BAB 3: PROMOTOR TUA

1049 Words
Jalanan Mangga Besar macet. Selalu gitu kalo hujan. Alex narik gas motornya pelan-pelan, nyalip di antara mobil-mobil yang berhenti. Jam di tangan nunjukin pukul lima pagi. Jakarta mulai bangun. Bono tinggal di ruko tua di ujung Mangga Besar. Lantai tiga. Dulu, lantai satu pernah jadi arena bertarung. Sekarang cuma gudang kosong. Jejak masa lalu yang tersembunyi di balik pintu besi berkarat. Alex markir motornya di gang samping, naik tangga sempit yang bau pesing. Di depan pintu kayu, dia ketuk tiga kali. Jeda. Dua kali. "Siapa?" Suara serak dari dalam. "Raja." Kunci dibuka. Pintu berderit. Bono berdiri dengan senapan di tangan. Rambut putih berantakan, badan masih kekar meski udah kepala lima. Mata setajam elang. "Masih suka bangun subuh ternyata." Alex masuk tanpa dipersilakan. "Dan lo masih suka dateng tanpa diundang." Bono nutup pintu, ngunci dua kali. "Kopi?" Alex ngangguk. Apartemen Bono kecil tapi rapi. Dinding penuh foto-foto lama. Petarung-petarung jalanan. Termasuk Alex muda. Berdarah. Tapi tersenyum. Mata yang masih hidup. "Pesan lo bikin gue penasaran," Alex duduk di sofa kulit yang retak di sana-sini. "Jebakan apa maksud lo?" Bono nuang kopi ke dua cangkir retak. Asapnya ngepul. "Irfan itu polisi, tapi dia bukan orang Krisna. Dia orang Dewan." "Dewan?" "Lo udah lama pergi, jadi nggak tau." Bono nyodorin kopi ke Alex. "Dewan itu gabungan lima promotor besar. Dari Bekasi, Depok, Tangerang, Bandung, sama Bogor. Mereka nguasain semua arena sekarang." Alex nyeruput kopinya. Pahit. Tanpa gula. Persis kayak kenyataan. "Dan Krisna?" "Sekarat." Bono duduk di kursi kayu depan Alex. "Kanker hati stadium akhir. Dewan tinggal nunggu dia mati untuk ngambil alih Jakarta." Alex ngeliatin foto-foto di dinding. Ada foto dia sama Krisna, sepuluh tahun lalu. Dua-duanya masih muda. Masih punya mimpi. Sebelum semuanya berubah jadi ambisi. "Tapi Krisna nggak mau mati tenang," lanjut Bono. "Dia mau beresin semua urusan yang belom selesai. Termasuk—" "Nyari Raja Gelap," Alex motong. "Gue udah tau itu." "Bukan cuma nyari," Bono natap Alex dalem-dalem. "Dia mau Raja Gelap mati bareng dia." Hening. Cuma ada suara jam dinding tua yang berdetak. Detik demi detik. Kayak waktu yang terus mengejar. "Dia udah susun rencana," Bono lanjut. "Kumpulin semua hantu dari masa lalu. Irfan. Tara. Joni. Bahkan gue." "Untuk?" "Memancing lo keluar." Bono natap lurus. "Dia tau lo nggak bener-bener mati. Dia tau lo masih hidup sebagai Alex si pembasmi. Dan dia tau lo bakal dateng kalo dia manggil." Alex merhatiin tangannya yang masih bengkak. Buku-buku jari yang penuh bekas luka lama. Tanda dari hidup yang keras. "Kenapa baru sekarang?" Alex nanya pelan. "Lima tahun. Dia bisa nyari gue kapan aja." Bono ketawa kecil. Suara yang nggak sampe ke matanya. "Karena dia nemu sesuatu." Bono berdiri, jalan ke lemari tua di sudut ruangan. "Sesuatu yang lo tinggalin malem itu." Bono ngeluarin kotak kayu kecil dari laci. Dia buka, ngeluarin kertas lusuh. "Ini?" Alex ambil kertas itu. Peta. Gambaran tangan sederhana menuju suatu tempat. Di pojok bawah ada tulisan: "Dana Darurat - RG." "Dimana dia nemu ini?" "Dari jasad Gito, enam bulan lalu." Nama itu. Gito. Rekan Alex dulu. Satu-satunya orang yang tau kemana Alex pergi malam itu. Orang yang harusnya jaga rahasia. "Gito mati?" "Overdosis," Bono ngangkat bahu. "Atau dibuat overdosis." Ingatan itu dateng lagi. Potongan-potongan yang nggak lengkap. Malam terakhirnya sebagai Raja Gelap. Pertarungan besar melawan jagoan dari Bandung. Taruhan gila-gilaan. Lalu keputusan mendadak. Kabur. Ninggalin semua. Termasuk Tara. Satu-satunya yang tau rencana dia cuma Gito. "Krisna pikir peta ini nunjukin tempat duit yang lo bawa kabur," Bono duduk lagi. "Dia mau lo bawa dia ke sana sebelum dia mati." "Dan kalo gue nolak?" "Anak buahnya bakal nyiksa semua orang yang lo kenal sampe lo muncul." Bono ngeluarin rokok, nyalain pelan-pelan. "Termasuk gue. Tara. Bahkan Bu Minah." Alex lipet peta itu, masukin ke saku. "Kenapa lo ngebantuin gue?" "Karena gue kenal lo sebelom lo jadi Raja Gelap." Bono ngembuskan asap ke langit-langit yang menguning. "Lo dulu anak baik yang terpaksa masuk dunia ini. Dan gue yang narik lo masuk." Bono ngambil foto lama dari dinding. Alex muda, mungkin 19 tahun, masih kurus, mata masih polos. Berdiri di samping Bono yang masih kelihatan kuat. "Dosa gue ke lo udah terlalu banyak," Bono senyum tipis. "Anggap ini penebusan." Alex berdiri, jalan ke jendela. Hujan udah reda. Pagi mulai terang. "Krisna mau ketemu gue besok malem. Di rumah sakit." "Jangan dateng." Bono natap serius. "Itu jebakan. Dia nggak di rumah sakit manapun. Dia sembunyi di vila Puncak. Nunggu lo dibawa ke sana." "Tara bilang—" "Tara nggak tau semuanya." Bono motong. "Krisna manipulasi semua orang. Termasuk dia." Alex ngerasa perutnya melilit. Mual. Bukan karena sakit. Tapi karena kemungkinan Tara terlibat dalem rencana Krisna. "Gue harus ke mana sekarang?" "Ke tempat yang dulu lo sembunyi." Bono matiin rokoknya. "Kalo ada yang masih bisa ngelindungin lo, cuma tempat itu." Alex ngeluarin HP-nya. Ada pesan baru. Dari nomor yang sama. "Masih inget gimana rasanya jadi Raja? Atau lo terlalu sibuk ngejar bayangan lo sendiri?" Pesan misterius lagi. Alex ngeremes HP-nya kuat, hampir retak. "Ada yang main-main sama gue," Alex natap Bono. "Dan gue nggak suka dimainin." "Itu sebabnya lo harus pergi sekarang." Bono ngeluarin kunci dari sakunya. "Rumah gue di Depok. Nggak ada yang tau. Aman buat sementara." Alex nerima kunci itu, ragu. "Kenapa lo nolongin gue sampe segitunya?" Bono diem sebentar, matanya nyari kata-kata yang pas. "Karena lo pernah bilang mau berenti." Suaranya jadi lembut. "Lo satu-satunya yang bener-bener mau keluar dari lingkaran ini. Dan gue nggak mau lihat lo balik lagi." HP Alex bunyi lagi. Pesan dari Irfan. "Bono ketangkep. Alamat terlacak. Lari." Alex langsung narik Bono ke pintu. "Kita harus pergi. Sekarang." "Apa?" "Irfan tau lo nemuin gue." Bono langsung ambil tas kecil dari belakang pintu. Udah disiapkan. Dia emang udah menduga hal ini bakal terjadi. "Lewat belakang," Bono nunjuk ke pintu kecil di dapur. "Ada tangga darurat." Tapi sebelum mereka sampe, pintu depan digedor keras. "POLISI! BUKA ATAU KAMI DOBRAK!" Terlambat. Alex natap Bono. Nggak perlu kata-kata. Mereka berdua tau situasinya. "Gue yang hadapin mereka," Bono bisik. "Lo pergi lewat belakang." "Tapi—" "Raja nggak boleh mati sekarang." Bono tersenyum. Lalu dorong Alex ke arah dapur. Pintu depan mulai didobrak. Bono ambil senapannya. "Pergi," bisiknya ke Alex. "Dan jangan pernah balik." Alex ngelempar pandangan terakhir ke Bono. Promotor tua yang udah kayak bapak buat dia. Lalu dia lari ke pintu belakang. Suara tembakan pecah di belakangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD