"Aku dengar kamu terima tawaran Joko, benar?"
Viona menganggukkan kepalanya "Terima kasih untuk bantuannya."
"Bukan aku yang melakukannya, Vi."
Mereka hanya diam dan berbicara seperlunya dari Viona masuk kedalam, saling menatap satu sama lain, seakan dari tatapan ini bisa melepas rindu. Keinginan mendekat sangat besar, tapi mereka masih menikmati waktu hanya dengan saling menatap.
"Bagaimana kegiatan selama ini, mas?" Viona memilih mengeluarkan suara dengan mencari topik pembicaraan.
"Berjalan lancar dan melelahkan. Kamu sudah aku kasih tahu kalau mau maju jadi pemimpin daerah? Mendekati pimpinan partai, pengusaha dan tidak lupa artis. Aku sama sekali tidak menyangka jika akan sampai di tahap ini."
"Terpenting kamu bahagia, mas." Viona membelai punggung Rangga pelan "Kamu pasti bisa melakukannya, kamu orang pintar dan ramah. Rakyat akan suka sama kamu, apalagi image kamu bagus banget."
Rangga tersenyum tipis "Image? Kadang lelah harus menjaga image agar terlihat baik, tapi setidaknya jika ada berita negatif mereka tidak akan langsung percaya..."
"Merasa kasihan dan akan membela kamu, mas." Viona menambahkan yang diangguki Rangga "Jadi, bagaimana dengan H&D Group?"
"Kamu masuk di agency mereka?" Viona menganggukkan kepalanya "Sebenarnya aku bisa minta mereka agar datang saat kampanye, tapi tampaknya sulit."
Viona mengangguk setuju dengan pernyataan Rangga "Tapi...tampaknya mereka masih nggak masalah. Aku bantu tanya, gimana?"
"Boleh. Kalau aku dapat informasi nanti akan aku kasih tahu tim sukses." Rangga menarik tangan Viona sedikit lebih keras "Aku merindukanmu."
Rangga membelai pipi Viona perlahan, tangannya yang lain berada dalam genggaman tangan Viona. Menariknya hingga duduk di pangkuan, mendekatkan wajah mereka kembali memagut bibir yang dirindukan dengan lembut, mengungkapkan perasaan yang terpendam selama tidak bertemu. Melepaskan pagutan dengan saling menatap, jemari Rangga membelai bibir Viona yang terdapat saliva mereka dan terlihat semakin seksi.
Rangga menggerakkan tangannya di bukit kembar Viona, membelai perlahan dengan remasan lembut, Viona memejamkan mata menikmati apa yang Rangga lakukan, desahan kecil keluar dari bibirnya ketika Rangga menyentuh titik sensitifnya. Rangga mendekatkan bibirnya di leher Viona mencium dengan jilatan perlahan, tangan Viona yang berada di kemeja Rangga meremas pelan.
"Mas...ahh..."
Desahan Viona membuat Rangga semakin b*******h, tangannya semakin berani menyentuh lebih dalam pada tubuh Viona, melepaskan pakaian yang dipakai satu per satu secara perlahan. Mengangkat tubuh Viona yang langsung mengalungkan tangan di leher, melangkah pelan dan membaringkan tubuhnya di ranjang dengan Rangga berada diatas, melumat kembali bibir Viona yang kali ini lebih dalam dan menuntut, tangan Viona keduanya meremas rambut Rangga kasar.
Lenguhan keluar dari bibir mereka disela-sela ciuman, melepaskan pagutan dengan saling memandang. Rangga yang sudah tidak sabar langsung menjelajahi tubuh Viona, tidak memberikan napas dengan menyerang titik-titik sensitif miliknya. Desahan keluar dari bibir Viona, tangannya yang satu meremas seprai sedangkan lainnya meremas rambut Rangga kasar, gerakan tubuhnya tidak menentu setiap Rangga berhasil menyentuh titik sensitifnya.
"Oh...mas...sudah tegang aja kamu..."
"Maaf aku langsung intinya..."
"Ahh...."
Rangga melakukan penyatuan tanpa berlama-lama pemanasan, rasa rindu membuatnya tidak tahan. Desahan dan erangan keluar dari bibir mereka berdua tanda jika panasnya kegiatan mereka, Viona melingkarkan tangannya di leher Rangga membuat tubuh mereka semakin dekat dan tidak berjarak.
"Mas...ahh...dalam..." Viona menggoyangkan bagian bawahnya mengikuti gerakan Rangga.
"Ohh...enak...Vi..." Rangga melumat put ing Viona yang berdiri dan keras.
Bibirnya tidak tinggal diam dengan mencium seluruh tubuh Viona tanpa ada yang terlewatkan, desahan Viona semakin membuat Rangga b*******h. Gerakan cepat dilakukan, sesekali memejamkan mata merasakan nikmat tubuh Viona yang berbeda dengan istrinya.
"Mas...aku mau..."
"Bersama..."
Rangga mendorong dalam sampai tidak ada yang keluar, melepaskan penyatuan mereka sambil mencium kening Viona pelan, melepaskan pengaman yang sudah terisi penuh dan membuangnya di tempat sampah. Ekspresi Viona semakin membuat Rangga menginginkan melakukannya kembali, tapi tampaknya cukup sampai disini karena masih ada yang harus dikerjakan.
"Vi, kamu mau melakukan sesuatu?"
Viona menyipitkan matanya dan beranjak dari berbaring "Apa? Jangan aneh-aneh, mas."
"Masuk ke dunia para artis. Kamu masuk disana dengan menjual barang atau apalah, kamu cari yang sesuai dengan kesukaan kamu. Masalah modal nggak usah dipikirkan, aku yang akan memberikan modalnya."
"Buat apa ini semua, mas? Apa ini cara kamu memainkan uang yang masuk?" Viona menatap penasaran dengan ide yang diberikan Rangga.
"Kamu tahu kalau sebentar lagi aku maju dalam bursa pemilihan, otomatis kekayaan aku akan diminta..."
"Harta mas yang tersembunyi dipakai untuk lainnya? Membuat usaha atau apapun itu?" Viona langsung memahami arah pembicaraan Rangga.
"Kamu pintar. Kurang lebih seperti itu."
"Aku memang sering membantu Dona di Singapore, tapi untuk langsung terjun rasanya aku masih ragu. Lagian kalau aku tiba-tiba bisnis pastinya banyak yang bertanya-tanya, uang darimana." Viona menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah memikirkan itu." Viona mengangkat salah satu alisnya mendengar kalimat Rangga "Apa yang ingin kamu buat?"
Viona terdiam dan seketika berpikir, mengingat impiannya yang dulu dipendam. Impian yang hanya diketahui kakaknya, sadar jika tidak akan mungkin mewujudkan impiannya ini.
"Aku ingin buka toko emas."
"Toko emas? Spesifik emas?" Viona menganggukkan kepalanya "Alasannya?"
"Alasannya adalah toko emas ini pasti banyak yang datang untuk membeli atau menjual. Karakteristik banyak orang adalah membeli emas apapun ketika momen bahagia, mereka akan menjual emas ketika dalam keadaan terdesak." Rangga menganggukkan kepalanya "Alasan lain adalah biar kayak orang-orang cina yang punya toko emas."
Rangga tertawa mendengar kalimat Viona, tangannya mengacak rambut Viona lembut. Duduk di ranjang menatap dalam Viona yang menutupi tubuh tanpa busana menggunakan selimut.
"Aku akan mewujudkan hal ini. Kalau memang kamu berubah pikiran bisa bilang ke aku."
"Apa nggak bahaya?" Viona menggenggam tangan Rangga "Apa yang kecil-kecilan? Buka toko roti? Aku rasa jangan sekarang. Aku baru merintis disini, walaupun sudah di Singapore. Orang akan menilai negatif dan pastinya curiga."
Rangga menggelengkan kepalanya "Mereka akan berpikir kalau kamu membuka bisnis disini, kembali ke tanah air setelah merintis di luar negeri. Malah tidak ada yang curiga dengan apa yang kamu lakukan."
Viona terdiam menatap dalam kedua mata Rangga "Apa ini aman? Tidak ada yang menyentuh jika terjadi sesuatu dengan kamu?"
"Aman. Selama kamu tidak membuka rencana ini ke siapapun, kecuali managermu. Meski begitu kamu harus memastikan dia bisa menjaga rahasia."
"Kenapa kamu melakukan ini?" Viona tidak melepaskan tatapannya di kedua mata Rangga "Apa kamu sudah mulai menyukaiku?"
Rangga berdiri menuju meja dimana berkas pekerjaannya berada. Viona menatap punggung tegap itu dengan tidak percaya. Memikirkan cara agar keuangan dia terlihat bagus di mata banyak orang, walaupun tidak banyak yang tahu cara mereka agar uang yang dimiliki tidak banyak dan terlihat sehat.
"Apa bisa lebih dari satu usaha yang dibuat?"