13

1011 Words
"Mas, tumben pagi kesini?" Rangga melangkah masuk kedalam, Viona mengikuti langkahnya setelah menutup pintu dan memastikan tidak ada siapapun diluar. Mengernyitkan kening melihat Rangga duduk di sofa dengan menyandarkan kepala dan menutup matanya, tampaknya pekerjaan yang membuatnya lelah. Memilih ke dapur mengambil minuman dan membawa makanan ringan, setidaknya berada di rumah orang tuanya bisa mendapatkan ini kue yang dibuat khusus untuknya. "Minum dulu, mas." Rangga membuka mata menatap minuman diatas meja, mengambil dan meminumnya sedikit "Aku seharian kemarin habis rapat partai tentang pencalonan, rasanya kepala pusing dengerin semua yang mereka bicarakan. Makanya aku kesini buat hilangin pusing, kangen juga sama kamu." Viona mencibir kalimat Rangga "Nggak curiga istrimu, mas?" Rangga menggelengkan kepalanya "Aku bilang istirahat dulu disini, siang udah balik kesana." "Mas nggak kehilangan waktu sama anak dengan kesibukan seperti ini?" Viona sedikit penasaran dengan hubungan Rangga bersama anak-anaknya. "Aku membagi waktu dengan baik bersama mereka. Ada waktu yang memang aku buat khusus bersama mereka, nggak harus setiap hari tapi setidaknya ketika waktu datang secara otomatis tidak ada yang boleh mengganggu termasuk presiden sekalipun. Sama seperti yang aku lakukan sekarang, Vi." "Presiden berarti nggak bisa ganggu ini, mas?" Viona memberikan tatapan menggoda. Rangga menarik Viona agar dekat dengannya, mengangkat tubuhnya duduk di pangkuan, kepalanya diletakkan di leher Viona menghidu aroma khasnya dalam, tangannya melingkar di pinggang Viona. "Presiden nggak mungkin hubungi aku, Vi. Aku belum sepenting itu, sayang." Rangga mencium singkat bibir Viona "Vi, kamu pasang pengaman ya? Aku daftarin di dokter obgyn." Viona mengerutkan kening "Buat apa, mas?" "Biar bebas, Vi. Nggak enak pakai pengaman, aku nggak bisa merasakan puas ketika didalam." Rangga menggerakkan tangannya di bukit kembar Viona. "Mas nggak lapar?" Rangga menggelengkan kepala "Aku pengen makan kamu, mumpung kita ada waktu sampai siang. Aku lagi pengen banget ini, Vi." Viona bisa merasakan tatapan Rangga penuh gairah, sesuatu yang harus dilepaskan sekarang juga. Viona membelai wajah Rangga yang seketika memejamkan matanya, mencium singkat bibirnya, mendekatkan hidung mereka agar saling bersentuhan. Viona mendekatkan bibirnya yang langsung disambut Rangga, pagutan lembut mereka lakukan, tangan Viona melingkar di leher Rangga yang semakin membuat pagutan mereka semakin dalam dan masih lembut. Melepaskan ciuman untuk mengambil napas, saling menatap satu sama lain, Rangga kembali mencium bibir Viona kali ini dengan sedikit kasar, Viona membalas ciuman kasar Rangga semakin dalam dengan tangannya yang meremas rambut Rangga. "Mas..." "Kamu buat aku muda, Vi. Kamu tahu godaan kami politikus jika bukan uang pastinya wanita, selama ini aku bisa menahan godaan itu tapi kamu yang berhasil membuat aku seperti ini dan melakukan dalam waktu singkat." Rangga kembali mencium bibir Viona perlahan. Viona hanya diam mendengar pengakuan Rangga yang mengejutkan dan cepat, tidak tahu harus menanggapi atau mengatakan apa. Semua yang dilakukannya salah, ada wanita yang terluka disana dan seharusnya dirinya memilih menikah dengan Darwin. Darwin pastinya akan membantu semua yang dibutuhkan untuk pengobatan ayahnya, tapi Viona memilih mengambil tawaran ini. "Mas...ahhh..." Viona terkejut dan seketika lamunannya berhenti saat Rangga memainkan bukit kembarnya dengan tangan dan mulut, desahan keluar dari bibir Viona atas apa yang dilakukan Rangga. Memakai pengaman yang memang sudah diletakkan di masing-masing tempat, memudahkan Rangga setiap kali tidak bisa menahan dirinya. Viona yang sudah paham tidak mau membuat Rangga tidak puas akan dirinya, tangannya menyentuh titik sensitif Rangga yang semakin membuat pria ini bergerak tidak menentu dengan pusakanya yang berada didalamnya. "Terima kasih, sayang. Kamu sangat tahu cara memuaskanku." Viona menatap Rangga yang sudah masuk kedalam mimpi, beranjak dari ranjang menuju kamar mandi membersihkan dirinya. Memilih memasak untuk mereka makan nanti setelah Rangga bangun, pria itu akan merasa lapar setelah banyaknya energi yang keluar. Menatap hasil masakan dengan senyum lebar, masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya lagi dan menggunakan pakaian yang bisa menyenangkan Rangga. Menunggu Rangga bangun memilih membaca naskah film yang ditawarkan Joko, Viona sudah paham alur ceritanya tapi masuk kedalam peran membutuhkan bimbingan, dimana peran ini dirinya menjadi wanita kantoran yang stres karena tuntutan banyak pihak dan akhirnya depresi. Mengingat pertemuan dengan Joko, dimana pria itu mengatakan jika akan menemani dirinya tenaga profesional. "Kamu nggak tidur?" Viona tahu jika Rangga sudah bangun dan melangkah kearahnya, aroma tubuhnya sudah tercium dari tempatnya duduk, tanpa melihat Viona tahu itu. Gesekan disampingnya terasa jelas, Rangga memeluk pinggang dan meletakkan bibirnya di leher Viona. "Aku ketemu sama fashion designer Joseph, dia bilang cari orang buat peragain busana barunya." "Mas bilang apa?" Viona bertanya tanpa menatap Rangga. "Aku belum jawab, tapi ada yang kasih usul nama kamu." Viona menatap Rangga dengan kening yang berkerut mendengar jawaban yang diberikan "Kamu kenal Gita?" "Ahh...Gita...kenal, dia teman modelku. Tapi...aku belum hubungi atau ketemu dia. Dia tahu dari...astaga...pasti Fabian." "Fabian?" Rangga menatap penasaran. "Fabian itu pimpinan agencynya Azka, mungkin Azka yang kasih tahu Fabian. Aku juga belum ketemu sama dia karena sibuk banget, sibuk sama kamu." Viona mengecup singkat pipi Rangga "Makan atau mandi dulu?" "Makan, habis itu lagi setelahnya mandi dan langsung pergi." Melayani Rangga selayaknya pasangan pada umumnya, mereka makan dengan membicarakan banyak hal. Rangga merasa Viona dan Aya adalah wanita pintar, mereka memang memiliki kepintaran yang tidak main-main, Rangga beruntung bisa bersama mereka berdua. Melakukannya sekali lagi di tempat yang berbeda, cuaca panas tidak menghalangi mereka mencari kenikmatan dari sentuhan satu sama lain, desahan yang keluar semakin membuat semangat mencapai klimaksnya. Rangga langsung melepaskan pengaman dan masuk kamar mandi, membuangnya di tempat sampah dan meninggalkan Viona yang masih mengatur napasnya. "Hati-hati, mas." Rangga mencium kening Viona sebelum keluar dari ruangan "Kalau butuh apa-apa kabarin ya." Viona menganggukkan kepala, menatap punggung Rangga yang berjalan kearah pintu. Hembusan napas panjang dikeluarkan ketika pintu berbunyi dan tertutup, menghabiskan setengah hari bersama dengan Rangga sangat menguras tenaganya. Langkah kakinya menuju dimana ponsel berada, pesan dari Tya yang masuk beberapa jam lalu baru dibuka. Membelalakkan matanya dan langsung menyiapkan diri dalam waktu singkat, tujuannya adalah tempat pertemuan untuk kerjaan yang lain. "Susah banget dihubungi! Untung Fabian mau nungguin, itupun karena Azka yang nyuruh." Tya menyambut dengan omelan dan tatapan kesalnya "Berapa ronde?" "Empat mungkin, nggak hitung secara dua kali begituan." Viona menjawab santai "Aww...sakit, Ya." "Nggak empati!" "Minta Gani kesini...aww...sakit..Tya...kamu mau biru-biru ini?" Viona menatap kesal kearah Tya. "Biar sama kayak yang di leher kamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD