Eirene terdiam sambil memperhatikan hamparan air pantai. Beberapa menit yang lalu mereka tiba di kamar, setelah makan siang, Eirene tampak memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan. Eirene menyangga dagunya. Mengingat apa yang selama ini dia lakukan di Maldives, Eirene membuang napasnya pelan, jika dipikirkan baik-baik, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Vante. Belum lagi Vante selalu mengajaknya bermain.
Melihat air pantai yang sangat indah, ingin rasanya Eirene berenang seharian, dia tak mau hanya menghabiskan waktu dengan Vante. Dan jika boleh jujur, Eirene berharap Vante tak lagi mengajaknya bermain. Juga, dibelakang kamar ternyata ada kolam pribadi, bukankah sangat di sayangkan bila tak digunakan sama sekali.
Ketika Eirene tampak melamun, Vante datang menghampirinya. Vante tersenyum kecil, tangannya memeluk pinggang Eirene, Eirene jelas terkejut sambil menatapnya.
"Kenapa Baby?" Vante kini memeluk perut Eirene, dia menyandarkan dagunya di pundak Eirene.
"Tidak apa. Tapi Kak Vante, aku ingin berenang," ucap Eirene.
"Ayo kita berenang bersama. Kamu tunggu dulu di sini, aku ingin mengambil sesuatu," ucap Vante.
Vante pergi, Eirene menatap Vante yang keluar dari kamar. Eirene mengangkat bahunya acuh, dia kembali menatap ke arah pantai. Angin sepoi-sepoi menyapa, sungguh menyenangkan bila dia bisa bermain air, cuacanya sangat mendukung, juga kini sinar matahari tak begitu terik, bahkan angin semakin berhembus sejuk.
Eirene memperhatikan seseorang yang datang memakai jet ski, seketika Eirene merasa ingin menaiki jet ski juga. Dan Eirene tampak terpana saat tau bila Vante lah yang mengendarai jet ski itu. Tanpa sadar, Eirene tersenyum, Vante sangat keren dimatanya. Meski mungkin itu tampak biasa saja bagi orang lain, tapi bagi dia, itu sangat-sangat keren.
Belum lagi, saat Vante mengelus rambutnya ke belakang. Rasanya Eirene ingin berteriak, tapi dia masih bisa berpikir dengan baik, bisa-bisa ada orang yang salah paham, tentu saja itu Vante.
Vante turun dari jet ski, dia naik ke atas balkon kamar.
"Ayo Baby," ucap Vante.
"Apa kita akan bermain jet ski?" tanya Eirene dengan tatapan penuh harapan, tentu Eirene akan sangat senang bila dia bisa bermain jet ski.
"Tentu saja," ucap Vante.
Eirene melompat tak percaya. Vante tertawa melihat Eirene, Eirene tampak seperti anak kecil, tapi Vante tentu suka dengan sikap kekanakan Eirene. Vante lantas menyuruh Eirene untuk segera bersiap dan turun ke bawah.
Vante membuka kemeja dan celana pendeknya, melihat itu Eirene tentu menatap Vante bingung. Vante mengatakan bila dia hanya akan memakai boxer, karena mereka akan bermain air.
"Kamu gak mau buka pakaian Baby?" tanya Vante.
Eirene menyilang kan tangannya di depan d**a, "Untuk apa membuka pakaian," ucap Eirene.
"Ya terserah sih." Vante tersenyum, dia juga tak berharap Eirene memakai bikini di luar.
Vante menaiki jet ski, Eirene masih diam sambil melihat Vante. Lalu Eirene menatap penampilannya, memang apa salahnya bila dia memakai kaos dan celana pendek saja.
"Baby, ayo." Eirene lantas mendekat, dia duduk di belakang Vante.
Vante membawa tangan Eirene untuk memeluk perutnya, Eirene terdiam, tangannya memegang perut telanjang Vante. Vante mulai menjalankan jet ski nya, Eirene memeluk Vante erat, Eirene tersenyum merasakan begitu nyamannya bermain jet ski.
Vante juga tersenyum bahkan berteriak, Eirene tertawa. Begitu Vante menaikkan kecepatannya, Eirene memeluk Vante, Eirene bahkan berteriak agar Vante memelankan kecepatan, ini terlalu cepat. Bukannya memelankan kecepatan, Vante malah semakin sengaja, Eirene menutup matanya dan mengeratkan pelukannya.
Sampai, jet ski mereka oleng, Vante dan Eirene terjatuh ke laut. Eirene hampir saja tenggelam, beruntung Vante langsung memeluk tubuhnya. Eirene mengusap wajahnya yang basah, dilihatnya Vante yang tengah tersenyum.
"Kamu tak apa?" tanya Vante.
"Aku tak apa," jawab Eirene.
Vante membantu Eirene untuk naik ke atas jet ski terlebih dahulu, begitu sudah naik, Vante juga naik ke atas. Kini Eirene yang ada di depan, melihat kondisi mereka, lantas Eirene meminta agar dia yang mencoba menjalankan jet ski nya. Vante memperbolehkannya dan memberitahu Eirene apa yang harus dia lakukan.
Berbeda bila bukan Vante yang mengendarai, Eirene mengendarai jet ski nya dengan pelan. Vante tampak tak masalah, dia justru sengaja memeluk Eirene yang ada di depannya, dengan begini dia bisa lebih lama memeluk tubuh wanitanya.
Tangan Vante yang semula memeluk perut Eirene, kini beralih, tangan Vante masuk ke dalam pakaian Eirene. Eirene yang merasakan itu tentu protes, Eirene mengatakan agar Vante diam dan tak mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Vante mendekat ke arah telinga Eirene, "Memangnya kenapa Baby, aku mau bermain denganmu," bisik Vante.
Eirene mencoba menjauhkan Vante, tapi tak bisa, dia harus fokus mengendarai jet ski. Vante tersenyum penuh arti, dia dengan sengaja mengendus tubuh Eirene, bahkan bibirnya mendarat di leher Eirene.
"Vante," protes Eirene.
Vante tak mendengar protes dari Eirene, dia tetap mendaratkan bibirnya di leher Eirene, bahkan kini mencium, menyesap dan mengigit leher putih di depannya.
Eirene melepaskan pegangannya, jet ski seketika berhenti. Eirene malah mengeluarkan suara anehnya, Vante semakin menjadi, bahkan tangannya sudah memegang kemana-mana. Eirene tak bisa menahannya. Eirene menyandarkan kepalanya ke belakang, tubuhnya bergerak gelisah dan itu memudahkan pergerakan Vante.
Dengan penuh kesadaran, Eirene menghentikan tangan Vante, Eirene mengatakan untuk Vante berhenti. Vante lantas menghentikan permainannya, dia berhenti tentu karena bermain di sini, dia tak bisa bebas bergerak.
Jet ski kembali melaju, begitu sudah tiba, mereka turun. Vante memasukkan jet ski nya ke bawah bangunan kamar. Melihat Vante tampak sibuk mengamankan jet ski, Eirene berenang di dekat kamar, Eirene menenggelamkan badannya.
Belum beberapa detik, tubuh Eirene di gapai, tentu pelakunya itu Vante. Vante menyangka bila Eirene tenggelam karena tubuhnya kram, padahal Eirene sengaja, dia ingin berenang sebelum naik ke atas. Eirene tertawa pelan, Vante tampak benar-benar khawatir.
"Kamu lucu sekali Kak," ucap Eirene sambil tertawa.
"Wah, kamu tampaknya senang, padahal aku khawatir. Kamu mau hukuman Baby?" tanya Vante.
Eirene terdiam kaku, baru saja Vante bilang, tapi tangan Vante sudah menjelajah kemana-mana bahkan ke benda privasinya.
"Kak jangan, aku tak mau bermain diluar," ucap Eirene.
"Sebentar saja." Vante berkata dengan suara seraknya.
Tampaknya Eirene tak akan selamat, Vante sudah siap melakukan pemanasan. Tanpa tau, ternyata Vante langsung bermain ke inti dan itu membuat Eirene meringis pelan.
Mereka bermain di area bawah. Eirene meletakkan tangannya di leher Vante, mereka berdua sama-sama mengeluarkan suara aneh. Vante memundurkan Eirene untuk bersandar di tangga penghubung antara air dan kamar, dengan begini dia bisa bebas bergerak dan berpegangan. Mereka kembali saling bersahutan, meski sesekali Eirene menatap sekitar, dia takut ada orang yang melihat mereka tengah bermain di dalam air.