Ponsel yang berbunyi terus menerus membuat Viona mau tidak mau membuka mata, mencari keberadaan ponsel yang ternyata berada di nakas sisi lain, mata yang masih terpejam dan suara yang semakin kencang membuatnya mengangkat tanpa melihat nama yang di layar.
[Kamu dimana?]
"Ahh...apartemen. Kenapa?" Viona menjawab dengan mata terpejamnya.
[Ada kegiatan hari ini? Aku mau perjalanan kesana, hanya punya waktu sampai siang]
Viona membuka mata mendengar kalimat orang yang menghubunginya "Ketemu dimana?"
[Hotel dekat mall GI, seperti biasa. Apa bisa? Kita membahas tentang rencana]
"Ok. Aku siap-siap. Semoga lancar di perjalanan."
Menggerakkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan langsung menuju tempat pertemuan. Setidaknya hal yang disyukuri adalah keadaan jalan yang tidak terlalu ramai dan padat, menggunakan kendaraan online dan meninggalkan Tya yang belum datang ke apartemennya.
"Sendirian? Tya nggak ikut?" Viona menggelengkan kepala "Saya sudah pesankan makanan, saya tahu kamu belum makan."
"Terima kasih, bang."
Menikmati makanan yang ada dihadapannya, belum ada pembicaraan serius yang dimulai. Viona yakin jika pembicaraan mereka pasti tentang rencana yang sedang dilakukan saat ini, menunggu sambil berbicara santai tentang kegiatan sehari-hari.
"Bagaimana perkembangan dengan Rangga?"
"Dia sudah membeli apartemen atas namaku, bang. Masalah permintaannya sama sekali belum aku lakukan, masih mengatur kata untuk berbicara dengan mereka. Abang sendiri gimana? Bukannya kemarin kalian melakukan pertemuan?"
Darmawan menganggukkan kepalanya "Pria cerdas yang layak memimpin kota, kalau dia bagus bisa maju untuk menjadi presiden."
"Lalu kenapa ingin menjatuhkan dia?" Viona mengerutkan kening.
"Orang terlihat baik dan bagus, tidak selamanya akan berakhir dengan baik. Godaan kami jika bukan dengan uang bisa wanita, aku belum menemukan letak kelemahannya. Dunia politik banyak trik didalamnya, kalau kita nggak bisa seperti singa atau raja hutan maka yang ada kehancuran menanti."
Mencerna kalimat yang dikatakan Darmawan, alasan dibalik dirinya mendekati Rangga sama sekali tidak dimengerti. Uang yang membuat Viona menerima ini semua, dirinya membutuhkan banyak uang untuk mengobati orang tuanya.
"Kamu tahu harus melakukan apa, kan?" Darmawan menatap dalam Viona yang menganggukkan kepalanya "Buat dia jatuh sejatuhnya sama kamu."
"H&D Group ini yang buat aku bingung, bang."
"Kamu bisa hubungi Andre, minta bantuan untuk masuk kedalam kalau Dona tidak bisa melakukannya. Andre adalah sepupunya salah satu pemilik dari H&D Group."
"Saya akan hubungi, bang."
"Kamu tahu alasan aku memilih kamu?" Viona menggelengkan kepala "Aku mencari wanita cerdas yang bukan hanya membuka paha. Terbukti dia membelikan dan mengisi apartemen buat kamu, uang yang tidak tahu darimana. Bukan hanya kamu yang sedang melakukan tugas untuk Rangga, seseorang juga melakukan hal yang sama."
"Ada wanita lain yang mendekati Rangga?"
Darmawan menganggukkan kepalanya "Bukan rahasia kalau mereka setiap dinas pastinya ada wanita yang sudah menunggu di kamar. Keberadaan kamu bukan sebagai wanita itu, kamu menghancurkannya secara perlahan. Aku yakin kamu bisa, Vi."
"Abang yakin?"
Darmawan mengangguk lagi penuh kepastian "Kamu menggunakan akal bukan hanya tubuh seperti mereka. Bagaimana dengan tawaran Joko? Sudah kamu baca? Kamu akan terima, kan?"
"Abang yang atur ini semua?" Viona menatap tidak percaya.
"Ceritakan semua yang kamu lakukan pada Tya, bagaimanapun dia adalah manager kamu dan kalau terjadi sesuatu dia tahu harus bersikap apa. Apa kamu butuh bantuan bicara sama Tya? Hubungi aku kalau kamu butuh bantuan itu. Pertemuan aku akhiri, pertemuan selanjutnya akan aku kabari. Semoga berhasil."
Pikiran yang penuh dengan tugas dari Darmawan, mendekati Rangga sudah dilakukannya. Informasi adanya orang lain melakukan hal sama membuat kepalanya seketika berat, menatap ponsel dimana tidak ada pesan atau panggilan yang dilakukan Rangga.
Memilih pulang kerumah, setidaknya dirumah ada makanan buatan sang ibu yang bisa membuatnya tidak perlu memikirkan makan apa. Jarak yang jauh tapi setidaknya jalanan tidak terlalu ramai, kedatangan dan pertemuan dengan Darwin sedikit membuatnya tenang, bagaimanapun Darwin adalah partner yang baik dalam hal apapun.
"Ibu belum masak, mau makan apa? Darimana? Kemarin bukannya Darwin datang, kenapa nggak kesini?" Ulfa menarik Viona masuk kedalam.
"Darwin langsung ke Surabaya, bu. Kangen sama orang tuanya, udah lama nggak pulang juga dia. Kerjaan dia disana nggak bisa ditinggal, baru bisa pulang kemarin dan seminggu mungkin disini tapi nggak tahu juga. Mbak Silvi belum datang? Bang Ihsan? Ayah?"
"Silvi bentar lagi juga pulang. Sekarang masih siang jadinya belum pulang mereka, Vi. Kamu mau makan apa? Ibu masak sekarang. Kamu mau bantu atau di kamar?" Ulfa menatap Viona yang meminum air dihadapannya.
"Kamar aja, bu. Kalau Tya datang suruh langsung kamar, bu." Viona berdiri mencium pipi sang ibu sebelum melangkahkan kakinya di kamar.
Membicarakan semua ini dengan Tya, bukan hal mudah. Viona menghela napas panjang sambil membaca naskah dari Joko. Viona sama sekali tidak menyangka jika Darmawan yang berada dibalik pemilihan Joko pada dirinya, mungkin akan membiarkan semua ini terjadi.
"Ada apa minta aku kesini?" Viona menatap Tya yang masuk ke kamar begitu saja "Aku sudah mengetuk tapi nggak ada balasan. Jadi ada apa suruh kesini dadakan?"
"Aku mau cerita tentang Pak Darmawan dan tugas yang dia kasih." Viona menatap dalam Tya "Aku bilang agar kamu siap sebagai managerku."
Memulai cerita dari pertemuan dengan Darmawan yang sudah lama tidak ditemuin, hingga pertemuan terakhirnya yang baru saja terjadi. Viona juga menceritakan tentang Rangga, Tya membelalakkan matanya mendengar hubungan antara Viona dan Rangga saat ini.
"Kamu mau merusak rumah tangga orang, Vi? Aku nggak tahu Rangga itu yang mana secara aku nggak peduli sama dunia politik, tapi image kamu akan jelek." Tya menggelengkan kepalanya.
"Aku terima karena uang, Ya. Aku butuh uang buat pengobatan ayah, kamu tahu kalau operasi jantung itu nggak murah. Pak Darmawan sudah kasih uang mukanya, sekarang aku lagi kumpulin sisanya. Aku nggak menggunakan perasaan saat bersama Rangga, aku sadar kalau dia punya istri dan aku nggak hubungi dia duluan."
Tya menggelengkan kepalanya "Tetap salah, Vi."
"Tolong bantu dan dukung aku, Ya." Viona menggenggam tangan Tya dengan memberikan tatapan memohon "Pak Darmawan akan membantu agar semua ini tidak diketahui banyak orang."
"Bangkai lama-lama akan tercium, Vi. Kamu harusnya bicara sama kita bukan ambil keputusan sendiri. Dona sama Vivi kalau tahu pasti marah dan kecewa, apalagi ayah dan ibu."
Tya tidak salah, dirinya yang memilih ambil jalan ini. Menerima dengan alasan orang tua membutuhkan biaya pengobatan, walaupun sebenarnya orang tuanya bisa mendapatkan biaya itu semua.
"Aku akan bantu, tapi kalau terjadi apa-apa aku lepas tangan."