Lagi

1002 Words
Sinar mentari menyapa dan menyinari kamar-kamar yang ada di atas pantai, sinarnya begitu cantik, apalagi saat terpantul ke air. Dua orang tampak masih terlelap dalam tidurnya, mereka tertidur sambil berpelukan dengan tubuh telanjang dan hanya ditutupi dengan selimut sampai bahu. Tampaknya, sang wanita lebih dulu terbangun begitu melihat cuaca sudah pagi. Eirene menatap sekitar, dia tampaknya bangun kesiangan. Saat Eirene menatap ke arah Vante yang tertidur sambil menghadap kearahnya, pipi Eirene langsung memerah. Eirene dengan jelas mengingat bagaimana pergumulan mereka tadi malam, itu begitu sangat panas, bahkan mereka melakukannya sampai tiga ronde. Eirene tak munafik, jika dia sangat menikmatinya bahkan melakukannya dengan keadaan sadar, meski dia sedikit terpengaruh karena alkohol. Tampaknya Eirene merasa biasa saja, padahal dia telah melakukan sesuatu hal yang kurang pantas bersama seorang pria yang bisa dikatakan orang asing. Tapi juga, tampaknya itu menjadi sebuah bukti akan amarah Eirene karena mantannya juga sudah melakukan itu dengan wanita lain, bahkan teman dekatnya sendiri. Jadi, Eirene anggap itu impas, mereka sama-sama melakukan hal tak wajar bersama orang lain. Ketika Eirene tampak fokus dengan pikirannya, Vante terbangun, dia jelas melihat Eirene yang tengah melamun. Vante tersenyum, dia semakin mendekatkan tubuhnya dan itu berhasil menyadarkan Eirene dari lamunannya. "Selamat pagi Baby," sapa Vante. "Pa-pagi Vante," sapa Eirene balik. "Kenapa kamu melamun emm?" tanya Vante. "Tidak apa-apa," jawab Eirene. "Kamu memikirkan mantanmu itu?" Eirene buru-buru menggelengkan kepalanya, untuk apa dia memikirkan mantannya. "Lalu kenapa, apa mungkin kamu mencoba mengingat kejadian semalam." Pipi Eirene memerah, dengan gemas Vante mencium pipi Eirene, Eirene tentu menoleh ke arah Vante. "Kamu lucu sekali Baby," ucap Vante. Eirene memalingkan wajahnya, bisa-bisa pipinya semakin memerah karena ucapan Vante. "Baby," panggil Vante. "Ya," jawab Eirene. Tangan Vante yang ada di dalam selimut menyentuh aset Eirene, Eirene menegang, dia sudah cukup lelah malam tadi. Bahkan, tubuhnya masih terasa pegal juga keringat yang belum dibersihkan membuat Eirene tampak tak nyaman. "Bolehkah?" tanya Vante. "Emm Vante aku lelah, jadi jangan melakukannya lagi," jawab Eirene. Eirene yang berkata bila dia menolak, nyatanya dia malah mengeluarkan suara-suara begitu Vante menyentuh dan memainkan tubuhnya. "Yah gimana dong Baby, dia terlanjur masuk," ucap Vante. Eirene mengerutkan keningnya, lantas Eirene menganggukkan kepalanya, biarlah Vante bermain, dia sendiri juga masih menginginkannya. Vante tersenyum senang, dia lantas beraksi dan tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dengan seenak jidat, Vante membuka selimut yang menyelimuti tubuh mereka berdua. Eirene sedikit terkejut mendapati tubuhnya begitu polos dengan tanda-tanda keunguan yang memenuhi seluruh tubuhnya. Eirene lantas buru-buru menutup asetnya meski itu tampak sia-sia saja. "Tak usah malu Baby, aku sudah melihat semua bagian tubuh cantikmu," ucap Vante. Lagi, Vante beraksi dan memainkan aset Eirene. Eirene hanya bisa pasrah dengan semua yang tengah dia rasakan. Lalu setelahnya, Eirene memalingkan pandangannya karena tak sengaja melihat benda privasi seorang pria, tentunya ini juga yang pertama dan itu membuat Eirene bergidik ngeri. Vante tertawa melihat reaksi Eirene, "Baby, lihat saja tak perlu malu seperti itu. Semalam, dialah yang mengambil peran malam pertama kita," ucap Vante. "Vante, bisakah kamu berhenti," pinta Eirene. "Tanggung Baby, kasihan dia belum menyapa rumahnya pagi ini," ucap Vante. Eirene tak habis pikir, bisa-bisanya Vante mengatakan hal-hal vulgar, tapi anehnya juga, dia merasa tak terganggu dengan ucapan Vante. Bila dibandingkan dengan mantannya, Eirene pasti akan merasa jijik dan buru-buru mengalihkan pembicaraan mereka. Tapi mengapa, mengapa dengan Vante dia merasa biasa saja dan tak terganggu sama sekali. Eirene kini kembali mengerutkan keningnya, tampaknya Vante kembali mencoba mengulang kejadian semalam. Eirene sedikit berteriak, rasanya masih sakit, meski sakit ini tak sesakit seperti semalam. Dimana untuk yang pertama, dia merasa seperti ada di antara hidup dan mati, sakitnya sungguh luar biasa. Selama permainan itu, Eirene dan Vante saling berbincang. Vante tersenyum disela-sela permainan mereka, memang dia itu pintar meski tidak berpengalaman soal bermain lapangan. Tapi Vante bersyukur, dia bisa bermain dengan Eirene, wanita yang tak menjajakan tubuh dan berpegang teguh pada prinsip. Vante berjanji, hanya Eirene yang akan dia mainkan dan tak ada yang lain. Eirene sungguh tak tahan dengan sentuhan yang Vante berikan, Vante benar-benar membuatnya lemah. Selain Eirene, Vante juga merasakan hal yang sama. Bermain langsung dengan rumahnya memang lebih baik ketimbang bermain solo. Bermain solo hanya akan menyakiti dia, tapi bermain langsung ditempatnya, itu benar-benar definisi dari kenikmatan surga dunia, apalagi melakukannya dengan seseorang yang kita suka. Sampai di ujung, Eirene merasakan kehangatan, tubuhnya seolah dihinggapi ribuan kupu-kupu. Begitupun dengan Vante yang merasa sangat lega setelah bisa menuntaskan sesuatu yang selama ini terpendam. "Aku tak puas jika hanya sekali," ucap Vante. "Vante, tapi aku lelah," keluh Eirene. "Sebentar Baby, hanya sebentar saja," ucap Vante. Vante kembali melakukannya, padahal Eirene sudah sangat lelah dan ingin segera istirahat. Tapi apalah daya, Vante lebih dominan daripada dirinya. Vante yang mengatakan dia hanya sebentar, nyatanya tidak, dia terus saja bermain sebelum dirinya merasa puas. Eirene sungguh dibuat kesal, tapi kemudian Eirene juga menyalahkan dirinya sendiri, karena dia juga malah terbuai dengan permainan Vante. "Baby," panggil Vante. "Vante, berapa lama lagi? Aku sungguh tak tahan," keluh Eirene entah yang ke berapa kali. "Sebentar Baby, sungguh hanya sebentar," ucap Vante. Eirene tampak cemberut, terus saja Vante mengatakan sebentar padahal nyatanya tidak. Sungguh ini terasa begitu lama, Eirene saja sampai terus membuang napasnya dengan kesal. Tapi, Eirene lagi terbuai dengan permainan Vante, dia yang awalnya merasa dirugikan, kini sama-sama merasakan hal yang sama. Selesai dengan kegiatan tersebut, Eirene dan Vante mengontrol napas mereka yang memburu. Eirene yang memang merasa lelah menutup matanya dan Vante berbaring di samping Eirene dan ikut menutup matanya. Sebelum kembali tertidur, Vante membawa tubuh Eirene ke dalam pelukannya. Vante mencium kepala dan kening Eirene lama. "Tidurlah Baby," ucap Vante. Eirene dengan mudah terlelap ke dalam tidurnya, dan Vante juga dengan mudah terlelap. Mereka berdua sungguh merasakan kelelahan yang amat sangat, meski dari rasa lelah itu ada rasa luar biasa yang mereka berdua rasakan. Untuk sekarang, mereka hanya ingin menikmati moments bersama-sama dan tak mempermasalahkan kondisi mereka yang sesungguhnya, dimana hubungan keduanya itu dianggap melanggar batasan. Mereka tak seharusnya seperti ini, akan tetapi karena mereka yang memilih mengikuti alur, maka tak ada jalan untuk mengulang pilihan yang mereka ambil bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD