Kenangan Manis

1013 Words
Malam telah tiba, mereka berdua baru saja selesai makan malam. Vante membaringkan tubuhnya di ranjang, Eirene memperhatikan gerak-gerik Vante. "Kak Vante, sebaiknya Kakak bersih-bersih dulu, baru setelah itu pergi tidur," ucap Eirene. Vante menganggukkan kepalanya, dia merasa lelah dan butuh istirahat, meski Vante sebenarnya ingin bermain dengan Eirene. Vante bangkit, dia terduduk di atas ranjang sambil memperhatikan Eirene yang berdiri di dekat lemari. "Baby, mau mandi bersamaku?" tanya Vante. "Gak," jawab Eirene. Vante mendengus sebal, jawaban Eirene sangat singkat, padat dan jelas. Vante lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat Vante pergi, Eirene merapihkan barang-barangnya. Dia bersungguh-sungguh akan pergi secara diam-diam. Eirene memasukkan semua barangnya ke koper dan menaruh kopernya di dalam lemari, ini bertujuan agar Vante tak curiga. Tak lama, Vante keluar dari kamar mandi. Eirene yang tengah duduk di ranjang tersenyum melihat Vante. "Kak, pakaiannya sudah aku siapkan," ucap Eirene. Tatapan Vante beralih melihat setelan pakaian yang ada di atas ranjang. "Terima kasih," ucap Vante. "Sama-sama," ucap Eirene. Eirene bangkit, kini dia yang akan pergi membersihkan diri. Dan Vante yang terduduk di ranjang menunggu Eirene selesai membersihkan diri. Vante tampak berpikir, bagaimana caranya dia merayu Eirene agar mau bermain, bukan apa-apa, hanya saja dia tak bisa bila tak bermain dengan Eirene. Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Eirene yang keluar sudah memakai slip dress. Vante menatap Eirene intens, melihat Eirene memakai gaun malam tipis itu berhasil membuatnya semakin gerah. "Kakak, aku matikan yah lampunya," ucap Eirene. "Jangan." Vante tak akan bisa melihat Eirene dengan jelas bila lampunya redup. "Kenapa? Kitakan akan pergi tidur, tentu saja lampunya harus dimatikan," ucap Eirene. Eirene mematikan lampunya, meski gelap, Vante tetap saja menatap Eirene intens bahkan semakin intens. Bukankah dia terlihat seperti burung hantu, dimana bila gelap, dia akan menajamkan penglihatannya. Eirene menatap Vante, dia tentu tau apa yang Vante lakukan. Eirene lantas mendekat ke arah Vante. Begitu dekat, Vante memeluk pinggang Eirene, Eirene sampai terkejut karena gerakan Vante yang tiba-tiba. "Baby," panggil Vante. Eirene tersenyum, lalu Eirene duduk di pangkuan Vante. Vante menatap Eirene yang ada di depannya terkejut, tapi kemudian tersenyum penuh arti, apakah Eirene mencoba menyerahkan dirinya, pikir Vante. "Apa Kakak sangat-sangat ingin bermain?" tanya Eirene. "Ya, aku sangat ingin bermain bersamamu Baby," jawab Vante. Tanpa di duga, Eirene mengecup bibir Vante sebentar, lalu menjauhkan jarak mereka. "Lakukanlah Kak," ucap Eirene. Vante memainkan lidahnya, "Dengan senang hati, aku akan memasuki kamu malam ini," ucap Vante. Vante mencium Eirene dengan penuh nafsu, dia mencium Eirene begitu menuntut sampai Eirene susah untuk bernafas dan mengikuti gerakan demi gerakan yang Vante ciptakan. Tangan Vante sudah mulai bergerak kesana-kemari mengelus pinggang, bahu dan punggung Eirene. Lalu, kedua tangan Vante masuk ke dalam slip dress, tangannya mengelus paha, pinggang dan melepaskan slip dress Eirene ke atas. Eirene mempermudah usaha Vante, slip dress yang dia pakai kini lolos dan terjatuh ke bawah. Vante membalikkan posisi mereka, kini Eirene yang terduduk di ranjang sedangkan dia berdiri di depan ranjang. Vante juga menanggalkan seluruh pakaiannya. Melihat Vante tak mengenakan pakaian, Eirene memalingkan wajahnya, pipinya pasti memerah sekarang. Vante mulai melakukan permainannya, dan Eirene tentunya hanya akan menikmati saja permainan yang Vante ciptakan. Selesai melakukan foreplay, Vante bangkit dan mensejajarkan tubuh mereka. Vante mengelus kepala dan pipi Eirene, mereka berdua saling tersenyum. "I love you," ucap Vante. Eirene tampak terkejut, tetapi dia kembali tersenyum. "Kak, jika boleh, aku ingin melakukan sesuatu," ucap Eirene. "Apa itu?" tanya Vante. "Aku ingin menguasai permainan," jawab Eirene. Senyum Vante melebar, dia lantas beralih posisi, kini Eirene yang ada di posisi atas. Eirene menatap posisi mereka, dia tampak bingung harus melakukan apa. Vante lantas memberi tahu Eirene apa yang harus dia lakukan. Melihat Eirene yang ada diatasnya dengan keadaan mereka yang banjir akan keringat, Vante tersenyum miring. Vante beranggapan jika Eirene setelah ini tak akan bisa menolak, bahkan tak mau jauh darinya, tanpa Vante tau bila Eirene melakukan ini sebagai ucapan perpisahan. Eirene sendiri tampak bingung dengan kelakuannya, dia terlihat seperti w*************a sekarang. Tapi, dia melakukan ini juga untuk mengakhiri kebersamaan mereka dengan moments manis. Selesai di ronde pertama, tentu permainan tak sampai di situ saja, Vante dan Eirene melakukan permainan lain dan Eirene juga tak menolak keinginan Vante. Meski Eirene merasa lelah, tapi dia dengan mudahnya menurut, dia menuruti apapun yang Vante katakan dan mau. Dan Eirene tak bisa berbohong, bila dia akan sangat rindu dengan Vante, tetapi, hal ini sebaiknya berlalu sebelum keadaan menjadi rumit. Eirene sempat berpikir, bagaimana bila mereka dipertemukan kembali, apa yang akan terjadi dengan keduanya. Namun, Eirene rasa itu tak akan mungkin, mereka tak kenal satu sama lain dan dunia ini sangat luas, jadi sangat mustahil bila mereka dipertemukan kembali. Meski, Eirene lupa bila Vante bisa saja mencarinya di Korea. Eirene menggelengkan kepalanya, sekarang dia harus fokus, dia tak boleh memikirkan hal lain saat ini. Besok dia benar-benar harus pergi dan meninggalkan Vante begitu saja. Selesai bermain, mereka tertidur berdampingan. Vante seperti biasa akan merengkuh tubuh Eirene, dikecupnya kepala dan wajah Eirene dengan sayang, tak lupa usapan lembut di punggung Eirene sebelum mereka benar-benar tertidur. Merasa lelah, Vante terlelap lebih dulu. Sedangkan Eirene memang menahan diri untuk tak tidur, Eirene menatap Vante yang ada di depannya. Tangannya terulur mengelus rambut Vante, lalu turun membelai wajah Vante yang sangat tampan bak Dewa Yunani. Tuhan menciptakan Vante begitu sangat sempurna, baru kali ini Eirene terpukau dengan ketampanan seseorang. Jari tangan Eirene menyentuh kelopak mata Vante yang kini tengah terpejam, mata inilah yang belakangan ini selalu menatapnya dengan penuh sayang. Lalu, Eirene menurunkan jarinya sampai ke bibir, dan bibir inilah yang belakangan ini selalu mengeluarkan kata-kata manis juga selalu berhasil membuatnya luluh dan pasrah begitu saja. Jujur, Eirene pasti akan merindukan kenangan mereka. Eirene akan merasa rindu dengan kemanisan juga perhatian Vante yang belakangan ini selalu ada untuknya dan membuat dia bisa melupakan rasa sakit dengan cepat. Akan tetapi, begitu Eirene pergi dari Maldives, maka saat itu juga, Eirene akan mencoba melupakan kenangan mereka. Meski sudah Eirene katakan sebelumnya, dia tak akan mungkin bisa melupakan kenangan manis mereka berdua di Maldives. Maldives menjadi saksi akan pertemuan mereka berdua, namun sayangnya harus berakhir sebagai sebuah moments manis yang tak akan pernah terlupakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD