8

1067 Words
"Ngapain jemput sih, Az?" "Sahabatmu itu berisik, belum lagi ayah dan bunda." Viona tertawa melihat ekspresi Azka, kembarannya Dona "Makasih banyak. Kekasihmu mana? Kekasih yang cewek bukan cowok." Azka mengacak rambut Viona kesal "Kekasihku sibuk dan kamu tahu kerjaannya, kekasih cewek. Kamu pulang dalam rangka apa? Kangen sama ibu bapak? Nggak mungkin banget." "Aish...jahat banget kamu nuduhnya! Aku kangen sama mereka berdua, jangan asal nuduh." Viona memegang dadanya seakan tersakit, Azka yang melihat hanya berdecih kecil dan pelan "Aku mau ketemu sama sutradara kenalannya Darwin." "Siapa?" "Joko, istrinya yang artis itu." "Kemarin aku ketemu dia nggak ada bicara kearah sana. Dia kan bisa minta dari talent punyaku, kenapa jauh-jauh Darwin?" Azka mengetuk jemarinya di kemudi mobil "Darwin nggak memohon sama dia, kan? Wah...kalau memang benar tandanya adalah..." "Rezeki aku." Viona memotong kalimat Azka yang tahu akan kemana "Aku nggak mau mikir kearah sana, Az. Kalau memang dia nggak cocok juga nggak akan diambil, jalanin aja." Azka mengangguk setuju "Aku malah pengen masuk kerja di H&D Group sini, belajar langsung sama opa." "Opa sibuk di kamar sama oma. Nggak jauh beda sama ayah dan bunda." Viona tertawa mendengar kalimat Azka, mereka yang dekat dengan keluarga ini pasti tahu hormon yang luar biasa. Dona saja harus melakukan dengan seseorang agar bisa mengeluarkan hasrat gilanya, tapi sayangnya sampai sekarang belum ada pria yang bisa membuat sahabatnya jatuh hati. "Masuk agency aku gimana? Penawaran langsung ini." "Penawaran kesekian kalinya ya?" Viona menaik turunkan alisnya, sambil memukul lengan Azka. "Ya, selalu ditolak." Azka berdecih pelan, tangannya mengacak rambut Viona kesal "Gimana sama Darwin? Ada perkembangan berarti? Kasihan banget anak bujang itu di PHP terus. Kamu nggak berniat terima dia,Vi?" "Aku belum ada mikir kearah sana, rasanya nanti dululah buat itu. Masih banyak yang mau aku lakukan, Az. Darwin paham dan mengerti, walaupun aku bilang buat nggak usah nunggu." "Kamu memang nggak ada keinginan melakukan..." "Ada, tapi nggak segila kalian berdua. Aku pernah melakukannya, sama Darwin terutama." Viona paham atas apa yang ditanyakan Azka "Daripada kamu capek mikirin aku mending pikiran kekasih priamu itu." "Sial! An***g, kau!" Azka mengumpat kesal kearah Viona yang memilih tertawa. Menatap jalanan yang dilalui, tidak ada pembahasan yang ingin mereka lakukan setelah pembicaraan tidak penting dan berakhir dengan kekesalan Azka. Kota yang menjadi tempat tinggal selama ini tidak banyak berubah, tapi tetap saja ada rasa aneh setiap datang kesini. Kenangan masa lalu membuat Viona seketika teringat, menghela napas panjang ketika mengingatnya. "Kemarin aku ketemu Farel." Viona mengalihkan pandangan kearah Azka yang tetap fokus dengan keadaan jalan "Dia tanya kabar kamu, aku jawab kamu baik-baik saja. Aku sempat berpikir dia akan tanya keberadaan dan ingin bertemu, tapi syukurnya nggak." Azka menatap Viona sekilas "Kamu nggak terima Darwin karena Farel?" "Nggak juga." "Lalu?" Azka menaikkan alis mendengar jawaban Viona "Dia cinta loh sama kamu, memang nggak mau membuka hati lagi? Memaafkan kesalahan di masa lalu." "Dia nggak punya salah, tapi aku. Darwin dan Farel adalah dua pria yang berbeda banyak hal, alasan belum menerima Darwin sama sekali bukan karena Farel. Aku belum siap memulai hubungan lagi setelah dengan Farel!" Viona menjawab dengan nada tegasnya. Azka menghela napas tanda jika sudah tidak bisa memberikan pendapat lain "Pria seperti apa yang kamu cari?" "Opa atau ayah." Azka menggelengkan kepalanya "Kamu nggak mau jadi pelakor buat merebut opa dan ayah, kan?" "Ide bagus." Viona menganggukkan kepala menyetujui ide gila Azka, tentu saja tidak akan dilakukan "Nggak segila itulah!" Azka semakin mengacak rambut Viona yang semakin kesal. Kedua orang tua Viona terkejut dengan kedatangannya, sebenarnya Viona sudah memberitahu jika akan pulang tapi tidak mengatakan waktu tepatnya. Azka memilih langsung pulang setelah berbasa-basi sebentar dengan kedua orang tua Viona, membiarkan Azka menuju mobilnya seorang diri. "Kamu akan tinggal disini lama, kan?" Ulfa, sang ibu mengikuti Viona sampai kedalam kamar. "Belum tahu, Bu. Aku dapat tawaran main film. Kalau jauh mungkin cari apartemen di ibukota." Viona membuka tas mengeluarkan belanjaan titipan keluarganya. "Film? Film apaan?" Viona mengangkat bahunya, Ulfa menepuk lengan Viona pelan "Kebiasaan nggak tanya film apaan. Kenapa nggak berangkat darisini? Managermu mana?" "Tya? Dia masih urus disana, sekalian bahas sama Darwin tentang tawaran film. Lusa mungkin dia kesini. Tya langsung pulang kerumahnya, nggak mampir sini." Viona seketika membaca ekspresi sang ibu "Aku mau istirahat, jadi bisa ibu keluar?" Menatap sang ibu keluar dari kamar, menghela napas sambil menatap isi kamarnya yang tidak banyak berubah. Mengambil ponsel, teringat belum memberi kabar jika sudah sampai. Mengambil gambar, menunjukkan jika dirinya sudah sampai dengan selamat, senyum lebar ketika pesan terkirim dan langsung keluar dari obrolan di chat. Beranjak dari tempat tidur, membersihkan diri dan keluar kamar. Menghentikan langkah saat mendapati kakak iparnya sudah duduk tenang di sofa ruang keluarga sambil menikmati kue buatan sang ibu, mencoba mengingat keberadaannya saat dirinya datang dan memasuki rumah, sayangnya saat masuk tidak memperhatikan sekitar. "Baru datang?" tanya Silvi ketika melirik Viona yang memilih duduk tidak jauh. "Bang Ihsan belum pulang?" Viona menatap jam di tangan "Harusnya udah sih, apa masih di jalan? Kamu sendiri nggak kerja?" "Guru kerjanya itu pagi, lupa? Abangmu lembur. Dalam rangka apa pulang? Nggak kembali kesana?" Silvi mengalihkan pandangan setelah mematikan televisi, tatapannya fokus pada Viona. "Ketemu sutradara, mau main film." Silvi membelalakkan mata ketika Viona memberikan berita menarik "Baru tawaran belum sepenuhnya, lagian udah lama nggak acting." Viona melanjutkan sebelum kakak iparnya bertanya lebih jauh "Ibu kemana?" "Dapur, masak buat kamu. Anak kesayangan pulang jadinya dimasakin spesial." Silvi mengedipkan mata sebelum beranjak "Mau jemput keponakanmu nggak? Mereka pasti senang lihat kamu." Viona menggelengkan kepalanya "Aku disini saja bantuin ibu habisin masakannya." Silvi, kakak iparnya yang sangat baik. Orang tuanya tidak pernah menganggap Silvi sebagai menantu, melainkan anak sendiri. Rumah mereka beda gang dari rumah orang tuanya, tapi lebih sering menghabiskan waktu disini dibanding rumahnya sendiri. "Nggak ada agenda, kan?" Ulfa menatap Viona sekilas yang duduk di meja makan, Viona menggelengkan kepalanya "Teman ibu punya anak cowok, dokter dan belum menikah..." "Ibu mau jodohin aku lagi?" Viona memotong kalimat sang ibu. "Bukan, cuman kenalan aja. Siapa tahu memang berjodoh." Viona menghela napas panjangnya "Bu, aku nggak mau menikah karena target. Lagian usiaku masih muda dan produktif, aku masih ingin karir di dunia entertain, apalagi aku mau ketemu sutradara yang akan kasih kerjaan. Pernikahan buatku itu ibadah seumur hidup, aku nggak mau salah dalam memilih pasangan." "Baiklah, ibu hanya mengenalkan dan tidak lebih. Ibu juga nggak lihat Darwin datang kesini lagi sekarang, jadi ibu anggap hubungan kalian berakhir. Jodoh sama sekali tidak bisa ditebak datang dengan cara apa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD