"Buka usaha? Nggak semudah itu, Vi."
"Aku tahu. Rangga bilang aku pikirkan baik-baik mau buka apa. Kepikiran buka toko emas, secara emas nggak mungkin berhenti."
"Nggak salah, tapi nggak toko emas juga." Tya menggelengkan kepalanya "Gimana kalau buka daycare? Kamu ajukan kerjasama ke H&D Group, Kak Silvi yang megang kendali penuh dalam proses daycare sedangkan kamu dibalik meja."
"Daycare? Memang aku bisa? Aku mau yang simple, Ya."
"Itu simple. Libatkan Kak Silvi dalam melangkah, pengalaman yang dipunya bisa menjadi penarik banyak orang, apalagi kamu dalam kerjasama dengan H&D."
Viona terdiam mengingat pertemuannya dengan Boy "Aku habis ketemu Boy."
"Boy sepupunya Dona? Anaknya Tante Tari?" Viona menganggukkan kepalanya "Bahas masalah Rangga?"
"Ya. Bodohnya aku tanpa persiapan sama sekali. Boy tanya aku bingung jawab apa, akhirnya dia bilang aku bawa proposal dan akan dibacanya."
"Kenapa kamu ngajak ketemuan nggak persiapan, Vi? Ketahuan bodohnya sama Boy pula." Tya menggelengkan kepalanya "Masih baik dia kasih kesempatan kamu buat proposal, semua itu berkat kamu sahabatnya Dona coba kalau bukan."
Viona menghela napas kasar, kalimat Tya sangat benar. Seharusnya ketika Boy menyetujui pertemuan sudah mempersiapkan semuanya, tapi yang ada langsung saja mengajak bertemu saat itu juga, ditambah kondisi lelahnya setelah digempur tanpa lelah oleh Rangga.
"Rangga sekarang dimana?"
"Kantornya mungkin, tadi pagi langsung kembali. Jadwalnya disini sudah selesai."
"Balik kapan?"
Viona mengangkat bahu "Dia suka dadakan kasih tahu."
"Simpanan nggak akan bisa menyaingi istri sah."
"Tya, menurut pendapatmu. Apa Rangga punya wanita selain aku?"
Tya mengangkat alis mendengar pertanyaan Viona "Kenapa begitu?"
"Darmawan bilang kalau bukan aku saja yang mendekati Rangga."
"Bisa jadi. Darmawan adalah type yang akan melakukan segala cara agar tujuannya tercapai, dia akan mempunyai rencana lain jika rencana satu gagal. Tunggu! Kamu nggak ada perasaan sama Rangga, kan?" Tya memicingkan mata yang tidak ditanggapi Viona "Vi, serius kamu udah punya perasaan sama Rangga?"
"Bukan itu yang ada dalam kepalaku, Ya. Apa yang terjadi kalau aku gagal? Apa namaku akan muncul di media, ayah sama ibu langsung shock yang ada."
"Pastinya. Vi, kalau dipikir sebenarnya enak loh kamu. Kamu nggak perlu susah payah mencari modal usaha, lingkungan kamu juga mendukung." Tya menatap lurus dengan senyum lebar "Tunggu! Apa dia mau bukain kamu usaha adalah salah satu cara agar bisa dekat dengan H&D?"
Viona mengedipkan mata berulang kali mendengar kalimat Tya "Kenapa mikir gitu?"
"Terpikirkan begitu saja. Kalau kita dekat dengan dunia politik, otomatis adalah cara berpikir harus kearah sana."
Menyetujui kalimat yang dikatakan Tya, tapi dunia politik adalah hal baru bagi Viona. Menerima tawaran Darmawan demi sang ayah, tanpa memikirkan intrik-intrik didalamnya.
"Aku bisa minta Rangga menempatkan Satria di pemerintahan kalau gitu?"
"Astaga, Tya! Kamu aja belum pernah ketemu Rangga langsung udah bicara begitu. Lagian bukannya lebih enak cari pekerjaan sendiri daripada bantuan Rangga?" Viona memukul lengan Tya pelan.
"Satria lulusan kampus ternama, jadi kalaupun minta bantuan Rangga pastinya nggak akan terlihat jelas. Kamu nggak kasihan sama saudara kamu itu yang masih mencari pekerjaan?" Tya mengedipkan matanya dihadapan Viona agar menyetujui apa yang dikatakan.
"Itukan nepotisme, Ya."
"Nepotisme kalau yang dibantu nggak sesuai dengan kapasitasnya, lagian banyak kok yang begitu. Rangga sama Darmawan pastinya juga melakukannya, udah rahasia umum kali."
"Tahu. Aku nggak enak kalau tiba-tiba minta begituan."
"Nggak sekarang juga. Kamu lihat momentnya, Vi. Sekarang kita bahas tentang pekerjaanmu yang sebenarnya."
"Aku bilang tadi masalah Jefri. Memang adalagi yang lain?"
Tya menganggukkan kepalanya "Majalah yang biasanya itu baru saja hubungin buat kamu jadi cover depan mereka dua bulan lagi."
"Udah kamu jawab? Kapan mulainya? Mereka udah tahu kalau aku disini udah nggak disana? Aku harus balik kesana?"
"Mereka tahu. Mereka bahkan membayar tiket agar kita kesana, walaupun sebenarnya nggak butuh juga."
"Kamu minta?" Tya menggelengkan kepalanya.
Bukan hal baru jika perusahaan atau apapun yang ingin menggunakan dirinya sebagai model pasti akan melakukan segala macam cara. Mereka mengenal Viona sebagai model yang bisa menempatkan diri, disana bukan hanya sebagai model tapi berteman dekat dengan dua pengusaha hebat disana.
"Kamu atur aja gimana, Ya. Aku ngikut, asal nggak mengganggu antara satu dengan lainnya."
Tya tersenyum lebar mendengar jawaban Viona "Aku terima kalau gitu ya?"
"Ya. Kita butuh uang banyak. Aku mau tidur, kamu mau disini atau pulang?"
"Nggak balik apartemen?" Viona menggelengkan kepalanya "Kalau balik kabarin, walaupun aku nggak ikut setidaknya kamu kabari agar aku tahu kamu dimana." Tya berdiri "Selamat istirahat."
Membaringkan tubuhnya yang mulai terasa sakit, Rangga benar-benar memiliki tenaga yang luar biasa, tanpa lelah menghajar dirinya sampai cairannya sudah benar-benar tidak keluar lagi.
Pembicaraan dengan Tya seketika membayangkan usaha yang dilakukan, usaha yang menjadi ide Tya yang sangat masuk akal. Membuka usaha tidak perlu paham dengan pekerjaan, tapi keberadaan orang yang paham akan membantu semuanya berjalan. Tampaknya akan lebih baik membicarakan hal ini dengan Silvi, kakak iparnya.
Hal ini dilakukan sebagai amunisi ketika nanti bertemu Rangga dan menjelaskan usaha yang ingin dibukanya. Cukup sekali melakukan kebodohan saat bertemu dengan Boy, selama ini menganggap saudaranya Dona itu santai dan bisa diajak berbicara santai tanpa ada data pendukung.
Istirahat terlebih dahulu sebelum berbicara dengan Silvi, banyak hal yang harus dilakukan ketika nanti membuka mata. Berbicara dengan Silvi memang terlihat mudah jika tidak ada keberadaan sang kakak, kakaknya akan bertanya lebih jauh tentang semuanya. Sebenarnya tidak salah, tapi tetap saja tidak siap menghadapinya sekarang.
Memejamkan matanya untuk benar-benar istirahat, tubuh dan pikirannya benar-benar sudah sangat lelah.
Ditempat yang berbeda
"Pak, Fikri baru saja mengabari tentang hasil pertemuan dengan H&D."
Rangga menghentikan langkah sesaat mendengar laporan Deni. Pantas saja Viona langsung keluar setelah membuka ponsel, tampaknya bertemu dengan orang di H&D. Sebelumnya sempat merasa kesal karena ditinggal tanpa kejelasan sama sekali.
Memberi kode pada Deni agar diam, langkahnya berlanjut dengan sedikit cepat. Tidak sabar mendengar laporan yang didapat dari Fikri, pria yang dibayar untuk menjaga dan menemani Viona kemanapun, termasuk dirumah bahkan apartemen.
"Apa yang didapat Fikri? Siapa yang ditemuin?"
"Pengusaha muda yaitu Boy."
Rangga mengerutkan keningnya "Boy? Pimpinan perusahaan yang bergerak di bidang perumahan dan tekstil di Karawang?" Deni menganggukkan kepalanya "Memang perusahaannya masuk di H&D?"
"Masuk, pak. Mbak Viona sudah berbicara, tapi tampaknya datang tanpa amunisi atau persiapan."
Rangga tersenyum tipis, jelas saja tanpa persiapan secara mereka baru saja melakukan malam panas yang sangat memuaskan. Seketika mengingatkan atas perbuatan mereka, hal ini semakin membuat Rangga mengingkan kembali melakukannya.
"Bagaimana, pak?"
"Hah? Apa, Den?" Rangga terkejut ketika mendengar suara Deni yang sedikit keras "Kenapa dengan Viona tanpa persiapan?"
"Viona meminta proposal tentang alasan kita membutuhkan keberadaan H&D. Kerjasama yang seperti apa terhadap hubungan ini."
"Menurutmu apa?" Rangga memijat hidungnya perlahan untuk menghilangkan rasa pusing sesaat.
"Pengelolaan limba untuk pabrik yang dimilikinya."
"Kamu paham apa yang harus dilakukan. Agenda selanjutnya? Nggak ada pulang?"
"Bapak bisa pulang sekarang. Pekerjaan sisanya akan diselesaikan oleh tim dan saya. Anak-anak dan Bu Aya sudah menunggu dirumah."