Bab-04

1039 Words
Christopher terdiam sejenak. Matanya terus menatap Veanna tanpa berkedip, hanya untuk memastikan apa yang diucapkan wanita itu secara sadar. Dia tidak terkejut sama sekali, tapi malah merasa aneh. Wanita cantik seperti Veanna akan gampang dan mudah mencari pasangan hidup. Atau mungkin seorang pria yang bisa memuaskan dia semalaman. Tapi kenapa tawaran itu tertuju pada Christopher? Secara dia itu artis besar, punya banyak uang, rumah mewah, dan teman sesama artis yang bisa dimanfaatkan. Sedangkan Christopher hanyalah seorang pengawal yang bertugas menjaga dan melindungi Nona nya dengan semalam, bahkan bisa juga nyawa taruhannya. Pria itu menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan, tidak ada suara selain suara kendaraan yang tersisa berlalu lalang di jalanan. “Aku serius!!!” Ucapnya pelan. “Apapun yang kamu inginkan akan aku berikan.” Pria itu menghembuskan nafasnya sekali lagi, namun pelan. “Nona … .” Dia menghentikan ucapannya memikirkan kata-kata yang tepat agar tidak menyentil hatinya. Atau mungkin membuat dirinya malu dengan apa yang Christopher katakan. Maklum saja kalau perasaan seorang wanita itu cukup sensitif. “Saya menghargai karena Nona cukup percaya kepada saya untuk menyampaikan hal itu.” Alis Veanna terangkat sebelah, meskipun dalam hati dia sudah merasa tidak enak malam ini. “Tapi?” “Saya tidak bisa.” Veanna tersenyum tipis, seolah tahu jika hal itu yang akan diucapkan oleh Christopher. Kemungkinan besar ada di uang, jelas pria itu akan meminta nominal yang banyak, sebuah rumah, apartemen, mobil mewah atau mungkin satu perusahaan milik Veanna saat ini. Tidak masalah, apapun yang pria itu katakan dan inginkan akan Veanna berikan meskipun harus bangkrut sekalipun hanya demi tidur dengan pria itu. Bukannya apa, jika dilihat dari bentuk tubuh, wajah dan juga otot sudah jelas pria itu cukup kuat di atas ranjang. Dan dia bisa mengandung seorang bayi lucu yang tampan dengan alis tebal dan bibir bawah sedikit tebal seperti Christoper. Dia adalah idaman para wanita, dan Veanna tidak ingin hal ini dia sia-siakan. Dia sudah membayangkan bagaimana wajah anaknya kelak jika dia tidur dengan Christopher. Sudah dipastikan wajah itu akan mirip sekali dengan Christopher. Jika pria akan tampan dan jika wanita akan cantik. “Kurang uangnya? Atau ada hal lain yang kamu inginkan? Aku akan memenuhinya, Christ.” Christopher mengambil botol air mineral di atas meja, membuka tutupnya, lalu meminumnya sedikit sebelum kembali meletakkannya. Ini bukan perkara uang atau sejenisnya, rumah mewah, penthouse, apartemen, mobil mewah atau apapun itu. Christopher tidak membutuhkan hal itu, apa yang dia miliki saat ini sudah lebih dari cukup. Lalu untuk apa juga penawaran dari Veanna yang bahkan itungannya cukup kecil. “Bukan.” “Lalu?” “Karena sejak awal saya menerima pekerjaan ini, saya sudah menetapkan batas untuk diri saya sendiri." Jawabnya datar, raut wajahnya selalu datar dan hal itu kadang membuat Veanna tidak suka. Dia terlalu serius tidak bisa di ajak santai meskipun ucapannya panjang tetap saja nadanya sangat dingin. Mungkin sudah sejak dulu dia seperti itu, dan Veanna harus terbiasa dengan hal ini semua "Batas?" Veanna menatap sejenak. Batas apa yang dia maksud? "Saya adalah pengawal.” Kalau itu Veanna juga tahu jika dirinya adalah pengawal. "Tugas saya memastikan Nona pulang dengan selamat, bukan mengambil keuntungan dari keadaan Nona.” Tapi masalahnya ini Veanna sendiri yang menawarkan diri, jika bukan karena tuntunan kakek yang meminta cicit sudah dipastikan kalau Veanna tidak akan melakukan hal ini, menurunkan harga dirinya untuk bisa tidur bersama dengan pria yang bahkan statusnya bukan suaminya. Yang menjadi masalah itu bukan yang lain, dia juga tidak mungkin membuka penawaran tinggi pada Christopher jika tidak ada maunya. Toh, jika membahas masalah rugi yang jelas rugi Veanna bukan Christopher. Apa mungkin dia takut di pecat oleh agensinya makanya dia menolak Veanna? Jika iya, maka akan Veanna pastikan tidak akan ada satu orang pun yang tahu masalah ini kecuali dirinya. Media, artis lainnya bahkan Shandra sekalipun tidak akan tahu jika Christopher mau. “Kalau hari ini saya mengabaikan prinsip saya hanya karena ada seseorang yang menawarkan sesuatu yang menguntungkan, besok saya akan mengabaikannya lagi karena alasan yang berbeda." Dia berhenti sebentar, menatap Veanna cukup lekat dan berkata, "Dan suatu hari nanti saya tidak akan punya prinsip apa pun.” Veanna terdiam, dia seolah tertampar dengan jawaban Christopher kali ini. Sedangkan selama ini dia terus bertemu dengan seseorang yang mudah berubah hanya karena uang, jabatan, atau mungkin tawaran yang tinggi. Tapi kali ini pria itu tidak mengambilnya, dia bahkan tidak tergiur dengan tawaran Veanna sama sekali. Jika itu orang lain mungkin dengan tawaran setinggi ini sudah pasti mereka tidak akan menyia-nyiakannya. “Kamu tidak penasaran kenapa aku berkata seperti itu?” Christopher menggeleng, dia sama sekali tidak penasaran. Semua orang memiliki masalah masing-masing, memiliki urusan masing-masing. Dan bukan ranah Christoper untuk mengetahui masalah apa yang telah diderita bosnya. Dan Christopher tidak akan memaksa Veanna untuk bercerita, karena setiap orang memiliki alasan untuk belum siap dibagikan dengan orang lain. Veanna tersenyum mendengar ucapan itu, dia tidak menghakimi, tidak menyudutkan Veanna sama sekali, bahkan tidak memanfaatkan keadaan. Dia cukup aneh dan unik tapi entah kenapa hal itu malah membuat Veanna cukup tertarik dengan Christoper. Dia begitu penasaran kehidupannya selama ini seperti apa. Dan bahkan dalam hatinya yang paling dalam Veanna bersyukur dan berterimakasih pada Christopher yang menolaknya tanpa membuat Veanna merasa malu. Wanita itu menyandarkan tubuhnya di kursi, “Jika semua orang berpikir sepertimu mungkin hidupku tidak akan serumit ini.” Christopher tidak menanggapi ucapan itu, dia menatap pelayan yang datang dan mulai menghidangkan makanan mereka satu persatu. Aroma makanan langsung menyentuh ujung indra penciuman mereka berdua, membuat perut Veanna yang awalnya baik-baik saja langsung berbunyi. Mendengar hal itu Christoper pun tersenyum geli, ditambah rona merah di pipi Veanna yang cukup ketara. “Makanlah Nona, setelah itu saya antar anda pulang.” Veanna tersenyum kecil sambil menatap makanan yang ada di hadapannya. “Terimakasih.” Christopher menatap sejenak. “Untuk?” “Karena sudah menolakku dengan cara yang tidak membuatku merasa dipermalukan." Christopher tersenyum tipis, sambil menikmati makan malamnya dengan santai. "Saya hanya berusaha menghormati keputusan Nona, sekaligus mempertahankan keputusan saya." Veanna mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak lagi merasa malu atas ucapannya. Yang ia rasakan justru sebuah ketenangan. Mungkin benar… Tidak semua orang bisa dibeli dengan uang. Dan mungkin, itulah alasan mengapa Christopher terasa begitu berbeda dibanding siapa pun yang pernah ia temui. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD