"Tara..." Alex ngeremes foto itu sampe jadi kusut. Darah. Luka. Posisi tubuh yang nggak wajar. "Lo yakin ini baru kejadian?"
Maya ngangguk. "Satu jam lalu. Orang-orang Krisna nyerbu kliniknya di Kemayoran."
Alex ngerasain amarah naik ke tenggorokan. Rasa panas yang familiar. Dulu, rasa ini bikin dia ngehancurin lawan di arena. Sekarang, rasa ini bikin dia mau ngehancurin Krisna.
"Tara masih hidup?" Alex nanya, suaranya serak.
"Masih," Maya duduk di kursi kayu, sikap tubuhnya tenang tapi waspada. "Dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Bono. Ditembak di paha. Nggak kena nadi utama."
Alex narik napas panjang. Lega, tapi cuma sesaat. "Kenapa mereka nyerang Tara?"
"Karena dia ketemu sama lo tadi pagi." Maya ngeluarin sebungkus rokok, nawarin ke Alex. Dia nolak. "Krisna naruh mata dimana-mana. Dia tau Tara ngasih info ke lo."
"Dan Joni?"
"Nggak ketemu. Udah kabur duluan sama anaknya."
Alex mondar-mandir di ruangan sempit itu. Pikiran berkecamuk. Potongan puzzle mulai nyambung. Krisna. Dewan. Peta. Duit. Tapi masih banyak yang nggak jelas.
"Lo bilang lo muridnya Bono." Alex natap Maya dari atas sampe bawah. Tubuh kecil, tapi keliatan kuat. Tipe petarung teknik, bukan power. "Murid apa?"
"Petarung. Sama kayak lo dulu." Maya buka jaketnya, nunjukin bekas luka panjang di lengan. "Tiga tahun jadi jagoan Bono di arena putri."
"Nggak pernah denger nama lo."
"Karena gue bertarung pake nama Mawar Hitam." Maya senyum tipis. "Ring yang beda. Penonton yang beda."
Alex ngangguk pelan. Arena putri. Wilayah yang nggak pernah dia jamah. Pertarungan wanita yang katanya lebih kejam, lebih licik, tapi jarang diliput karena taruhan lebih kecil.
"Bono yang kirim lo?"
"Sebelum dia kena tembak." Maya ngeliat jam tangannya. "Dia tau bakal ada serangan. Dia bilang kalo dia nggak ngabarin dalam tiga jam, artinya dia ketangkep."
"Dan lo percaya gitu aja sama gue?" Alex masih waspada. "Tau darimana gue bener Raja Gelap?"
"Karena Bono selalu cerita tentang lo." Maya natep mata Alex lurus-lurus. "Tentang petarung terbaik yang dia pernah latih. Yang ngilang bawa duit taruhan. Yang dia anggep kayak anak sendiri."
Alex buang muka. Ada rasa bersalah yang mendadak muncul. Lima tahun dia pergi tanpa pamit. Meninggalkan semua. Ninggalin Bono yang udah nganggep dia anak.
"Jadi apa rencana lo sekarang?" Maya nanya. "Lari terus? Atau hadapin Krisna?"
"Gue harus nyelametin Tara sama Bono dulu."
"Dengan cara apa? Nyerbu rumah sakit? Lo pikir polisi nggak nungguin lo di sana?"
Alex diem. Maya bener. Kalo dia muncul, bakal langsung ditangkep. Atau lebih parah, dibunuh.
"Ada yang aneh dari semua ini." Alex natap peta lusuh di tangannya. "Kenapa Krisna nggak langsung nyerang gue pas tau gue masih hidup? Kenapa harus bikin sandiwara segala?"
Maya ngangkat bahu. "Mungkin karena dia butuh sesuatu dari lo. Sesuatu yang lo sembunyiin."
Alex ngerapiin peta itu hati-hati. "Lo tau apa yang ada di peta ini?"
"Nggak." Maya geleng. "Bono nggak pernah cerita. Dia cuma bilang kalo itu bisa jadi senjata buat lo. Atau jadi penghancur lo."
Alex melototin peta itu lagi. Bangunan persegi. Tanda silang. Jalan berkelok. Dia tau tempat ini. Tapi ingatannya kabur. Kayak ada yang ngurangin sebagian memorinya.
"Gue perlu waktu buat inget ini apa."
"Lo nggak punya waktu." Maya berdiri. "Besok malem Krisna mau bawa semua petarung ke satu arena. Pertarungan akbar buat menyambut kematiannya."
"Dan?"
"Dan dia mau lo muncul." Maya natep Alex serius. "Dia udah nyebarin info kalo Raja Gelap bakal bertarung lagi."
Alex ngerasain jantungnya berdetak kenceng. Raja Gelap. Julukan yang dia udah kubur dalem-dalem. Kenapa sekarang harus muncul lagi?
"Gue bukan Raja lagi."
"Tapi lo masih bisa bertarung kan?" Maya nantang. "Atau jangan-jangan tukang pukul terkenal sekarang cuma jago gebukin orang lemah doang?"
Alex narik napas dalem. Emosi. Tapi dia tahan. "Lo nggak tau apa-apa soal gue."
"Gue tau lo ngilang pas harusnya jadi juara." Maya ngomong tanpa filter. "Gue tau lo ninggalin Tara yang waktu itu hamil anak lo."
Dunia Alex kayak berhenti. "Apa?"
"Lo nggak tau?" Maya ngeliat reaksi Alex. Bingung. "Tara hamil waktu lo kabur. Tiga bulan. Tapi keguguran gara-gara stress nungguin lo yang nggak pernah balik."
Alex jatuh terduduk di lantai. Kakinya lemes. Potongan memori mulai bermunculan. Tara yang muntah-muntah. Tara yang minta dia berenti bertarung. Tara yang bilang "kita bakal punya kehidupan baru."
Dan dia pergi. Ninggalin semua.
"Sial..." Alex nutup mukanya pake tangan. "Sialan..."
Maya ngeliatin Alex yang terpuruk. Nggak ngomong apa-apa. Bono dulu pernah bilang, Raja Gelap punya sisi lemah yang nggak pernah dia tunjukin di arena. Sekarang dia liat buktinya.
"Kita nggak punya waktu buat nyesel," Maya akhirnya ngomong. "Kalo lo beneran mau nyelametin Tara, lo harus gerak sekarang."
Alex ngangkat wajahnya. Matanya merah. Bukan nangis. Tapi amarah.
"Kalo gue ketemu Krisna sekarang, gue bakal bunuh dia."
"Dan itu yang dia mau." Maya duduk di lantai, sejajar sama Alex. "Dia sekarat, Ram. Dia mau mati dengan cara yang dia pilih. Dan dia mau lo yang ngasih kematian itu."
"Kenapa gue?"
"Karena lo yang ninggalin dia." Maya natap jauh. "Krisna nganggep lo kayak adik sendiri. Dan lo khianatin dia."
Alex ketawa pahit. "Dia yang nipu gue duluan. Pertarungan itu... harusnya gue menang. Tapi dia udah atur semuanya."
"Tau darimana?"
"Karena..." Alex berhenti. Ada ingatan yang muncul. Kertas. Catatan. Bukti pengaturan pertandingan. "Gue punya bukti kalo Krisna ngejual gue ke Dewan."
Maya ngerutin dahi. "Bukti apa?"
"Dokumen. Perjanjian. Gue simpen di..." Alex nunjuk ke peta lusuh itu. Matanya melebar. "Di sini. Tempat yang sama dengan duit itu."
Maya senyum tipis. "Jadi lo inget sekarang?"
"Sebagian." Alex natap Maya. "Siapa lo sebenernya? Kenapa Bono ngirim lo, bukan orang lain?"
"Karena gue kenal tempat itu." Maya ngejawab santai. "Gue yang bantuin Gito nyembunyiin duitnya."
Alex berdiri, refleks narik pisau lipat dari saku. "Lo kenal Gito?"
"Dia pacar gue." Maya tetep duduk, nggak keliatan takut. "Dan dia mati gara-gara nyimpen rahasia lo."
Hening. Cuma ada suara detik jam dinding.
"Kalo gue sekarang bunuh lo, nggak akan ada yang tau." Alex ngancam, pisau di tangan.
"Kalo lo bunuh gue, lo nggak akan pernah nemuin duit itu." Maya natap tenang. "Dan lo nggak akan bisa nyelametin Tara."
Alex nurunin pisaunya pelan-pelan. "Apa maumu?"
"Keadilan." Maya berdiri. "Gue mau Krisna mati. Dan gue mau Dewan hancur. Mereka yang bunuh Gito."
"Kenapa gue harus percaya sama lo?"
"Karena lo nggak punya pilihan." Maya ngambil kunci motor dari sakunya. "Gue tau dimana mereka nyimpen Tara. Dan gue tau cara masuk ke sana tanpa ketahuan."
Alex natap Maya lama. Menimbang. Siapa yang bisa dipercaya sekarang? Bono kena tembak. Tara luka parah. Joni ngilang.
"Baiklah." Alex ngantongin pisaunya. "Kita selamatkan Tara dulu. Habis itu, lo bantuin gue ambil bukti itu."
Maya senyum. "Welcome back, Raja."
Alex ambil jaketnya, bersiap pergi. Tapi sebelum nyampe pintu, Maya nahan tangannya.
"Ada satu hal lagi yang perlu lo tau." Maya natap serius. "Orang yang ngirim pesan misterius ke lo? Yang tau identitas asli lo?"
"Siapa?"
"Anaknya Tara." Maya ngejawab pelan. "Anak lo yang ternyata nggak keguguran."