Veanna mengetuk jarinya di meja riasnya. Dia memutuskan untuk pergi ke kantor pagi pagi sekali. Selain untuk menghindari sarapan bersama dengan kakek, setidaknya dia juga bisa menghindari Sherly dan Briand yang selalu duduk berdampingan setiap sarapan bersama. Pria itu seolah sedang menunjukkan pada dunia jika wanita yang duduk di sebelahnya adalah wanita yang paling dia cintai seumur hidupnya. Terlihat muak, makanya Veanna memilih untuk pergi lebih dulu. Dia bisa beralasan jika ada kerjaan dadakan yang harus diselesaikan lebih cepat.
Masuk ke dalam mobil jemputannya, Veanna sedikit mendengus menatap Christopher yang terlihat kaku di sampingnya. Pria itu mengenakan setelan hitam dan kemeja putih, ini terlalu formal untuk Veanna yang tidak suka pria serius. Bahkan jika dilihat dia bisa saja berpakaian santai jika ingin mengawal Veanna.
“Kenapa penampilanmu kaku sekali?” Tanya Veanna untuk mencairkan suasana di antara mereka.
“Saya sedang bekerja Nona.”
“Tapi kamu bisa berpakaian santai, misalnya.”
Christopher tidak menjawab, dia lebih memilih melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Sedangkan Veanna terus saja mengeluh dan berbicara tentang penampilan Christopher. Dia bisa saja berpenampilan santai, seperti film yang sering ditonton. Seorang pengawal yang tidak terlihat seperti pengawal. Contohnya, dia tidak harus menggunakan setelah hitam ini ketika bersama dengan Christopher. Maksudnya seperti ini … jika ada sesuatu yang mencurigakan, orang akan berpikir jika Christopher sedang bersama dengan supir tidak dengan pengawal. Jadi kalau misalnya ada orang yang akan berbuat jahat atau melakukan hal aneh pada Veanna itu akan mudah terbaca. Dia lebih suka melihat Christopher berpenampilan santai seperti semalam ketimbang pagi ini yang terlihat kaku dan membosankan.
Pria itu hanya tersenyum kecil, tapi ini sudah pekerjaannya sebagai pengawal. Dia tidak mungkin tidak menggunakan seragamnya dengan baik, jika tidak, agensi akan turun datang dan memperingati pria itu tidak suka hal itu terjadi. Makanya, dia bekerja sesuai dengan jobdesknya kali ini.
“Aku tau … tapi ini terlalu formal, kau bisa lebih santai. Lagian agensi mu itu tidak mungkin mengikutimu bekerja setiap hari kan?”
“Benar.”
“Makanya, mulai besok tolong berpenampilan santai saja. Aku ingin tahu orang seperti apa yang ingin berbuat jahat dan menjatuhkanku sekarang.”
Christopher hanya mengangguk kecil, dia melirik Veanna dengan ujung ekornya. Dimana terlihat jelas wanita itu kurang tidur, dia menguap beberapa kali. Kantung matanya terlihat jelas jika dia cukup lelah dan banyak pikiran. Tapi anehnya, kenapa dia keluar dari gerbang rumah Costa? Ada hubungan apa Veanna dengan keluarga Costa?
Sesampainya di depan kantor, Veanna tak langsung turun melainkan menatap Sekeliling tempat ini dan memastikan jika Shandra sudah datang. Tapi sayangnya, mobil wanita sialan itu belum ada itu tandanya dia belum datang ke kantor.
“Mungkin kita terlalu pagi, kantor ini masih sepi.” Kata Veanna.
Christopher hanya berdehem saja. Bagaimana tidak terlalu pagi, kantor buka jam delapan pagi sedangkan mereka berangkat jam setengah enam pagi. Jarak antara kantor dan rumah Veanna hanya berjarak tiga puluh menit jika tidak macet. Dan pagi ini jalanan cukup longgar sehingga Christopher bisa melakukan mobilnya dengan sedikit cepat. Dia pikir Shandra akan datang lebih awal untuk menyiapkan sesuatu atau apa pun itu, tapi yang ada jangankan Shandra security saja juga belum ada yang datang untuk berdiri di depan pintu lobby kantor.
Veanna membuka mulutnya untuk berbicara dengan pria dingin di sampingnya. Tapi yang terjadi, suara perutnya lebih dominan karena dia harus melewatkan sarapannya hari ini dan lupa untuk membeli satu potong roti untuk mengganjal perutnya. Wanita itu menggigit bibir bawahnya karena malu, rona pipinya benar-benar kontras dengan kulit putihnya yang pucat. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, berharap jika pria di sampingnya tidak mendengar suara perutnya.
“Saya ingin pergi sebentar, tolong tetaplah di mobil.” Ucap Christopher dan membuat Veanna mengangguk kecil.
Setelah kepergian pria itu, Veanna langsung mengambil ponselnya dan menelepon Shandra untuk cepat datang ke kantor. Dia sudah berada di depan kantor yang masih sepi, ada banyak hal yang harus mereka bahas berdua pagi ini sebelum meeting dimulai.
“Ya Tuhan …. Veanna kau benar-benar mengganggu hidupku!!” Geram Shandra.
“Aku tidak peduli, cepat bangun dan temui aku di kantor!!!”
***
Usai sarapan bersama dengan Christopher di dalam mobil, Veanna menatap mobil Shandra masuk ke dalam area parkir kantor. Wanita itu tersenyum geli sambil menghabiskan s**u tanpa rasa dengan cepat. Dia menatap Christopher yang masih dalam posisi sama, pria itu tidak bergerak sama sekali dan seolah cukup waspada dengan sekitar. Untuk sekarang mungkin keadaan Veanna masih aman, tidak tahu jika setelah itu. Dan sampai saat ini wanita itu tidak tahu apa fungsi Shandra menyewa satu bodyguard untuk dirinya.
“Shandra sudah datang, aku harus ke kantor dulu. Kamu—”
Belum sempat mengatakan sesuatu pria itu sudah turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuknya. Veanna tersenyum kecil atas sikap Christopher. Sejujurnya supir di rumahnya juga begitu tapi entah kenapa wanita itu lebih suka jika pria itu yang melakukannya. Veanna meminta Christopher untuk menunggunya di bawah mungkin acara ini tidak membutuhkan waktu yang lama. Atau mungkin pria itu bisa saja pergi kemana jika merasa bosan menunggu Veanna. Meeting iklan ini membutuhkan waktu satu sampai dua jam. Dia bisa menjemput Veanna sekitar jam sepuluh pagi. Itu pun jika sudah selesai, takutnya ada jam molor yang tidak disukai oleh Veanna.
“Nanti aku telepon kalau sudah selesai.” Ucap Veanna.
“Baik Nona.”
Berjalan menuju ke arah mobil Shandra, wanita itu mengetuk kaca mobil Shandra dan mengajaknya masuk ke kantor. Mereka akan berbicara di ruangan kerja Shandra, jangan sampai ada orang lain yang mendengar. Karena di kantor ini dindin saja bisa memiliki telinga.
“Aku masih bingung untuk apa kamu datang ke kantor sepagi ini. Aku benar-benar masih ngantuk, Veanna.” Dengus Shandra.
“Ayo masuk dulu, nanti aku jelaskan.”
Shandra mengikuti, mereka masuk ke kantor dan berakhir di ruangan kerja Shandra. Veanna mulai mulai menjelaskan jika dia sedang menghindari sarapan bersama dengan keluarga Briand, lebih tepatnya dengan kakek. Dia tidak ingin dia beri pertanyaan yang sama setiap hari, kapan punya cucu? Kapan kalian aku memiliki anak? Sedangkan Shandra tahu jika selama ini Veanna dan juga Briand tidak pernah tidur dalam satu ranjang. Kamar mereka berpisah, meskipun di lantai yang sama. Itu sebabnya selama empat tahun Veanna hanya menjalani pernikahan kosong dengan Briand demi keluarganya saja. Jika mobil memilih dia juga tidak ingin dalam situasi seperti ini.
Shandra mengangguk kecil. “Terus kamu mau sampai kapan seperti itu?”
“Aku juga tidak tahu mau sampai kapan. Bahkan ide gila mu kemarin sudah aku jalankan.”
Shandra membelalakkan matanya. “Wait!! Ide gila?” Menatap raut wajah Veanna dengan tidak percaya, wanita itu memastikan jika dia tidak melakukan hal yang aneh semalam. “Jangan-jangan … .”
“Jangan banyak menebak!!” Seru Veanna kesal. “Aku bahkan harus menahan malu karena penolakan itu.”
Shandra menggulung bibirnya untuk tidak tertawa. “Veanna aku hanya bercanda, aku tidak mungkin menjerumuskan mu dalam hal seperti itu. Christopher bukan orang sembarangan, Veanna.”
Mendengar ucapan itu Veanna langsung menajamkan pandangannya ke arah Shandra. Apa maksudnya? Apa Shandra tahu asal usul Christopher? Kenapa jawaban Shandra sesuai dengan apa yang terjadi semalam, jika pria itu bukan orang sembarangan? Kenapa? Apa Shandra tahu sesuai yang dimana Veanna tidak tahu apapun?
****