"Akang udah datang?"
Rangga membuka lebar tangannya dan memasukkan Aya kedalam pelukannya, mencium puncak kepala cukup lama sambil menghidu aromanya. Aya yang mendapatkan perlakuan seperti Rangga, melakukan hal yang sama dengan tangannya melingkar di pinggang Rangga.
"Kangen sama neng." Rangga mencium seluruh wajah Aya tanpa tersisa "Anak-anak masih les?"
"Akang bikin malu." Aya memukul d**a bidang Rangga manja "Alvian latihan basket, Ranti di dapur. Dia sibuk buatin kesukaan akang, mau menunjukkan hasil dia bisa praktek memasak di sekolah dan sekarang buat kesukaan akang."
"Wah...menarik. Jadi nggak sabar."
Rangga memegang tangan Aya masuk kedalam, tangannya berada di pinggang Aya tanpa mau terlepas sebentar saja. Tujuan mereka adalah meja makan yang langsung terhubung dengan dapur jadi bisa melihat orang tersebut memasak. Menghentikan langkah ketika melihat gadis kecil yang menata hasil buatannya, mencuri ciuman singkat di bibir Aya sebelum duduk tanpa melepaskan pandangan dari putri kesayangan.
"Papa udah datang?!" Ranti hampir melempar peralatan yang dipegang ketika melihat keberadaan Rangga didapur "Kapan papa datang?"
"Baru, buat apa itu? Kamu buatin papa?" Rangga menatap penuh rasa penasaran dan berharap.
Ranti tersenyum, melanjutkan kembali aktivitasnya tanpa menjawab pertanyaan sang papa. Rangga memilih mengamati dan menunggu di meja makan, Aya sendiri melakukan hal lain. Pemandangan yang sangat disukainya setiap kali dirumah, terlebih Ranti selalu penasaran dengan apa yang dilihatnya di video memasak.
"Wow...buat papa?" Rangga menatap bahagia melihat makanan dihadapannya "Boleh papa makan?"
"Kalau nggak enak jangan bilang." Ranti menundukkan kepalanya.
Rangga menarik Ranti untuk duduk di pangkuannya "Apapun yang Ranti buat pasti papa suka. Siapa yang bantuin?"
"Aku cuman kasih resepnya, papa. Semua yang buat mbak, tapi aku potong sosisnya dan parut kejunya."
Rangga mencium seluruh wajah Ranti gemas "Pintar sekali anak papa. Punya kamu mana?"
"Itu dibawain mama."
Menikmati makanan buatan Ranti di meja makan bersama kedua wanita kesayangan. Saat ini mendengarkan cerita Ranti tentang kehidupan sekolah bersama teman-teman dan pelajaran. Rangga bisa mengetahui keadaan sekitar dari orang-orang di rumahnya, walaupun sesekali melakukan sidak.
"Alvian biasanya dirumah jam berapa, sayang?" Rangga meletakkan handuk di gantungan sambil melangkah kearah Aya yang di meja rias sedang memberikan krim di wajahnya "Cantik banget istri aku."
"Akang...aku udah kasih krim malam malah dicium." Aya menatap tajam kearah Rangga yang langsung mengangkat kedua tangannya sambil memberikan ciuman tidak bersalahnya.
Meninggalkan Aya kearah ranjang, menyandarkan kepalanya di kepala ranjang tanpa melepaskan tatapannya dari Aya. Seketika teringat Viona yang kemarin memberikan kepuasan tanpa henti, mencari pelampiasan ketika Aya sedang berhalangan dan tampaknya sekarang masih belum bisa melakukan hubungan intim lagi.
"Alvian sekarang kegiatannya banyak, kang. Pulangnya paling malam jam tujuh. Aku selalu bilang sama dia buat usahakan jam enam udah dirumah."
Aya memeluk Rangga dari samping dengan tangan melingkar di pinggang, Rangga membalasnya dengan melakukan hal yang sama, sambil sesekali mencium puncak kepalanya.
"Kegiatan kamu sendiri gimana, sayang?"
"Akang ke ibukota lagi?" Aya memilih bertanya tanpa menjawab pertanyaan Rangga.
"Belum tahu. Kenapa? Ada yang penting? Acara anak-anak atau hari penting kita?"
Aya menggelengkan kepalanya "Aku hanya bertanya. Aku tanya sama Bu Ibra tentang pencalonan kalian, rencana partai akan mengajak kami bertemu tentang apa yang harus dilakukan agar kita mendapatkan kemenangan penuh."
Terdiam beberapa saat, mengingat hal yang dibicarakan partai ketika mereka bertemu beberapa hari lalu. Pertemuan dua wanita yang menjadi pasangan hidup mereka, dimana mereka akan dilibatkan dalam proses pencalonan.
"Partai ingin menunjukkan keluarga bahagia dan menjadi panutan pasangan muda, walaupun Laila adalah istri kedua. Pernikahan mereka berdua terjadi setelah istri pertamanya tidak ada, jadi masih dianggap sebagai contoh pasangan."
"Lalu program yang akan kalian lakukan?" Rangga mengerutkan keningnya.
"Aku belum tahu, kang. Akang nggak dikasih petunjuk sama partai? Aku tanya sama Laila juga nggak tahu, tapi dugaan kita lebih pada program yang kami lakukan untuk mendukung kalian berdua."
Pemikiran yang sangat masuk akal, keberadaan pasangan bisa dianggap sebagai penolong jika semua yang direncanakan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Apa aku dekatin artis ibu kota ya, kang?"
"Buat apa?" Rangga mengerutkan kening mendengar pemikiran Aya.
"Mereka bisa promosikan kita, kampanye terselubung begitu."
"Kita bicarakan sama partai, lagipula di partai ada artis didalamnya. Siapa tahu bisa membantu."
"Beda, kang. Akang nggak paham."
"Akang nggak paham begituan, neng. Sekarang yang ada dalam pikiran abang adalah menghabiskan malam sama neng dengan desahan nikmat." Rangga mencium singkat bibir Aya.
"Belum suci, kang." Aya menyentuh d**a bidang Rangga "Maaf, kang."
"Baiklah. Setidaknya bisa meluk neng."
Bukan masalah besar jika Aya belum bisa melayani malam ini, setidaknya semalam sudah mendapatkan kepuasan dengan Viona. Menarik Aya masuk kedalam pelukannya, menghidu aroma yang pastinya berbeda dengan Viona. Memejamkan mata, tidak lama kemudian masuk kedalam mimpi.
"Akang mau kemana pagi-pagi? Olahraga?" Aya menatap penampilan Rangga menggunakan pakaian olahraga.
"Ya, sekalian menyapa warga. Alvian sudah bangun? Ada kegiatan nggak?" Rangga bertanya sambil memakai sepatunya.
"Alvian harus sekolah, kang. Akang lupa kalau sekarang bukan liburan?"
"Sekarang Sabtu, neng. Apa masih tidur? Nggak papa, akang berangkat sendiri sama pengawal." Rangga mendekati Aya mencium keningnya lembut "Kalian sarapan aja, akang bisa jadi makan sama warga sekitar."
Melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum akhirnya berangkat dengan berjalan kaki, tujuannya adalah taman yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Berjalan pelan, tidak lama kemudian langkahnya berubah menjadi lari pelan dan akhirnya lari menuju taman. Menyapa warga yang melambaikan tangan, memberikan senyum sesekali pada warga yang menatap kearahnya.
Menghentikan langkah melihat anak-anak kecil bermain, mereka bermain di lapangan yang setengah jalan dari taman. Mendekati anak-anak yang asyik dengan dunia sendiri, tersenyum tipis melihat ekspresi bahagia mereka.
"Pak Rangga." Rangga melihat seorang pria yang memanggil namanya "Lagi pendekatan?"
"Mau lihat sekitar. Siapa tahu ada yang bisa diperbaiki. Bapak sendiri orang sini?"
"Ya. Rumah saya disebelah sana. Bapak baru pertama saya lihat disini, apa memang pertama?"
Pertemuan pertama dengan warga sekitar, tapi sudah selayaknya teman lama. Bisa saja mereka menghabiskan waktu berbicara banyak hal, tapi tujuan Rangga bukan hanya berbicara dan menghabiskan waktu disini.
Melanjutkan tujuannya setelah berpamitan singkat, langkahnya sedikit lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Hembusan napas panjang dikeluarkan ketika sampai di taman yang menjadi tujuan sebenarnya, mencari tempat duduk yang bisa menatap sekitar.
Melihat penjual makanan yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Taman yang perlu dibenahi beberapa bagian, menghela napas panjang dimana pekerjaan rumahnya sangat banyak.
"Banyak yang harus dibenahi, kang. Sayang pejabat itu hanya datang saat kampanye aja, kang. Selebihnya hilang kayak hantu."
"Terima kasih, kang." Rangga menatap bubur dihadapannya.
"Sebenarnya taman ini sudah dibenahi sama pemerintah, tapi banyak tangan usil yang merusaknya. Bisa jadi akhirnya pimpinan dan wakil rakyat sudah malas membantu, secara mereka yang membantu mengubah."
"Siapa tahu ada yang mendengarkan dan mengubah taman ini menjadi lebih bagus."
"Semoga ada pejabat yang benar-benar amanah, kang. Kita sebagai rakyat bisa apa, kalau pejabatnya nggak peduli dan memperkaya diri sendiri."