Bagian 06 - Menuju Kota

1112 Words
“Lepaskan aku! Tolong lepaskan aku! Aku tidak memiliki niat yang buruk di Arshville! Aku hanya ingin mencari ayahku!” Elswyth terus saja berteriak meskipun semua ucapannya tidak diperhatikan oleh mereka. Mereka nampak acuh dan tidak peduli dengan semua perkataan Elswyth. “Kenapa kau lakukan ini kepadaku? Aku hanya ingin mencari ayahku,” ucap Elswyth dengan nada yang lebih pelan dan diiringi dengan isak tangisnya. “Kau bisa jelaskan di Arshville nanti. Kau diam saja dan menurutlah dengan kami,” ucap salah satu dari mereka dengan nada ketus. Elswyth tidak memiliki tenaga untuk melawan saat ini. Bahkan kakinya terasa mati rasa. Ia sangat lemas dan tidak berdaya. Ia kini sudah pasrah dan ia juga tidak mengeluarkan sepatah katapun. Mata Elswyth terasa berat dan berkunang-kunang. Ia tidak bisa melihat dengan jelas keadaan sekitar. Yang Elswyth tahu kini mereka sudah sampai di pinggir pulau. Itu artinya mereka akan menyeberang hingga sampai ke daratan Arshville. Elswyth mendengar mereka sedang bersiap-siap untuk naik ke perahu yang sudah terparkir di daratan. Sepertinya perahu itu berasal dari Arshville. “Naikkan dia ke perahu.” “Apakah dia pingsan?” “Entahlah, sepertinya iya.” “Segeralah naik! Sebentar lagi matahari akan muncul. Kita harus sudah sampai di Arshville sebelum pagi hari supaya tidak ada yang tahu jika kita membawa seorang perempuan dari pedalaman.” Mendengar perintah tersebut satu persatu dari gerombolan itu langsung naik ke dalam perahu. Perahu ini tidak besar namun cukup untuk mereka dan Elswyth. Hawa dingin lautan membuat Elswyth kedinginan sangat hebat. Meskipun ia menggunakan mantel namun tetap saja hawa dingin masih menusuk kulitnya. Raut muka Elswyth juga terlihat pucat dan badannya gemetar karena kedinginan. Lagi-lagi tidak ada satupun dari mereka yang peduli dengan kondisinya saat ini. Mereka sibuk mendayung perahu ini supaya cepat sampai ke tepian. Sedangkan Elswyth hanya tergeletak di ujung perahu dan bersandar di ujungnya. Elswyth tidak bisa menahan hawa dingin ini lagi. Elswyth yang sebelumnya hanya menutup matanya karena lemas, kini ia menutup matanya karena ia pingsan. *** Elswyth merasakan kepalanya terasa begitu berat dan badannya sangat lemas. Perlahan ia membuka matanya. Samar-samar ia melihat keadaan yang ada di sekitarnya. Asing. Satu kata yang terlintas dalam otaknya. Ia melihat ke arah luka yang ada di kaki sebelah kanannya. Kakinya sudah diperban dengan baik. Itu artinya ada seseorang yang sudah menolong Elswyth. Elswyth kembali menyaksikan dengan cermat apapun yang ada di sekitarnya. Tempat ini sangat lembab dan di depan Elswyth terdapat jeruji besi yang menjadi pintu dari ruangan ini. Penjara. Seketika Elswyth teringat dengan perkataan orang-orang yang menangkap Elswyth sebelum ia sampai di sini. “Apakah mereka benar-benar membawaku ke tempat ini?” tanya Elswyth pada dirinya sendiri. Pertama kalinya dalam hidup Elswyth ia dikurung dan berada di tempat sesunyi ini. Bahkan Elswyth tidak melihat adanya cahaya di ruangan ini. Elswyth juga tidak menemukan adanya manusia di ruangan ini. “Halo?” Tidak ada respon dari siapapun. Bahkan suaranya hampir menggema karena tempat ini terlalu sunyi. “Halo? Apakah ada yang bisa mendengarku?” ucapnya sekali lagi. Sayangnya tidak ada jawaban dari ucapan Elswyth. Elswyth langsung menyandarkan tubuhnya pada dinding ruangan ini. Elswyth mulai meneteskan airmata. Ia ketakutan berada di sini seorang diri. Bahkan ia tidak tahu di mana ia berada dan bagaimana ia bisa berada di sini. Satu hal yang pasti dan satu hal yang Elswyth ingat adalah ia bisa berada di sini karena ia ditangkap oleh segerombolan manusia yang hendak kembali ke Arshville. Setelah itu ia tidak bisa mengingat satu hal pun. Ia terbangun dengan kondisi tergeletak di atas tanah ruangan yang lembab ini seorang diri. “Ibu…” rintihnya perlahan. Ia menangis dan mendekap dirinya sendiri. Ia berusaha untuk menetralkan perasaannya dan berusaha untuk menghilangkan rasa takutnya. Namun itu semua sia-sia. Rasa takutnya lebih besar daripada rasa pemberaninya. “Ibu…tolong aku ibu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.” Isak tangin Elswyth semakin kencang. Ia terus mendekap dirinya dan menyembunyikan kepalanya. Ia terus menangis di tengah kesunyian ruangan ini. Sangat Elswyth sedang asyik dengan tangisannya dan kesunyian tempat ini, tiba-tiba ia mendengar derap langkah kaki manusia. Ia langsung menegapkan badannya dan menghapus airmata yang tadi sempat mengalir. Ia merinding tiba-tiba setelah mendengar suara derap langkah kaki tersebut. Ia takut jika ia akan disakiti oleh manusia. Sebuah bayangan dapat dilihat Elswyth. Bayangan itu hendak mendekat ke arah ruangan tempat Elswyth berada. Kini sang pemilik bayangan itu berada tepat di depan jeruji besi. Sang pemilik bayangan itu membawa obor di tangan kanannya. Orang itu menyapa Elswyth dengan suara berat miliknya. “Hai,” sapanya dengan nada datar. Elswyth ragu-ragu menjawab sapaan dari lelaki yang tinggi dan memiliki tubuh yang lumayan berisi itu. “Kau siapa?” “Aku penjaga bilik penjara ini. Di sini hanya ada kau, itu artinya aku akan menjagamu. Kau tidak bisa pergi dari sini sebelum Pemimpin kota Arshville menetapkan hukuman padamu,” jawab penjaga tersebut dengan suara datar dan berat khasnya. “Sampai kapan aku akan berada di sini? Ada urusan lain yang harus segera aku selesaikan. Aku mohon…keluarkan aku,” pinta Elswyth dengan airmata yang mulai luruh. Rencananya untuk pergi ke Arshville benar-benar hancur. Belum sempat menjalankan misinya, ia malah sudah menemui rintangan yang begitu berat. “Sampai Pemimpin memanggilmu ke ruang sidang dan menetapkan apa yang pantas untukmu. Jika Pemimpin baik hati padamu kau akan bisa keluar dari tempat ini. Jika Pemimpin tidak berbaik hati maka kau akan berada di sini sesuai dengan keputusan yang ia buat.” “Aku mohon…aku ingin bertemu ayahku,” pintanya lagi. “Diamlah! Simpan saja alasanmu itu nanti. Sebentar lagi makanan akan datang, makanlah makanan itu. Jika tidak kau akan mati.” Setelah mengucapkan hal tersebut, penjaga itu berlalu dari hadapan Elswyth dan pergi entah kemana. “Hei…kemana kau akan pergi, penjaga?!” tanya Elswyth dengan sedikit berteriak kepada penjaga yang sudah pergi dari hadapannya. Elswyth kembali pada kesunyian dan kegelapan tempat ini. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia termenung cukup lama. Bahkan tak jarang pikirannya kosong karena ia tidak tahu apa yang harus ia pikirkan dan ia lakukan di saat seperti ini. Elswyth yang tidak tahu mengenai apapun tentang dunia luar hanya bisa diam dan berharap jika keajaiban akan datang menjemputnya. Tiba-tiba datang suatu ide yang sedikit berguna. Meskipun ia trauma dengan hal ini namun tidak ada salahnya bagi Elswyth untuk mencoba. Ia akan mencoba menggunakan kekuatannya untuk bisa kabur dari penjara ini. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan Elswyth adalah membuka kunci dari jeruji besi ini. Elswyth mengerahkan kekuatan dan kefokusannya pada kunci gembok yang ada di jeruji besi. Percobaan pertama gagal. Mungkin ia kurang fokus. Akhirnya Elswyth mencoba untuk fokus kembali. Percobaan kedua gagal lagi. Ia tidak menyerah. Elswyth mencoba berulang kali namun hasilnya nihil, ia gagal untuk kesekian kalinya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD