BAB 1 BINTANG ANGKASA

1139 Words
Langit mulai gelap. Jingga telah jauh meninggalkannya. Pasti karena cemburu hingga ia tak mau menyapaku. Batin Rayu. Tangannya semakin erat memegang kemudi. Sudah tak ada waktu lagi. Rayu sedang meeting untuk menyelesaikan sebuah biografi ketika pesan w******p itu masuk. Butuh waktu lebih dari dua tahun untuk menunggu pesan tersebut. Namun, bukan kejadian seperti ini yang ada dalam bayangan Rayu. Bintang ada di RS Mitra. Ruang ICU. Kndisi koma. Mgkin km org yg sdg dia tunggu. Entah siapa pengirimnya. Rayu tidak menyimpan nomor tersebut. Nama Bintang sudah lebih dari cukup untuk menghentikan kerja otaknya. Tanpa berpikir panjang, Rayu menghentikan meeting lalu meminta ijin untuk pulang duluan. Meski dia sendiri sempat menyesal, kenapa tadi pagi menolak tawaran Bagas yang ingin mengantarnya. Andai ada Bagas, rayu tidak perlu menyetir mobil pada kondisi seperti ini. Jakarta tak pernah bisa bersahabat ketika kita sedang berpacu dengan waktu. Meski begitu, Rayu berterima kasih pada Jakarta yang telah membantunya melewatkan waktu. Mengikis setiap iris perasaan dan meleburnya bersama malam. Walaupun Jakarta tak pernah bisa menghapus kenangan yang telah terpahat.  *** “Ternyata memang kamu.” Bintang tersenyum cerah. Sementara Rayu berdiri mematung. Tak percaya dengan penglihatannya. “Kamu?” Rayu menatap penuh selidik. “Aku Bintang. Kamu Rayu kan?” Tak ada kata yang terucap dari bibir Rayu. Seketika dia menghambur ke dalam dekapan Bintang. “Akhirnya aku bisa bertemu kamu.” Rayu terisak. Tentu saja isak bahagia. Bintang mengeratkan pelukannya. Bersyukur bahwa bukan hanya dia yang memendam rindu. “Bagaimana kamu tahu kalau itu aku?” Rayu mulai melepaskan pelukannya. “Nama kamu bagus.” Bintang tersenyum sambil menatap lekat mata Rayu. “Ngga usah gombal.” Rayu tersenyum. “Aku ngga pernah gombalin kamu.” Balas Bintang. “Itu dulu.” Rayu mencibir. “Sampai sekarang pun masih berlaku.” Tukas Bintang Bintang memandangi Rayu penuh rindu. Ingin sekali dia memeluk tubuh itu. Mengatakan pada Rayu betapa Bintang sangat merindukannya. Pencarian selama sepuluh tahun harus ditutupinya. Rayu adalah teman masa kecilnya. Gadis yang menjadi cinta pertama Bintang. Pada Rayu, Bintang berjanji akan selalu menjadi penjaga hati. Pelindung sejati. Teman untuk berbagi. Bahkan janji itu begitu dalam terpatri dalam benak belia Bintang yang baru berusia 12 tahun. Sayangnya Bintang harus meninggalkan Kuningan dan pergi ke Belitung mengikuti orangtuanya yang pindah kerja. Tangis Rayu tak mampu dijabarkan dengan baik. Bintang sibuk menata hatinya sendiri. Tak ada kalimat yang bisa dia temukan untuk Rayu. Bintang hanya memeluk gadis berpipi tembem yang masih berusia 7 tahun itu. Rayu baru kelas 1 SD ketika meminta Bintang untuk menjadi pengantin masa depannya. Rayu tak pernah tahu, permintaannya itu adalah janji Bintang yang tak pernah terucap. Komunikasi mereka pun terputus. Meski kerinduan yang Bintang rasakan tak pernah sedetikpun melayu. Lepas SMA, Bintang sengaja memilih kuliah di Bandung. Dengan harapan akan bertemu Rayu. Bintang mengingat dengan baik, Rayu pernah bermimpi akan kuliah di Bandung dan menjadi ahli astronomi. Kecintaan Rayu pada bintang, rembulan, dan benda-benda langit lainnya memang tak perlu diragukan lagi. Sesuai namanya. Sarayu Indurasmi. Hembusan angin bersama cahaya rembulan. Mungkin karena itulah mengapa rayu sangat menyukai astronomi. Bahkan Bintang menduga, rayu menyukainya karena namanya Bintang Angkasa. Berkaitan erat dengan langit. Bintang tidak menemukan rayu dalam sepuluh tahun kurun waktu dia tinggal di Bandung. Bintang sempat berpikir, rembulan telah mendahuluinya memiliki Rayu. Tapi dia tak goyah. Harapan seketika muncul saat Bintang bekerja sebagai editor sebuah penerbitan buku di Bandung. Saat itu, ada naskah yang dia terima atas nama Sarayu Indurasmi. Tidak banyak yang memiliki nama seperti itu. Pikir Bintang. Tanpa membaca naskahnya, Bintang nekat menghubungi sang penulis. Dan disinilah sekarang mereka bertemu. “Jadi sekarang kamu seorang penulis?” Bintang bertanya. “Iya. Aku pikir dengan menulis aku lebih bebas bercerita tentang angkasa.” “Masih terobsesi dengan bintang di langit atau Bintang yang ada di depan kamu?” Bintang mulai menggoda. “Aku ngga pernah terobsesi dengan kamu.” “Lalu siapa yang dulu memintaku jadi pengantinnya?” “Itu hanya omongan bocah ingusan. Ngga usah kamu percaya.” “Bagaimana kalau aku masih mempercayainya.” “Konyol.” “Aku serius.” “Kita baru bertemu lagi. Ada begitu banyak waktu yang tidak kita lewati bersama. Mungkin aku sudah berubah. Atau bahkan kamu pun bukan lagi kamu yang dulu. Jangan terlalu yakin dengan perasaan kita saat masih kecil.” “Berarti kamu sudah punya pacar?” Bintang mulai penasaran. Hatinya sedikit kecewa meski masih bisa dia kendalikan. Bagi Bintang, Rayu adalah ruang cintanya. Tempat semua rasa terlahir dan bermuara. “Aku tidak punya pacar.” Rayu menjawab. “Jadi kenapa kita tidak bisa mewujudkan mimpi kita?” “Kita tidak pernah punya mimpi bersama. Kamu memintaku ke sini untuk membahas bukuku atau untuk obrolan masa lalu yang tidak penting ini?” Rayu mulai gelisah. Bintang terpaku. Pertemuannya dengan Rayu benar-benar jauh dari dugaannya. Rayu bukan lagi gadis kecil yang dulu suka merengek padanya. Bukan lagi seseorang yang selalu mencari dan melekat padanya. “Naskahmu belum aku baca. Aku langsung menghubungimu ketika membaca namamu. Maaf. Untuk buku, mungkin lain kali kita membahasnya. Setelah aku membaca naskahmu.” Bintang menyesali mengapa dia tidak bersabar dan membaca naskah Rayu dulu. Mungkin mereka akan memiliki lebih banyak waktu untuk bersama dan lebih banyak hal untuk dibicarakan. Kalau begitu, aku tidak bisa lama-lama di sini. Masih ada yang harus aku kerjakan. Terima kasih sudah mau menjadi editorku.” Rayu pergi tanpa menunggu jawaban dari Bintang. Bintang masih memandang punggung Rayu dengan terpana. Dia benar-benar sarayu. Gumam Bintang. Matanya terpejam sambil kembali memanggil tiap kenangan yang telah dia simpan dalam setiap sel kelabunya. Tawa itu masih sama. Kerling matanya pun tak berubah. Bahkan Bintang masih sanggup mendengarkan detak rindu dalam tiap jeda kalimat yang diucapkan Rayu. Degup bahagia pun Bintang rasakan ketika Rayu memeluknya. Tapi mengapa Rayu malah menghindarinya? Bintang menerka-nerka dan coba mengurai setiap detik pertemuan mereka tadi. Tak ada yang mampu dia jelaskan pada dirinya sendiri selaian keyakinannya bahwa dia masih sangat mencintai Rayu. Tak pernah berubah meski telah 21 tahun berlalu. Bintang menghembuskan nafas. Beranjak pergi meninggalkan kafe. Jejak pertemuannya dengan Rayu tertinggal begitu saja. Menyisakan sejumput tanya dan segenggam luka. Sekali lagi Bintang memandang kursi tempat Rayu duduk. Mencoba melukis wajah Rayu dalam memorinya. Bintang melangkahkan kaki gontai. Tanpa menyadari sepasang mata yang terus saja memperhatikannya dari dalam mobil. Mata yang sarat dengan cinta dan juga luka. Sorot kerinduan dan harapan terpancar dengan jelas. Terbaca meski tak dieja dengan seluruh aksara. Sepasang mata milik Rayu. Yang tak pernah berpaling pada kerlip bintang lain meski dua dekade telah memisahkan mereka. Rayu tak pernah berhenti merindu. Tidak juga menutup mata pada cinta. Melihat Bintang yang tiba-tiba saja hadir didepannya, membuat kesadaran Rayu nyaris hilang. Rayu tak lagi mampu membedakan antara khayal dan kenyataan. Dia sangat takut bahwa yang sedang terjadi adalah mimpi. Meskipun tadi Rayu sempat memeluk Bintang, tetap saja bayang-bayang kepergian Bintang yang tiba-tiba langsung menghantui pikiran Rayu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD