Hari Patah Hati.
Di kampus Kia langsung mencari keberadaan sahabatnya. Saat menuju ke arah kantin ada seseorang yang menarik tangan Kia untuk menuju taman belakang kampus.
"Lo ngapain si narik narik gue?." Ucap Kia kesal sembari melepaskan genggaman sang pearik.
"Gue mohon sama lo, jangan bilang apapun sama Vita." Pinta Dion, ya dia Dion pacarnya Vita.
"Lo pikir gue akan diam aja saat sahabat gue dikhianati kayak gini? Jangan becanda." Ucap Kia sambil tersenyum miring.
"Gue akan lakuin apa apapun, tapi gue mohon jangan bilang apapun ke Vita." Ucapnya memohon.
"Apapun?. Kalau gitu jauhin Vita." Ucap Kia yang membuat Dion terdiam.
"Gue gak akan jauhin Vita gitu aja." Ucap Dion.
"Kalau gitu yaudah." Balas Kia dan pergi meninggalkannya.
Sesampainya di kantin, Kia melihat sahabatnya duduk di sebuah meja di pojok kantin. Ia menghampiri mereka dan duduk di sebelah Elin.
"Tumben lo lama." Ucap Keyra.
"Tadi ada masalah dikit. Jadi gue mau ngomong sama kalian semua,... dan ini tentang Dion." Ucap Kia menatap Vita yang juga menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Dion? Pacar Vita?." Tanya Naya.
"Iya. Gue harap ini yang terbaik. Vita...Gue mau lo putusin Dion dan jangan berhubungan lagi sama dia." Ucap Kia yang membuat semuanya terkejut apalagi Vita. Bagaimana mungkin jika seorang Kia meminta sahabatnya untuk mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih.
"Maksud lo apa?." Tanya Vita tidak tahu maksud dari ucapan Kia yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Dia heran kenapa Kia menyuruhnya untuk memutuskan hubungannya dengan Dion, Padahal sebelumnya Kia sangat mendukung hubungan mereka.
"Kenapa lo tiba tiba ngomong gitu Ki?." Tanya Elin.
"Kemaren gue jalan jalan ke mall dan gue liat Dion jalan bareng cewek lain , gandengan tangan lagi. saat gue samperin gue langsung tampar aja." Ucap Kia, Vita terdiam tak percaya.
"Ngak mungkin, bisa aja dia sepupu atau saudaranya." Ucap Vita tak percaya.
"Cewek itu yang bilang sendiri sama gue, dan lo tau? Dion ngak menyanggah sedikitpun tentang cewek itu kalau mereka pacaran." Ucap Kia.
"Brengsek." Ucap Vita sembari memukul meja dengan kerasnya.
"Kalo gitu lebih baik lo putusin aja Vit." Ucap Elin mendukung ucapan Kia.
Vita pergi begitu saja meninggalkan Kia dan yang lainnya di kantin. Mereka hanya membiarkan Vita pergi untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Vita berlari menuju kearah taman belakang dengan keadaan air mata yang sudah membasahi pipinya. Ia berhenti di bawah sebuah pohon dan duduk memeluk ke dua kakinya dengan menahan suara tangisnya agar tidak terdengar oleh orang walaupun keadaan di sana sangat sepi.
"Cowok b******k, Padahal gue percaya sama dia tapi kenapa dia tega duain gue? gue benci, gue benci cowok kayak lo." Racau Vita dengan air mata yang tak berhenti mengalir membasahi pipinya.
"Gue kurang apa coba?." lanjutnya.
"Lo kurang pinter, lo bego." Ucap seseorang yang tiba tiba nimbrung. Dengan terkejut ia menatap orang itu dengan tatapan aneh.
"Lo siapa? tiba tiba bilang gue b**o?." Tanya Vita kesal.
" Gue Aksa , Aksa Saveri Kevano."Ucap nya mengenalkan dirinya. Tanpa canggung sedikitpun ia duduk di sebelah Vita. Sedangkan Vita hanya melihatnya dengan tatapan bingung.
"Nama lo?." Tanya nya.
"Eh.. Gue Vita." Ucap Vita.
"Panjangnya?." Tanyanya lagi.
"Jovita Indira Kalila." Ucap Vita menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.
"Lagi galau ya?." Tanya Aksa lagi.
"Bukan urusan lo." Jawab Vita dengan ketus.
"Cerita aja, mana tau gue bisa bantu." Tawar Aksa. Vita hanya diam tanpa mau menanggapi tawaran Aksa.
"Ga mau cerita juga?." Ucap Aksa sok kenal sok dekat.
"Emang lo siapa si? kenal aja ngak." Ucap Vita.
"Kan udah kenalan tadi." Jawabnya.
"Sok dekat banget si lo." Ucap Vita dengan kesalnya.
"Tak kenal maka tak sayang, makanya kita kenalan dulu baru sayang sayangan." Ucap Aksa ngelantur.
"Apa sih, aneh lo." Ucap Vita, tanpa ia sadari bibirnya sedikit tertarik membentuk sebuah senyuman yang tipis.
"Jadi kenapa?." Tanya Aksa lagi yang sudah melihat sedikit senyuman di wajah Vita.
"Kepo lo." Ucap Vita dan berlalu pergi meninggalkan Aksa yang masih menatapnya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya yang tampan.
Setelah berbicara dengan Aksa, hati Vita merasa sedikit tenang walaupun Aksa kesannya menyebalkan tapi dia tipe cowok yang pengertian menurut Vita. Ia melihat pantulan bayangannya di cermin dengan tatapan menyedihkan.
"Lo menyedihkan banget sih, bener kata dia lo itu b**o, mau aja di duain sama cowok yang ngak ada apa apanya jika di sandingin sama gue. Dia cuma cowok b******k yang lumayan tampan, Walaupun dia kaya , gue juga ngak kalah kaya, tapi gue ngak mandang dari harta juga si. Tapi kenapa gue semenyedihkan ini? Kenapa?." Racau Vita dengan wajah yang masih basah.
"Lo harus kuat, lo harus berani. Tinggalin dia demi kebehagiaan dan harga diri lo sebagai cewek. Lo ngak boleh lemah, kan sudah diajarin sama papi, Walaupun lo cewek jangan mau jadi orang lemah." Ucap Vita menyemangati dirinya sendiri.
Dengan pastinya Vita berjalan keluar toilet dan menguhubungi Dion. Sebelum mengirimkan pesan ia mengganti nama kontak Dion yang awalnya My Honey berubah menjadi Cowok b******k.
Cowok b******k.
Kita ketemuan di caffe biasa sekarang juga, gue tunggu.
Di tempat lain Kia sudah bersiap untuk pulang , tapi ada seseorang yang memanggilnya dari dalam sebuah ruangan.
"Azkia." Panggilnya.
"Iya buk? ada apa ya buk?." Tanya Kia, dia dosen yang sering dipanggil dengan Nia.
"Tolong ibuk bawain ini ya, setengahnya saja, selebihnya biar ibuk yang bawa." Ucapnya.
"Iya buk." Ucap Kia.
Didalam perjalanan Nia terlihat begitu senang dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya.
"Lagi senang benget ya buk?." Tanya Kia penasaran.
"Eh iya nih, soalnya mau ketemu calon suami." Ucapnya dengan nada senangnya.
"Sudah ada calon saja nih buk, selamat ya buk. Semoga pernikahannya nanti lancar sesuai keinginannya." Ucap Kia turut senang.
"Iya, makasih loh Azkia." Ucapnya.
"Iya buk." Jawab Kia.
Mereka begitu asik mengobrol, sampai akhirnya Kia sadar bahwa arah yang mereka tuju adalah ke arah ruangan Gavin. Perasaannya mulai tidak enak, sampai ia berpikir yang tidak tidak.
"Ini kan arahnya ke ruangan kak Gavin, apa jangan jangan?, Ngak ngak, lo ngak boleh mikir yang buruk buruk dulu Ki, mana tau bukan ke situ kan." Batin Kia.
Seperti yang ditakuti Kia, ternyata mereka benar benar berhenti di depan ruangan Gavin. Kia mulai berpikir negetif tentang hubungan Gavin dengan Nia.
"Ngak, ini ngak mungkin." Batin Kia.
"Permisi pak." Ucap Nia setelah mengetuk pintu ruangannya.
"Iya, masuk." Teriak Gavin dari dalam. Nia langsung masuk, sedangkan Kia masih diam di depan pintu tanpa ada niat memasukinya sedikitpun.
"Ini tugas tugasnya Vin, Setelah ini kita jadi pergi makannyakan?." Ucap Nia.
"Saya usahain." Jawaban Gavin membuat Kia semakin yakin dengan apa yang terjadi.
"Oh jadi gini, ya wajar si, gue kan sama dia cuma dijodohin. Jadi wajar kalau dia mainin cewek. Palingan ngak lama lagi gue nerima surat cerai dari dia." Batin Kia. Ia memasuki ruangan itu dan menaruhnya di atas meja. Gavin terkejut dengan kedatangan Kia.
"Ini dan permisi." Ucap Kia dan hendak pergi, tapi Gavin menahan pergelangan tangan Kia dan menariknya sehingga ia tepat bereda di sebelahnya.
"Ada apa sih pak?." Ucap Kia kesal.
"Bapakkan ada acara, saya ngak mau ganggu, jadi biarkan saya pergi." Ucap Kia berusaha melepaskan genggaman tangan Gavin. Tapi semua itu sia sia karena tenaga Gavin jauh lebih kuat darinya.
"Kamu harus ikut." Ucap Gavin. Nia terkejut dengan ucapan Gavin.
"Kenapa? Bukannya hanya kita berdua? Dan kenapa Azkia harus ikut? dan ada hubungan apa kamu sama dia?." Tanya Nia terheran heran.
"Ini privasi saya. Kamu gak perlu tahu. Yaudah ayo." Ucap Gavin dan menarik tangan Kia keluar dari ruangannya.
"Lepasin tangan saya dulu pak." Ucap Kia. Gavin yang mengerti maksud Kia langsung melepaskan genggamannya dan berjalan terlebih dahulu. Nia mengejar Gavin dan langsung merangkul tangannya. Kia yang melihatnya hanya menatap dengan tatapan kesal dan jijik. Tapi ia juga senang karna Gavin menepis tangan Nia dan menatap Kearah Kia dengan mengisyaratkannya agar cepat. Kia hanya mangikutinya saja.
Di mobil pun Kia duduk di belakang dengan dongkolnya.
"Nyesel gue doain dia yang baik baik tadi, Gue Tarik kembali semua ucapan gue tadi dan gue doain apapun yang dia lakuin ga berkah sama sekali. Calon suami apa'an? Dia orang suami gue. Dasar pelakor ga tau diri emang." Rutuk Kia dalam hatinya. Sedangkan Gavin gemas dengan kelakuan Kia yang menurutnya sangat lucu.