BAB 2: LUKA LAMA

941 Words
Hujan Jakarta kayak silet. Tajam, dingin, nusuk sampe tulang. Alex melangkah keluar warung, ngebiarin air nyiram mukanya yang lebam. Dia harap bisa nyuci bekas darah di sudut bibirnya. Tapi hujan Jakarta nggak pernah berhasil nyuci apa-apa. Tara masih berdiri di sana. Lima meter di depan. Jaket kulit, rambut basah, muka keras. Lima tahun berlalu, tapi dia masih keliatan persis kayak dulu. Cuma matanya yang berubah. Dulu hangat. Sekarang kayak es. "Ngapain lo di sini?" Alex berhenti tiga langkah di depannya. "Joni." Cuma satu kata. Tapi cukup bikin Alex narik napas panjang. "Dia masih hidup." "Gue tau." Tara ngelangkah maju. "Gue yang jahit mukanya tadi." Mereka berdiri diem. Hujan turun di antara mereka. Dulu, jarak segini biasanya berakhir dengan pelukan atau ciuman. Sekarang, beruntung kalau nggak berakhir dengan bogem mentah. "Masih suka ngegebukin orang yang nggak bisa ngelawan ya?" Tara nunjuk ke tangan Alex yang bengkak. "Kalo diliat dari kondisi tangan lo, kayaknya lo yang kena hajar lebih dulu." Alex ketawa kering. "Dia nendang s**********n gue sebelum gue sempet ngomong." "Pantes." Tara senyum tipis. Hampir nggak keliatan. Mereka jalan ke bawah halte. Tempat teduh. Tara nyalain rokok, nawarin ke Alex. Dia ambil, tapi nggak langsung nyalain. "Bini lo mana?" Alex nanya sambil ngecek lukanya di kaca toko yang tutup. "Udah nggak ada." Tara ngembuskan asap ke udara basah. "Dia ninggalin gue tahun lalu. Bilang gue lebih mentingin pasien daripada dia." "Pasien kayak Joni?" "Dan pasien kayak lo dulu." Luka lama. Masih ngilu kalo disentuh. Alex inget lima tahun lalu. Tara yang masih jadi dokter magang. Yang diam-diam nolongin petarung jalanan macem dia dengan bayaran seadanya. Yang akhirnya kehilangan lisensi gara-gara ketauan nyembunyiin Alex pas polisi nyari. "Lo masih praktek?" "Underground." Tara buang abu rokoknya. "Klinik gue di belakang bengkel motor Bang Jeki di Kemayoran." Alex ngangguk. Informasi baru. Mungkin berguna nanti. "Joni butuh operasi." Tara natap lurus ke mata Alex. "Tulang pipinya retak. Kalo nggak dibenerin, bisa infeksi ke mata." "Bukan urusan gue." "Dia punya anak, Ram. Leukemia stadium akhir. Duitnya habis buat kemo." "Dan itu bikin dia berhak ngambil duit orang lain?" Alex akhirnya nyalain rokok. Tangannya gemetar. Bukan karena dingin. "Nggak gitu cara kerjanya dunia, Ra." "Dan lo jago banget soal aturan dunia ya?" Tara ketawa getir. "Raja Gelap yang jadi tukang pukul bayaran." Alex bungkam. Nama itu. Raja Gelap. Nama yang udah dia kubur lima tahun lalu. Bareng dengan bagian dirinya yang lain. "Siapa yang ngasih tau lo?" "Krisna sekarat." Tara matiin rokoknya. "Dia manggil banyak hantu dari masa lalu. Termasuk gue." Alex ngalihin pandangan ke jalan. Motor-motor melaju pelan nerobos hujan. Semua buru-buru pulang. Semua punya tempat buat pulang. Nggak kayak dia. "Dia nawarin bayaran gede buat nyari 'Raja Gelap'." Tara lanjut. "Ironis banget, mantan Raja Gelap disuruh nyari dirinya sendiri." "Gue bukan dia lagi." "Bullshit." Tara ngeluarin amplop dari sakunya. "Ini dari Joni. Dia nyuruh gue nyampein ke lo kalo lo nyari dia." Alex nerima amplop itu. Isinya selembar foto. Seorang anak kecil, kira-kira 8 taun, di ranjang rumah sakit. Botak. Kurus. Selang dimana-mana. Di balik foto ada tulisan tangan: "Tolong jangan ambil bapaknya juga." Alex ngerasa perutnya kejang. Sakit. Dia masukin foto itu ke saku jaketnya. "Gue cuma ngelakuin kerjaan gue." "Kayak dulu gue cuma ngelakuin kerjaan gue waktu nutupin jejak lo?" Skakmat. HP Alex bunyi lagi. Pesan. Dia buka, sambil ngelirik Tara yang masih natap dia dingin. "Jangan dateng jam 9. Jebakan. - Bono." Alex ngeremuk rokoknya yang belum abis. Bono. Promotor tua yang masih punya kenalan dimana-mana. Satu-satunya orang yang dia percaya di dunia pertarungan. "Lo harus pergi." Alex ngeliat ke ujung jalan. Dua mobil item bergerak pelan ke arah mereka. "Kenapa?" "Ada yang nyari gue. Dan lo nggak mau ketauan ngobrol sama gue." Tara ngikutin arah pandang Alex. Mobil itu makin deket. "Joni di klinik gue. Kalo lo beneran masih punya hati, jangan bilang ke Krisna." "Gue nggak janji." "Lo dulu lebih baik dari ini, Ram." Alex nelen ludah. Ada banyak yang mau dia bilang. Tentang malem itu lima tahun lalu. Tentang kenapa dia ninggalin Tara tanpa kabar. Tentang duit yang dia bawa kabur. Tapi sekarang bukan waktunya. "Pergi, Ra. Sekarang." Tara ngulurkan tangan, nyentuh bekas luka di pelipis Alex. Bekas jahitan dia sendiri bertahun lalu. "Kalo lo mau ketemu Krisna, dateng ke rumah sakit Medika besok jam 11 malem. Kamar VIP lantai 5. Dia nunggu lo di sana, bukan di tempat yang dibilang Irfan." "Darimana lo tau?" "Karena gue dokternya." Alex kaget. Dari semua kemungkinan, ini yang nggak pernah dia pikirin. "Jadi lo-" "Gue yang ngasih dia m****n tiap hari biar bisa tidur." Tara mundur selangkah. "Dan gue yang dengerin semua rencananya tentang lo. Tentang hantu-hantu yang mau dia bereskan sebelum mati." Mobil hitam itu berhenti di depan warung Bu Minah. Empat laki bertubuh gede turun. Mata mereka nyari sesuatu. Atau seseorang. "Makasih, Ra." "Jangan makasih ke gue." Tara berbalik, mulai jalan menjauh. "Buktiin kalo dugaan gue bener. Kalo masih ada sisa Raja Gelap yang dulu gue kenal." Alex ngeliat Tara menghilang di tikungan, lalu natap ke empat laki yang mulai nyebar. Mencari. Dia kenal dua dari mereka. Anak buah Krisna. Yang dua lagi tampang baru. Mungkin sewaan. Dia narik napas dalem, terus jalan santai ke arah berlawanan. Besok dia bakal ketemu Krisna. Tapi malam ini, dia perlu nemuin Bono dulu. Nyari tau sebanyak mungkin tentang "permintaan terakhir" Krisna. Dan tentang siapa yang berani ngirim pesan soal Raja Gelap. Ponselnya bunyi lagi. Nomor tak dikenal. "Besok jam 11 malam. Ada yang mau cerita tentang masa lalu lo. - Joni." Alex ngerasa jantungnya berdetak kenceng. Joni mau ketemu di waktu yang sama dengan jadwal ketemu Krisna. Pilihan. Selalu ada pilihan. Sementara hujan Jakarta masih turun. Nyuci jalanan, tapi nggak pernah bisa nyuci dosa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD