Tak Mau Jauh

1018 Words
Setelah lama istirahat, Eirene kembali terbangun, dia menatap jam dinding yang tak jauh darinya. Eirene membulatkan matanya, dia istirahat terlalu lama, tapi ini wajar, karena Vante yang terus bermain sampai dia merasakan kelelahan yang amat sangat. Dalam pelukan Vante, Eirene berusaha lepas, dia harus bangun dan mencari makan, sungguh dia sudah tak tahan menahan kelaparan. Vante yang merasakan pergerakan dari Eirene, lantas bicara. "Baby, kamu mau kemana?" tanya Vante. "Aku lapar. Ini semua gara-gara kamu, aku sampai lupa sarapan," jawab Eirene. "Ini baru jam sepuluh pagi Baby," ucap Vante. "Sepuluh pagi apanya, ini sudah jam dua Vante," teriak Eirene. Vante otomatis membuka matanya, perasaan dia baru saja tidur, tapi mengapa waktu sudah berlalu dengan sangat cepat. "Aku lapar," keluh Eirene. "Mandilah lebih dulu, aku akan memesan tempat makan untuk kita. Atau mungkin kamu mau mandi bersamaku?" tanya Vante. "Gak mau," tolak Eirene. Eirene bangkit dan membawa selimut untuk menutupi tubuhnya, Vante tersenyum kecil padahal Eirene tak perlu seperti itu. Dia sendiri tampak biasa saja, bahkan kini dia duduk di ranjang dengan tubuh telanjang yang tak tertutup apa-apa. Mereka bergantian membersihkan diri. Vante sudah memakai pakaiannya, tetapi Eirene masih saja menutupi tubuhnya dengan selimut. "Baby, kenapa kamu masih pakai itu?" tanya Vante. "Aku tak ada pakaian," jawab Eirene. "Ya ampun." Vante menepuk jidatnya pelan. Vante keluar dari kamar, dia melihat paper bag pesanannya yang sudah tersimpan di depan pintu kamar. Vante kembali masuk dan memberikan paper bag itu kepada Eirene, Vante lupa memberitahu Eirene jika dia sudah memesan pakaian untuknya. Eirene kembali masuk ke dalam kamar mandi dan memakai pakaian pemberian dari Vante. Selesai berpakaian, Eirene keluar, Vante menatap penampilan Eirene. Eirene memakai dress bahan yang sedikit menerawang, hanya menerawang di bagian bahu dan tangan, selebihnya tentu tertutup. Dress itu berwarna biru laut dan memiliki motif bunga tulip, dipadukan dengan flat shoes, tentu akan sangat elegan bagi si pemakainya. "Cantik sekali," puji Vante. Eirene hanya balas tersenyum mendengar pujian dari Vante. Vante mengulurkan tangannya, "Sudah siap pergi?" tanya Vante. "Sudah." Eirene menerima uluran tangan Vante. Mereka berdua keluar dari dalam kamar dan mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Bukankah mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang tengah bulan madu, begitu dekat dan harmonis. Tapi nyatanya, tidaklah demikian, mereka dipertemukan karena ketidaksengajaan dan berakhir di atas ranjang, sungguh tak bisa di tebak. Setibanya di restauran, salah satu pelayan menyapa mereka dan menunjukkan di mana meja mereka. Vante mempersilahkan Eirene untuk duduk lebih dulu, baru setelah itu dia duduk di kursi yang saling berhadapan dengan kursi Eirene. Eirene menatap takjub restauran yang dia kunjungi dengan Vante, interiornya begitu menawan, juga suguhan pemandangan indah ini sangat memanjakan mata. Tapi tunggu, Eirene menatap Vante, Eirene baru sadar jika ini restauran termahal di sini, bisa dilihat dari logo yang terpajang di dinding restauran. "Vante, mengapa kita ke sini?" tanya Eirene. "Makan, apalagi selain makan Baby," jawab Vante. "Vante, sungguh, lebih baik kita pindah restauran saja," ucap Eirene. "Tenang Baby, aku yang akan membayar semuanya. Makan di sini tak seberapa bagiku," ucap Vante. Eirene melongo, apa mungkin Vante adalah salah satu sugar daddy, tapi dari penampilannya, Eirene akui Vante begitu sangat berkelas. Sungguh, Eirene tak menyadari jika pria yang kini bersama dengannya adalah pria kaya, bukankah ini beruntung, tapi Eirene justru malah takut, dia takut terlalu menikmati harta Vante. Pesanan mereka datang dari mulai appetizer, main course sampai dessert. Makanannya tentu berbahan dasar laut, tapi ada juga yang tidak. Selama makan, Eirene begitu lahap, dia sungguh kelaparan. Setelah tenaganya dikuras habis, dia tentu harus mengisi tenaganya lagi. Vante tertawa melihat betapa lahapnya Eirene makan. Bukannya merasa gimana, Vante justru menyukainya, Eirene tak seperti wanita lain yang menjaga image saat tengah berada dihadapannya. "Mau tambah?" tanya Vante. "Mau, aku mau pastanya lagi," jawab Eirene. Vante memesan pasta black truffle with caviar and matsutake, untuk Eirene. Eirene benar-benar menyukai semua makanan yang ada di restauran ini. Selesai makan, Vante meminta bilnya. Eirene diam-diam ingin tau berapa banyak yang Vante keluarkan untuk sekali makan, begitu tau, Eirene menutup mulutnya tak percaya. Ternyata makanan yang tadi hanya porsi sedikit, itu bisa menghabiskan uang berjuta-juta, sungguh Eirene tak tau, dia tak sengaja menguras uang Vante. Vante dan Eirene keluar dari dalam restauran, angin berhembus menerpa mereka. Eirene sampai harus membenarkan rambutnya karena angin yang terlalu kencang, Vante membantu Eirene merapihkan rambutnya. "Ayo pulang Baby," ucap Vante. Eirene menatap Vante dengan wajah serius, "Vante, sepertinya kita berpisah di sini saja. Soal kemarin, kamu tenang saja, aku tak akan meminta tanggung jawab, aku juga bersalah atas hal itu. Jadi, sampai jumpa," ucap Eirene. "Kamu memangnya mau pergi kemana?" tanya Vante. "Aku akan kembali ke penginapan," jawab Eirene. "Kamu tidak akan bisa kembali, semua barang mu ada di kamarku," ucap Vante. "Hah?! Bagaimana bisa?" tanya Eirene. "Apa sih yang tidak aku bisa Baby," jawab Vante. Vante sudah menyuruh seseorang untuk memindahkan semua barang-barang Eirene ke kamarnya, Vante mana mau berpisah dengan Eirene. Karena hal itu, makannya Vante memindahkan barang Eirene. Dengan demikian, Eirene tak akan jauh-jauh darinya dan akan selalu ada disampingnya. "Kenapa kamu gak minta izin dulu, memangnya aku mau?" tanya Eirene. "Apa, kamu mau!? Mau di sini Baby? Lebih baik di kamar." Vante mengangkat alisnya guna menggoda Eirene. "Vante jangan bercanda, aku lagi serius," kesal Eirene. "Yah gimana Baby, aku gak mau kita berjauhan," ucap Vante. "Pokoknya aku mau kembali ke penginapan, aku gak mau sama kamu, tar kamu yang keenakan," ucap Eirene. "Kita sama-sama enak kali, Baby," ucap Vante. Eirene menatap Vante horor, dia berjalan lebih dulu dan tak memperdulikan Vante yang memanggil namanya. "Baby," panggil Vante. Vante tersenyum, dia berlari mengejar Eirene. Eirene yang tau Vante sudah akan mendekat, dia berlari kecil, tapi Vante lebih dulu menghentikannya. Vante memeluk pinggangnya dan mengangkat tubuhnya dengan ringan, Eirene tentu terkejut dan dia takut jatuh, lantas dia berpegangan di bahu Vante. Vante berjalan, dengan tubuh Eirene yang dia angkat. Eirene memukul bahu Vante dan meminta untuk turun, Eirene malu diliat orang-orang. Tapi Vante malah membuatnya makin malu, Vante memutar tubuh mereka, otomatis Eirene memeluk leher Vante erat, dia menyembunyikan wajahnya, ini sungguh sangat memalukan. Jika Eirene tampak malu, beda dengan Vante, dia seolah-olah bangga dan dengan senang menunjukkan bahwa inilah wanitanya, Eirene Grace.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD