BAB 4: PELARIAN

976 Words
Tangga darurat berderit tiap Alex napak. Karat. Rapuh. Kayak nyawanya sekarang. Di atas, suara tembakan masih pecah. Diikuti teriakan. Lalu sunyi. Jantung Alex berpacu. Bono. Tiga lantai dia turun dalam gelap. Telapak tangannya berdarah, kegores pagar berkarat. Nggak peduli. Nyawa lebih berharga dari rasa sakit. Selalu gitu di dunia gelap. Sampai di gang belakang, Alex nggak berani noleh. Takut liat jendela lantai tiga. Takut liat apa yang terjadi sama Bono. Pria tua yang baru aja ngorbanin diri buatnya. "Anjing!" Alex nendang tong sampah. Muak sama dirinya sendiri. Lima tahun jadi pemburu, sekarang dia yang diburu. Motor masih di depan. Terlalu berisiko. Alex lari ke arah pasar, nyampur sama kerumunan yang mulai rame. Pedagang sayur. Kuli panggul. Ibu-ibu belanja. Dia cuma satu wajah di antara ratusan. Hilang. Di belakang, sirine polisi makin deket. Tiga mobil. Mereka serius kali ini. Alex nyebrang jalan, masuk ke gang sempit, terus belok ke kompleks padat penduduk. Jalur tikus yang dia hapal di luar kepala. Dulu sering dipake abis bertarung, saat kabur dari kejaran musuh atau polisi. HP-nya bunyi lagi. Bukan saat yang tepat, tapi mungkin penting. Alex ngeluarin HP sambil terus jalan cepat. "Dia masih hidup. Tertembak bahu. ICU Rumah Sakit Medika. - Irfan" Alex nelen ludah. Bono selamat. Tapi kenapa Irfan ngasih tau? Apa ini jebakan lain? Dia sampe di jalan raya. Terminal bus. Tanpa pikir panjang, Alex naik Kopaja jurusan Depok. Duduk di kursi paling belakang. Napasnya masih ngos-ngosan. Baju basah kuyup. Campuran keringat dan sisa hujan. Bus mulai jalan. Merangkak pelan meninggalkan Jakarta yang makin terang. Alex ngeliatin kota dari jendela. Kota yang bener-bener asing sekarang buatnya. Lima tahun setelah "kematian" Raja Gelap, semuanya berubah. Dewan. Krisna sekarat. Bono kena tembak. Dan seseorang tau identitas aslinya. Alex masukin tangan ke saku, ngecek peta yang dikasih Bono. Kertas lusuh itu sekarang jadi incaran. Krisna pikir di sana ada harta. Tapi apa bener itu peta menuju duit yang dia bawa kabur? Alex nggak inget. Ingatannya soal malam itu kabur. Kayak film rusak. Cuma ada potongan-potongan: darah, teriakan, tas berat, lari, hujan, mobil... Terakhir, mata Tara yang kecewa. Bus berhenti mendadak. Macet. Alex melongok keluar. Polisi lagi ngadain razia di depan. Mencurigakan. Razia jam segini bukan hal biasa. "Turun di sini, Bang?" Kondektur nanyain. "Masih jauh?" "Kalo macet gini bisa satu jam," si kondektur ngelap keringat. "Kalo mau cepet, mending naik motor aja." Alex turun. Nggak berani nunggu. Dia jalan ke ojek pangkalan, naik tanpa nawar. "Depok, Bang. Margonda." Di perjalanan, otaknya terus mikir. Siapa yang manipulasi semua ini? Krisna? Atau ada orang lain? Siapa yang ngirim pesan misterius ke dia? "Depok mau ke mana, Mas?" Si tukang ojek nanya sambil nyetir. "Margonda aja dulu." "Jauh lagi berarti? Isi bensin dulu ya, bentar." Mereka berhenti di pom bensin. Alex turun, jalan ke minimarket. Dia butuh ganti tampilan. Terlalu gampang dikenali dengan jaket kulit hitam begini. Di dalem minimarket, dia beli topi, kaos baru, sama kemeja kotak-kotak. Ganti di toilet, masukin baju lamanya ke tas plastik. Kalo ada yang mantau, paling nggak sekarang dia keliatan beda. Alex ngeliat pantulan dirinya di kaca toilet. Muka lebam. Mata merah. Lima tahun jadi pemburu orang, sekarang dia jadi buron. Ironi banget. "Mas, jadi nggak?" tukang ojek neriakin dari luar. "Jadi." Alex keluar, naik lagi. Sisa perjalanan dia cuma diem. Mikir. Ada yang nggak beres. Pertama, kenapa tiba-tiba semua kembali ke masa lalu? Kenapa sekarang? Kenapa harus pas Krisna sekarat? Di Margonda, Alex turun, bayar ojek, lalu jalan kaki nyari alamat yang ada di kunci yang dikasih Bono. Rumah kontrakan kecil di daerah Beji. Tersembunyi di antara rumah-rumah padat. Kuncinya pas. Alex masuk, ngunci pintu dari dalam. Rumah sederhana. Satu kamar. Dapur kecil. Bersih. Kayak emang disiapkan untuk pelarian. Di atas meja ada amplop. Alex buka. Isinya uang cash lima juta, paspor palsu, sama kartu ATM. Nama di paspor: Rendi Pratama. Bukan Rahman lagi. Bukan Alex. Apalagi Raja Gelap. "Lo emang udah siap ya, Bono..." Alex berbisik ke ruangan kosong. Dia rebahan di kasur, ngeluarin HP. Masih nyala. Gawat. Bisa dilacak. Alex cabut baterai, simcard dipatahkan. Baru aman. Perutnya bunyi. Laper. Alex ke dapur, ngebuka kulkas. Kosong. Cuma ada air mineral. Dia minum langsung dari botol, terus duduk di lantai. Sekarang gimana? Lari? Terus ninggalin Bono yang terluka gara-gara dia? Ninggalin Tara yang mungkin dalam bahaya? Atau Joni dan anaknya? Alex ngeluarin peta lusuh dari saku. Kalo bener ini peta menuju duit curian dulu, mungkin itu jawaban semuanya. Tapi entah kenapa, dia nggak bisa inget persis. Di kamar ada meja kecil. Alex duduk, ngamatin peta itu. Garis-garis sederhana. Petunjuk yang cuma dia paham. Tangannya gemeteran. Suara ketukan di pintu depan bikin dia terlonjak. "Pak Rendi?" Suara perempuan. "Pak Bono minta saya nganter makanan." Alex diem. Bono? Masa? Bono baru aja kena tembak. Nggak mungkin sempet ngontak siapa-siapa. "Ini dari Pak Bono," suara itu lanjut. "Dia bilang Raja butuh makanan." Raja. Kode. Alex pelan-pelan ngebuka pintu, cuma sejengkal. Di luar berdiri cewek muda, mungkin 25 taun. Rambut pendek. Wajah tegas. Tangan kanan megang kantong plastik. Kiri masuk saku jaket. "Siapa lo?" Alex nanya, nggak buka pintunya lebih lebar. "Nama saya Maya," dia nyodorin kantong plastik. "Anak Pak Bono." "Bono nggak punya anak." "Bukan anak kandung," dia senyum tipis. "Anak angkat. Atau lebih tepatnya, murid." Alex ngeliat mata cewek itu. Tajam. Waspada. Tatapan yang dia kenal. Tatapan petarung. "Boleh saya masuk?" Maya nanya. "Ada pesan penting dari Bono, dan saya nggak mau ngomong di sini." Alex nggak punya pilihan. Dia butuh info. Dia buka pintu, tapi tangannya siap di saku, nggenggam pisau lipat. Jaga-jaga. "Ada bukti lo kenal Bono?" Maya ngulurin tangan kiri, nunjukin tato kecil di pergelangan: tiga titik segitiga. Simbol yang cuma dikenal orang dalam. "Saya disuruh ngasih ini ke Raja Gelap," Maya ngeluarin amplop dari jaketnya. "Dan pesan bahwa Krisna udah mulai berburu. Target pertamanya udah jatuh satu jam lalu." Alex buka amplop itu. Isinya foto. Foto rumah sakit. Tara terbaring berdarah di lantai kliniknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD