sss = flashback
BIP!
BIP!
Tanda jika pesan masuk dari Surya yang memang disetel khusus olehnya sejak beberapa waktu lalu, tak mau dibuka satu pun. Anandhiya sama sekali tidak tertarik. Ia belum dapat bersikap biasa atas penghianatan yang mantan tunangannya sudah lakukan, yakni berselingkuh.
“Pria berengsek!” u*****n Anandhiya pun keluar bersamaan dengan emosi dalam dirinya yang kini sedang bergejolak. Penyebabnya tentu adalah Surya.
Anandhiya membiarkan ponselnya tetap berada di atas meja kafe. Sedangkan, arah pandang wanita itu sejak tadi terus terpusat pada pintu utama kafe yang dikunjungi olehnya siang ini. Anandhiya menunggu kedatangan dari Danan yang tidak muncul-muncul juga sejak tadi, padahal sudah diharapkan.
Penantian Anandhiya pun tak perlu diperpanjang lagi. Kira-kira lima menit kemudian, sosok pria itu sudah tampak memasuki area dalam kafe. “Eh, aku di sini!” Seruan cukup lantang dan keras diloloskan oleh Anandhiya lalu.
Untung pengunjung tak banyak, jadi rasa malu dan bisikan-bisikan negatif dapat ia hindari akibat teriakannya barusan. Dua detik selanjutnya, kembangan senyum di wajah Anandhiya bertambah. Tangan kanannya turut dilambaikan. Ia mendadak bersemangat bertemu Danan.
“Ayooo, siniii!” seru Anandhiya untuk kedua kali. Selain, memberikan kode supaya pria itu cepat mendekati dirinya dan ia sudah tak sabar ingin mengutarakan maksud.
“Lama banget kamu datangnya. Jam makan siang di kantor udah 30 menit yang lalu dimulai.” Anandhiya pun menyerocos mengeluarkan protes serta keluh-kesahnya.
“Andai aja kamu sampai batal datang ke sini. Aku bakal marah sama kamu. Kita musuhan bukan teman lagi, terhitung dari besok, ya.” Wanita itu masih berceloteh dengan kekesalan yang belum bisa diredakannya hingga detik ini.
Sementara, Danan mencari posisi duduk nyaman di atas kursi lebih dulu. Belum mengeluarkan balasannya dalam bentuk kata-kata. Walau demikian, sepasang mata hitamnya tak dipindahkan dari sosok wanita di depannya.
“Kamu ngapain bisa tiba di sini terlambat banget dari jam yang udah kita sepakati, Danan?” Anandhiya pun menyempatkan meluncurkan pertanyaan sarat akan keingintahuan tinggi, sebelum meminum jusnya.
“Aku kira di kantor nggak ada rapat dadakan tadi. Jadi, jangan pakai pekerjaan kamu, ya.” Anandhiya tentu menginginkan kerasionalan dalam alasan dari Danan.
“Oh, kamu pengin tahu kenapa aku bisa datangnya telat ke sini? Awas ntar kamu bisa jadi kaget habis dengar jawabanku, Na. Benaran masih mau tahu?” jawab Danan.
Anandhiya mengangguk pelan. Rasa penasaran di dalam dirinya bertambah, tatkala disuguhkan ekspresi jahil dari Danan yang terkadang membuatnya jengkel. “Bilang aja. Aku nggak akan merasa kaget sampai jantungan.”
“Tadi, waktu aku mau berangkat kemari. Pak Handy menyuruhku datang ke ruangan beliau. Papa kamu nanya ke aku masalah hubungan antara kita berdua, Na.”
“Terus kamu jawabnya apa sama Papaku?” tanya Anandhiya dengan rasa ingin tahu yang kian meningkat.
“Kamu nggak bikin jawaban aneh-aneh, ‘kan? Yang penting masih logis sama dapat aku terima, ya.” Wanita itu memberi peringatan dini lewat kata-kata ia loloskan.
Danan semakin menatap lekat sosok Anandhiya di hadapannya yang juga memandang balik dirinya. “Hmmm, menurut kamu aku bilang apa tadi ke Papamu, Na?”
Seketika delikan maut Anandhiya layangkan, ketika sadar jika Danan sedang coba mengguyoni dirinya dengan jawaban yang ambigu. “Jangan main-main sekarang sama aku, ya. Lagi nggak pengin bercanda atau dibecandain.”
“Tinggal kasih tahu aja aku apa yang kamu bilang tadi ke Papaku. Jangan macam-macam kamu,” peringat Anandhiya kemudian. Penekanan di setiap kata ia berikan juga.
Danan pun langsung terkekeh. Sungguh, ekspresi dari Anandhiya yang lucu. “Ya, aku ikut sandiwaramu, Na.”
“Aku mengaku di depan Papamu kalau kita berdua lagi pacaran. Ya, sejak satu bulan lalulah. Kayak yang kamu bilang kemarin padaku, Dhiya. Sama persis.”
“Aku sudah menuruti semua yang kamu inginkan. Gimana? Oke ‘kan aku?” Danan berucap dengan gaya santai. Kedipan nakal juga diperlihatkan pria itu seperkian detik.
Anandhiya hanya mengangguk singkat. Tak tampak ada pelototan di matanya lagi. Senyuman tipis sudah tercetak di wajah wanita itu. “Bagus, Danan. Kamu memang bisa aku andalkan. Makasih banyak, ya,” ucapnya secara tulus.
“Semoga Papa berhenti membahas Surya di depan diriku lagi setelah tahu kita ini punya hubungan. Pacaran sama kamu, Danan.” Anandhiya sedikit merasa lega jika situasinya sudah seperti ini. Tidak harus dikaitkan dengan sang mantan tunangan yang telah begitu berani mengkhianatinya.
“Apa Papa nggak bahas masalah pernikahan? Kamu nggak ditanya sama Papaku?” Keingintahuan kembali muncul dalam benak Anandhiya. Dan, segera ia realisasikan lewat pertanyaannya yang bertubi tentu saja.
“Nanya, Na. Pak Handy nanya kapan aku bakalan ada rencana ngajak kamu nikah,” jawab Danan secara jujur.
“Kamu bilang aja sama Papaku, kalau kita bakalan nikahnya cepat. Yah, dua bulan lagi.” Anandhiya pun tidak sabaran mengeluarkan cerocosan jawabannya.
Danan yang tengah meneguk air dari dalam botol seketika tersedak karena balasan yang baru didengarnya. Ia yakin Anandhiya bicara serius. “Apa? Kamu kepikiran kita harus bersandiwara sampai nikahan? Serius kamu ini, Na?” Danan tentu saja harus mengonfirmasi sejelas-jelasnya.
Anandhiya mengangguk mantap. “Iya, aku pengin kayak gitu. Kamu mau menikah denganku? Kita nggaklah nikahnya seumur hidup ataupun sampai tua, Danan.”
“Kita nikah kontrak. Cuma setahun aja paling. Gimana? Kamu setuju? Kamu mau bantu sekali ini, ‘kan? Kamu harus mau, ya. Aku nggak ingin mendengar penolakan.”
“Waktu ini kamu akan bersedia mengabulkan apa yang aku minta karena kamu ingin berterima kasih karena aku sering membantumu. Masih ingat ‘kan kamu, Danan? Kamu udah lupa pernah bilang gitu padaku, ya? Nggak konsisten.”
Danan sungguh tidak tahu harus merespons seperti apa pertanyaan, juga permintaan konyol dari Anandhiya. Ia butuh waktu untuk memutuskannya. “Mungkin, perlu berpikir ulang lagi aku, Na. Nggak bisa jawab sekarang.”
“Dua hari lagi, aku janji akan kasih jawabanku sampai kamu, Anandhiya. Sabar dulu. Mau ‘kan, Na?”