"Lama kita nggak ketemu, Vi. Apa kabar?"
"Baik, kamu?" Viona mencium kedua pipi Gita, teman yang bersama dengannya saat menjadi model.
"Baik juga. Dalam rangka apa ini kamu balik?"
"Kangen aja sama suasana sini." Viona menjawab sekedarnya, tawaran Joko belum akan dikatakan ke siapapun.
"Joseph pengen ketemu kamu pas tahu kamu datang. Kamu tahu dia mau ikut acara fashion week? Semangat banget dia. Dia bingung mau pakai siapa, tapi aku kasih tahu kamu karena tahu dari Fabian kamu disini. Kamu nggak ada tawaran tampil di fashion week, kan?"
Viona mencoba mengingat "Nggak ada. Joseph hebat juga bisa masuk kesana, fashion week mana?"
"Seoul sama Paris, katanya. Joseph cari link, walaupun tetap harus keluarin uang nggak sedikit. Aku nggak tahu kamu ini dibayar atau nggak, kalian bicarakan aja sendiri."
"Kamu nggak ikut?" Viona menatap Gita yang masih terlihat heboh.
"Belum tahu, aku lagi ada masalah jadi lihat nanti aja." Viona menepuk lengan Gita pelan yang hanya tersenyum tipis.
"Viona! Akhirnya kamu datang juga." Viona berdiri memeluk Joseph yang langsung membawanya kedalam pelukan, ciuman kedua pipi mereka lakukan tanpa batasan.
"Gue nggak lo peluk?" Viona memutar bola matanya malas melihat ekspresi Azka.
"Kemana Fabian? Kok lo yang disini." Viona memeluk Azka singkat.
"Sibuk. Lo udah tahu dari Gita?"
"Kalian malah bicara sendiri," tegur Joseph yang hanya ditanggapi ketawa oleh Gita, Viona langsung duduk di tempatnya semula "Gita udah kasih tahu?" Viona menganggukkan kepalanya "Aku juga udah bicara sama Tya dan Fabian, semua tergantung sama kamu."
"Pengen sih secara udah lama nggak di catwalk, tapi aku juga ada tawaran lain takutnya nggak pas waktu. Memang tampil dua negara?"
"Mungkin. Aku harapnya dua negara itu, tapi belum ada balasan."
"Masih lama berarti?"
Joseph menggelengkan kepalanya "Paling bulan depan juga udah dapat balasannya, semoga aja lolos. Kalau nggak lolos juga kamu tetap aku pakai, aku mau buka butik dan butuh model buat wajah butik aku."
Viona menatap dalam pada pria dihadapannya "Kenapa aku? Kamu bisa pakai Gita atau lainnya."
"Butuh wajah baru, say. Gita udah sering aku pakai, makanya aku butuh wajah baru. Sebenarnya udah lama tertarik sama kamu tapi kamu yang sibuk disana jadinya nggak bahas masalah ini sama sekali. Kita ini sering ketemu kalau kamu kesini dan aku kesana, itupun ketemu di tempat kerja dan hanya sekedar menyapa."
Viona tertawa tidak enak pada Joseph "Maaf, harusnya kamu tetap datangi."
"Memang agency kamu disana sudah selesai?"
Viona menggelengkan kepalanya "Aku nggak pakai agency resmi, semua Tya yang pegang."
"Beda sih, Jo. Dia di kelilingi orang-orang berduit, linknya akan selalu ada." Gita menepuk pundak Joseph pelan.
Viona tidak mau membantah dimana keluarga Dona beberapa kali membantu dirinya mendapatkan pekerjaan, sejauh ini memang berhasil. Pekerjaan yang didapatnya selain usaha sendiri, peran keluarga Dona tidak lepas sama sekali.
"Kamu bisa hubungi Tya langsung masalah kapannya, aku harap waktunya sesuai." Viona tidak menganggapi godaan Gita.
Pertemuan mereka selesai cukup lama, banyak hal yang dibahas dan setidaknya sudah ada titik terang tentang alasan dari pertemuan ini. Joseph dan Gita pergi terlebih dahulu meninggalkan Azka dan Tya, Viona tahu jika mereka memang harus membicarakan hal yang lebih dalam.
"Kamu masuk di aku gimana, Vi?" Azka menatap Viona dan langsung pada inti pembicaraan.
"Berapa persen?" Viona bertanya hal lebih personal langsung.
"Tujuh puluh dan tiga puluh?" Azka menatap Viona yang terdiam "Aku harus memikirkan karyawan lain yang kerja ikut kamu nantinya, kamu pastinya nggak hanya butuh Tya saja."
"Driver dari kamu?" Azka menganggukkan kepalanya "Gajinya dari kamu?"
"Driver dan MUA saja, Tya juga butuh asisten agar mudah dapat pekerjaan lain. Tya khusus sama kamu, terima pekerjaan diluar kami. Kalau kamu dapat kerjaan diluar kami nggak masalah, kami juga nggak akan minta uang itu."
"Gila aja kamu minta." Viona menggelengkan kepala, mengalihkan pandangan kearah Tya yang terdiam "Gimana, Ya?"
"Ayah sama Dona juga melakukan hal yang sama, kecuali driver. Aku sih nggak masalah, uang yang didapat juga masih ok. Kalau kerjaan sendiri, driver gimana?" Tya menatap Azka yang diam mendengarkan.
"Kalian bisa pakai, pekerjaan diluar kalian lebih baik kasih tambahan ke driver. Kalau kalian setuju, kami akan siapkan kontraknya."
"Kamu bisa ringan, Ya. Aku setuju. Kalau sudah nggak ada yang dibahas, aku balik pulang. Kamu masih mau disini sama Azka atau gimana?" Viona menatap Tya yang memilih berbicara dengan Azka.
"Aku sama Azka sekalian ke agency buat bahas masalah kamu. Kamu bisa pulang sendiri, kan?" Tya menatap Viona yang menganggukkan kepalanya.
Tujuannya jelas apartemen membaca naskah milik Joko, Viona seakan masuk kedalam karakter dari tokoh yang ditulis, cerita yang sederhana tapi memiliki makna dalam. Keadaan jalan yang padat membuatnya harus bersabar, jalanan disini sangat berbeda dengan Singapore.
Ponselnya berbunyi dimana masuk pesan dari kakaknya, tanpa berpikir panjang langsung putar arah menuju tempat yang dimaksud. Salah satu ketakutannya adalah mendengar kabar tentang ayahnya, ayah yang terlihat sehat tapi sebenarnya menyimpan penyakit dihadapan banyak orang.
"Ayah dimana?" Viona menatap sang ibu yang duduk diam, langkahnya menuju ruangan dimana sang kakak disana "Ayah kenapa tiba-tiba begini, bu?"
"Tadi pagi baik-baik saja, jalan-jalan keliling komplek sama ibu juga. Berangkat kerja juga baik-baik saja, tiba-tiba dapat kabar kalau mengeluh dadanya sakit dan langsung dibawa kesini sama teman-temannya, mereka langsung pulang ketika Ihsan datang." Ulfa menjawab dengan nada datar, seakan semua sudah biasa "Semoga ayah baik-baik saja." Viona menggenggam tangan Ulfa yang menyandarkan kepala di bahunya.
"Kak, gimana?" Viona menatap Ihsan yang berdiri dihadapannya.
"Ayah harus operasi sekarang buat pasang ring, aku mau urus administrasinya."
Viona mengeluarkan kartu debit miliknya ke Ihsan "Kakak bisa pakai uang disini dan pi nnya tanggal lahir ibu. Disini uang khusus untuk ibu dan bapak, semoga cukup untuk biaya bapak."
"Nggak perlu, Vi. Kakak ada..."
"Kakak simpan uang itu untuk istri dan anak, kalau ini kurang bisa pakai uang kakak. Pakai aja, kak."
"Nak, ibu sama ayah..."
"Nggak papa, bu. Viona memang sengaja nabung buat bapak dan ibu di masa tua, jadi pakai aja." Viona menggenggam tangan Ulfa dan menghentikan kalimat yang akan keluar dari bibirnya "Aku aja yang urus, kakak disini temani ibu siapa tahu dokter butuh kakak."
Ihsan menggelengkan kepala "Kakak yang urus, kamu disini saja. Tuhan yang membalas semua kebaikanmu."
Menatap punggung Ihsan yang berjalan menuju administrasi, tangannya masih menggenggam tangan Ulfa untuk menguatkan. Berdua hanya diam dan menunggu kabar lebih lanjut dari dokter, mata Viona beberapa kali mengarah pada ruangan dimana sang bapak berada.
"Ulfa ada apa kamu disini? Siapa yang sakit?"