15

957 Words
"Nggak ada saya pulang, Den? Saya sudah merindukan anak-anak ini." "Maaf, pak. Jadwal anda padat disini, Bu Aya akan datang besok untuk menemani anda pertemuan dengan ketua partai." Rangga mengusap wajah kasar setelah menatap kamar yang ditempatinya "Saya harus disini? Kamar ini sendirian?" "Bapak mau Mbak Viona atau Mbak Dina? Saya akan menghubungi salah satu dari mereka dan menjemputnya, sebelum Bu Aya datang besok." Deni bertanya dengan nada sopan. "Dina. Viona sudah tadi siang. Aya datang jam berapa besok?" "Setelah Raina pulang." Menghitung waktu yang akan dihabiskan dengan Dinda, tampaknya memang cukup menuntaskan hasratnya, menemaninya berada didalam kamar. Agenda yang membuat pusing dan menguras tenaga, keberadaan Dina akan sangat membantu. Membuka berkas dengan Deni yang masih ada disampingnya, mereka nanti pastinya akan membahas tentang program yang diberikan partai, hasil yang didapat selama program. Setelahnya akan di evaluasi lanjut atau tidaknya program tersebut, dirinya yang maju dalam bursa calon kepala daerah secara otomatis harus memikirkan program yang menarik banyak orang agar memilihnya. "Bukannya program ini nggak disukai warga? Kenapa masih ada?" Rangga membacanya sekali lagi "Nggak bisa dihilangkan ini?" Deni menggaruk kepalanya tidak gatal lalu menundukkan kepalanya "Program ini yang menghasilkan uang banyak." Rangga menghela napas panjang mendengar jawaban Deni, dirinya sebagai kader partai hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan pimpinan dan pimpinan juga mengikuti apa yang dikatakan atasannya. Bukan rahasia umum jika sudah menyangkut hal ini, memilih tidak mengeluarkan suara dan membacanya kembali. "Apa semua ini akan tetap aman, Den?" Rangga menatap Deni yang tidak melepaskan tatapan darinya. "Selama kita mengikuti arahan dari pimpinan, saya rasa akan aman." Rangga menyerahkan berkas yang baru dibacanya "Sudah aku tanda tangan, semoga saja tidak ada masalah besar. Dina, gimana? Sampai mana dia?" Deni mengambil ponsel dan menghubungi seseorang "Sudah di lift, pak. Saya arahkan Dina kesini." "Ok." Masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, tatapannya bertemu pada Dina yang duduk di kursi tempatnya duduk tadi. Dina, wanita yang menemani selama ini dan seketika terasa berbeda dibandingkan Viona, mereka pastinya berbeda dalam banyak hal terutama cara memuaskan dirinya, meskipun baru mengenal dan merasakan Viona jika diminta memilih pastinya akan memilih Viona dibandingkan Dina. "Kang, udah lama kita nggak ketemu." Dina berjalan kearah Rangga yang menggunakan kimono "Aku senang waktu akang hubungi." Dina memegang kerah kimono dengan pelan "Sibuk banget ya, kang?" "Nggak usah banyak tanya. Kamu hanya perlu memuaskan aku sekarang." Rangga melumat kasar bibir Dina, balasan Dina tidak kalah kasarnya dengan apa yang dirinya lakukan. Membuka kancing kemeja Dina dengan kasar, mengangkat tubuhnya ke ranjang yang membuat Dina teriak, Rangga tidak tahu kenapa kali ini rasanya ingin segera menyelesaikan semua dengan Dina. Desahan keluar dari bibir mereka berdua, melakukan tanpa pengaman karena Dina sudah memasang alat kontrasepsi sesuai keinginan Rangga. Mengejar kenikmatan dan kepuasan satu sama lain, tapi sudut hatinya Rangga merasa tidak merasa puas sama sekali, Dina melakukan berbagai macam cara agar Rangga semakin b*******h. "Kang...ahh...aku...mau.." "Bersama..." Rangga mendorong semakin dalam dengan geraman keras. Didalam terasa hangat dimana cairan mereka menjadi satu, Rangga melepaskan penyatuan mereka dan berbaring menatap langit kamar hotel. Suara yang terdengar hanya suara napas mereka berdua, tidak ada keinginan dari Rangga menarik Dina masuk kedalam pelukan seperti dulu. "Aku bersih-bersih dulu," ucap Dina yang beranjak dari ranjang. "Kalau sudah lebih baik langsung pulang." Dina menghentikan langkah, mengerutkan kening "Kita nggak sampai pagi kayak biasanya, kang?" Rangga menatap Dina yang masih tanpa busana, menggelengkan kepala sebagai jawaban "Aku mau baca berkas untuk besok, tenang bayaran kamu nggak berkurang." Dina mengangkat bahu lalu menganggukkan kepalanya "Baiklah." Menarik selimut menutupi tubuhnya tanpa busana, menatap langit kamar dan seketika merindukan Viona. Wanita itu sudah mengambil salah satu sudut di hatinya, tempat kecil yang membuatnya menginginkan sesuatu yang lebih. Suara pintu membuat Rangga menatap kearahnya dimana Dina keluar dan langsung memakai pakaian depannya. "Akang yakin aku pulang?" tanya Dina sebelum keluar, Rangga mengangguk tanpa keraguan "Baiklah, terima kasih." Rangga mengambil ponsel dan menghubungi Deni agar memastikan Dina baik-baik saja, tidak hanya itu juga meminta Deni masuk kedalam kamarnya. Membahas tentang Viona bukan pekerjaan, tapi bisa jadi pekerjaan karena tujuannya mendekati Viona belum benar-benar terjadi. Mengambil ponsel, menatap pesan dimana tidak ada percakapan melalui pesan dengan Viona. Kedatangan tadi pagi juga tidak direncanakan, tiba-tiba dan menghabiskan waktu dengan melakukan olahraga yang menuntaskan hasrat. Membersihkan diri sebelum Deni masuk kedalam dan mendapat balasan pesan dari Viona. "Mbak Dina sudah pulang, Pak. Pengawal mengikuti dari jarak aman. Bayarannya sudah saya transfer ke rekeningnya." Deni menyampaikan informasi ketika Rangga keluar kamar mandi, memilih menganggukkan kepalanya "Pak, mengenai Mbak Viona. Apa kita juga harus membayar dia? Berapa?" Rangga mengambil ponsel, mengerutkan kening saat tidak mendapatkan balasan atau pesan dibaca oleh Viona "Dia kemana, Den?" "Mbak Viona sekarang di rumah sakit dekat Pulo Gadung. Bapaknya kena serangan jantung dan persiapan untuk operasi." Rangga terdiam "Kamu kirim uang ke rekening dia, nanti saya yang bilang tentang uang itu. Kamu kasih dua kali lipat dari Dina, tahu nomer rekeningnya?" Deni menganggukkan kepala, mengambil ponsel dan tampak melakukan apa yang dikatakan Rangga "Kamu jangan lepaskan Viona dari pengamatan." "Baik, pak. Sebelum saya lancang, saya mau tanya tentang progres dengan H&D Group gimana?" "Saya akan bicara lagi dengan Viona nanti saat bertemu." Rangga lupa membicarakan tentang H&D Group, hubungan dengan H&D Group harus segera dilakukan agar langkahnya ringan dalam pencalonan. Mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Viona tentang uang yang baru dikirimnya, nominal yang tidak sedikit untuk sekedar informasi dan kenikmatan. "Kalau tidak adalagi saya ijin keluar, pak." Rangga menatap Deni yang membuyarkan lamunannya "Keluar aja, saya ingin sendirian. Kalau Aya datang kabarin!" Membaringkan tubuh menatap langit kamar hotel, menjadi perwakilan rakyat tidak mudah ditambah sekarang menjadi kandidat kepala daerah. Harapan dan doanya semua berjalan baik-baik saja, tidak ada hal yang bisa merusak rencana dalam pencalonan ini. "Dia sudah membuat aku menginginkan lagi dan lagi, aku bahkan melupakan rasa Aya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD