Beberapa kali Rayu membenturkan kepalanya pada setir mobil. Terasa sakit. Rayu meyakinkan hatinya bahwa apa yang tadi dia alami bukan mimpi.
Dua puluh satu tahun Rayu kehilangan jejak lelaki itu. Kini Bintang tiba-tiba muncul. Rayu tidak pernah siap menghadapi kemungkinan jika suatu hari nanti dia dan Bintang akan bertemu lagi.
Rayu mengerang. Mengapa harus sekarang? Teriaknya. Untunglah dia berada dalam mobil. Tidak ada orang yang mendengarkan teriakannya.
Baru dua bulan lalu Rayu bertunangan dengan Bagas. Lelaki yang telah menemaninya selama hampir sepuluh tahun. Mereka teman sekelas saat SMA. Bagas sudah mengejar Rayu ketika mereka masih mengenakan putih abu-abu.
Rayu tahu jika dihatinya masih ada Bintang. Harapan dan kenangan dari masa kecilnya. Namun, dua puluh satu tahun bukan waktu singkat untuk tetap mempertahankan mimpi itu. Rayu tak ingin berpaling. Hanya saja dia tidak punya pilihan lain saat Bagas perlahan-lahan mulai memasuki ruang dalam bilik dihatinya.
Kejadian barusan memporakporandakan seluruh indera Rayu. Ada janji yang mungkin harus ditunaikan. Ada permintaan yang harus dikabulkan. Permintaan yang Rayu ucapkan sendiri ketika Bintang akan pergi.
Segalanya akan lebih mudah andai Bintang tidak menunggunya. Rayu menyesali tindakan spontannya memeluk Bintang. Rindu memang tak mengenal waktu. Hanya tahu harus segera dituntaskan. Rayu mengutuk kebodohannya ketika mengatakan tidak punya pacar sedangkan dia sudah bertunangan. Ah, kenapa logika pergi begitu saja. Keluhnya.
Rayu memandangi Bintang yang masih duduk termangu di kursi kafe. Rayu tak tahu apa yang harus dia lakukan. Perlahan Rayu meraba hatinya. Mencari rasa apa yang kini tengah tersisa. Bahkan dia tak menemukan posisi Bagas saat ini.
Sekalipun Rayu tak pernah mengingkari kalau dia sangat menanti Bintang. Tak ada satupun laki-laki yang mampu menggerakkan hatinya dan menempati posisi Bintang.
Rayu mengenal Bintang jauh sebelum dia bisa menyebut nama lelaki itu dengan jelas. Setiap hari rayu mencari Bintang dan bermain bersamanya. Impian tentang lelaki yang sempurna terukir dengan jelas pada sosok Bintang. Entahlah apa namanya itu. Mungkin cinta monyet.
Kepergian Bintang menjadi kehilangan tak berujung bagi Rayu. Tidak ada lagi kakak, sahabat, dan teman berantem yang seru. Rayu menjadi penyendiri. Menghitung bintang di langit sambil berharap ada Bintangnya di sana.
Ketika SMA, Bagas menjadi satu-satunya teman terdekat Rayu selain penghuni angkasa. Rayu mengubur mimpinya untuk masuk jurusan astronomi ketika dia gagal di terima di fakultas tersebut. Lalu Rayu beralih ke fakultas sastra. Menuliskan angkasa dengan cara lain.
Nyaris setiap rindu datang, Rayu menuliskan puisi untuk Bintang. Hanya Bagas yang tahu tentang itu. Rayu tak pernah mendengar kabar apapun mengenai Bintang. Bumi seakan menelannya bulat-bulat tanpa ampun.
Di ujung harapan, Bagas datang mengulurkan tangannya. Mengajak Rayu untuk melangkah memulai rasa yang baru.
Senja merah saga menjadi saksi bagaimana Bagas meyakinkan Rayu bahwa mereka bisa menjalani semuanya dengan baik-baik saja.
“Tapi aku tidak bisa mencintaimu.” Rayu mencoba menolak Bagas.
“Aku hanya mau kita mencobanya. Aku yakin, suatu saat kamu akan bisa mencintaiku.” Janji Bagas yang disambut anggukan Rayu.
Rayu masih saja ragu. Namun dia juga tak bisa terus menerus menutup pintu hatinya. Apalagi ada lelaki sebaik Bagas yang begitu mencintai Rayu tanpa peduli bahwa hati Rayu masih saja terpaut pada Bintang.
Maka sejak itulah mereka mulai berpacaran. Sedari awal, Rayu memang tidak pernah melirik lelaki lain. Hanya ada Bintang yang sosoknya perlahan mulai samar dalam ingatan Rayu. Meski kehadirannya di hati Rayu tak pernah bergeser walau semili.
Bagas tidak pernah mengecewakan Rayu. Sebagai lelaki, Bagas mencintainya tanpa syarat. Apakah Rayu sudah mulai mencintainya atau belum, tidak dipermasalahkan oleh Bagas.
“Kamu boleh memiliki tahun-tahun bersama Bintang. Tapi itu sudah berlalu. Sekarang, kamu hanya boleh melewati hari-hari di masa depanmu bersamaku.” Itu permintaan Bagas.
Bagas menawarkan masa depan untuk mereka berdua. Sementara Bintang hanyalah masa lalu yang kala itu tak pernah Rayu ketahui bagaimana kabarnya. Pada satu waktu, Rayu pernah berpikir benarkah dia mencintai Bintang atau hanya terobsesi pada perasaan masa lalunya.
Ratusan purnama Rayu lewati bersama Bagas. Meski belum bisa dikatakan cinta, namun Rayu mulai terbiasa dengan kehadiran Bagas disisinya. Rayu tidak pernah lagi menolak semua bentuk perhatian yang ditawarkan oleh Bagas. Pangkal pelangi mulai terlihat dalam hubungan mereka.
Lalu badai itu datang. Kini, Bintangnya telah kembali. Menawarkan cinta yang dulu tak pernah usai. Masihkah dia bisa menerimanya? Sementara hari-harinya sepuluh tahun ini dia lalui bersama Bagas. Benarkah ini takdirnya bersama Bintang? Rayu mulai menerka-nerka.
Rayu menatap Bintang yang melangkah gontai meninggalkan kafe. Tangan yang dulu sering merangkulnya, kini tampak lebih kokoh kecoklatan. d**a itu pun lebih bidang dari yang dulu Rayu rasakan. Sepersekian detik lalu, Rayu merasakan kehangatan yang dia rindukan dalam dekapan Bintang.
Dialah lelaki yang sangat menyukai dan memuja namanya. Ketika teman-teman lain mengejek dan mengatakan namanya aneh.
Berkat Bintang, Rayu percaya bahwa Bintang Angkasa adalah jodohnya. Nama mereka saling terpaut. Bintang angkasa dan hembusan angin dalam cahaya rembulan. Kombinasi yang sangat sempurna. Karena itulah, Rayu meminta Bintang untuk menjadi pengantinnya ketika mereka dewasa kelak.
Mimpi Rayu adalah hidup bersama Bagas selamanya. Menjalani hari-hari indah. Menikmati masa tua sambil berbincang di beranda rumah. Memandangi anak cucu mereka yang tumbuh besar.
Tak ada satu pun fase hidup Rayu yang dirancang tanpa kehadiran Bintang. Semua tentang mereka berdua.
Hingga ketika Bintang pergi, Rayu merasa dunia baru yang dia ciptakan pun berakhir. Tak ada lagi rona seroja atau gelak tawa. Cahaya rembulan itu kian meredup. Kehilangan bintang yang menjadi pandunya.
Di masa-masa inilah Bagas hadir menawarkan setitik cahaya. Memandu Rayu untuk kembali menemukan cara untuk menciptakan bahagia. Bagas tak pernah meminta Rayu melupakan Bintang. Bagas hadir untuk melengkapi Rayu mengenal semua emosinya. Menghadapi hari-hari Rayu yang selalu saja dipenuhi bayangan Bintang.
Lalu apa yang harus Rayu lakukan sekarang? Ketika Bintang kembali berpijar di depan matanya.
Rayu meraba semua sisi hatinya. Dilihat dari sudut manapun, Bintang masih memenuhi semua ruang di hati Rayu. Tahun-tahun tanpa Bintang tak pernah bisa menghapus semua kenangan diantara mereka.
Gelisah itu semakin menguasai Rayu. Pada pertemuan singkat mereka tadi, Rayu bisa melihat dengan jelas bahwa Bintang masih mencintainya. Mata legam lelaki itu tak bisa menyembunyikan perasaannya sendiri. Rayu harus berjuang keras untuk pura-pura tidak tahu dengan perasaan Bagas. Mungkin kini dia harus lebih mendalami pelajaran tentang akting.
Arggggghhhh... Rayu menggeleng-gelengkan kepala. Menepis khayalan tentang Bintang yang semakin merajalela.
***