Sebelum pagi menyapa, Eirene sudah bangun, dia membersihkan dirinya dan kini sedang duduk menatap sunrise. Eirene selalu mengucapkan syukur ketika dia bisa menikmati keindahan ini. Ketika tengah menatap pemandangan, smartphone Eirene berdering, itu telpon dari Dave. Dave sengaja menelpon dan bertanya tentang keadaannya, juga dia meminta maaf karena tak jadi menemani Eirene berlibur. Eirene mengatakan dia baik dan dia tau Dave sibuk dengan pekerjaannya.
Ketika sedang berbincang, Vante memanggil nama Eirene, Dave tentu bertanya kenapa ada pria yang memanggilnya, Eirene mengatakan jika itu hanya orang lewat. Eirene tak mungkin mengatakan jika dia bertemu dengan seorang pria, bahkan mereka kini selalu bersama dan naasnya kebersamaan mereka sudah melewati batasan.
Eirene segera mengakhiri telpon mereka, Eirene cemas bila Vante datang dan itu pasti akan membuat Dave bertanya lebih lanjut. Eirene beralasan akan sarapan, dan dia juga menitip pesan untuk Esther kepada Dave.
Begitu telponnya mati, Vante datang. Benar dugaan Eirene, jika tak diakhiri maka bisa dipastikan semuanya akan terbongkar. Dalam diam Eirene menatap penampilan mereka, Vante memakai kaos putih dan celana pendek hitam, dan dia memakai atasan putih sebahu, juga celana jeans pendek. Bukankah mereka tampak seperti janjian, padahal tidak, Eirene tak tau pakaian mereka akan terlihat sama seperti ini.
"Baby, ayo kita sarapan," ucap Vante.
Eirene bangkit dari kursinya, Vante memperhatikan Eirene yang tengah memegang smartphonenya.
"Tunggu, kamu habis telpon sama siapa?" tanya Vante.
"Teman," jawab Eirene.
"Teman apa? Pria atau wanita?!" tanya Vante.
"Teman dekat, dia pria," jawab Eirene.
Vante meminta Eirene untuk menunjukkan ponselnya, Eirene tentu bertanya, untuk apa dia harus menunjukkan ponselnya.
"Aku harus memastikan, kamu gak suka kan sama dia?" tanya Vante.
"Apa sih Kak Vante, dia benar-benar hanya temanku," jawab Eirene.
Eirene jadi sedikit risih dengan sikap possesif Vante. Menurut Eirene, tak seharusnya Vante mencampuri urusan pribadinya. Vante tersenyum lega, dia hanya tak ingin orang lain hadir untuk mengisi hati Eirene yang kosong.
Vante menggenggam tangan Eirene, dia mengajak Eirene untuk pergi sarapan. Setibanya di restauran yang berada di sisi pantai, mereka mengambil makanan apa yang mereka inginkan dan memakannya dengan santai. Saat tengah sarapan, Vante tak hentinya memberikan perhatian kecil kepada Eirene, entah itu mengambil makanan dan minum, atau sekedar mengelap bibir Eirene yang terdapat makanan.
Eirene rasanya ingin menjauh, perhatian seperti ini membuat hatinya sedikit berdetak. Dia takut jika dia memiliki hati kepada Vante dan Eirene tentu belum siap mencintai atau menjalin hubungan dengan pria lain. Rasa sakit itu masih teringat jelas, meski rasa sakitnya kini dengan perlahan sudah terobati.
Selesai sarapan pagi, Vante dan Eirene kembali akan pergi ke kamar mereka. Namun, belum mereka melangkah lebih jauh, Eirene meminta Vante untuk berjalan-jalan sebentar di pantai. Sayang sekali sudah dua hari ini dia tak menikmati jalan-jalan di atas pasir, atau bermain air. Vante tentu akan mengabulkan permintaan Eirene, apa sih yang tak akan dia kabulkan demi Eirene.
Mereka berdua berjalan-jalan santai, Eirene tersenyum melihat sekitar, Vante yang melihat itu ikut tersenyum. Tangan Vante memegang lengan Eirene, Eirene otomatis berhenti dan menatap Vante dengan wajah bertanya-tanya.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Vante.
"Ya, apa itu Kak?" tanya Eirene.
"Mungkin ini terdengar sedikit aneh, tapi jujur saja, aku menyukaimu." Eirene terkejut mendengar penjelasan Vante.
Vante kembali akan berkata tetapi Eirene lebih dulu menghentikannya, Eirene tau kemana arah pembicaraan Vante.
"Saat ini aku sedang ingin sendiri. Bukankah tak bagus bila kita terburu-buru, bisa saja dalam waktu dekat, perasaan Kakak berubah," jelas Eirene.
"Tidak akan, aku bisa pastikan itu," ucap Vante.
Vante tau, Eirene tak mau memberikannya kesempatan untuk mengganti posisi seseorang dihatinya. Tampaknya benar, dia tak boleh mengatakannya sekarang, Vante harus membuktikan dulu keseriusannya agar Eirene percaya, jika dia benar-benar menyukai Eirene.
"Dan, aku juga ingin mengatakan, tak peduli rasa sakit apa yang dulu kamu rasakan, biarlah itu berlalu. Hidupmu tak selamanya berpusat pada satu tempat, ada tempat lain yang akan lebih membuat kamu merasa nyaman, kamu hanya perlu berpindah dan kembali menatanya." Eirene tersenyum mendengar penjelasan Vante, Eirene tau dan dia juga tak mau terus terlarut dalam rasa sakit.
Mereka kembali berjalan, Eirene menatap air pantai yang begitu biru. Langkah Eirene tertuju ke sana, Vante mengikuti Eirene dari belakang.
Eirene melepas alas kaki, dia ingin merasakan dinginnya air membasahi kakinya. Kaki Eirene terhantam ombak kecil, Eirene yang tengah menikmati air berteriak kaget, Vante mengangkat tubuhnya dan membawa dia untuk semakin mendekat ke air.
"Kak," keluh Eirene.
"Kalau mau main air ya harus deket dong Baby, masa cuman di pinggir," ucap Vante.
"Tapi aku takut kalau terlalu jauh," ucap Eirene.
"Ada aku," ucap Vante.
Eirene meminta Vante menurunkannya, Eirene benar-benar takut jika harus main jauh. Kini kaki Eirene terbenam air hampir selutut, untunglah ini tak begitu dalam.
Eirene tersenyum saat sebuah ide jahil melintas di benaknya. Tangan Eirene menyentuh air, dan Eirene dengan cepat menyerang Vante. Vante menutup mata dan membiarkan pakaiannya basah, dia membalas perilaku Eirene, tentu Vante hanya membalas dengan gerakan pelan.
Eirene yang melihat Vante basah tertawa dengan lantang. Vante tersenyum, jadi secantik itu ketika Eirene sedang tertawa.
Vante menutup matanya saat air itu mengenai wajahnya, Vante memberikan tanda bila dia menyerah dan menyuruh Eirene berhenti. Eirene seketika berhenti, dia menatap Vante khawatir.
"Kakak kenapa?" tanya Eirene.
"Mataku perih," jawab Vante.
"Mana, coba aku lihat." Eirene mendekati Vante, Eirene berjinjit agar bisa menyamakan jarak mereka.
Tangan Eirene menyentuh wajah Vante, "Buka matanya, aku ingin lihat apa matanya merah atau tidak," ucap Eirene.
Vante membuka matanya, sambil berkedip beberapa kali. Vante terdiam melihat Eirene begitu dekat. Salah satu tangan Vante memeluk pinggang Eirene, Vante lagi tersenyum.
"Masih perih?! Jika iya, kita obati sekarang," ucap Eirene.
Vante mendekat, dia mengecup bibir Eirene. Eirene mengedipkan matanya beberapa kali, tangannya kini bahkan berada di bahu Vante karena terkejut dengan tindakan Vante.
"Obatnya hanya ini," ucap Vante.
Vante kembali mengecup dan setelahnya melumat bibir Eirene. Eirene yang sebelumnya terdiam, kini menutup matanya dan menikmati ciuman Vante. Tangannya mengalung di leher Vante, sulit untuknya menolak sentuhan bibir Vante. Vante sendiri merasa tak bisa, bila dia tak mencium bibir manis dan candu milik Eirene, barang sehari.
Mereka berciuman dengan kaki keduanya yang terbenam air dan terkena ombak kecil. Berciuman diantara trik matahari juga angin sepoi-sepoi ternyata lumayan juga, mereka merasa panas namun juga merasakan hawa sejuk di waktu bersamaan.