Bagian 07 - Pertemuan Pertama

1065 Words
“Kenapa kekuatanku tidak dapat berfungsi saat keadaan seperti ini? Aku sudah mempelajari kekuatanku dengan baik, namun mengapa kali ini aku tidak bisa menggunakan kekuatan tersebut?” Elswyth terus bertanya kepada dirinya sendiri mengapa kekuatannya tidak dapat berfungsi. Padahal ia sangat membutuhkan kekuatannya saat ini. Sekali lagi. Ia yakin jika kali ini kekuatannya dapat berfungsi kembali. “Ayolah…” Keyakinannya langsung hilang bagai diterpa oleh angin. Kekuatannya tetap saja tidak mau berfungsi. Elswyth mencoba berpikir mengapa kekuatannya tidak dapat berfungsi kembali. Padahal ia sudah melakukan apapun sesuai dengan petunjuk dan arahan dari sang ibu. Ia teringat akan satu hal. Kekuatannya tidak dapat berfungsi saat Elswyth dalam keadaan lemah. Jika ia kekuatannya berfungsi saat tubuhnya sedang lemah, maka energi dalam diri Elswyth akan terkuras habis. Hal tersebut akan menyebabkan sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya. Tiba-tiba suara derap langkah kaki memasuki ruangan tersebut. Elswyth terdiam dan menunggu siapa lagi yang akan muncul di hadapannya sebentar lagi. Sosok tersebut sudah berdiri di hadapan Elswyth meskipun mereka terhalang oleh jeruji besi. “Kau siapa?” tanya Elswyth. “Aku salah satu penjaga penjara ini. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa lusa kau akan bertemu dengan pemimpin. Aku harap kau akan jujur saat berada di persidangan nanti,” ujar penjaga tersebut. Elswyth hanya mengangguk. Penjaga itu hendak meninggalkan Elswyth, sayangnya langkah penjaga itu terhalang dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Elswyth. “Apakah kau bisa membantuku untuk keluar dari tempat ini? Aku takut,” pintanya dengan raut wajah yang memelas. Penjaga tersebut menjawab pertanyaan Elswyth dengan muka yang datar. “Tidak.” “Kenapa? Apa salahku?” “Salahmu adalah kau mengikuti warga kota Arshville secara diam-diam yang membuat warga tersebut merasa ketakutan.” “Aku tidak ada maksud jahat kepada mereka. Aku hanya ingin pergi ke Arshville untuk mencari ayahku,” jelas Elswyth dengan harapan ucapannya dapat diterima oleh penjaga. “Apapun itu alasanmu tidak bisa kuterima. Yang bisa memutuskan adalah pemimpin dan pengadilan Arshville. Kau ucapkan saja kepada mereka, jangan kepadaku.” “Tapi…apakah setelah itu aku bisa bebas?” “Tergantung dengan keputusan mereka. Sudahlah, aku sedang banyak urusan, kau diam saja hingga lusa.” Penjaga itu langsung meninggalkan Elswyth begitu saja. Bahkan penjaga itu tidak bisa memberi pertolongan kepada Elswyth untuk pergi dari tempat ini. Elswyth benar-benar menyerah sekarang. Ia tidak memiliki cara lain untuk keluar dari tempat ia berada saat ini. Bahkan kekuatannya tidak mau membantu Elswyth. “Tidak ada cara lain untuk bisa pergi dari tempat ini. Jalan satu-satunya adalah aku harus menunggu keputusan dari pemimpin Arshville. Jika aku dapat kabur dari tempat ini berarti keberuntungan sudah menjemputku,” ucap Elswyth untuk menyemangati dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa Elswyth lakukan sementara ini. Bahkan makanan yang dikatakan oleh penjaga akan datang sebentar lagi juga tak kunjung datang. Benar-benar tidak ada yang bisa diharapkan oleh Elswyth dari tempat ini. Elswyth merebahkan tubuhnya lalu tidur tanpa berlandaskan apapun. Ia tertidur dalam keadaan gelap, sunyi, dan rasa kesepiannya. *** Sosok pemuda memasuki ruangan bawah tanah yang lumayan luas itu. Ia tidak tahu berapa luas dari ruangan tersebut, namun ruangan tersebut terdapat kurang lebih sepuluh penjara yang digunakan untuk mengurung orang-orang yang bermasalah atau memiliki masalah yang dapat mempengaruhi ketenangan warga kota Arshville. Pemuda itu masuk dengan membawa nampan yang berisikan satu piring makanan, satu gelas air putih, dan satu buah apel. Tak lupa ia membawa lampu petromak di tangan kanannya. Pemuda itu sampai di depan jeruji besi tujuannya. Ia melihat seorang perempuan yang sedang tertidur di lantai tanpa beralaskan apapun. Pemuda itu tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah dari perempuan tersebut karena muka perempuan itu tertutupi dengan rambut panjangnya. “Halo?” Tidak ada jawaban dan tidak ada pergerakan dari perempuan itu. “Hei! Apakah kau sedang tidur?” ”Hei! Bangun! Aku membawakan makanan untukmu.” Masih tidak ada jawaban, namun pemuda itu tidak menyerah untuk membangunkannya. “Astaga! Ini manusia atau makhluk lain? Atau mungkinkah pendengarannya sedikit bermasalah?” tanyanya pada dirinya sendiri. “Halo? Apakah kau mendengarkanku?” sapanya lagi. Pemuda yang sedang berdiri di depan jeruji besi sambil membawa nampan dan lampu petromak itu kesal karena perempuan yang berada di dalam penjara itu tidak kunjung bangun dari tidurnya. “Sepertinya ia sedang tidur. Baiklah, akan ku tinggalkan makanan dan minuman di sini.” Pemuda itu menaruh nampan tersebut di depan jeruji besi. “Tempat ini gelap sekali. Apakah tidak ada penjaga yang mau memberi penerangan di ruangan ini? Sebaiknya aku menaruh lampu ini di sini. Kasihan perempuan itu tinggal di tempat yang seperti ini.” Pemuda itu menaruh lampu petromak yang ia bawa di dinding supaya ruangan tersebut tidak terlalu gelap bagi perempuan yang sedang tidur itu. “Jangan lupa memakan makanan dan meminum minuman yang sudah aku bawakan. Kau bisa mati kelaparan dan aku tidak mau bertanggungjawab,” pesan pemuda itu kepada Elswyth yang entah apakah ia mendengarnya atau tidak. Setelah itu pemuda tersebut meninggalkan ruangan tempat Elswyth berada. Setelah pemuda itu pergi meninggalkan ruangan Elswyth, Elswyth langsung terbangun. Ia sebenarnya sudah membuka matanya sebelum pemuda itu datang kepadanya. Karena ia sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun, akhirnya ia berpura-pura untuk tidur. Elswyth memastikan jika orang yang baru saja mendatanginya sudah pergi dan ia juga memastikan jika tidak ada oranglain di tempat ini. Setelah memastikan itu semua, Elswyth langsung mendekat ke jeruji besi dan berusaha mengambil nampan yang sudah ditinggalkan oleh seseorang kepadanya. Perut Elswyth sejak tadi sudah berbunyi karena rasa lapar yang melanda dirinya. Di nampan tersebut ada satu piring berisikan makanan, satu gelas berisi air putih, dan satu buah apel merah. Selama ia hidup di hutan, ia belum pernah memakan makanan seperti ini. Ia tidak tahu makanan apa yang akan ia santap, ia hanya tahu ada buah apel di dalam nampan tersebut. Elswyth memakan makanan yang ada di dalam piring dengan sangat lahap. Makanan tersebut terasa sangat enak baginya. Bahkan makanan tersebut habis dalam waktu yang singkat. Setelah itu ia meneguk air putih yang berada di dalam gelas dengan cepat pula. Tak lupa ia memakan apel merah segar yang ada di nampan tersebut. Ia merasa sangat kenyang saat ini. Bahkan ia bersendawa dengan keras setelah semua santapan itu habis. Di sisi lain Elswyth tidak sadar jika sebenarnya ada sosok yang sedang melihat Elswyth mengambil makanan yang telah ia bawa. Pemuda itu mengamati Elswyth dari kejauhan. Saat pemuda itu melihat Elswyth mengambil makanan tersebut, muncul sebuah senyuman singkat di raut wajahnya. “Sudah kuduga kalau kau hanya pura-pura tidur.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD