Kedatangan Nick dan Sandra ke kantor membuat heboh seisi kantor. Sandra jelas menikmati tatapan para karyawan meskipun dalam hati tetep dia komat-kamit baca doa. Sandra bersyukur dan seneng banget bisa dapet perhatian orang-orang kantor. Kok Sandra berasa haus perhatian ya. Ckck!
Waktu Nick datang ke apartemennya, Nick nurut abis bawa sarapan bubur ayam buat Sandra. Dua porsi lagi. Sandra pikir tuh dua porsi bubur ayam buat dirinya sendiri, eh, ternyata satunya buat Nick. Dan mereka sarapan bersama-sama. Bukannya ngebahas masalah misinya di Kalimantan, Nick malah ngomongin hal lain. Kaya topik pernikahan selebritas sampai masalah politik yang bikin pusing Sandra saking nggak nyampenya otak Sandra ke hal politik.
Nick numpang mandi dan Sandra cemberut. Ke sini ternyata numpang mandi. Lho, kenapa Nick nggak sempet mandi di rumahnya gitu? Apa nih anak baru keluar dari goa hantu?
Abis mandi Nick malah masuk ke kamar Sandra, jelas Sandra kaget matanya melotot nyaris keluar. Untung Sandra imannya kuat, coba kalo nggak ya nanti yang diinginkan bisa terjadi. Sejauh ini Nick nggak buat Sandra darah tinggi. Jadi, Sandra belum ngasih tahu soal poto skandal Nick yang masih tersimpan rapih di ponselnya. Di mobil, Nick sempet mau minjem hp Sandra, tapi Sandra bisa mencegahnya dengan dalih, hpnya bakal eror kalo disentuh orang asing. Kocaknya, Nick percaya lagi. Sebenarnya sih nggak percaya tapi yaudahlah yang penting Sandra seneng.
“Pagi, Bos.” seru seorang karyawati dengan tatapan aneh yang mengarah ke Sandra seakan-akan Sandra ini salah satu jenis monyet yang dibawa Nick ke kantor.
Nick mengangguk kilat dengan melangkah lebar.
Karena merasa Nick songong nggak jawab sapaan selamat pagi karyawannya, Sandra berinisiatif menjawab sapaan dari para karyawan.
“Pagi, Bos.”
“Pagi juga,” sahut Sandra tersenyum ramah. Sayangnya, ekspresi yang dibalas tak ada yang ramah. Malah kaya enek gitu dibales sama Sandra. Huek!
Anita melangkah cepat. Dia bahkan berpura-pura nggak lihat Nick dan Sandra. Nick juga pura-pura nggak lihat Anita.
“Alah sok-sokkan nggak kenal. Padahal kalau berduaan mah malah ciuman.” gumam Sandra dengan bibir maju lima senti. Bukan cemburu tapi ya aneh aja bos ciuman sama karyawannya sendiri. Ya, emang sih itu mantan kekasih barangkali mau nostalgia gitu. Tapi, ya kalau Sandra nggak bisa mengendalikan diri, Sandra bisa aja ngelempar ember ke arah Nick dan si Anita. Tapi, lumayanlah dapet poto ciuman mereka. Wkwk!
“Bos, saya duluan ya.” kata Sandra saat lelah mengikuti gerakan kaki Nick yang cepat dan gesit kaya ular aja.
“Kenapa?”
“Bos kalau jalan kecepatan. Aku nggak kuat, gesit banget. Kaya mau ngelabrak orang.”
“Lha, kok duluan. Ya, harusnya kamu nyuruh saya yang duluan. Bukan kamu yang duluan. Gimana sih?!” protes Nick dengan bersungut-sungut.
“Ya, maksudnya saya duluan begitu, terus pas saya udah jauhan sama Bos, Bos jalan lagi. Nah, nanti kan kita jalan bareng lagi begitu.” kata Sandra keukeuh.
Nick menempelkan punggung tangannya di jidat Sandra yang lebar.
“Minum dulu, Sand, obat warasnya.” kata Nick yang seketika membuat wajah Sandra memerah.
“Emang saya edan, Bos?”
Nick menggeleng.
“Terus?”
“Kamu sinting.” lalu Nick melesat pergi meninggalkan Sandra dan kebingungannya.
“Apa bedanya sinting dan edan?” gumam Sandra.
***
Vivi meletakkan tas prada asli dengan begitu keras di atas meja kerjanya, membuat Sandra terkaget-kaget seakan Vivi meletakkan anak macan di atas meja. “Kenapa sih, Vi. Masih pagi, lho, belum malem.”
“Siapa yang bilang ini malem sih, Sand?” Vivi tampak tersinggung.
“Ya, kenapa begitu, pagi-pagi udah ngamuk aja.”
“Tadi, aku pesen ojek online terus kita adu mulut.”
“Kenapa kalian aduk mulut. Cakar-cakaran nggak?” tanya Sandra memeriksa Vivi seakan Vivi baru berantem sama anjing dan main cakar-cakaran.
“Adu mulut, Sandra, bukan aduk mulut!” Vivi geram lama-lama Sandra bakal dicekik juga nih sama Vivi.
“Iya tadi salah, Vi. Mulut aku kan nakal kamu tahu sendiri.”
Oke, Vivi flashback ke masa itu. Belasan menit yang lalu saat dia memesan ojek online.
Jemput di menara apel ya, Mas. Vivi ngechat mamang ojeknya.
Iya, oke, Mbak. Mbak pakai bh apa?”
Vivi langsung merasa ada panas di ubun-ubunnya.
Eh, maksudnya baju apa?
Karena Vivi sudah kesal dan sebal, Vivi langsung mencak-mencak sampai tukang bakso yang lagi mangkal di bawah menara apel pun ikut disemprot Vivi.
Mas, kurang asem sekali! balas chat Vivi marah.
Ma’af, tadi saya typo, Mbak. balas sang mamang ojek.
Tidak ada ma’af dengan typo yang disengaja.
Terus Vivi ngecancel mamang ojeknya, deh. Akhirnya, Vivi memilih naik angkot setelah diomelin balik mamang tukang bakso.
“Gitu, Sand, ceritanya.” kata Vivi yang merasa lebih baik setelah curhat ke Sandra.
“Emmm,” Sandra manggut-manggut. “Kamu kok langsung marah sih, Vi. Harusnya jangan marahlah.”
Vivi yang merasa lebih baik sebelumnya kembali merasa buruk.
“Harusnya mamang ojeknya dima’afin. Namanya juga typo, gimana sih kamu, Vi.” Sandra ngomong dalam batas wajar tapi wajah Sandra yang nggak wajar.
“Itu, typonya disengaja, Sand.”
“H sama J tuh deketan, lho, Vi. Coba cek, deh.” kata Sandra.
Karena kesal sama Sandra, Vivi gerak jalan dengan gerakan aneh. “Kesel!!!” katanya. Lalu meninggalkan ruangan.
“Ada Sandra?” tanya Nick pada Vivi di depan pintu ruangan.
Bertatapan dengan si Bos ganteng bin sempurna gitu, membuat Vivi nggak kuat buat cepetan meluk si Bos. Wajah Vivi sekarang merona cerah. “Ada, Bos.” jawabnya lemah gemulai. Kontras banget pas sewot-sewot sama Sandra.
“Oke,” jawab Nick lalu meluncur memasuki ruangan.
“Sandra,” Nick mengangkat sebelah alis. Menunjuk Sandra dengan gaya cool. “Ikut saya.” titahnya.
Sandra memiringkan kepala dengan heran.
Nick lenyap setelah menyuruh Sandra mengikutinya. Dia ngira Sandra langsung menuruti perintahnya. Padahal...
“Aneh, sih, tuh orang.” gerutu Sandra masih dengan posisi kepala miring.
“Aneh kenapa, segitu gantengnya dibilang aneh.” Vivi menatap arah pintu dengan mata yang masih terngiang-ngiang wajah Nick. Cakep banget deh!
“Ya, anehlah. Masa pagi-pagi dia ke apartemen aku. Terus masuk ke kamar aku coba. Nanya-nanya aku pakai sabun apa, parfum apa—“
“WHAT?!” Mata Vivi mencilak ngeri mirip mata pemain film horor.
Sandra tutup telinga, takut gendang telinganya nanti bermasalah denger teriakan antagonis Vivi.
***
“Kerjain semuanya dan udah harus beres lima belas menit.” kata Nick ngasih laporan-laporan apa gitu ke Sandra.
“Banyak banget berkasnya dan harus selesai lima belas menit?” tanya Sandra ternganga.
Nick mengangguk songong.
“Jangan banyak protes kerjain aja dulu.”
Sandra bergumam yang seakan didengar Nick seperti ‘bos semena-mena’ tapi Nick acuh tak acuh. Sandra berbalik badan dan—
“Mau kemana?” cegah Nick.
“Ke ruangan saya, Bos. Mau ngerjain ini.” Sandra mengangkat berkas-berkasnya seakan mata Nick rabun akut atau otaknya payah banget sampai lupa kalau dia nyuruh Sandra buat ngerjain berkas laporan-laporan yang seharusnya dikerjain Nick sendiri. Ralat, dikerjain sekretaris Nick.
“Ya, di sini aja.” kata Nick seolah perkataan itu ditujukan pada pacarnya yang mau beli es krim dan Nick nawarin dirinya yang beli es krim.
“Di sini?” Sandra kurang yakin sama pendengarannya.
Nick ngangguk. “Di depan saya. Kerjainnya pakai laptop saya.” Dia ngeluarin laptop dari tas laptopnya. Sandra nurut aja. Pokoknya Sandra nunggu konflik dan BOM! Langsung nyodorin poto skandal murahan Nick sama Anita.
Sabar, San, sabar.
Selama Sandra ngerjain tugas dari Nick, belum ada yang masuk ke ruangan Nick. Dan Sandra sadar sih sadar kalau Nick diam-diam nyuri pandang ke dia. Mungkin naksir, pikir Sandra.
“Udah, Bos!” Sandra nyodorin laptop ke arah Nick.
Nick menyipitkan mata. “Kok cepet?”
“Ya ngapain dilama-lamain.” Sandra nyengir.
“Kok kamu ngerjain tugasnya kaya gini?!” sembur Nick geserin laptopnya ke arah Sandra.
“Kok protes!” kata Sandra marah.
“Lah, kok kamu ngebentak saya?!”
“Yang ngerjain siapa?” tanya Sandra nantangin.
“Kamu.”
“Yaudah, jangan protes.”
“Yang jadi bos di sini kan saya.” Nick terheran-heran. Hidungnya yang mancung kembang kempis.
“Tapi yang ngerjain kan saya, Bos.”
“Iya, tahu, tapi saya bos di sini.”
Sandra geleng-geleng kepala. Nick yakin tensinya naik.
***