Pulang

1015 Words
Eirene kini sudah duduk di kursinya, seperti yang Eirene katakan kemarin, dia harus kembali karena dia sudah berada di Maldives selama tiga hari. Eirene menatap ke arah kaca pesawat yang memperlihatkan langit sekitar. Eirene teringat kejadian tadi pagi. Begitu selesai bermain dengan Vante, Eirene hanya tidur sebentar karena dia harus mengejar penerbangannya. Eirene terbangun dan dengan perlahan melepas pelukan Vante, Vante sempat bertanya dan Eirene mengatakan dia hanya ingin pergi ke toilet. Eirene membersihkan dirinya secepat kilat dan buru-buru berpakaian juga membawa kopernya keluar kamar. Beruntung, Vante tampaknya kelelahan, jadi dia bisa kabur. Meski sebenarnya, Eirene juga lelah, dia ingin tidur lebih lama. Mengingat keadaan, mau tak mau Eirene pergi, dia pergi sekitar jam lima pagi. Beruntung juga karena ada taksi yang mau mengantarnya ke bandara, dengan begitu Eirene tak khawatir akan tertinggal pesawat. Terlintas bagaimana momentnya bersama Vante, sayang sekali itu harus berakhir. Tapi kini tampaknya pikiran rasional Eirene telah kembali, dia mulai berpikir, bila itu salah, sangat-sangat salah. Dia telah bermain dan bersama orang asing, dia juga dengan mudahnya memberikan mahkota yang selalu dia jaga. Eirene meratapi keadaannya yang begitu menyedihkan, apa bedanya dia dengan Jeffrey. Dia bahkan sempat berpikir bila itu juga balasan atas perilaku Jeffrey kepadanya, balasan dengan bermain bersama orang lain juga. Eirene menyandarkan kepalanya, sungguh bodoh, bagaimana bisa. Eirene ingin berteriak dan memutar waktu, tapi itu tak akan bisa, apa yang sudah terjadi tak bisa diulang kembali. Namun, Eirene sedikitnya bersyukur, berkat Vante dia bisa kembali menjadi dirinya. Dia sangat menikmati moments mereka meski pada akhirnya dia menyalahkan apa yang sudah terjadi. Kini, harapan Eirene adalah kembali dan menjalani kehidupannya yang normal. Eirene berharap kehidupannya akan baik, juga dia berharap, semoga dia tak bertemu lagi dengan Vante. Sedangkan disisi lain, Vante tampak cemas karena dia tak mendapati Eirene di manapun. Saat dia terbangun dan memanggil Eirene, Eirene tidak ada, seingatnya Eirene pergi ke kamar mandi, namun tak ada Eirene di dalam. Vante mencari ke balkon, bahkan ke luar kamar, tapi tak ada Eirene. Vante lantas mengerahkan anak buahnya. Kini Vante tengah berdiri di depan kaca penghubung antara kamar dan balkon, Vante memasukkan tangannya ke dalam kantung celana. Dia tengah menunggu kabar dari anak buahnya. Suara ketukan pintu mengalihkan atensi Vante, Vante menyuruhnya masuk, tentu Vante tau bila itu adalah anak buahnya. Para anak buah Vante menunduk hormat, lalu mereka menyerahkan sebuah tab. Salah satu dari mereka mengatakan, bila Eirene terlihat keluar dari kamar pada pukul lima kurang. Vante menscroll video dan foto yang memperlihatkan Eirene pergi sampai dia masuk ke dalam sebuah taksi. Anak buah Vante kembali berkata, bila Eirene pergi ke bandara, dia akan kembali ke Korea. Vante menyerahkan kembali tabnya. "Jam berapa penerbangannya?" tanya Vante. "Pesawat sudah lepas landas lima menit yang lalu Tuan," jawabnya. "Sial." Vante memukul dinding, dia tentu tak terima dengan kepergian Eirene. Eirene tak mengatakan apapun dan bodohnya dia tak curiga, dia kira Eirene tak akan kabur seperti ini. Vante menyuruh anak buahnya untuk pergi, dia perlu menenangkan dirinya sekarang. "Aku tak akan melepaskan mu Eirene Grace. Aku akan mencari mu sampai ketemu, Baby," ucap Vante. . . . Waktu berlalu, Eirene kini sudah tiba di Seoul. Eirene keluar sambil membawa koper, terlihat dua orang melambaikan tangannya kepada Eirene. Eirene tentu memberitahu kepulangannya kepada Esther juga Selena. Esther dan Selena berlari menghampiri Eirene, Eirene memeluk Esther erat. "Aku merindukanmu Kak," ucap Esther. "Kakak bahkan sangat-sangat merindukanmu Esther" ucap Eirene. "Bagaimana liburannya? Kamu sudah baik kan?" tanya Selena. Eirene melepaskan pelukannya dengan Esther, lalu Eirene memeluk Selena sekilas. "Sangat baik, di sana sangat menyenangkan, hingga aku merasa hidup di dunia baru. Ouh iya, bagaimana dengan Esther. Dia tak merepotkan mu bukan?" tanya Eirene. "Jangan ditanya lagi, dia sangat-sangat merepotkan. Kamu tau, Esther sangat bawel, hingga aku bingung, apa mungkin aku salah membawa orang," jawab Selena. "Ihh Kak Selena," teriak Esther. "Iya enggak. Dia sangat baik, kamu tenang saja Eirene," ucap Selena. Eirene tersenyum, Esther memang bawel bila bersama orang-orang terdekatnya. Apalagi, Esther dan Selena memang sering bercanda, jadi Eirene merasa Esther akan aman bila ditinggal dengan Selena. "Ehh sorry banget nih, tapi aku harus balik kerja, gak apakan?" tanya Selena. "Gak apa-apa, makasih udah jaga Esther," ucap Eirene. "Santai aja. Kalau gitu aku duluan, bye," ucap Selena. Selena pergi lebih dulu. Esther lantas membantu Eirene mengambil kopernya, Esther sangat senang karena kakaknya sudah kembali. Jika dilihat-lihat, tampaknya kakaknya ini sudah baik kan, Esther merasa bersyukur karena kakaknya tak larut dalam kesedihan. Juga, Esther berusaha untuk tak membahas soal mantan kakaknya ini, Esther takut kakaknya sakit lagi. Mereka telah tiba di apartemen. Eirene menatap sekitar, dia pergi selama tiga hari, dia merasa sangat merindukan suasana di apartemennya. Esther menyuruh Eirene untuk duduk, dia akan membawa air mineral untuk kakaknya. Eirene tersenyum, adiknya ini memang sangat perhatian. Esther bertanya bagaimana Eirene di sana, Eirene menceritakan semua kegiatannya selama di Maldives. Dan tentu saja, Eirene tak akan menceritakan soal Vante. Esther tampak cemberut, dia juga ingin ke sana, tapi sayangnya dia harus ujian untuk akhir semester. Selesai bercerita, Eirene lantas mengatakan bila dia ingin istirahat. Eirene masih mengantuk meski selama di pesawat dia terus tidur. Eirene lantas bangkit, tapi naas, ada barang jatuh dari kantung jaket Eirene. Esther yang melihatnya lantas mengambil barang milik Eirene, Esther kebingungan saat melihat obat di tangannya. "Ini obat apa Kak?" tanya Esther. Eirene mengambil obatnya dari tangan Esther dengan terburu-buru. "Bukan apa-apa," jawab Eirene. "Kakak sakit?" tanya Esther. "Di sana panas juga dingin, jadi Kakak membeli vitamin." Jika tak dijelaskan, maka Esther akan terus bertanya sampai dia mendapatkan jawabannya. Esther menganggukkan kepalanya saat tau jika itu vitamin. Eirene tersenyum dan segera pergi ke kamarnya. Eirene mengeluarkan napasnya lega, untung saja Esther tak mengetahui obat apa ini. Sebenarnya, obat ini adalah obat pencegah kehamilan. Eirene tentu sadar dia dan Vante bermain terlalu sering, dia takut bila ada hasil dari kegiatan panas mereka. Eirene tak mau mengambil resiko bila ada bayi di dalam perutnya, akan sangat aneh bila dia tiba-tiba hamil dan tak memiliki suami di sampingnya. Apa yang akan orang-orang katakan dan bagaimana dia harus mengurus anaknya nanti, mengurus anak sendiri itu tak mudah. Jadi, Eirene mengambil pencegahan meski itu terkesan lambat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD