"Darwin cariin kamu."
Viona mengangkat alisnya mendengar kalimat Dona "Nggak usah ngarang! Aku ketemu Darwin tadi dan nggak bilang apa-apa."
Dona tertawa yang membuat Viona menatap malas "Kamu itu udah kelihatan jelas Darwin suka malah dianggurin." Viona kembali memutar bola matanya malas mendengar kalimat yang sama "Semalam kemana?"
"Kerjaan."
Dona memicingkan matanya "Kerjaan apa? Kamu nggak mau kasih tahu aku?"
"Aku mau balik ke Indonesia."
"Ngapain?"
"Kerja disana."
"Kerja apaan? Kerjaan kamu disini gimana?"
"Kebetulan free jadi aku dapat kerjaan disana. Kamu baik-baik disini, jangan nakal nanti kasihan bunda dan ayah."
"Curang! Aku nggak bisa ke Indonesia. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan." Dona mengerucutkan bibirnya.
Viona tersenyum sambil menepuk bahu Donna pelan "Kamu pewaris disini jadi harus melakukan tugasnya, banyak yang bergantung dari pekerjaan ini. Memang kamu tega?"
Keputusan ke Indonesia datang tiba-tiba, pembicaraan semalam dengan Rangga membuat Viona memutuskan pulang, setidaknya Rangga mencarikan tiket untuknya. Rangga juga mencarikan tempat tinggal di ibukota dan kota yang sama dengan dirinya. Tugasnya mendekati keberhasilan, walaupun bisa saja gagal jika istrinya Rangga tahu. Tawaran menjadi kekasih tampaknya menarik, Viona sudah membahas hal ini pada orang yang memberikannya tugas.
"Kalau gitu aku ketemu klien dulu." Donna berdiri dan meninggalkan Viona yang masih menikmati makanannya "Kalau berangkat kabarin, sampai sana juga kabarin. Mampir ke rumah oma, dia pasti senang kamu datang."
"Pekerjaan yang melelahkan." Viona mengatakan dengah suara pelan yang tidak didengar Dona.
Agenda yang lain adalah bertemu dengan seseorang, melancarkan pekerjaannya dengan meminta saran dari orang yang paham dan memahami seluk beluk tentang apa yang dilakukannya. Menghela napas kasar menatap gedung dihadapannya, melangkah masuk kedalam dengan langkah pasti.
"Bagaimana pertemuan kalian semalam?"
"Lancar." Viona menjawab singkat "Aku akan kembali ke Indonesia. Rangga akan mencarikan tempat tinggal untuk aku disana."
"Bagus. Saya yakin kamu bisa melakukan pekerjaan ini."
Menyandarkan tubuhnya di sofa, kejadian semalam tidak akan dikatakan pada orang lain. Semua akan menjadi rahasia mereka berdua, hubungan yang hanya diketahui mereka atau mungkin nanti orang yang mempekerjakannya. Pekerjaan ini tidak akan tahu akan sampai sejauh mana, berapa lama dan menghabiskan banyak hal sejauh apa. Seharusnya memang tidak perlu menerima pekerjaan ini, pekerjaan yang akan membawa perasaan didalamnya.
"Apa saya akan dibantu nantinya jika terjadi sesuatu?" tanya Viona menatap dalam pria dihadapannya.
"Kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu."
Menatap punggung seseorang yang baru mempekerjakannya, memberi pekerjaan untuk menjatuhkan Rangga. Viona tidak ingin tahu banyak alasan dibalik semua itu, baginya tidak penting sama sekali.
"Kamu disini? Nggak sama Dona?"
Viona mengalihkan pandangan dimana Darwin berada disamping meja, menggunakan pakaian santai seakan tidak ada pekerjaan yang dilakukan. Darwin, pria pekerja keras yang membangun perusahaan sendiri. Mereka dekat karena pertemuan yang dihadiri, pertemuan antar pengusaha.
"Dona kerja. Kamu sendiri?"
Darwin duduk dihadapan Viona, memanggil pelayan dan memesan minuman "Aku pengen bicara sama kamu, tapi kamu selalu menghilang."
Viona tersenyum tipis "Bicara apaan? Penting? Kamu punya nomerku, kenapa nggak kirim pesan kesana."
Darwin mengangkat sudut bibirnya "Lebih enak ketemu begini. Aku yakin Tuhan memberikan keajaiban untuk mempertemukan kita."
Viona mencibir kalimat Darwin "Jadi mau bicara apa? Kita ketemu tadi pagi, lupa?"
Darwin menyuapkan makanan yang baru saja datang, mengunyah perlahan tanpa melepaskan tatapan dari Viona, menelan makanan sebelum membuka suaranya "Kamu sulit sekali diajak bicara lama, sibuk banget. Sudah ada pekerjaan baru yang masuk? Model masih jalan, kan? Kita ini teman kalau kamu lupa."
"Minggu lalu baru selesai pemotretan. Kenapa?"
"Aku punya kenalan sutradara. Dia bilang cari pemain film untuk film yang mau di produksi. Aku seketika teringat sama kamu, kamu pernah tampil di beberapa film juga kan? Maaf kalau aku lancang karena aku kasih tahu tentang kamu dan judul film yang kamu mainkan. Dia kemarin hubungi aku dan katanya tertarik sama kamu, pengen ketemu dan melakukan pembicaraan."
Viona menatap tidak percaya "Sutradara sini? Mereka tahu tentang aku kalau disini, nggak perlu lewat kamu." Darwin menggelengkan kepalanya, memasukkan makanan kedalam mulutnya lagi dan Viona berdecih pelan "Lalu sutradara mana?"
"Indonesia. Sutradara terkenal." Darwin menjawab setelah menelan makanannya "Kamu mau ketemu dia? Kamu harus pulang kesana artinya."
Viona menatap tidak percaya, semua seakan dimudahkan untuk dekat dengan Rangga. Tugasnya untuk dekat dengan Rangga akan semakin terbuka, tidak perlu Rangga mencarikan pekerjaan yang berhubungan dengan dunianya. Tawaran ini bisa membuatnya kesana tanpa mencari pekerjaan lagi, sambil menunggu pekerjaan dimulai mungkin bisa meminta bantuan kembarannya Dona.
"Kebetulan sekali, aku rencana mau pulang."
"Kapan?" Darwin mengangkat alisnya "Nggak mungkin dalam waktu cepat, kan? Memang pekerjaanmu sudah selesai semua?"
"Beberapa hari lagi, tapi aku masih sering kesini."
"Syukurlah kalau begitu." Darwin menghela napas lega "Kalau kamu mau nanti aku kasih tahu sutradaranya. Kamu jangan nggak balas atau angkat kalau aku hubungi."
"Iya." Viona memutar bola matanya malas "Lagian mana pernah aku nggak angkat atau balas pesan kamu?"
Darwin menatap dalam Viona "Jadi, kita bisa bicara hal serius?"
"Aku belum siap, Win. Jadi jangan memaksa."
"Kapan kamu siap?" Viona mengangkat bahunya "Kontrak kamu sudah selesai, Vi. Apalagi alasannya kali ini?"
"Aku masih ingin bekerja, kalau kita menikah secara otomatis aku nggak bisa kerja. Pekerjaan kita berbeda, Win." Viona memberikan alasan "Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dibandingkan aku."
Darwin berdecih pelan "Mudah kamu bicara begitu."
Viona tersenyum tipis "Mudah memang, kalau kita berjodoh maka nggak akan kemana. Kita akan tetap saling dukung apapun yang dilakukan. Aku balik dulu, mau packing. Kamu kabarin gimana nanti sama sutradara. Terima kasih banyak, Win. Kamu selalu membantu aku dalam keadaan apapun."
Menghela napas panjang ketika masuk kedalam mobil, berbicara dengan Darwin sering membuat merasa bersalah. Perasaannya sangat tulus, tapi sampai detik ini belum bisa membalas sama sekali, menganggap sebagai teman dan Darwin selalu membantu dalam keadaan apapun.
Ponselnya berbunyi, senyum tipis saat melihat pesan dari Rangga yang memberikan semangat untuk menjalani hari, sedikit terlambat daripada tidak sama sekali. Menjalankan mobilnya menuju tempat tinggalnya yang berdekatan dengan Dona, dirinya tidak berbohong ketika mengatakan akan packing untuk pulang ke Indonesia.
"Nggak perlu bawa banyak, dirumah juga ada barang-barangnya. Mungkin membeli oleh-oleh untuk saudara yang dirumah." Viona menatap pakaian dalam kopernya "Apa aku nggak akan kembali kesini? Apartemen ini sudah dibeli, nggak mungkin hanya dibiarkan kosong."
Ponselnya berbunyi dimana pesan Rangga yang menampilkan foto diri disela kesibukan, tampaknya pria ini berada dalam fase remaja kedua. Viona tersenyum sambil membalas pesan dan mengirim fotonya saat itu, foto yang sedikit menggoda agar pria itu semakin tidak nyaman dan ingin bertemu.
"Nggak perlu tenaga besar untuk buat dia jatuh, aku harus ingat nggak boleh pakai perasaan."