Liburan Terakhir

1340 Words
     Tak lama kemudian Gavin pergi ke meja makan dengan wajah yang lebih fresh. Saat melihat makanan yang tersedia di meja makan, ia melirik Kia seakan akan bertanya apakah Kia yang membuatnya.  "Aku beli." Ucap Kia dengan nada suara lesu seakan tau maksud dari tatapan Gavin.  "Kenapa ngak masak?." Tanya Gavin sembari duduk di depan Kia.  "Apa kakak lihat tampang aku kelihatan bisa masak ?." Tanya Kia kesal.  "Ngak, saya juga sudah yakin kalau kamu pasti ngak bisa masak, makanya saya terkejut saat melihat semua makanan ini." Ucap Gavin.  "Jahat banget sih." Ucap Kia sambil memanyunkan bibirnya kedepan.  "Ya kan kamu nanya, saya cuma ngejawab seadanya ." Jawab Gavin.  "Setidaknya jangan jujur jujur amat kak, Aku kan juga__.. Tunggu!." Ucap Kia.  "Sejak kapan aku bicara pake aku?.. Aku ah... " Ucap Kia mengacak acak rambutnya sendiri. Padahal itu hanya hal yang biasa, tapi tidak bagi Kia. Ia merasa jikai pakai kata “aku” seakan dia sudah sangat dekat dengan Gavin. Walaupun status mereka sudah sebagai suami istri yang sah, tapi Kia masih merasa sungkan dan tidak enak.  "Ngak usah lebay, saya lebih suka kamu bicara pakai aku dari pada pakai saya." Ucap Gavin saat melihat tingkah Kia yang menurutnya terlalu berlebihan.  "Kakak aja bicaranya pakai saya, kenapa aku ga boleh?." Ucap Kia merasa tak adil.  "Jadi kamu mau saya bicaranya pakai aku juga?." Tanya Gavin dengan mengangkat sebelah alisnya.  "Eh.. Bukan gitu juga kak." Jawab Kia salah tingkah.  "Kalau kamu maunya gitu, aku ngikut aja." Jawab Gavin. Kia tersipu mendengar Gavin berbicara pakai kata “aku”. Wajah Kia sekarang benar benar sudah memerah karena ucapan Gavin, ia berusaha mengalihkan pandangannya dari Gavin agar Gavin tidak melihat keadaannya saat ini. Tapi itu semua percuma, kerena Gavin sudah melihatnya, dan Gavin hanya tersenyum tipis melihat ekspresi Kia.   *****       Seperti biasa, tidak ada sesuatu yang sepesial terjadi antara Gavin dan Kia. Mereka bersikap sewajarnya saja, saling menghargai satu sama lain. Dan hari ini hari terakhir liburan bagi kedua pasangan itu. Walaupun liburan terakhir, mereka hanya menghabiskan waktu di rumah saja.      Sampai dimana Gavin mendapatkan pesan dari sekretarisnya untuk segera datang ke kantor karena ada berkas yang harus ditanda tangani. Kia yang melihat kepergian Gavin hanya membuang napas gusar karena bosan seharian dirumah saja.      Kia berencana untuk mengajak sahabanya datang kerumahnya.  Kumpulan_Cewek_Cantik  AzkiaFG Main kerumah gue dong, gue kesepian nih.  ZelineAuris. Emang laki lo kemana?.  Jovita_IndiraKalila. Gue ga bisa.  Keyra_Mei Ngak ah, takut gue.  Nayara_Sase. Ajak pak Gavin jalan sono. Kayak jomblo aja lo.  AzkiaFG Tega benget ya kalian biarin cewek cantik baik hati kayak gue kesepian kayak gini.  Keyra_Mei Bacot lo Ki.  ZelineAuris. Bacot pake banget.  Jovita_IndiraKalila. Eh eh Eh @AzkiaFG lo ngak malu ngomong cantik di depan orang cantik ?  AzkiaFG Bacot kalian semua. Yaudah, kalo gitu sampai sini aja obrolan kita, jangan hubungi gue lagi. Gue lagi ngambek.      Dengan kesalnya Kia menutup aplikasi Linenya dan melemparkan ponselnya ke atas Kasur. Selang beberapa menit kemudian ia memutuskan untuk pergi jalan jalan ke mall sendirian. Dengan semangat 45 nya Kia mengganti pakaiannya dan mengolesi wajahnya dengan make up yang natural. Ia turun kebawah sembari mengambil tasnya yang berada di dalam lemarinya.      Kia pergi ke mall dengan diantar oleh supir pribadinya. Gavin benar benar tidak memperbolehkan Kia untuk mengemudi mobil lagi. Kia merasa Gavin begitu posesif, Padahal Gavin hanya tidak ingin jika mobilnya kenapa napa.      Sesampainya di mall Kia hanya jalan jalan seperti tidak ada tujuan, Padahal memang tidak ada, ia hanya melihat lihat pakain, sepatu, make up dan lain sebagainya. Karena terlalu banyak berjalan Kia memutus untuk mampir makan dulu.      Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17:45. Saat hendak mau telepon supirnya, Kia tidak menemukan ponselnya. Dan seketika ia baru ingat jika dia meninggalkan ponselnya di atas kasur. Akhirnya dengan terpaksa ia pulang menggunakan taxi.       Saat menunggu taxi di luar mall, pandangannya teralihkan oleh dua orang yang sedang bergandengan tangan dengan mesranya. Dengan amarah yang menggebu gebu Kia menghampiri mereka sembari mengepalkan tangannya.  "Dasar cowok b******k lo." Ucap Kia sembari menampar wajahnya. Cewek yang bersamanya pun terkejut dengan kehadiran Kia.  "K..Kia." Gumamnya terkejut sambil memegangi pipinya yang habis ditampar Kia.  "Apa?. Ternyata lo begini ya di belakang sahabat gue? Mulai sekarang lo jangan temui Vita lagi. Kalo aja lo temui Vita lagi, lo tunggu aja akibatnya." Ancam Kia sambil menunjuk wajahnya dengan telunjuk kirinya.  "Tunggu.. denger_.." Ucap Dion terputus, ya dia Dion pacar Vita.  "Lo siapa sih? Datang datang main nampar orang aja. Lo punya masalah sama hubungan gue sama Dion? Iya?." Ucap cewek yang bersama Dion.  "Lo ngak tau apa apa, jadi diam aja. Lo itu cuma jadi pelarian cowok b******k ini, jadi ngak usah banyak bacot." Ucap Kia menatapnya tajam.  "Maksud lo apa'an?." Tanyanya tak terima dengan ucapan Kia.  "Lo tanya aja sama PACAR lo ini." Ucap Kia meninggalkan mereka dengan menekan kan kata “pacar”.    Sebelum Kia pergi Dion mengejar Kia dan mencekal pergelangan tangan Kia.  "Gue ngak ada hubungan apa apa sama dia, jadi jangan ngomong apa apa sama Vita please, Gue beneran sayang sama dia. Walaupun lo ngelarang gue buat nemuin Vita lagi, gue akan tetap nemuin dia, apapun yang akan terjadi sama gue, gue akan terima konsekuensinya." Ucap Dion memohon.  "Sayang lo bilang?, Kayak gini lo bilang sayang? Bulshit, Sayang sama Vita jalannya sama cewek lain. Lo sehat?." Ucap Kia sembari melepaskan tangan Dion dan pergi meninggalkannya.      Selama perjalanan pulang Kia benar benar di kuasai oleh amarahnya. Ia tidak akan membiarkan sahabatnya disakiti oleh orang lain, apalagi oleh cowok b******k seperti Dion. Kia rela menggunakan harta kekayaannya hanya untuk membalasnya.     Karena terlalu kesal, Kia sampai lupa jika dia sampai di rumah sudah pukul 19:04. Perasaan marah yang sebelumnya berubah menjadi perasaan takut saat melihat mobil Gavin yang sudah terparkir rapi di dalam bagasi. Dengan jantung yang berdetak kencang, ia membuka pintu dan mendapati Gavin yang duduk di depan Tv dengan menyilangkan tangannya di d**a sembari menatap Kia dengan tatapan tajam penuh amarah.  "Mampus lo ki." Batin Kia. Ia tidak berani menatap Gavin dan berniat langsung masuk ke kamar untuk menghindari Gavin, tapi tidak semudah  yang dia bayangkan.  "Duduk!." Perintah Gavin dengan tegas. Kia yang takut hanya mengikuti perintah Gavin. Ia duduk tepat di hadapan Gavin dengan menundukkan pandangannya.  "Habis dari mana?, Kenapa telepon ngak diangkat?" Tanya Gavin penuh intimidasi.  "Habis dari mall, dan handphone ketinggalan di rumah kak." Jawab Kia dengan suara pelan tetapi masih bisa di dengar oleh Gavin.  "Kenapa ngak hubungi aku dulu?, kalo terjadi apa apa gimana? Aku juga yang susah." Ucap Gavin.  "Maaf kak, besok besok ngak lagi." Ucap Kia menyesal.  "Huf.." Gavin hanya membuang nafas gusar.  "Lain kali kalo mau kemana mana tolong hubungi aku dulu, paham?." Ucap Gavin melunak.  "Iya kak." Ucap Kia.  "Yaudah sana bersih bersih terus istirahat." Ucap Gavin. Kia hanya menuruti perkataan Gavin.     Setelah bersih bersih Kia teringat dengan kejadian di mall dengan Dion. Dengan cepat ia mencari ponselnya dan mencari nama Vita di aplikasi Linenya. Gavin yang melihat Kia hanya memperhatikannya saja.   AzkiaFG Vita?.  Jovita_IndiraKalila. Apa'an?.  AzkiaFG lo punya masalah sama Dion?.  Jovita_IndiraKalila. Ngak, emang kenapa tiba tiba lo nanya gitu?.  AzkiaFG jujur sama gue Vit, gue yakin lo ada masalah sama dia kan?. Jovita_IndiraKalila. Emang Lo liat apa hari ini?.  AzkiaFG Kita bicara besok dengan yang lainnya.      Kia benar benar bertekat untuk menjauhkan Vita dari Dion si cowok b******k. Tanpa sadar Kia berlaku aneh di hadapan Gavin, Gavin menatap Kia dengan tatapan heran. Kia yang menyadari Gavin menatapnya hanya cengengesan.  "Kenapa?." Tanya Gavin.  "Aku boleh nanya ngak kak?." Tanya Kia.  "Itu udah nanya." Jawab Gavin, Kia hanya menatap Gavin kesal, Padahal ia memang salah.  "Ini misalkan ya kak, Kalo kakak berantem sama aku apa kakak akan cari wanita lain?." Tanya Kia yang membuat Gavin terheran heran.  "Mm... Dengan status kita saat ini itu tidak mungkin, dan Walaupun status kita tidak sebagai suami istri itupun tetap tidak akan aku lakukan. Sebenarnya itu tergantung orangnya saja sih, kalau dia sayang dia tidak akan mendua, tapi kalau dia tidak sayang sudah pastikan?." Jawab Gavin.  "Emang siapa?." Lanjut Gavin penasaran.  "Teman aku." Ucap Kia.  "Jangan terlalu dipikirkan, sekarang istirahat. Besok sudah mulai kuliah lagi." Ucap Gavin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD