Lakukan Saja

1031 Words
Eirene kini tengah duduk bersama Vante sambil menikmati sunset. Eirene menceritakan semua tentang hubungannya dengan Jeffrey kepada Vante. Dari mulai kedekatan mereka yang pertama sampai mereka memutuskan untuk berpacaran dan berjanji untuk selalu bersama-sama. Sampai, Eirene menceritakan bagaimana dia yang memergoki Jeffrey tengah bermain dengan Rose, salah satu teman dekatnya di kantor. Jujur, Eirene masih merasa sesak jika harus menceritakan kejadian itu. Tapi sekarang tak begitu menyakitkan lagi, karena Eirene sedang mencoba berdamai dan menapik ingatan dan pikiran yang selalu berpusat dalam memori kepedihan yang dia rasakan. Eirene tak mau berpusat ke dalam kepedihan, dia ingin melupakan memori menyakitkan itu dan kembali seperti semula, dimana dia tak mengenal Rose bahkan Jeffrey. Meski, Eirene masih bingung, apa yang sebenarnya Jeffrey pikirkan, sampai dia dengan mudahnya mengkhianatinya dan lebih memilih menusuknya dari belakang. Melupakan setiap kata, juga janji manis yang selalu dia ucapkan kepada Eirene. Dan Eirene tau, Jeffrey berubah saat Jeffrey dengan gencar selalu mengatakan hal-hal dewasa yang tentunya selalu Eirene alihkan agar mereka tak membahas hal yang menurut Eirene itu menjijikkan. Eirene tak munafik, dia juga tau itu, tapi dia berpegang teguh pada pendiriannya. "Aku hanya bingung, mengapa dia seperti itu. Memangnya, seberapa penting s*x bagi pria?" tanya Eirene. "Bukan hanya pria, wanita juga, jujur saja s*x itu sangat nikmat, meski aku juga belum pernah melakukannya. Tapi mungkin, aku bermain solo sudah terlalu sering," jawab Vante. Eirene menatap Vante takut, Vante yang melihat itu hanya tertawa. "Tenanglah, kamu tak perlu takut kepadaku," ucap Vante. "Jika seenak itu, mengapa harus melakukannya dengan orang lain?" tanya Eirene. "Karena kebutuhan, makannya dia malah memilih yang lain. Tapi tunggu, apa kamu berpikir untuk menyerahkannya kepada dia?" tanya Vante. "Tentu saja tidak, mana mungkin," jawab Eirene. Vante mengangguk senang, setidaknya Eirene bukan wanita bodoh. Eirene kembali meneguk minumannya, bahkan Eirene meminum wine langsung dari botolnya. "Hei, meski kamu tengah sedih, tak baik minum sebanyak itu," ucap Vante. Eirene menatap Vante dengan raut wajah sedih, "Bisakah kamu membantuku, aku tak ingin mengingatnya lagi," ucap Eirene. Vante tersenyum, "Tentu, aku akan membantumu, dengan senang hati," ucap Vante. Mereka berdua lama terdiam, cuaca juga kini sudah mulai gelap. Vante yang tengah terdiam, kini menatap Eirene yang ternyata tengah menatapnya juga. Vante tau, Eirene sudah mabuk sekarang, Eirene hampir menghabiskan satu botol wine miliknya. Tanpa diduga, Eirene mendekati Vante, tangannya bahkan memegang d**a Vante, "Jika berciuman, aku juga bisa. Tapi kenapa, kenapa dia harus berselingkuh dariku," teriak Eirene. Vante memaklumi sikap Eirene, dia tak sadar sekarang. Tapi, begitu tangan Eirene dengan lancang memegang benda privasinya, Vante berusaha untuk tenang. Eirene tak sampai hanya memegang saja, Eirene bahkan sedikit meremasnya, sungguh Vante kini tak tahan. "Aku juga mau ini," ucap Eirene. "Damn it! Apa kamu berpura-pura mabuk dan menggodaku Eirene," ucap Vante. Tak peduli bagaimana nanti, Vante yang sudah tak tahan lantas menyerbu bibir Eirene yang merah merekah. Eirene sendiri diam, tapi dia membalas ciuman Vante dengan gerakan pelan. Vante tersenyum disela-sela lumatannya, tak hanya melumat, Vante juga membuka mulut Eirene dan melancarkan lidahnya melesat masuk untuk mengabsen semua yang ada di dalam. Vante akui, Eirene lumayan pintar dalam hal ciuman. Tanpa dia suruh, Eirene dengan sendirinya membalas setiap gerakan yang dia berikan. Selain itu, Vante dengan berani memegang yang lain. Jujur saja, Eirene tak pernah mengijinkan mantannya untuk memegang tubuhnya dengan sembarang, tapi untuk Vante, tampaknya Eirene mempunyai pengecualian. Vante benar-benar memanfaatkan situasi dengan baik, dia bermain kesana-kemari. Vante tentunya merasa senang karena bisa menyentuh Eirene. Merasa jika mereka sudah siap tapi keadaan diluar yang kurang nyaman, Vante membawa Eirene ke dalam pelukannya. "Baby, kita sebaiknya bermain di dalam." Vante dengan mudahnya membawa tubuh Eirene ke dalam kamar. Ruangan Vante begitu gelap, meski begitu, Vante bisa melihat dengan jelas sekitarnya. Dengan hati-hati, Vante membaringkan Eirene di atas ranjangnya, ranjang yang semula kosong, kini terisi oleh wanita cantik. Vante tersenyum melihat keadaan Eirene, dia lantas ikut naik ke atas ranjang dengan perlahan. Lagi, Vante menyentuh Eirene, dengan memainkan aset atas Eirene dengan keterampilannya. Eirene memalingkan pandangannya saat melihat Vante yang ada di atasnya. Begini kah rasanya bermain dengan lawan jenis, ini tentu yang pertama untuk Eirene. "Aku tau ini pertama untuk kita, itu akan sedikit menyakitkan, tapi setelahnya aku jamin kamu akan menikmatinya. Jadi, bolehkah aku melakukannya Baby?" tanya Vante. "Lakukan saja Vante," jawab Eirene. "Kalau begitu, aku tak akan berhenti," ucap Vante. Vante kembali mencium bibir Eirene, Eirene tersenyum, meski hati dan otaknya kini tengah berperang. Mengapa dia mengijinkan Vante melakukannya, apakah karena rasa kesalnya kepada Jeffrey yang mengkhianatinya sehingga dia membalas dendam dengan ini, ataukah ini keputusan karena sesuatu yang asing sudah berhasil membuat Eirene merasa candu. Entahlah, Eirene tak tau, hanya saja saat ini Eirene hanya ingin mengikuti alur yang ada. Saat Vante tengah mencoba, Eirene mengerutkan dahinya, kenapa rasanya sakit, apa ini yang orang bilang bahwa kali pertama akan sangat menyakitkan. Eirene jadi merasa was-was, dia memegang bahu Vante dengan erat sebagai pelampiasan. Sedangkan Vante mengambil ancang-ancang, begitu sudah pas, dengan sekali percobaan Vante mengambil mahkota Eirene. Eirene berteriak begitu kencang, bahkan Eirene juga mencakar punggung Vante sebagai pelampiasan akan rasa sakit yang tengah dia rasakan. Sungguh, ini benar-benar menyakitkan, rasanya seperti tubuhnya itu terbagi menjadi dua. Eirene merasa menyesal karena memilih alur ini, tapi tak ada pilihan yang lain, dia sudah terlanjur mengambil alur ini. Dan yang bisa Eirene lakukan sekarang hanyalah membiarkan alur membawanya. Selain itu juga Eirene takut jika pengalaman pertamanya akan bernasib buruk, seperti cerita atau bahkan kisah seseorang yang melakukan hubungan dengan orang yang tak dia cintai. Tapi beruntungnya, Vante memperlakukan dia dengan baik. Mereka seolah tengah menyalurkan kerinduan setelah sekian lama tak bertemu, saling menyiratkan rentetan kata rindu dengan sebuah tindakan yang terkesan begitu romantis. Padahal nyatanya, mereka hanya sepasang orang asing yang tak sengaja bertemu di negara orang. Malam ini, menjadi saksi bagaimana sepasang wanita dan pria dewasa melepaskan pengalaman mereka untuk satu sama lain. Namun, setelah pagi menyapa, entah apa yang akan terjadi diantara keduanya. Apakah mereka akan bersikap seolah tak terjadi apa-apa dan melupakan pertemuan juga kejadian yang telah mereka alami, ataukah salah satu dari mereka yang memilih untuk terus bersama, meski tentunya itu tak akan mungkin. Karena ada satu sisi yang tampak rapuh dan tak sempat untuk membenarkan hatinya dan mengisi, atau bahkan mempercayai seseorang lagi dihatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD