sss 2 : Melamar Resmi

1085 Words
Danan bukan tipikal orang yang akan mengingkari janji yang sudah dibuatnya, termasuk kepada Anandhiya. Walau, cukup sulit baginya untuk memutuskan hingga hari ini. Tetapi, ia sudah sepakat akan memberikan yang jawaban pasti. Tidak ingin menggantungkan Anandhiya dengan harapan.     “Kamu udah tahu bakal putusin kayak gimana?”     Danan hanya memerlihatkan anggukan kepalanya sebanyak satu kali saja. Kunyahan nikmat steak ayam di dalam mulut terus dilakukannya, kala menatap Anandhiya yang kini memusatkan atensi pada dirinya seorang.     “Ya udahlah, Na. Aku udah tahu jawabannya akan gimana aku kasih ke kamu.” Danan menyahut santai.     “Kayak gimana? Kamu mau menikah denganku?”     Danan seketika terkekeh akibat tampilan ekspresi di wajah Anandhiya lucu baginya. Terlebih lagi, antusias dalam suara wanita itu membuat dirinya jadi tergelitik geli di bagian perut. “Hm, masalah nikah nggak segampang itu.”     “Maksud kamu gimana? Aku jadi nggak paham.”     Pameran senyuman jahil diperlihatkan oleh Danan selepas respons dari Anandhiya sesuai dengan dugaannya. Ia sudah meyakini wanita itu menjawab demikian. “Kamu kenapa milih aku buat diajak nikah kontrak, Na? Aku rasa kamu bisa dapatin laki-laki yang lebih hebat dariku.”     “Karena saat ini, aku paling percaya dengan kamu. Aku nggak bisa bikin sandiwara ini sama pria lain,” jawab Anandhiya cepat dan apa adanya. Berterus-terang.      “Aku udah sangat yakin, kalau kamu orang paling tepat yang bisa membantuku, Danan. Aku ingin lepas dari Surya selamanya. Salah satu caranya dengan menikah.”     Anandhiya melempar tatapan yang lekat ke sosok Danan yang duduk di sebelahnya. “Kalau aku tetap nggak punya pasangan atau menikah. Surya pasti akan berusaha terus mengganggu diriku. Dan itu membuatku muak.”     “Penghianatan yang dia lakukan. Nggak akan bisa aku maafkan. Aku membencinya. Aku ingin menjauh dari dia. Ya, caranya dengan menikah bersama pria lain. Sama kamu tepatnya, Danan.” Anandhiya mengutarakan secara jujur isi pikiran di dalam kepalanya lagi, tanpa ada rasa ragu.      “Apakah penjelasanku belum cukup? Nggak logis dan masuk akal ‘kah buat kamu? Nggak bisa diterima?”     Danan menggeleng pelan. “Belumlah, Naa. Masih ada yang kurang kayaknya alasan kamu bilang ke aku.”     “Maksud kamu gimana, sih? Aku kurang paham.”     “Kata kamu aku orang tertepat untuk diajak kerja sama dalam sandiwara ini. Tapi, kenapa aku malahan jadi merasa ada tujuan terselubung dari kamu, Na.” Danan pun kembali memancing dengan pertanyaan ambigunya.      Gelengan lemah dilakukan Anandhiya kemudian, tanda bahwa benar-benar tidak dapat mengerti perkataan dari Danan yang tertangkap secara keseluruhan oleh dua indera pendengarannya baru saja. Tentu, ia jadi gregetan sendiri.      “Tolong jangan bertele-tele, ya. Ngomongnya itu yang jelas dan langsung biar aku nggak semakin bingung.”     Danan lagi-lagi sukses meluncurkan kekehan tawa karena jawaban serta ekspresi Anandhiya yang begitu bisa sangat menghiburnya. “Tujuan terselubung maksudku tadi yaitu perasaanmu padaku, Na. Masa nggak paham juga?”     “Haah? Perasaanku ke kamu, Danan?” Anandhiya pun mengonfirmasi jika yang didengarnya tak salah barusan.      “Yalah, perasaanmu padaku. Alasan kamu ngajak aku nikah karena kamu masih punya rasa padaku. Caramu agar bisa memiliki dengan kita menikah. Betul, Na?”     Mata Anandhiya mendadak membulat akibat kata-kata berbentuk konklusi sepihak yang terlontar dari mulut Danan. Sungguh, ia pun tak terbayang seperti itu. “Hah? Aku punya perasaan ke kamu? Maksud kamu cinta? Sayang sama kamu?”     Selepas mendapatkan balasan anggukan yang singkat dilakukan oleh Danan. Maka, Anandhiya segera melayangkan cubitannya di lengan pria itu. “Simpan aja khayalan kamu tentang rasa cintaku di dalam imajinasi terbesar!” “Perasaanku ke kamu nggak kayak gitu, Danan!” Dan kala, Anandhiya hendak mendaratkan cubitan serta pukulannya pada lengan pria itu kembali. Kekagetan pun seketika menyergapnya. “Mau ngapain?” Anandhiya lantas lekas meloloskan pertanyaan saat tangannya digenggam erat. Sementara, Danan tak ingin menjawab. Tidak juga secara cepat melepaskan tautan tangan mereka. Ia bahkan memamerkan senyuman nakal. Kian diperlebar lagi, dikala cincin yang diambil dari dalam kantung kemejanya sudah dipasangkan pada jari manis tangan kanan Anandhiya. “Aku menerima ajakan kamu, Na.” Danan berujar dengan nada dan mimik wajahnya yang serius. Tatapan intensnya pun masih senantiasa diarahkan ke sosok Anandhiya. “Ayo, kita menikah dua bulan lagi. Aku sudah siap meminangmu, Na. Jadilah, istriku.” Danan tak mengurangi keseriusannya saat melontarkan permintaan. “Bagaimana? Apa kamu emang bersedia menikah dengan diriku, Na?” Danan ingin memastikan sekali lagi. Tentu, wanita itu harus memberikannya jawaban yang pasti. Anandhiya mengangguk kaku. “Iya, aku bersedia menikah sama kamu, Danan. Tapi, kamu nggak lagi joke ini ‘kan, ya? Seriusan mau nikah sama aku?” Anandhiya jelas tidak mudah percaya. Bisa saja Danan berakting. “Ya nggaklah, Na. Aku serius pengin ngajak kamu nikah. Kayak yang kamu bilang dua hari lalu.” Hanya anggukan kepala singkat dan kedipan mata berulang kali yang Anandhiya jadikan balasan pertama. Ia belum bisa beradaptasi dengan situasi yang baginya terasa asing nan kikuk. Apalagi, pernyataan Danan barusan. “Terus kenapa kamu sampai pakai acara melamar aku secara resmi segala. Kita nikah juga nggak sungguhan nanti. Bikin aku kaget aja.” Anandhiya tidak sungkan meluncurkan isi pikirannya lewat kata-kata kembali. Danan jadi terkekeh geli. Genggamannya pada tangan Anandhiya kian dikuatkan. “Walau kita nikahnya emang nggak sungguhan. Tapi, aku harus tetap lamar kamu, Na.” “Pria yang gentle nggak akan merasa malu untuk melamar wanita yang ia sangat diyakini dinikahi. Begitu juga dengannku.” Danan berupaya menjelaskan. Namun, ia sendiri kini dilanda kebingungan mengungkap secara gamblang. Kesan ambigu juga terlalu besar memang akan timbul. “Udah bisa dipahami nggak, Na?” Anandhiya menggeleng. “Nggak bisa ngerti aku sama ucapan kamu tadi, Danan. Susah banget aku ngertiin.” “Tapi, makasih udah nerima permintaan aku dan merealisasikan dengan pernikahan kita.” Anandhiya berucap tulus. Ia kini bisa merasa lega dan sedikit tenang.      “Ah, aku punya sesuatu buat kamu, Na.”      “Sesuatu? Emang kamu mau kasih apa sama ak—“     Ucapan Anandhiya jadi langsung terhenti, selepas kedua matanya menangkap jelas kilauan cincin emas yang terdapat di dalam kotak, baru saja dibuka oleh Danan. Ia bahkan diam seketika, bibir pun dikatupkannya dengan rapat-rapat.     “Buat kamu, Na. Maaf, kalau cincin ini aku beli nggak begitu mahal. Lumayan juga harganya buat ukuranku,” ujar Danan sedikit kikuk sembari memasang cincin yang sedang dipegangnya ke jari manis tangan kiri Anandhiya.     “Astaga, kamu sukses bikin aku tersentuh. Aku nggak masalahin harganya. Dikasih cincin begini aja aku malahan ngagak pernah nyangka. Kamu romantis juga, ya.”     Danan mengeluarkan kekehan tawa. “Romantislah aku, Na. Kamu aja yang kurang tahu, selama ini.”     “Kamu juga nggak tahu, aku sayang kamu, Dhiya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD