17

1019 Words
"Kamu sudah yakin terima, Vi?" "Aku harus balikin uang, Ya." "Semua dibayarin Rangga aja, pakai gegayaan balikin uang. Darwin hubungi kamu? Udah kamu balas?" "Udah, dia sempat ke rumah sakit sebelum balik ke Singapore." "Kamu nggak mau terima lamaran Darwin? Dia serius sama kamu, Vi. Sulit cari cowok model dia, apalagi kalau umpama ada yang bawa nama kamu sama Rangga. Darwin bisa menjadi tameng, orang-orang nggak akan percaya sama gosip." Viona terdiam mendengar usulan yang diberikan Tya, tapi bukannya menjadi jahat jika dirinya melakukan apa yang dikatakan Tya. Darwin sudah sangat baik dengannya, tidak mungkin dirinya memanfaatkan kebaikan pria ini atas apa yang sedang direncanakan. "Apa nggak jahat, Ya?" Viona membuka suara setelah tidak menemukan jawaban yang sesuai. "Nggak tahu, Vi. Aku hanya terpikirkan itu." Tya menghela napas panjang "Kapan ketemu sama Mas Joko?" "Makan siang di PS. Kita berangkat sekarang!" Menerima tawaran Joko setelah membaca naskah yang diberikan, tampaknya tidak terlalu sulit masuk kedalam karakter yang ada dalam cerita. Viona langsung memutuskan diawal membaca, tapi tetap ingin membaca keseluruhan sekalian pendalaman karakter. "Gimana? Sorry sedikit telat." Viona berdiri dan melakukan cium pipi kanan kiri dengan Joko, salah satu yang sudah menjadi kebiasaan di dunia entertainment. Joko tidak datang sendirian, tampaknya bersama asisten dan mereka akan membahas tentang kontrak. "Saya terima, mas. Kapan kita mulai reading?" Viona langsung mengatakan yang menjadi tujuannya. "Kita udah deal masalah nominal?" Joko menatap Tya dan Viona bergantian. "Saya belum dikasih tahu sama Viona, memang sudah ada pembicaraan?" Tya menatap Joko dan Viona yang menggelengkan kepala "Jadi gimana?" "Saya bilang waktu itu akan bicara kalau terima dan nominalnya akan sesuai. Mbak tidak ikut agency?" "Sebenarnya saya bergabung dengan Azka, tapi mengenai project ini belum ada hubungan sama Azka jadi masih kami berdua yang melakukannya." Viona menjawab Joko yang menganggukkan kepala, tiba-tiba tangan Joko memberikan kertas kecil "Segini, gimana?" "Ya. Bagaimana?" Joko menatap Viona yang memberikan pada Tya "Saya sempat berbicara dengan Azka dan hasil diskusi kami keluar nominal segitu." Joko masih menatap keduanya bergantian. "Saya terima, mas." Viona menjawab setelah mendapatkan anggukan dari Tya. "Syukurlah. Kalau begitu bisa tanda tangan kontrak. Satu lagi, mbak. Mbak akan ikut selama roadshow promo film, peran mbak adalah second lead jadi perlu ada setiap promo. Biaya ini diluar transportasi dan akomodasi selama promosi." "Saya paham, mas." Kesepakatan sudah didapat, mereka berpisah dimana Viona memilih kembali ke apartemen, sedangkan Tya menuju kantor agency milik Azka. Melangkahkan kakinya dengan Fikri yang langsung berdiri melihat kedatangannya di apartemen, mereka menuju unit tanpa banyak bicara. "Pak Deni bilang kalau mbak diminta ke hotel dekat GI nanti malam." Viona menghentikan langkahnya "Ngapain? Pak Rangga disana?" "Ya." Viona mengerutkan kening, mengingat tidak ada pembicaraan tentang kedatangan Rangga di ibukota. Pria itu mengatakan jika sudah kembali ke Bandung, tidak bisa bebas menghubungi karena bersama istri dan Viona paham akan hal itu, paham dengan posisinya disamping Rangga. "Kamu bisa keluar, mas. Saya mau istirahat. Mas istirahat saja setelah memberi kabar pada Pak Deni jika saya akan datang." Menghempaskan tubuhnya di ranjang, kesibukan mengurus bapaknya membuat Viona melupakan tugasnya tentang Rangga, mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Dona untuk meminta bantuan terkait dengan H&D Group. Viona bisa saja langsung menghubungi Endi, tapi bingung memulai pembicaraan darimana. [Kamu bisa hubungi Endi, Vi. Kamu sudah kenal dia] "Aku bingung ngomong gimana ya, Don?" [Kalau berhubungan sama politik pastinya tidak akan mau, tapi buat apa kamu berhubungan sama politik? Mau maju sebagai anggota dewan?] "Nggak!" [Lalu? Apa pekerjaanmu ada hubungan sama politik? Bukannya kamu masuk di agency Azka?] Viona memejamkan mata, masuk H&D Group dengan membawa politik pastinya tidak akan disetujui. Beberapa kali mencari alasan masuk akal agar bisa memperkenalkan Rangga dengan salah satu dari mereka, tapi tidak ada alasan yang masuk akal atau setidaknya mereka terima. [Harus H&D Group, Vi?] Viona menghembuskan pelan "Membawa nama kalian bisa membuat kepercayaan orang naik, Don." [Itu yang nggak disukai opa, Vi. Opa nggak mau aliran dana perusahaan berkaitan dengan politik, bisnis dan politik itu dua hal berbeda jadi jangan dijadikan satu] "Salah satu dari H&D Group, Don?" [Opa bakal tahu, Vi. Kamu tahu sendiri kalau kita saling terhubung. Om Rifat dan Endi adalah orang kepercayaan opa, mereka nggak akan melakukan hal yang sudah dilarang sama opa. Ayah aja nggak berani, Vi. Apalagi mereka berdua, kamu tahu sendiri.] "Om kamu? Siapa namanya? Om Tian? Apa bisa aku minta bantuan?" Viona seketika teringat dengan salah satu anggota keluarga yang lain. [Om Tian? Dia paling malas mengurus begituan, Vi. Apa kamu hubungi Boy aja? Siapa tahu dia bisa bantuin, tapi aku nggak janji.] "Boy itu anaknya Om Tian? Memang perusahaan Om Tian nggak masuk ke H&D Group?" [Seingatku masuk cuman Om Tian yang pegang semua, perusahaannya itu akan dipegang Boy nantinya. Gimana?] "Boleh. Aku hubungi beliau dulu. Semoga saja mau." [Aku kasih tahu Boy dulu, kalau dia mau aku kirim nomernya.] "Makasih, Don. Aku nggak tahu balas kamu gimana." [Balas dengan nikah sama Darwin.] "Apaan sih?" Menatap layar ponsel dengan senyum lebar, memilih mendalami karakter dari cerita. Joko mengatakan jika proses reading akan berjalan minggu depan, otomatis akan bertemu dengan pemeran lainnya. Membuka naskah dan membacanya kembali, berlatih depan kaca dengan kamera yang siap merekam. Selama ini memang latihan yang dilakukan seperti ini, semua hanya demi peran. Melihat ekspresi yang dikeluarkannya dari setiap kata yang keluar, bermain peran bukan pertama kali dilakukan, tapi sudah cukup lama tidak melakukannya. Menatap jam dimana tampaknya harus bersiap bertemu Rangga, menghentikan semua kegiatannya dan menyimpan alat-alat yang dipakai. Menatap penampilannya, tidak terlalu terbuka tapi setidaknya bisa membuat Rangga menyukainya. Pakaian yang dipakai adalah celana jeans, kaos yang memperlihatkan pusar dan jaket yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. Memastikan kembali tidak terlalu berlebihan, Vania tidak ingin orang menilai dirinya w*************a atau murahan. "Berangkat sekarang?" Fikri menganggukkan kepalanya. Perjalanan menuju hotel memakan waktu lama, jalanan yang padat meskipun malam ditambah jam yang sebenarnya masih jam pulang kerja. Tidak ada yang membuka pembicaraan selama perjalanan, hubungan mereka tidak sedekat itu untuk saling berbicara hal apapun. "Kunci kamarnya, mbak." Melangkahkan kakinya menuju kamar dimana Rangga berada, sepanjang perjalanan menuju kamar tidak ada yang menyapa dan mengenali dirinya, setidaknya tidak ada wartawan atau orang yang peduli dengan dirinya. "Kenapa nggak ngabari kalau ada disini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD