Cincin perak di jari manis Omara Akssa Jagaraga berkilau samar terkena cahaya lampu di halaman rumahnya yang masuk melalui kaca mobil. Ia memainkannya dengan gerakan ritmis, memutar-mutarnya dengan ibu jari dalam sebuah gestur yang lebih mirip dengan pertimbangan dingin dibanding penuh bahagia mendapatinya. Cincin itu terasa asing, sama asingnya dengan konsep bahwa dia kini sudah menjadi seorang suami.
“Kita sudah sampai rumah, Pak Omara,” suara sopir pribadi memecah keheningan kabin mobil mewah yang kedap suara itu. Mungkin saja ia bingung karena dapati bosnya hanya diam memandangi cincin setelah bermenit-menit tiba.
Omara berhenti memutar cincinnya. Ia menatap lurus ke luar jendela, pada bangunan megah dua tingkat yang telah dihuninya selama tiga bulan terakhir. Pening di pelipisnya akibat sisa alkohol beberapa waktu mulai berdenyut lagi. Teman-temannya, sesama para pengusaha yang sama seperti dirinya sempat mengejeknya, memaksanya pulang lebih awal karena status barunya. Tidak lagi sendiri, begitu mereka bilang.
“Ya, kamu bisa istirahat juga.” Responsnya pendek, suaranya berat dan datar.
Ia turun dari mobil, langkah kakinya tegap menapaki keramik teras marmer yang mahal, seolah setiap pijakannya adalah penguasaan kepemilikan. Di dalam, seorang pekerja rumah tangga sudah menyambutnya dengan tundukan hormat, siap mengambil jasnya.
“Istri saya di mana? sudah tidur?" tanya Omara tanpa menghentikan langkah.
“Nyonya Daisy sudah naik ke lantai dua, Pak. Tapi, tadi sepertinya memilih masuk ke kamar yang minta disiapkan kemarin.” Lapornya.
Omara mendengus pelan, nyaris tak terdengar. Kamar yang di maksud, bukan kamar yang harusnya mereka tempati.
Senyum tipis, lebih mirip seringai sinis, tersungging di sudut bibirnya saat ia menaiki anak tangga. Ia ingat perdebatan pagi tadi. Daisy, istri kecil yang selisih berumur belasan tahun di bawahnya, dengan mata bengkak dan suara bergetar namun penuh tekad, meminta pisah ranjang.
Perempuan manis itu mulai bisa memberontak setelah tiga bulan pernikahannya.
“Sebaiknya kita tidak tidur seranjang, bahkan fokus dengan urusan masing-masing, sampai waktu perceraian itu tiba.”
Permintaan itu terdengar konyol di telinga Omara. Perceraian? Gadis itu benar-benar tidak paham siapa Omara Akssa Jagaraga dan apa arti perjanjian di antara keluarga mereka. Tidak ada yang pernah meninggalkan Omara, kecuali seseorang di masa lalu... yang seketika membuat darahnya mendidih saat mengingatnya.
Dan Daisy Raqeela... dia termasuk yang tidak boleh mengacaukan segalanya. Istrinya tidak bisa meninggalkannya. Namun, kewajiban itu kini menjadi sesuatu yang menarik saat ternyata bisa memberontak.
Omara mengabaikan pintu kamar utamanya. Pikirannya sudah tertuju pada kamar lain. Langkahnya pelan, disengaja. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu kamar yang tidak dikunci itu.
Udara dingin pendingin ruangan langsung menyambutnya. Matanya langsung tertuju pada satu titik. Ya, di sana, di tengah tempat tidur king size, Daisy terlelap. Gaun tidur tipis berwarna peach yang dikenakannya tampak kontras dengan sprei putih bersih. Omara berdiri diam di ambang pintu, matanya memicing, mengunci sosok istrinya. Cahaya temaram lampu tidur yang menerangi wajah Daisy, mampu menunjukkan jejak air mata yang mengering di pipinya jelas terlihat.
Omara tidak peduli. Air mata itu baginya hanyalah drama kekanakan yang tidak relevan hanya karena pemikiran rumit istri kecilnya.
“Kekanakan, terpenting aku setia dan selalu pulang padamu sejak pertama kali kita menikah.” Gumamnya sambil mendekat. Suara alas kakinya diredam oleh karpet tebal. Ia berdiri di sisi tempat tidur, menatap tubuh molek yang sah menjadi miliknya itu. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia menyingkap selimut tebal yang menutupi sisa tubuh Daisy.
Pandangannya tertuju pada bagaimana kain gaun tidur tipis itu membungkus tubuh Daisy. Seringai Omara semakin melebar saat mendapati kebiasaan Daisy yakni tidur tanpa bra di balik gaun tidurnya. Sebuah detail yang bagi Omara terasa seperti undangan, meski ia tahu istrinya tidak bermaksud demikian. Tangan Omara terulur, meraba permukaan kain di bagian d**a Daisy.
Tentu saja perbuatannya membuat Daisy terkesiap. Matanya terbuka lebar, penuh terkejut, saat mendapati sosok jangkung suaminya berdiri di atasnya. Insting pertamanya adalah melawan.
“Ka-kamu!” Ia mencoba mendorong d**a Omara, mencoba menciptakan jarak, tapi tubuhnya membeku ketika Omara menahan kedua tangannya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain mencengkeram rahangnya dengan lembut namun tegas.
Cahaya di mata Omara tiba-tiba terasa begitu dingin dan posesif.
“Ma-mau apa?! lepas... aku pagi tadi sudah bilang... Artinya aku menolak disentuh kamu lagi!” rintih Daisy, suaranya tercekat.
Omara mendekatkan wajahnya, hembusan napasnya yang beraroma alkohol terasa di kulit Daisy. “Kamu bilang apa pagi tadi, Sayang? Pisah ranjang? Perceraian?”
Daisy tidak bisa menjawab. Tubuhnya gemetar hebat di bawah d******i Omara. Lancang, tangan besar Omara menangkup dadanya dan meremas kasar.
Senyum Omara kembali, tapi kali ini penuh dengan janji yang tidak pernah ia duga akan mendengarnya. “Kamu memikirkan perceraian... di saat rencanaku adalah segera membuatmu hamil.”
Kata-kata itu menghantam Daisy seperti gada tak kasat mata.
Hamil?
Satu kata yang tidak pernah masuk dalam bayangannya saat hubungannya dengan sang suami masih terasa abu-abu tanpa cinta. Dunianya seketika runtuh total. Ia datang dengan mimpi menjadi seorang istri yang dicintai, tapi yang ia dapatkan adalah ikatan yang menyesakkan.
Daisy membeku, “a-aku enggak mau hamil!”
Omara semakin bersemangat hingga tidak ada lagi perlawanan.
"Sayangnya yang aku ucapkan, bukan penawaran." Omara menahan tubuh kecilnya, "mulut manismu hanya boleh melayani cumbuanku, mendesah... bukan membantah, Bee."
Omara tidak membuang waktu. Ia menunduk, mencium Daisy dengan paksa, menuntut kepatuhan mutlak. Dalam keheningan malam yang pekat, Omara melepaskan pakaian mereka satu per satu. Tidak ada kelembutan, hanya penegasan kepemilikan yang dingin dan egois. Di kamar itu, saat usahanya memberi jarak justru Daisy terpaksa memberikan segalanya. Kesetiaan, pengabdian, dan tubuhnya, kepada pria yang tidak pernah memberikan hatinya.
Bukan seperti ini pernikahan impiannya, suami yang ia idamkan. Bagaimana mungkin Daisy bisa terpikat pada pria ini, saat segalanya seperti penuh janji manis di awal?
***
Beberapa jam kemudian, kegelapan mulai menipis menuju subuh. Omara sudah tertidur lelap di sampingnya, satu lengannya melingkari pinggang Daisy seperti borgol. Napasnya teratur, tanda dia merasa puas.
Daisy membuka mata, air matanya sudah kering, berganti dengan tatapan yang kosong namun penuh dendam. Ia menahan napas, dengan sangat perlahan mengangkat lengan kekar Omara dari tubuhnya. Setiap gerakan terasa menyakitkan, tapi ia harus melakukannya. Ia memastikan Omara tidak terbangun, pria itu masih dalam buaian mimpi yang nyenyak.
Dengan langkah pelan, Daisy melipir keluar dari tempat tidur. Ia tidak memikirkan pakaian yang berserakan di lantai. Tujuannya hanya satu yakni kamar mandi.
Ia mengunci pintu kamar mandi dengan tangan bergetar hebat. Di bawah guyuran air pancuran yang dingin, ia mencoba membasuh bekas sentuhan Omara, seolah bisa menghapus setiap sentuhan semalam. Tubuhnya sendiri berkhianat, saat hatinya menolak.
Pandangannya beralih pada laci di bawah wastafel. Dengan jari-jari yang masih kaku akibat rasa kesal, ia membuka laci tersebut dan mencari-cari di balik tumpukan perlengkapan mandi. Jari-jarinya menemukan sebuah strip obat pencegah kehamilan yang ia sembunyikan dengan sangat rapi beberapa minggu lalu.
Dengan terburu-buru, ia merobek kemasan plastiknya. Ia mengambilnya cepat dengan yakin. Daisy meminum pil-pil itu dengan air keran, menelannya dengan susah payah. Matanya menatap cermin, pada bayangan seorang gadis yang kini hancur namun memiliki secercah tekad di matanya. Pilihan ini adalah perlawanan kecilnya. Dan dia tahu, jika Omara Jagaraga mengetahui apa yang dilakukannya hari ini, murka pria itu akan lebih mengerikan dari apa pun yang pernah ia bayangkan kelak. Tapi untuk saat ini, inilah satu-satunya jalan keluar yang tersisa baginya.
Saat ia meragukan pernikahan ini bisa bertahan atau tidak, bagaimana mungkin ia biarkan dirinya membawa seorang anak dalam kekacauannya?
Daisy perlahan terduduk, menarik kakinya dan sekuat tenaga tidak ingin menangis. Mungkin rasa kecewa terbesarnya karena menyadari bahwa dirinya sudah terlanjur jatuh cinta pada Omara Akssa Jagaraga lebih dulu.