Terikat Janji

1134 Words
Dalam lelapnya yang baru berjalan tiga jam setelah pesta semalam, Omara merasakan tarikan kasar. Selimut hangat yang menutupi tubuhnya direnggut paksa, membiarkan udara dingin dari langsung menggigit kulit setengah telanjangnya. “Sialan... Jangan ganggu aku!” desisnya dengan suara parau. Raut wajahnya kesal sekali. Ia masih enggan membuka mata. Pikirannya menebak-nebak siapa yang punya nyali sebesar itu. Gian Rafif, asisten pribadinya yang serba bisa? Tidak mungkin. Gian terlalu tahu batas. Lulu Prita, sekretarisnya yang perfeksionis? Dia lebih memilih mengundurkan diri daripada melihat bosnya telanjang d**a di atas ranjang. Sebab dua orang itu sudah teruji paling setia, dan diandalkan selama bertahun-tahun belakangan. Atau perempuan semalam? Omara bahkan tidak ingat siapa namanya. Seseorang dengan rambut pirang mengikal sebahu yang terus meracau murahan hingga membuat gairah Omara seketika padam. Ia ingat telah mengusir perempuan itu keluar dari kamarnya, saat kejantanannya hanya baru setengah berdiri, lalu gairahnya padam, dan sebelum sempat melakukan apa pun karena suara cemprengnya yang memuakkan. Desahan yang dibuat-buat sunggug menjijikkan alih-alih membuatnya berhasrat. “Jalang sialan—“ “Bangun, dasar pemalas tidak berguna! Aku bukan jalangmu yang kamu tiduri semalam!” Suara itu berat, berwibawa, dan sarat akan ancaman. Bersamaan dengan itu, sebuah benda keras dan padat menghantam tulang kering Omara dengan kekuatan yang mengejutkan. “Aakh!” Omara terlonjak, matanya terbuka lebar secara instan. Rasa sakit yang tajam menjalar dari kakinya ke seluruh saraf pusat. Di depan ranjangnya, berdiri sosok yang paling ia takuti sekaligus ia hormati di dunia ini. Catur Aji Jagaraga. Sang mantan orang nomor satu yang pernah memimpin negara ini, pemegang kendali utama kerajaan bisnis Jagaraga, bahkan mantan Jenderal besar. Meskipun usianya sudah menginjak 85 tahun, tubuhnya masih tegak, dan sepasang matanya yang setajam elang seolah bisa menembus tengkorak kepala Omara meski kini terbingkai kaca mata. Di tangannya, ia menggenggam tongkat kayu jati berukir kepala naga. Ya, Omara menyebutnya ‘tongkat keramat’ yang sudah berkali-kali mendarat di tubuh Omara sejak ia beranjak dewasa dan ketahuan nakal yang keterlaluan. “Kakek tua—“ “Coba saja selesaikan kalimatmu itu, Omara, dan aku akan menyuruh orang-orangku melemparmu dari balkon ini sekarang juga!” potong Catur dengan suara menggelegar. Omara mengerang, duduk di tepi ranjang sambil mengusap kakinya yang berdenyut sakit. “Kakek... ini masih jam tujuh pagi. Aku baru pulang dari—" “Aku tidak peduli kamu pulang dari neraka sekalipun!” Kakeknya menghantamkan tongkatnya ke lantai marmer, menciptakan bunyi dentum yang membuat kepala Omara semakin pening akibat hangover. “Aku memintamu pulang ke Jakarta bukan untuk kembali menjadi sampah yang mabuk, main perempuan, dan bermalas-malasan. Ada tanggung jawab besar di pundakmu. Terutama... berkenalan dengan perempuan baik-baik yang sudah kupilihkan.” Omara mendongak, menatap kakeknya dengan tatapan malas sekaligus tidak percaya. “Lagi? Kakek sudah gagal menjodohkanku tiga kali tahun lalu. Kenapa Kakek tidak fokus saja menikmati masa tua? Apa pun itu asal tidak mengatur hidupku.” “Jangan berpikir juga, kenapa aku masih panjang umur dan bersikap mengaturmu!” ujar Catur sambil mendekat, ujung tongkatnya kini menunjuk tepat ke d**a telanjang Omara. “Kuyakin jawabannya adalah supaya aku bisa mendisiplinkan keturunanku yang kurang ajar sepertimu. Aku tidak akan membiarkan harta Jagaraga jatuh ke tangan pria yang bahkan tidak bisa mengurus moralnya sendiri. Lihat, berapa usiamu tahun ini, Omara...” Omara terdiam. Ia tahu kakeknya tidak pernah menggertak. “Dan aku perlu membuatmu ingat akan janjimu sebelum kamu berangkat ke Amerika beberapa bulan lalu untuk mengejar perempuanmu itu?!” tanya Catur dengan nada yang lebih rendah namun jauh lebih menekan. Ingatan itu berputar di kepala Omara seperti kaset lama. Saat itu, ia sedang muak dengan tekanan keluarga dan berkata dengan angkuh... “Beri aku waktu terakhir ini. Jika aku tidak berhasil membawa seseorang yang kucintai pulang untuk kunikahi, maka terserah Kakek. Aku akan menikahi siapa pun pilihanmu.” Itu adalah sebuah kesombongan. Omara pikir ia bisa dengan mudah mengambil hati wanita yang ia cintai lalu sudah beberapa kali dikecewakan. Mulut j*****m, kenapa aku tidak berpikir dulu sebelum menantang Kakek waktu itu? batinnya. “Aku ingat,” jawab Omara singkat, suaranya kini terdengar pasrah namun getir. “Bagus. Karena waktumu sudah habis, tidak ada perempuan itu yang berhasil kamu bawa ke hadapanku.” Catur menarik kembali tongkatnya, senyum kemenangan tersungging di wajah keriputnya. “Namanya Daisy Raqeela. Dia masih sangat muda, bersih dari drama dunia malammu, dan yang terpenting... Genji Hyuga Sangaji, kakeknya adalah orang yang paling kupercayai dulu. Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua orang, Omara. Ini adalah penebusan janji dan kelangsungan martabat kita.” “Dia masih muda? Maksudku... berapa usianya?” “Dua puluh satu, dia sedang siap selesaikan kuliahnya tahun ini. Jurusan bisnis, di Universitas ternama. Aku sudah beberapa kali bertemu, dia gadis yang baik dan sopan. Sangat memenuhi untuk jadi cucu menantuku,” jawab Catur santai. Omara tertawa sinis, tawa yang kering. “Kakek menyuruhku menikahi gadis muda itu? Dia terpaut belasan tahun dariku, Kek. Aku akan terlihat seperti gadunnya daripada seorang suami.” “Kamu tidak percaya diri, dan merasa sudah setua itu?” Kakeknya membalikkan kata-katanya. Omara mengeratkan kepalan tangannya. Kakeknya memang bermulut tajam. Jika temannya saja, sudah pasti Omara kelepasan mengumpatinya. “Dia wanita yang akan membuatmu berhenti dari hidup hura-huramu ini, Omara,” tegas Catur tanpa kompromi. “Besok malam, kamu akan datang ke kediaman mereka. Pakai setelan terbaikmu, sembunyikan wajah mesummu itu, dan bersikaplah seperti pria terhormat, cucu dari Jagaraga. Jika kamu mengacaukannya, aku akan membekukan seluruh asetmu, mencabut posisimu di perusahaan, dan kamu bisa jadi gelandangan.” Catur Aji Jagaraga berbalik, melangkah menuju pintu dengan langkah yang masih sangat kokoh untuk pria seusianya. Namun, sebelum benar-benar keluar, ia menoleh sedikit. “Satu hal lagi, Omara. Jangan coba-coba memperlakukannya seperti perempuan-perempuanmu yang biasa kamu bawa ke ranjang. Jika aku mendengar sesuatu tentang tingkahmu itu yang tidak pantas, tongkat ini tidak akan mendarat di kakimu lagi, tapi di penissmu yang juga mungkin perlu didisiplinkan biar tidak banyak tingkah!” Pintu tertutup dengan dentuman keras. Omara menghela napas panjang, menjatuhkan kembali tubuhnya ke tumpukan bantal. Ia menatap langit-langit kamarnya yang tinggi dan mewah, namun terasa sempit. “Sialan, aku yakin kakek tua itu serius akan menghabisi penisku!” Sambil tangannya menyentuhnya dan meringis membayangkan pukulan tongkat itu menyasar ke sana. “Daisy Raqeela...” nama yang sangat asing di lidahnya. Seorang gadis naif yang kemungkinan besar masih memercayai dongeng tentang cinta sejati dan pangeran berkuda putih. Ia memejamkan mata, bukan untuk kembali tidur, melainkan untuk menyusun strategi. Apakah ia masih bisa menggagalkan kembali upaya kakeknya kali ini? Omara belum selesai menyusun strateginya saat asistennya muncul dan memberitahu. “Pak Omara diminta siang ini menyusul ke rumah sakit yang nanti akan diberitahukan Kakek.” “Tadi kakek sehat, bahkan memukulku... apa sepulang dari sini, tekanan darahnya langsung naik?” tanyanya bingung. Asistennya jelas tidak punya jawaban selain hanya menyampaikan dan memastikan siang nanti Omara datang ke tempat yang diinginkan Catur Aji Jagaraga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD