. Irfan. Polisi yang dulu sering nerima suap dari arena. Yang sering nonton pertarungan dia diam-diam. Yang selalu iri sama kedekatannya dengan Tara. "Brengsek..." "Lo pergi lima tahun, Ram." Maya ngomong pelan. "Hidup nggak berhenti cuma karena lo pergi." Alex nelen ludah. Pahit. Dia ngepal tangannya, nahan tinju yang hampir melayang ke tembok. "Mari kita selesaikan ini." Alex akhirnya bilang. "Tara dulu, urusan lain belakangan." Maya ngangguk. "Satu jam dari sekarang. Tangga darurat lantai tiga." Mereka berpisah. Maya ke arah belakang gedung, Alex jalan ke UGD. Santai tapi waspada. Matanya nyapu area sekitar, nyari tanda-tanda orang Krisna atau polisi. Di depan pintu UGD, langkahnya terhenti. Ada sosok yang dia kenal. Berdiri deket pintu masuk. Ngerokok. Irfan. Alex nyaris berbalik, tapi Irfan keburu ngeliat dia. Mata mereka ketemu. Irfan buang rokoknya, jalan mendekat. "Jadi bener kata Bono," Irfan senyum tipis. "Raja udah kembali." "Minggir, Fan." Alex ngomong rendah. "Gue nggak mau bikin masalah." "Udah telat." Irfan nunjuk ke dalam rumah sakit. "Mereka udah nunggu lo di dalem." "Jebakan?" "Mungkin." Irfan ngeliat jam tangannya. "Tapi gue bisa bantu lo." Alex ketawa sinis. "Lo? Bantu gue? Setelah lo comot sisa-sisa hidup gue?" Irfan ngangguk paham. "Tara." "Dan anak gue." Irfan kaget. "Lo tau soal Karim?" "Baru tau." Alex natap tajam. "Dan lo yang cerita soal Raja Gelap ke anak kecil itu?" "Dia nanya." Irfan ngangkat bahu. "Anak itu mirip banget sama lo. Keras kepala." Alex nahan diri buat nggak nonjok muka Irfan. "Minggir. Gue mau ketemu Tara." "Nggak semudah itu." Irfan megang pundak Alex. "Ada delapan orang Krisna di dalem. Dua di kamar Tara, dua di kamar Bono, empat lagi jaga di lobi utama." "Kenapa lo nggak tangkep mereka? Lo polisi, kan?" Irfan senyum kecut. "Lo kira gue nggak coba? Mereka punya backingan lebih tinggi dari pangkat gue." Alex diem. Berarti ada polisi tingkat tinggi yang terlibat sama Dewan? "So?" Alex nantang. "Lo mau apa sekarang?" "Gue udah mindahin Tara." Irfan bisik. "Dia nggak di kamar 407. Dia ada di ruang rontgen, lantai satu, lorong belakang." Alex ngernyit. "Kenapa gue harus percaya sama lo?" "Karena..." Irfan ngeluarin ponsel. Nempilin foto. "Ini Karim. Anak lo. Tara mungkin pacar gue sekarang, tapi Karim selalu nganggep gue cuma om. Dia selalu nanya tentang bapaknya yang petarung." Alex ngeliat foto itu lagi. Anak kecil dengan cengiran lebar. Mata yang sama persis kayak dia. Anak yang nggak pernah dia kenal. "Bawa gue ke Tara." Irfan ngangguk. "Ikut gue. Dan sembunyiin muka lo pake ini." Irfan ngasih masker sama topi. Alex pake, baru ngikutin Irfan masuk ke dalam rumah sakit. Di hatinya, dia masih nggak percaya sama Irfan. Tapi kadang, musuh dari musuh bisa jadi teman. Sementara. Di lorong rumah sakit yang dingin, Alex bertanya-tanya: dimana Maya sekarang? Dan apakah ini jebakan lain yang lebih besar?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD