Bertemu Kamu

1017 Words
Eirene kini sudah tiba di maldives, betapa senangnya Eirene saat tiba di sini, dia sungguh mencintai suasana dan pemandangan pantai yang begitu sangat indah. Meski benar, Eirene hanya menyewa penginapan murah di sini, tapi tak apa, toh dia masih bisa melihat pemandangan indahnya juga. Eirene yang semula menatap suasana, kini teralihkan saat mendengar suara musik juga keramaian. Eirene tergerak untuk pergi ke sana, saat dilihat banyak turis juga warga sekitar yang tengah menikmati pesta di salah satu cafe terbuka. Namun, ada hal yang sedikit membuat Eirene merasa muak, ada beberapa orang yang dengan bebas melakukan sesuatu yang panas, tampaknya ini bukan tempat yang cocok untuknya. Eirene lantas berjalan untuk pergi, tetapi dua orang pria menghadang jalannya, mereka berbicara dengan bahasa asing tapi Eirene mengerti apa yang mereka katakan. "Hey wanita cantik, mau pergi kemana kamu sayang?" "Minggir," ucap Eirene. "Eyy jangan terburu-buru seperti itu, bermainlah dulu bersama kami." Eirene yang semula berani, kini justru ketakutan, dia sungguh takut melihat wajah mereka yang begitu lapar. Salah satu dari mereka memegang tangannya, Eirene tentu berontak, dia berusaha untuk melepaskan diri. "Lepaskan aku," teriak Eirene. "Bermainlah dulu sayang." Suara gaduh itu tentu membuat sebagian menatap ke arah sumber suara. Eirene hanya tak habis pikir, mengapa mereka malah diam dan tak membantunya. Dia sedang dalam masalah serius, tapi orang-orang ini hanya melihat tanpa niatan untuk membantu. "Lepaskan dia, dia kekasihku, jangan sembarang kamu menyentuhnya," ucap seseorang yang baru saja tiba. Eirene menatap pria itu, betapa terkejutnya Eirene saat tau jika pria yang menolongnya adalah pria yang sempat dia temui di bandara. Pria itu menghampiri Eirene, dia membawa Eirene ke dalam pelukannya. "Eyy bro jangan coba-coba kamu menipu kami." "Untuk apa menipu kalian, preman tak berguna. Dia kekasihku, berani sekali kamu menyentuhnya, kamu mau aku memotong tanganmu itu," ucapnya. Merasa takut, salah satu dari mereka berbicara, "Tak perlu begitu bro, kami hanya menyapa." "Menyapa apanya. Sekali lagi aku melihat kalian mengganggu wanitaku, jangan salahkan aku jika aku benar-benar memotongnya, kalau perlu benda privasimu juga aku potong," ucapnya. Merasa merinding, juga mereka tau siapa yang tengah mereka lawan. Mereka dengan terburu-buru pergi, mereka tak mau berurusan dengan pria dihadapannya. Begitu preman tadi pergi, Eirene melepaskan pelukan pria itu. Eirene memberi jarak, dia tentu tak akan lupa untuk mengucapkan terima kasih. "Kamu dari Korea juga kan, bolehkah aku tau siapa namamu?" tanyanya. "Eirene Grace," jawab Eirene. "Eirene. Baiklah Eirene, aku Vante Evander," ucap Vante. Pria tampan yang Eirene temui ternyata bernama Vante Evander. "Ahh hampir saja lupa, kamu menjatuhkan sesuatu," Vante memberikan paspor kepada Eirene, "Aku sudah memanggil-manggil, tapi kamu mengacuhkan ku," jelas Vante. "Maaf," ucap Eirene. Jujur Eirene tak tau jika dia menjatuhkan paspornya, untung saja Vante mengembalikannya, jika tidak maka Eirene tak akan bisa kembali ke Korea. Padahal Eirene sempat mengira jika Vante memanggilnya waktu di bandara hanya ingin menggodanya saja. Vante menawarkan Eirene untuk minum bersama, Vante berkata itu adalah balasan karena dia sudah menolong Eirene. Eirene tentu tak menolak, dia menerima ajakan Vante. Vante memesan dua gelas whisky untuk mereka berdua. "Apa kamu bisa minum?" tanya Vante. "Mungkin sedikit," jawab Eirene. "Jika tidak bisa, jangan dipaksakan. Aku bisa memesan yang lain untukmu," ucap Vante. "Tidak perlu," ucap Eirene. Sambil minum, Vante juga membuka topik pembicaraan di antara mereka. Vante menyukai bagaimana cara Eirene bicara juga bagaimana dia bersikap. Eirene sendiri menilai kepribadian Vante, Vante orang yang ramah dan dia tau harus seperti apa saat mengajak lawan bicaranya agar mudah dekat. Eirene tertawa saat mendengar candaan Vante, ternyata Vante juga orang yang mudah membuat lawannya terhibur. Eirene meminum minumannya sampai setengah gelas, dia tak sanggup bila harus menghabiskan semuanya. Seketika Eirene merasa mual, tampaknya efek dari minuman ini sudah bekerja. "Sebentar, aku ingin ke toilet," ucap Eirene. "Mau aku antar?" tanya Vante. "Tidak usah," jawab Eirene. Eirene pergi dengan terburu-buru, dia ingin memuntahkan minumannya. Saat Eirene pergi ke toilet, smartphone Eirene menyala, Vante dengan santai membuka smartphone Eirene. Vante membaca pesan dari seorang pria bernama Jeffrey, dia tanpa izin membaca pesannya. Jeffrey memberikan pesan, bahwa dia sangat menyesal dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Eirene, Vante tau itu artinya mereka sudah putus. Lalu, Vante membaca bahwa Jeffrey bercinta dengan Rose memang karena terpaksa, dia sebenarnya ingin bercinta dengan Eirene, tapi Eirene selalu menolak. Vante tertawa dengan penjelasan Jeffrey dan berkomentar, itu artinya Jeffrey kurang taktik untuk meluluhkan Eirene. Jeffrey juga meminta Eirene untuk segera kembali, dia mengatakan akan merubah sikapnya demi Eirene. Vante tertawa miris melihat pesan bodoh yang Jeffrey tulis, "Sayang sekali, kamu menyia-nyiakan wanita secantik dan semenarik itu Jeffrey." Andai saja Vante yang memiliki Eirene, maka dia tak akan membiarkan Eirene lepas darinya barang sedetikpun. Dia sudah berpengalaman dalam merayu atau berpacaran dengan wanita, tapi untuk berhubungan s*x, Vante sangat pemilih. Dia bahkan saat ini masih perjaka, meski tak dipungkiri bila dia sudah mengetahui segala hal tentang s*x. Begitu Eirene kembali, Vante buru-buru mengembalikan smartphone Eirene ke tempatnya semula. Saat Eirene kembali menghampirinya, Eirene berkata dia harus pulang, Vante tentu akan mengantarnya dan bertanya dimana Eirene menginap. Eirene menjawab jika dia menginap di pemukiman warga, Vante lantas menawarkan Eirene untuk berkunjung ke tempatnya, dia menyewa penginapan di tengah pantai. Mendengar itu Eirene tentu antusias tapi dia tau diri, sangat tak baik untuk mengunjungi tempat dari lawan jenisnya. "Bagaimana?" tanya Vante. "Sepertinya aku tidak bisa," jawab Eirene. "Disituasi saat ini, tak baik jika kamu sendiri. Bukankah kamu kini butuh tempat mengeluh, aku tau masalah yang kamu hadapi," ucap Vante. "Kenapa kamu bisa tau?" tanya Eirene. Vante dengan jujur mengatakan dia tak sengaja melihat chat dari mantannya Eirene, padahal dia sengaja. Eirene tentu marah, Vante membuka privasinya tanpa izin, tapi tak ada gunanya dia memarahi Vante. Namun, apa yang Vante katakan itu benar, dia butuh teman curhat sekarang. Vante menggenggam tangan Eirene, "Ayo, kamu akan terpukau dengan pemandangan di sana," ucap Vante. "Tapi." Eirene terdiam ragu. "Lihat dulu, baru setelah itu kamu boleh memutuskan mau tinggal atau pergi," ucap Vante. Eirene akhirnya mengikuti Vante, meski Eirene sendiri bingung kenapa mau-maunya dia mengikuti langkah Vante, tapi jujur saja Eirene penasaran. Setibanya di sana, Eirene berdecak kagum, pemandangan ini sungguh luar biasa. Apa yang Vante katakan itu benar, dia sungguh terpukau dengan pemandangan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD