"Kang, aku kemarin ketemu sama pemain sinetron ganteng itu."
"Ganteng mana sama akang?" Rangga menatap malas kearah Aya yang tersenyum lebar.
"Akang tetap pertama, dia mau masuk dunia politik. Aku nggak bicara sama dia, tapi istrinya. Tanya gimana caranya bisa masuk dunia politik, apa yang sudah akang lakukan."
"Neng kasih tahu?"
Aya menggelengkan kepalanya "Nggak semua hanya intinya saja, Kang."
Rangga mencubit gemas hidung Aya "Neng pintar. Anak-anak pulang jam berapa? Neng, kenapa kesini? Kegiatan sudah selesai?"
"Alvian les kalau Rania masih di sekolah ekskul PMR. Kegiatan udah selesai, makanya kesini mau nemenin akang kerja. Akang benar jadi calonin gubernur? Partnernya siapa?"
"Kayaknya nggak langsung gubernur tapi wakilnya dulu, partner sama Pak Ibra. Partai yang menentukan, kita juga sudah ketemu sama partai tapi mungkin akan ketemu berdua membahas beberapa hal."
"Pak Ibra? Istrinya yang aktivis itu?" Aya mencoba mengingat tentang partner Rangga "Istri keduanya, kang? Istri pertama meninggal kalau nggak salah dan seinget aku usia kita nggak beda jauh."
"Nggak tahu, aku nggak ngikutin begituan." Rangga mengangkat bahunya.
Mereka berbicara banyak hal di ruang kerja Rangga, keberadaan Aya di kantor membuat Rangga tidak menghubungi Viona sama sekali, Aya memilih membahas banyak hal dan tampaknya akan semakin lama karena Aya minta dibelikan makanan kesukaannya. Rangga semakin semangat dengan keberadaan Aya di kantor, bahkan setelah makan Aya memilih menghabiskan waktu berbicara dengan staff yang ada dan membiarkan Rangga bekerja.
"Kang, aku balik sekarang. Aku mau jemput Rania, baru ingat kalau dia les Bahasa Jepang habis ini. Akang pulang jam berapa? Ada agenda ampe malam?" Aya mendatangi Rangga yang membaca berkas.
"Aku belum tanya Deni, tapi mungkin aku pulang nggak terlalu malam."
Aya mencium tangan Rangga sebelum keluar dari ruangannya, hembusan napas panjang dikeluarkan ketika Aya sudah tidak ditempat. Mengambil ponselnya yang lain, membuka pesan dari Viona yang tidak ada sama sekali, mengirim pesan suara agar mereka bisa bertemu, tapi yang didapat adalah panggilan suara.
[Mas, maaf kalau hari ini nggak bisa ketemuan dulu]
"Memang kamu dimana?"
[Ada temanku datang, sekalian bahas masalah tawaran yang masuk. Mas gimana seharian?]
"Lelah, kangen sama kamu. Besok aku kesana, bisa?"
[Bisa, mau dimasakin apa?]
"Apa aja."
Panggilan mereka terputus dimana tampaknya Viona memang bersama temannya, walaupun sebenarnya mendengar suara pria tapi Rangga berusaha bersikap biasa saja, dimana dirinya juga sadar jika menyakiti Viona lebih parah.
"Bapak rencana pulang cepat?"
Rangga mengerutkan kening mendengar pertanyaan Deni "Kenapa memang? Ada agenda dadakan?"
"Pak Darmawan dan Pak Harianto ingin bertemu makan malam, kemungkinan Pak Ibra juga ikut."
Rangga menatap jam dan menganggukkan kepala "Siapkan semua."
Pertemuan yang mendadak dengan dua orang penting, semua tahu jika kedua orang itu mempunyai peran penting dalam melancarkan karir di politik, selama ini Rangga banyak belajar dari mereka. Berita tentang mereka bukan hanya hal baik, pastinya ada yang negatif dan Rangga tidak peduli akan hal itu, bagaimanapun terpenting adalah langkahnya di dunia politik.
Larut dalam pekerjaan sampai tidak menyadari waktu berjalan cepat, Elisa masuk dengan membawa pakaian baru dan tampaknya Aya yang mempersiapkan semuanya. Mengambil pakaian yang dibawa Elisa dan langsung mempersiapkan diri karena waktu pertemuan tidak lama lagi.
"Pak Ibra datang ke pertemuan?"
"Mas Deni tadi hubungi Mas Teguh katanya iya." Elisa menjawab sambil mengambil berkas yang dibaca Rangga "Mas Deni sudah menunggu dibawah, jika bapak sudah siap langsung berangkat."
"Kamu ikut?" Rangga menatap Elisa yang menggelengkan kepalanya "Kenapa?"
"Saya harus membawa pakaian bapak tadi ke rumah, sekalian membahas agenda Bu Aya besok ke asistennya."
Deni sudah siap di posisinya, tidak lupa dua bodyguard yang selalu ikut bersama dengannya. Mereka menuju tempat pertemuan dan ternyata berada di tengah kota, Deni memberitahukan jika pertemuan ini terkait pencalonan mereka berdua tahun depan. Program yang mereka siapkan harus terlihat meyakinkan, dua orang ini akan menentukan banyak hal.
"Rangga, saya kira bakal terlambat." Ibra menyambut Rangga dengan senyum lebarnya "Kamu memang anak muda yang luar biasa, saya yakin kalau kita bisa menang."
"Saya masih banyak belajar, Pak." Rangga menanggapinya sopan.
"Kita masuk sekarang, tampaknya Pak Darmawan sudah datang." Ibra melihat mobil yang tidak jauh dari mereka berdiri.
Melangkah bersama memasuki restoran yang menjadi tempat pertemuan mereka, langkah mereka sambil membicarakan hal yang santai agar terkesan dekat, bagaimanapun mereka akan menjadi partner untuk kemajuan provinsi ini. Rangga seharusnya tidak maju sebagai gubernur, tapi dibawahnya. Partai menginginkan wajah baru sehingga dirinya maju, Rangga tidak tahu alasan dirinya dipilih dari banyak kandidat yang bagus.
"Kalian datang juga akhirnya." Darmawan berdiri ketika melihat Rangga dan Ibra memasuki ruangan.
Berjalan kearah pria tersebut dan bersalaman, mereka duduk berhadapan dan tampaknya Harianto belum datang. Beberapa menit kemudian Harianto datang, mereka menikmati makanan sambil membicarakan hal-hal diluar politik, Rangga paling muda diantara mereka bertiga.
"Saya tertarik melihat visi dan misi yang partai kalian buat, saya yakin jika masyarakat akan suka. Kalian bukan hanya kuat di visi dan misi, tapi pendekatan dengan masyarakat adalah hal utama. Apa saja yang sudah pernah kalian lakukan?" Harianto membuka suara dan memulai pembahasan serius.
"Saya melakukannya dengan datang langsung ke sekolah dan pelayanan kesehatan, pak." Rangga menjawab dengan nada sopannya.
"Saya lebih memilih mendatangi pasar, pak." Ibra menambahkan agar terlihat fokus mereka berbeda.
Harianto menganggukkan kepalanya "Bagus."
"Adalagi yang kurang, masyarakat memang penting tapi para pelaku bisnis juga penting." Darmawan kali ini membuka suaranya.
"Pak Darmawan memang ahli dalam pendekatan dengan pelaku bisnis, bisnis yang kecil sampai besar." Harianto menatap kagum kearah Darmawan.
"Nggak semua, pak. Perusahaan besar selalu sulit dimasuki, terkadang mereka tidak terlalu peduli dengan politik kecuali jika berhubungan dengan pajak." Darmawan menanggapi dengan sedikit rendah "Pedagang di pasar itu juga bisa dimasukkan sebagai pebisnis, begitu juga pemilik toko. Target bukan hanya besar, tapi juga kecil. Pebisnis besar akan lebih memudahkan mencapai keinginan kita."
Rangga mengangguk setuju didalam hatinya, maka dari itu tujuannya mendekati Viona adalah memudahkan jalan masuk kedalam perusahaan besar, apalagi salah satu groupnya berada di provinsi ini. Rangga sedikit penasaran untuk masuk kedalam sana, selain meminta Viona dimana pastinya sudah harus mempersiapkan amunisi ketika memang pertemuan bisa benar-benar terlaksana.
"Keberadaan Pak Rangga di bursa calon ini selain sebagai wajah baru, tapi juga jalan pendekatan pada generasi muda dimana banyak calon pebisnis yang berasal dari generasi muda." Darmawan melanjutkan pembicaraan dengan menatap Rangga "Saya berharap berhasil mendapatkan tempat ini."
"Kami upayakan dengan sebaik mungkin."