Bab-07

1052 Words
Veanna kembali ke kamarnya dengan frustasi, dia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Siapa lagi jika bukan Christopher. Dia adalah satu-satunya jalan untuk Veanna, persetan dengan semua itu dan ucapan pria itu kemarin. Malam ini juga Veanna ingin tidur bersama dengan Christopher untuk menghasilkan anak. Dia tidak mungkin tidur bersama dengan Briand yang tidak mau menyentuhnya. Hanya dia pria yang di dekatnya, dia tidak mungkin melakukan bayi tabung karena waktunya yang cukup singkat. Kita masih bisa berandai, tapi Tuhan punya rencananya sendiri. Mungkin saat ini kakek masih hidup, bagaimana dengan hari esok? Deringan pertama tidak ada jawaban, sampai akhirnya deringan ketika pria itu baru menerima panggilan dari Veanna. Wanita itu meminta Christopher untuk menjemputnya di ujung jalan, dia tidak ingin semua orang tahu tentang Christopher termasuk Briand juga. Hanya bermodalan ponselnya wanita itu memilih pergi dari rumah ini. Berjalan menelusuri jalanan sampai diujung, wanita itu menatap satu mobil mewah yang terparkir indah disana. Veanna segera masuk dan melepas topinya. Tapi yang ada di dalam mobil ini Veanna malah mencium aroma rokok yang cukup kuat, sehingga membuat wanita itu sedikit batuk. Reaksi itu membuat Christopher langsung mematikan rokoknya dan membuangnya. Dia tidak tahu jika wanita yang saat ini duduk di sampingnya tidak bisa menghirup aroma rokok sedikitpun. Hingga akhirnya pria itu memberikan satu air mineral agar batuk yang di deritanya sedikit reda. “Kita akan kemana?” Veanna hanya diam, menatap lurus ke jalanan ibu kota. Sejujurnya ini bukan ide yang bagus tapi dia harus melakukan hal ini karena terpaksa. “Tempat tinggal mu.” Ucapan itu langsung membuat Christopher menoleh kaget, dia menatap Veanna dengan lekat seolah menyakinkan apa yang dia katakan itu benar atau hanya sekedar gurauan saja. “Untuk apa?” Veanna menoleh. “Apa salah aku ingin tahu tempat tinggalmu? Apa hanya Shandra saja yang boleh tahu tempat tinggalmu?” Mendengar hal itu Christopher tak enak hati, selama ini yang tahu tempat tinggalnya hanya Shandra saja. Dan malam ini bosnya ingin tahu tempat tinggalnya untuk apa? Tidak mau menolak dan menyakiti wanita itu Christopher pun mengajak Veanna untuk pergi ke apartemennya. Selama perjalanan hanya ada hening diantara mereka, Christopher yang sibuk dengan jalanan ibukota. Sedangkan Veanna yang sibuk menyusun rencana agar malam ini bisa tidak bisa dia harus tidur dengan Christopher. Apapun itu, tapi … bagaimana caranya? Tak lama mereka pun sampai di parkiran gedung yang tinggi dan mewah. Jika dilihat gedung ini dan tempat ini hanya orang-orang tertentu yang bisa menyewa, karena harga sewa yang lumayan mahal untuk seseorang kelas menengah ke bawah. Bisa tapi harus patungan. Melihat gedung ini banyak sekali pertanyaan yang ada di pikiran Veanna sekarang. Dan dia membenarkan jika Christopher bukanlah orang sembarang. Rasanya aneh jika tiba-tiba dia datang sebagai pengawal. Apa mungkin dia sedang menyamar? Di lantai delapan nomor empat puluh dua itulah kamar Christopher . Wanita itu masuk setelah dipersilahkan. Hal pertama yang dia lihat adalah bartender kecil dekat dengan sofa ruang tamu. Wanita itu berjalan ke arah sama dan mengambil satu gelas kosong dan menuangkan cairan coklat ke dalam sana. Lalu menambahkan lima kotak ice dan juga perasaan lemon agar terlihat segar. Dia hanya duduk di meja panjang yang menghadap ke arah jendela. Tatapannya kosong, tapi tangannya terus bergerak mengangkat minuman itu ke arah mulutnya. Christopher yang melihat hal itu pun mendengus, ini pertama kalinya dia membawa wanita lain ke rumahnya. Membiarkan wanita itu menggunakan gelas kristalnya untuk menikmati satu gelas wine untuk mengusik banyaknya pikiran. Pria itu mendekat. “Ada masalah?” Veanna tidak menjawab, dia lebih memilih menikmati satu botol tequila dengan nafas yang cukup berat. Christopher tak bertanya lebih jauh lagi, dari tarikan nafasnya saja dia tahu jika wanita yang masih berdiri tegak di samping meja itu memiliki masalah yang cukup berat. Lebih baik diamkan saja sampai dia benar-benar bosan dan mulai bercerita. Sedikit menjauh pria itu mulai menyalakan satu batang rokok dan kembali dia hisap dengan tenang. Sesekali menatap Veanna yang tidak bergerak dari posisinya. Sedangkan botol yang dia pegang sudah hampir habis. “Nona tolong katakan sesuatu.” Ucap Christopher yang mulai khawatir. Veanna menoleh singkat, matanya sudah mulai buram, bahkan dia harus mengedipkan matanya berkali-kali untuk memastikan jika orang yang baru saja bertanya adalah Christopher pengawalnya. “Apa?” Pria itu mendekati Veanna dengan pelan, mengambil botol dan juga gelas yang dipegangnya. Setelah itu ingin menarik tangan wanita itu dan membawanya ke kamar hanya untuk istirahat. Tapi sayangnya, wanita itu lebih dulu mendorong tubuh Christopher bergantian bersandar di pinggiran meja setengah pinggang itu. Kedua tangan mungil yang menghitung tubuh kekar Christopher dengan jarak yang lumayan dekat. “Apa yang kau lakukan Nona. Kau terlalu banyak minum.” Katanya. Veanna tertawa kecil. “Tidak!!! Aku hanya menuang satu gelas saja.” Christopher tak menjawab, dia membiarkan Veanna yang mulai mengoceh tak jelas disana. Sedangkan Christopher mencoba untuk menjauhkan wanita itu dari dirinya. Dan sialnya ketika pria itu menepis tangan Veanna yang ada wanita itu malah terjatuh ke arah depan, sehingga benda kenyal itu harus menyentuh leher dan juga dadanya. Membuat kedua mata pria itu membelalak dengan lebar. “Apa yang kau lakukan!!” Seru Veanna kesal. Tapi setelahnya dia pun mengalungkan kedua tangannya pada leher jenjang Christopher dan tertawa. “Kenapa malam itu kau menolakku? Aku tidak mungkin sestres ini jika hari itu terjadi.” katanya kembali. “Nona jaga batasanmu.” “Tidak!!! Malam ini aku benar-benar terpaksa Christ, tolong jangan tolak aku.” “Kau sudah mabuk, sebaiknya kamu tidur, Nona.” Tidak mungkin memulangkan Veanna dalam keadaan mabuk, pria itu membawa Veanna masuk ke dalam kamarnya dan memintanya untuk istirahat. Dia akan tidur di sofa depan untuk menjaga Veanna. Tapi … ketika sesampainya di dalam kamar, Veanna yang lebih dulu mendorong tubuh Christopher hingga terlentang di atas tempat tidurnya. Wanita itu buru-buru duduk di atas perut pria itu agar dia tidak bangun dengan segera. “Nona tolong turunlah.” Veanna tidak mendengar, dia lebih memilih menggigit telinga Christopher dengan gaya sensual. Mengecup leher jenjangnya hingga meninggalkan bercak merah disana. Bahkan ketika bibir mereka hampir saja bertemu, Christopher mendorong tubuh Veanna yang masih dalam posisi di atas untuk berhenti. Dia tidak ingin melakukan hal ini, bagaimanapun Christopher tidak ingin tersiksa semalaman hanya karena ulah Veanna. “Nona tolong sadarlah.” Ucap pria itu mengguncang tubuh Veanna. Veanna tertawa kecil, dia menepis tangan Christopher dan kembali menunduk. “Aku ingin melakukannya malam ini, Christ!!!” ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD