Bab-03

1071 Words
Veanna hanya melirik saja ketika pintu kamarnya terbuka. Disana Briand berdiri dalam keadaan mabuk, dalam hati Veanna ingin memanfaatkan peluang ini untuk dia cepat hamil. Tapi setelah mengingat apa yang pria itu katakan membuat Veanna mendengus. Pria itu tidak Sudi jika harus tidur dengan Veanna, entah sadar atau tidak sudah jelas rasa tidak inginnya itu tidak akan membuat Veanna hamil. Berdiri dari duduknya Veanna pun berjalan ke arah pria itu dan membantunya berdiri. “Kau salah masuk kamar, Briand!!” Ucap Veanna menegaskan jika dia yang salah masuk, bukan Veanna yang mengundang atau hal lainnya. “Aku tau.” Katanya, menepis tangan Veanna yang menyentuh tubuhnya dan berjalan mundur untuk menjaga jarak. “Aku kesini hanya mengingatkanmu, jika aku—” “Kamu pikir aku anak kecil yang setiap jam harus diingatkan? Aku tahu apa yang harus aku lakukan, jadi kamu tidak perlu khawatir.” “Bagus!! Aku suka dengan jawabanmu.” Setelah mengatakan hal itu, Briand pun memilih untuk pergi dari kamar Veanna. Wanita itu mendengus sebal, dia itu tahu harus berbuat apa tanpa harus diingatkan. Setiap kata yang keluar dari bibir pria itu Veanna selalu ingat, dan sekarang entah kenapa kepala Veanna berdenyut nyeri. Padahal besok pagi dia ada pertemuan penting, tapi sayangnya sampai jam segini Veanna tak merasa mengantuk. Dia benar-benar pusing jika harus hamil tanpa melakukan hubungan suami istri. Mungkin terkesan lebay tapi Veanna inginnya melakukannya bukan yang membeli benih langsung di suntikkan. Mengambil cardigan tipis dan menelepon pengawal barunya, Veanna memilih untuk pergi dari rumah ini. Mungkin dia akan pulang ke apartemen atau kemanapun asal tidak di rumah itu. Satu rumah dengan banyak orang membuat Veanna semakin stres. Sebuah mobil datang, Veanna segera masuk. Menghela nafasnya panjang dan meminta pria itu untuk cepat meninggalkan rumah ini. Wanita itu sedikit melirik ke arah lampu kamar Briand yang masih menyala, menunjukan bayangan-bayangan kemesraan pria itu bersama dengan Sherly. Kadang Veanna itu berpikir jika tidak mau kenapa tidak menolak? Toh, pernikahan seperti ini membuat Veanna muak. Dia terikat tapi tidak bisa berbuat apapun hanya karena ikatan dua kakek yang ingin menjadi keluarga. Sayangnya, mereka malah membuat dua manusia saling terikat dengan cinta. Jika ada yang bilang cinta tumbuh karena terbiasa. Nyatanya pria itu benar-benar membenci Veanna, tidak ada cinta, tidak ada perlakuan baik, dan tidak ada hal istimewa dari pernikahan mereka selama empat tahun. Kadang Veanna berpikir bagaimana jika mereka berpisah secara diam-diam, dia sangat sangat tidak betah dengan pernikahan ini. Tapi dia tahu konsekuensi apa yang harus ditanggung jika dirinya perpisahan dengan Briand. “Kita mau kemana Nona?” Tanya Christopher, melirik Veanna dari spion mobilnya. “Terserah, bawa aku kemanapun kamu mau.” Jawab Veanna tanpa menatap ke arah Christoper. Pria itu hanya mengangguk, lalu melanjutkan mobilnya ke suatu tempat. Disini banyak sekali orang, pria itu ingin mengajak Veanna turun dari mobil tapi melihat penampilan Veanna yang cukup terbuka membuat pria itu mendengus. Mengambil satu kaos miliknya dan dia berikan pada Veanna. Wanita itu menatap aneh, apa dia buta? Sudah jelas-jelas jika Veanna ini menggunakan baju dan cardigan yang cukup pas di tubuhnya, dan pria itu dengan jengkelnya malah memberikan Veanna kaos? “Apa kamu tidak melihat, Christ? Aku menggunakan baju loh!!” Kata Veanna sedikit mengingatkan Christoper. Pria itu terlihat dingin, dan terus memberikan kaos itu pada Veanna. “Saya tau jika Nona sudah menggunakan baju, tapi alangkah baiknya jika baju yang saya berikan tetap dipakai. Saya ingin mengajak anda keluar dari mobil ini.” Dan barulah Veanna menatap sekeliling tempat ini jika mereka sudah berada di area balap. Banyak sekali orang di sekeliling tempat ini, berteriak, berseru, bernyanyi dan bergoyang bersama. Veanna menatap khawatir dia ini artis bagaimana jika semua orang menyerang dirinya, untuk meminta tanda tangan atau sekedar foto? Seolah mengetahui kegelisahan Veanna, pria itu pun berkata, “Tenang saja mereka tidak akan mendekati Nona.” “Apa taruhannya?” “Saya!!!” Ucapan vinal itu membuat Veanna yakin, dia pun mengambil kaos yang diberikan pria itu dan dia pakai. Barulah mereka turun dari mobil dan bergabung dengan lainnya. Sedikit aneh tapi terlihat nyaman. *** Veanna bertepuk tangan ketika Christopher turun dari mobil, pria itu menerima satu amplop coklat yang diyakini Veanna adalah uang. Jadi, keseharian pria itu seperti ini? Berada di arena balap hanya untuk segepok uang? Kalau iya mungkin Veanna bisa menawarkan sesuatu yang lebih dari itu. Atau mungkin Veanna bisa memanfaatkan Christopher untuk dirinya hamil, dan wanita itu berani membayar mahal demi satu benih saja? Ide yang bagus!! “Wow … .” Pria itu tersenyum tipis. “Lumayan untuk mentraktir Nona makan malam ini.” Veanna tertawa kecil. “Aku sangat sulit untuk menurunkan berat badan, jadi kamu ingin aku gemuk?” Jika boleh jujur kurusnya Veanna itu kurus sekali, meskipun artis dan model pun jika terlihat kurus banget pun juga terlihat jelek. Mungkin jika berisi sedikit pun tidak akan membuat reputasi Veanna rusak. Dan ya, wanita itu tertawa kecil dan masuk ke dalam mobil membiarkan Christoper membawa dirinya pergi dari arena balap ke sebuah tempat warung makan pinggiran jalan. Terlihat sederhana tapi cukup ramai di malam hari. Pria itu mengambil satu topi dan dua pakaikan di kepala Veanna. Terlihat tidak sopan tapi Christoper menggunakan hal ini agar tidak ada yang tahu dengan siapa dia datang, bahkan pria itu juga meminta Veanna untuk mencari tempat duduk yang sedikit gelap agar orang yang makan disini tidak gaduh dengan kedatangan Veanna sebagai artis besar ini. Usai memesan, Veanna pun menatap Christoper yang berjalan ke arahnya membawa dua botol air mineral. Dia menatap ke sekeliling tempat ini dan memastikan jika tempat ini aman. Dan untungnya tidak ada satu orang pun yang menyadari hal itu. “Jadi keseharian mu seperti ini?” ucap Veanna memecah keheningan. “Apalagi yang bisa aku berbuat selain untuk bertahan hidup?” Prinsip yang disukai oleh Veanna. Dia bisa menggunakan jasa Christopher untuk membuatnya hamil, ia bisa membayar mahal berapapun jika Christopher mau. Bahkan apapun yang pria itu inginkan Veanna akan mengiyakan jika malam ini dia mau tidur dengan Veanna hanya untuk sebuah benih. “Aku ingin memberimu sebuah penawaran?” Ucap Veanna cepat cepat, ini terlihat gila tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Christopher menatap sejenak. “Kamu tau … sesuatu yang sudah terikat denganku maka akan sulit untuk lepas.” Tepat sekali ini yang Veanna inginkan!!! Wanita itu tersenyum kecil menatap Christoper yang terlihat serius di hadapannya. “Malam ini tidurlah denganku, apapun yang kamu inginkan, apa yang kamu minta akan aku turuti semuanya!!!” ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD