Prolog
Halo, ini adalah sekuel dari novel Saved by Monster. Kamu bisa langsung membaca seri kedua ini karena sudah aku beri gambaran singkat di bab ini mengenai buku pertama. Akan tetapi, aku tetap menganjurkan untuk membaca yang pertama dahulu agar lebih paham.
Terima kasih sudah membuka novel ini.
Selamat membaca!
~o0o~
Apa kau tahu bagaimana rasanya terlahir kembali? Rasanya melanjutkan hidup orang lain? Dan, rasanya menjadi buronan orang-orang asing yang sangat ingin membunuhmu?
Biar kauceritakan sedikit kisah.
Sejak kecil, aku memiliki keluarga yang sangat kacau. Ibuku tak pernah memperlakukanku layaknya putrinya, bahkan layaknya manusia. Wanita itu sering memukulku untuk hal-hal sepele, apalagi ketika ia tahu bahwa ada seorang pria dewasa yang mencariku. Ya, pria itu adalah Easton. Ibuku pikir aku “bersenang-senang” dengan Easton demi mendapatkan uang.
Lalu, ayahku. Dia memang jarang—hampir tak pernah—memukulku. Akan tetapi, dia hanya diam saja tiap kali Ibu menyakitiku. Dan, menurutku itu sama kejamnya, atau malah lebih parah dibandingkan dengan apa yang istrinya perbuat.
Mengapa ibuku melakukan hal kejam itu? Setelah belasan tahun, akhirnya aku tahu bahwa ibu biologisku yang asli adalah selingkuhan Ayah. Wanita kejam itu mungkin melampiaskan semua amarahnya kepadaku—selama bertahun-tahun.
Saat aku berusia enam belas tahun, keduanya meninggal. Setelah itu, tentu semua hal-hal mengerikan tidak hilang begitu saja. Aku dibunuh oleh seseorang, lantas “dihidupkan” kembali menjadi vorce oleh Easton dan keluarganya. Saat itu aku tidak tahu dan masih hidup layaknya manusia biasa. Kekuatanku belum muncul.
Setelah mengalami banyak hal seperti rasa sakit yang menyiksa, prasangka-prasangka, teror dari tetangga bernama Maggie McCain beserta neneknya, mimpi-mimpi buruk yang seakan nyata, sampai disidang oleh para Petinggi Vorce karena apa yang Easton lakukan padaku merupakan praktik terlarang; barulah aku paham apa yang tengah terjadi.
Omong-omong, vorce adalah makhluk serupa manusia, tetapi dapat mengeluarkan sayap dan memiliki kekuatan khusus berdasarkan warna iris mata mereka. Vorce Petarung memiliki iris kelabu. Mereka sangat kuat dan tahan rasa sakit. Vorce Pelihat yang beriris biru dapat melihat masa depan jangka pendek. Lalu, masih ada vorce-vorce lainnya. Sementara itu, aku adalah Vorce Penyembuh. Irisku berwarna hazel dan sesuai sebutannya, aku bisa menyembuhkan penyakit serta rasa sakit—tapi tidak untuk penyakit-penyakit yang parah.
Setelah sidang itu, untuk kedua kalinya aku “terlahir kembali”. Step terakhir untuk menjadi vorce seutuhnya telah dilakukan oleh Easton. Irisku jadi berubah, beserta kekuatan yang mengikutinya. Keuntungan menjadi vorce—usia yang melambat dan memiliki sayap—sudah dapat kunikmati.
Apakah semua berakhir indah begitu saja setelah semua hal-hal mengerikan itu? Tidak. Dan, inilah kisah di kehidupanku yang ketiga. Kehidupanku setelah menjadi vorce—yang ternyata hanya awal dari hal-hal tak terduga lainnya.
~o0o~
09032021
Prolog
Zane Azdar