Menghukum Gadis Nakal

709 Words
Gadis itu terkejut merasakan bibir Azka yang mendarat di bibirnya, pria itu menciumnya brutal. Gadis itu kemudian tertegun. Terdiam menikmati sentuhan pria itu. bukan itu yang gadis itu inginkan di sana. Halah, lagi-lagi tubuhnya berkhianat pada dirinya sendiri. kenapa ia membiarkan saja Azka menciumnya? Sesaat setelah tersadar, gadis itu menjejak-jejakkan kaki yang terayun, menjuntai beberapa centi dari lantai. Berusaha memberontak. Tidak. Tidak. Tidak boleh terjadi hal yang lebih buruk dari ini! Ia masih perawan. Tidak boleh pria itu menyentuhnya lebih dari ini. Namun sial, ia merasakan tubuh pria itu seperti sedang bereaksi untuk meluapkan hasrat yang ingin disalurkan. Gadis itu berusaha melepaskan diri dengan berbagai cara. Sayangnya ia tidak berhasil. Bukan hanya bibir gadis itu saja yang disentuh oleh bibir Azka, melainkan juga leher. “Aku bukan wanita panggilan! Aku salah masuk kamar! Aku buka baju karena mau ganti baju!” seru gadis berwajah imut itu yang terus berusaha menjelaskan. “Jadi berhentilah melakukan ini!” Azka memundurkan tubuh. Menatap wajah gadis di bawahnya yang terlihat ketakutan. Pelan genggaman tangan Azka mengendur. Melepaskan tubuh gadis itu dan bangkit bangun. “Sayangnya aku tidak percaya begitu saja! Pergilah! Kau cari saja kamar pria yang seharusnya kau masuki!” Azka menjauh dari gadis itu. Berjalan menuju pintu. “Cepat tinggalkan kamarku!” Gadis itu kurang begitu peduli dengan perkataan Azka. Dia buru-buru mengambil tas, memungut baju dan mengenakannya sambil berjalan menuju ke arah pintu. Azka membukakan pintu, berharap gadis itu segera pergi dari kamarnya. Tepat saat itu kilatan kamera bersamaan dengan suara keramaian menyerbu kamar, orang-orang berdiri menyerobot di depan pintu. Gadis itu masih terlihat kacau dengan kancing kemeja yang belum terpasang semua pun bingung. Ia berlari menerobos kerumunan sambil memasang kancing bagian atas. Juga merapikan rambutnya yang kacau sekali. Kulit wajah Azka memerah malu melihat sekelompok wartawan yang tiba-tiba menyerbu kamarnya dan bahkan sempat mengabadikan sosok wanita keluar dari kamarnya dnegan penampilan berantakan. Kacau! Para wartawan yang meringsek pun sibuk mengajukan pertanyaan, Azka dengan susah payah menutup pintu yang ditahan oleh tangan-tangan mereka. Situasi benar-benar sulit dikendalikan. Setelah beberapa menit kesulitan menghadapi para wartawan yang terus menahan pintu dengan penuh pemaksaan itu, akhirnya pintu berhasil ditutup. Azka mengusap wajah frustasi. Apa yang baru saja terjadi? Nama baiknya bisa hancur atas kejadian itu. Ini jelas sebuah jebakan. Ya, ia menduga, pasti ada konspirasi dan sabotase besar-besaran sampai-sampai ada yang mengirim wartawan tepat saat kamarnya dimasuki oleh seorang gadis. Dan gadis tadi? Siapa dia? Fix, Azka lupa mengunci pintu kamar, sehingga gadis tadi bisa menyusup masuk. Azka tidak bisa tidur dengan tenang malam itu. Pikirannya tersita pada peristiwa tadi. Tubuhnya sudah rebah di kasur. Kepalanya menempel di batal, tapi matanya tidak bisa terpejam. *** Azka meraih sebuah cincin yang terjatuh di lantai, benda itu pasti milik gadis yang tadi malam. “Uhmmm...!” Azka mengusap wajah, membuang cincin ke sembarang arah. Langkahnya lebar menuju mobil yang terparkir di basement. Dahinya mengernyit, berpikir, mengingat-ingat, bagaimana mungkin gadis itu bisa berada di dalam kamarnya? Ia sedang terburu-buru hari ini, tidak banyak yang bisa ia lakukan kecuali segera meninggalkan hotel secepatnya, tujuannya ke gedung Verdiona untuk menghadiri peresmian. Jika saja ia memiliki banyak waktu, ia akan menyelidiki masalah itu. Di perjalanan, di atas mobil yang melaju kencang, sekelebat bayangan gadis asing itu muncul dalam pikirannya. Seharusnya ia tidak bermain-main, menggoda gadis itu dengan memberikan sensasi yang selama ini belum pernah ia berikan kepada siapa pun. Ah, kenapa ia mendadak jadi nakal saat dihadapkan tubuh molek itu? Telapak tangan Azka menyapu permukaan bibir saat bayangan semalam terkilas balik di ingatannya. Ia sudah melakukan kesalahan fatal. Kesal bercampur menyesal, jarinya mencengkram setir yang sedang dia gerak-gerakkan itu. Siapa dalang dibalik semua ini? Tidak ada kejadian mencurigakan sebelum ia ke hotel. Dari semua yang terjadi, ia menyimpulkan satu hal, bahwa ada seseorang yang menginginkan nama baiknya tercemar. Sekarang bukanlah waktu yang tepat memikirkan hal itu, ia harus fokus pada peresmian. Tapi wanita asing itu? Dia seperti terlihat polos sekali? Ah, lagi-lagi pikirannya kembali berkutat kesana. Sudahlah, ia tidak mau memikirkan itu lagi. Azka memang sedang mengemudi, tapi fokusnya tidak tertuju pada jalan. Berkali-kali menyingkirkan pemikiran mengenai gadis itu, tapi pikiran it uterus membayanginya. Ia akan menemukan dalang dibalik masalah ini, tunggu tanggal mainnya. Tanpa terasa kini ia sampai di depan gedung tujuannya. Ia bergegas memasuki gedung itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD