Maldives

1006 Words
Hari telah berlalu, kini tibalah hari yang Eirene tunggu, dimana dia akan pergi berlibur untuk menenangkan diri. Eirene terduduk di kursi pesawatnya, hari ini dia akan pergi menuju maldives, pulau yang memiliki pantai yang indah. Seharusnya dia pergi berdua, tapi karena suatu alasan, Eirene akhirnya hanya pergi sendiri, tanpa Dave. Dave memberitahu Eirene saat Eirene telah tiba di bandara, Dave mengatakan dia sudah akan berangkat ke bandara, tetapi karena panggilan darurat, dia tak bisa pergi begitu saja. Seorang pasien membutuhkan pertolongannya, dan karena sudah mengambil sumpah, Dave tak boleh lebih memilih urusannya dari pada nyawa seseorang. Eirene tentu paham, Dave harus professional dalam bekerja, dia tak boleh melupakan tugasnya untuk membantu masyarakat. Tatapan Eirene kini tertuju melihat pemandangan luar pesawat, sebentar lagi dia akan meninggalkan negaranya, entah untuk berapa hari, yang jelas Eirene ingin melarikan diri untuk sementara waktu. Mengingat hal yang membuatnya sakit, Eirene memegang jantungnya yang terasa perih juga berbekas. Tanpa dipinta, air matanya jatuh begitu saja. Rasanya Eirene ingin berteriak dan menangis dengan kencang, dia ingat dengan jelas apa yang membuatnya sakit seperti ini. Pada hari itu, tanpa kabar Eirene menemui kekasihnya yang katanya sedang sibuk bekerja. Eirene bertujuan untuk memberikan kejutan. Tapi kenyataan, justru dialah yang terkejut. Dia dan Jeffrey sudah menjalin hubungan hampir tiga tahun. Selama mereka berhubungan, Jeffrey begitu baik kepadanya, Jeffrey adalah segalanya bagi Eirene setelah adiknya Esther. Tapi, hari itu menjadi hari dimana kepercayaan, rasa cinta dan segala yang dia rasakan kepada Jeffrey hilang begitu saja dan tergantikan dengan rasa kecewa. Jeffrey dengan tak berperasaan tengah bercinta dengan Rose, wanita yang menjadi teman dekat Eirene. Melihat itu, Eirene tentu terkejut, bahkan kebenaran lain membuat Eirene membungkam mulutnya, ternyata itu bukan yang pertama, mereka memang sudah sering melakukannya. Bukannya meminta maaf, Jeffrey justru menyalahkan Eirene, dia berkata jika Eirene lah yang membuatnya berpaling. Eirene akui, Jeffrey memang sering memintanya untuk melakukan hal dewasa, tapi Eirene menolak dengan alasan mereka hanya akan melakukannya begitu ikatan suci sudah terjalin. Tapi dari itu, Eirene akhirnya sadar, jika dia selama ini hanya mencintai pria b******k yang menginginkan tubuhnya saja. Sungguh miris, selama beberapa tahun kebelakang, cinta, hidup, juga kepercayaannya di sia-siakan begitu saja. Eirene menghapus jejak air matanya, dia tak perlu menangisi pria b******k seperti itu. Dia harus kembali bangkit dari keterpurukan, tak ada gunanya dia mengingat masa lalu. Begitu pesawat terbang menuju maldives, Eirene lebih memilih untuk tidur, dia ingin begitu terbangun, dia menemukan kehidupan yang baru. Waktu berlalu, suara pengumuman jika pesawat akan mendarat membangunkan Eirene dari tidurnya. Eirene selama di pesawat benar-benar hanya tidur, meski sesekali dia bangun untuk makan atau untuk mengabari adiknya Esther. Pesawat telah mendarat, Eirene lantas bersiap untuk keluar, Eirene keluar bergantian dengan penumpang yang lain. Eirene kini telah menginjakan kakinya di bandara maladewa, dia hanya perlu mencari kendaraan untuk pergi ke pantai maldives. Eirene membuka smartphonenya, dia mencari kendaraan apa yang harus dia gunakan dan memesannya begitu sudah tau. Zaman sudah canggih, dia hanya perlu mencari dan tentu jaringan internet yang paling penting. Saat tengah mencari kemana arah keluar, Eirene dengan tak sengaja menubruk tubuh seseorang. Eirene dengan cepat meminta maaf, begitu Eirene melihat orang dihadapannya, Eirene terdiam sebentar. Jujur saja, pria di depannya ini begitu tampan, apalagi saat dia membuka kaca mata hitamnya, sungguh pria tertampan yang pernah Eirene lihat. Bahkan Eirene sebentar berpikir, apa dia dewa, mengapa wajahnya begitu sempurna. Eirene menggelengkan kepalanya, tak ada gunanya dia memuji pria, pria tampan itu orang yang b******k. Jeffrey saja b******k seperti itu, apalagi pria di depannya ini, dia pasti lebih b******k dari Jeffrey. "Sekali lagi aku minta maaf." Setelah mengatakan itu, Eirene pergi begitu saja. Eirene tanpa sengaja menjatuhkan barangnya, pria yang sempat berjumpa dengan Eirene tentu melihat itu. Dia mengambil barang Eirene yang jatuh dan ternyata itu adalah paspor, lalu dia memanggil-manggil. "Hei Nona, barang mu jatuh," teriaknya. Tetapi Eirene tak menghiraukan teriakannya, karena Eirene kira pria itu hanya ingin menggodanya saja. Pria itu memainkan paspor milik Eirene, dia berpikir untuk membuangnya, tapi tunggu. Pria itu kini tersenyum miring, dia menilai bahwa Eirene wanita yang sok jual mahal, dia jadi penasaran sebenarnya siapa wanita itu. Dia membuka paspor, terlihat semua identitas wanita yang menubruknya tadi. "Eirene Grace," ucapnya. Dia membaca semua informasi Eirene dan dia tak terkejut saat tau Eirene berasal dari Korea, pantas saja wajah Eirene cantik dan tak asing baginya. "Tuan, mobilnya sudah siap." Suara dari supir yang akan membawa dia ke tujuan membuatnya teralih, dia menutup paspor Eirene dan menyimpannya disaku jaket kulit yang tengah dia pakai. Di lain sisi, Eirene tampak menunggu, mobil pesanannya belum juga sampai. Ketika tengah menunggu, seseorang mendekat dan bertanya apa dia Eirene, Eirene tentu menjawab ya, ternyata itu sopir mobil yang Eirene pesan. Eirene lantas mengikuti sopir itu, Eirene menyimpan kopernya di bagasi, lalu duduk di kursi belakang. Karena sopir sudah tau kemana tujuan Eirene, dia lantas menjalankan mobilnya menuju pulau maldives. Selama di perjalanan, Eirene menatap pemandangan sekitar, sungguh indahnya bisa melihat pemandangan menenangkan seperti ini. Eirene tersenyum, liburannya akan sangat menyenangkan meski dia pergi seorang diri. Dalam perjalan, supir itu memberi tau Eirene bahwa dia bisa merekomendasikan penginapan selama Eirene berada di maldives. Eirene tentu bertanya, dia juga mengatakan, dia hanya akan menyewa tempat murah, mengingat keuangan, Eirene tentu harus menghemat di sini. Supir mengatakan dia tau dimana penginapan murah yang ada di maldives, lokasinya tak jauh dari pantai. Meski, penginapan paling terbaik itu berada di sisi pantai maupun di tengah pantai. Sebenarnya Eirene ingin menginap di tempat itu, tapi, harganya pasti sangat mahal, mengingat bagaimana keindahan juga kenyamanan, maka itu setara dengan harganya. Eirene menghembuskan napasnya pelan, dia bisa saja menyewa penginapan mahal, tapi bagaimana nanti saat dia pulang ke Korea. Tak mungkinkan Eirene harus makan seadanya, dan tak bisa membayar uang sewa juga keuangan lainnya. Belum lagi dia juga harus memberikan uang saku untuk Esther, kasihan Esther bila dia tak mendapat uang saku darinya. Ini hanya kesenangan sementara, jangan sampai dia menghabiskan uang dan menyulitkan diri setelahnya. Mungkin lain kali Eirene bisa kembali dengan uang banyak, dengan begitu dia bisa bersenang-senang sesuai keinginannya. Harapan yang indah, tetapi semoga itu benar-benar terkabul.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD