Bab-06

1098 Words
“Hai Veanna baru pulang?” Sapa Sherly. Veanna hanya melirik tanpa ada niatan untuk menjawab, hal itu memang membuat Sherly sedikit kesal karena merasa diabaikan. Bahkan wanita itu sudah mulai mendrama ketika Briand melihat wajah sedihnya dan mulai mengadu. Veanna yang mendengar pun tersenyum kecil, wanita licik seperti itu yang dicintai Briand mati-matian. Jujur saja sebenarnya Veanna sangat muak dengan drama Sherly. Sejak menikah dan pertama kali datang ke rumah ini, wanita itu terus saja mencari alasan dan perhatian Briand untuk terus melindunginya. Seolah dia adalah wanita paling lemah dan harus dilindungi satu dunia. Dan bahkan hampir seluruh keluarga ini percaya dengan wajah polos, sikap manis dan sikap sok peduli Sherly. Mereka seolah menyayangi Sherly seperti wanita itu bagian dalam hidupnya. Tapi anehnya, kenapa kakek malah menjodohkan Briand dengan Veanna? Sedangkan dia tahu jika cucunya itu cinta mati dengan Sherly. “Kamu tidak dengar ya Sherly sedang menyapamu?” Seru Briand yang mulai ikut kesal karena habis menatap wajah Sherly yang terlibat menyedihkan di mata pria itu. Veanna menatap sejenak lalu mendengus sebal. “Dengar. Aku hanya lelah dan ingin cepat istirahat.” “Apa susahnya menjawab ucapan Sherly, Veanna!! Kamu itu egois banget sih!!” Veanna yang memang lelah seharian ini pun melempar tasnya, mendekati Briand dan berkacak pinggang di depan pria itu. “Katakan sekali lagi!! Kamu bilang aku egois? Lalu kamu itu apa membawa wanita lain di rumahmu yang dimana istrimu sedang lelah pulang kerja. Aku yang egois atau kamu yang tidak tahu posisi kamu, Briand!!!” Briand marah mendengar hal itu apa yang tidak dia mengerti selama ini. Dia selalu mengerti apa yang dia lakukan, dia hanya mengundang Sherly untuk makan malam bersama. Sejak dulu keluarga Briand dengan Sherly baik-baik saja dan makan bersama selalu mereka lakukan selama Sherly ada disini. Kakek juga tidak keberatan dengan hal itu, makanya dia berada di rumah ini hampir setiap hari. Seharusnya Veanna mengerti akan hal itu bukan malah marah dan mengabaikan orang lain. Mengepalkan tangannya Veanna memilih tersenyum kecil. “Kalau begitu makan malam saja bersama dengan Sherly. Aku tidak ingin satu meja dengan wanita asing di rumah ini!!!” “Veanna jaga ucapanmu ya!! Sherly bukang asing, dia keluarga kita juga!! Ini yang ngebuat aku malas jika harus berdua denganmu, karena tidak ada kata tidak bertengkar diantara kita. Jangan kekanakan hanya masalah sepele!!” Bagi dia memang sepele, tapi bagi Veanna tentu saja tidak. Selama empat tahun apa yang terjadi apakah Briand sadar dengan semua itu? Tentu saja tidak, dia lebih percaya dengan apa yang Sherly katakan. Dia lebih percaya dengan apa yang terjadi dengan Sherly, mau sesekarat apapun jika itu Veanna pria itu tidak akan peduli. Tapi jika orang yang terluka itu adalah Sherly, satu dunia harus tahu jika wanita itu harus dijaga seperti berlian yang hilang di tumpukan jerami. Itulah kenapa pernikahan yang berjalan selama empat tahun ini terasa kosong. Tidak ada obrolan yang sesuai dan juga pengenalan diri satu sama lain. Makanya, dua bulan setelah menikah Briand benar-benar menjaga jarak dan memilih tidur sendiri juga karena ulah Sherly. Veanna tahu jika wanita itu sangat mencintai suaminya. Tapi ketika Veanna menantang Sherly untuk menikah diam-diam dengan Briand, wanita itu tidak mau. Jelas saja wanita itu pasti ada maksud tersembunyi atau ada hal lain dari keluarga Briand. Padahal itu kesempatan bagus untuk mereka menikah secara diam-diam. “Sialan!! Benar-benar sialan!!! Orang bodoh memang pantas untuk bersama!!!” Gerutu Veanna. *** Suara ketukan dan pintu terbuka membuat Veanna membalik badannya, dia berniat untuk melepas cardigannya dan pergi istirahat. Tapi pelayan yang satu ini datang dengan wajah yang tertunduk. Ini sudah pukul sembilan malam dimana semua orang harus beristirahat tenang di dalam kamar mereka masing-masing. “Ada apa?” Tanya Veanna lebih dulu. Dia menatap pelayan itu yang meremas kedua tangannya dengan gelisah. “Maaf Nyonya, tapi Tuan Besar memanggil Anda untuk datang ke ruangannya sekarang.” Jantung Veanna berdegup lebih cepat, dia bahkan sampai menarik nafasnya berkali-kali karena merasa sesak di dalam dadanya. “Apa kakek belum istirahat?” “Belum. Beliau menunggu Anda, Nyonya.” Veanna mengangguk pelan, meminta pelayan itu untuk segera pergi. Sekali lagi, wanita itu menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya meninggalkan kamar ternyaman untuk pergi menemui kakek. Langkahnya terasa berat menelusuri lorong rumah ini, entah mengapa firasatnya mengatakan jika pertemuannya dengan kakek ini bukanlah obrolan yang ringan. Sesampainya di depan ruangan kakek, Veanna menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang. Sudah jelas jika hanya dirinya saja panggil dan tidak mungkin Briand mau ikut. Atau mungkin pria itu akan beralasan jika dirinya sedang sibuk untuk mengurus perusahaan keluarga Sterling. Yang dimana pemimpinnya suka sekali hilang dan muncul sesuka hatinya. Mengetuk pintu pelan dan mendapat instruksi dari dalam. Veanna masuk secara perlahan dan menatap kakek tua itu berdiri di dekat jendela sambil menatap lurus ke depan. Menyadari sesuai kakek pun membalik badannya dan mulai tersenyum. Senyum damai dan penuh dengan ketenangan. Kakeknya begitu tenang dan penyayang, sayangnya dia harus memiliki cucu yang bodoh dan naif itu. “Kamu belum tidur, Veanna.” Tanya Kakek. Veanna tersenyum tulus dan mendekati kakek itu dengan gugup. “Belum, tumben sekali jam segini Kakek belum tidur?” Kakek tidak menjawab, dan meminta Veanna untuk duduk di sampingnya. Keheningan mulai menyelimuti keduanya, tidak ada satu suara pun yang muncul dari bibir mereka. Sampai akhirnya kakek pun menuangkan teh hangat ke dalam cangkir kecil. Dan mendorongnya ke arah Veanna. “Minumlah.” “Terimakasih Kek.” Wanita itu menggenggam erat cangkir teh itu kuat-kuat. Hangatnya teh tidak mampu mengurangi rasa kegelisahan yang Veanna rasakan kali ini. Jujur saja jika boleh memilih mungkin dia ingin pergi dari tempat ini sekarang juga. “Kamu tahu kenapa Kakek memanggilmu kesini?” Veanna menggeleng. Meskipun dia tahu apa maksud dari undangan minum teh malam ini. Tapi lebih baik dia tidak tahu apa-apa ketimbang dia harus tau arah ucapan kakek dan mencari alasan yang masuk akal kembali. “Usia Kakek sudah tidak muda lagi, Nak.” Kata Kakek, yang dimana membuat Veanna mengangkat kepalanya untuk menatap pria tua di sampingnya itu. “Tenaga Kakek sudah berkurang banyak, bahkan untuk berjalan saja Kakek sudah mudah lelah.” Katanya kembali dan membuat Veanna semakin gelisah. “Kakek tolong jangan katakan apapun.” “Itu kenyataannya, Veanna. Semua orang akan menua seperti Kakek yang hidupnya tinggal menghitung hari.” Veanna semakin diam, perasaannya semakin kacau. “Kakek hanya berpikir, kalau suatu hari Kakek sudah tidak ada, setidaknya Kakek bisa melihat generasi berikutnya lahir.” “Kek—” “Bolehkan Kakek berharap?” Veanna menundukkan kepalanya harapan terbesar seorang pria tua yang begitu menyayanginya kini berada di pundaknya. Namun, ia sendiri masih belum tahu bagaimana cara mewujudkannya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD