Pukul enam pagi, rumah keluarga Costa masih diselimuti suasana tenang. Sebagian besar penghuni rumah belum turun dari lantai atas, hanya beberapa pelayan yang sibuk menyiapkan sarapan di dapur.
Di lantai dua, Veanna menutup resleting koper terakhirnya. Dua koper besar dan satu tas jinjing telah berjajar rapi di depan pintu kamar. Ia memandang sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Tur promosi album selama satu minggu bukanlah perjalanan singkat. Sekali ada yang terlupa, akan sulit mencarinya di kota lain.
Dan semalam obrolan mereka tak hanya membahas soal apa yang harus dibawa. Tapi juga Shandra bilang jika kali ini tour pertama semua tiket sold out dimana-mana. Veanna sempat tidak percaya dengan hal itu, tapi Shandra terus menyakinkan Veanna jika promosi album mereka cukup berhasil dan membuat stadion dipadati oleh banyaknya penonton. Hal seperti itu tentu saja membuat Veanna tersenyum tulus, setidaknya … Di tengah rumitnya kehidupan pribadinya, masih ada satu hal yang selalu berhasil membuatnya bahagia. Musik. Dan besok, selama satu minggu penuh, dia akan kembali berdiri di atas panggung sebagai Veanna yang dikenal jutaan orang.
Menyeret kedua kopernya dengan perlahan, diujung tangga Veanna menatap kakek yang telah menunggunya disana. Pria tua itu terlihat gelisah tapi sebisa mungkin Veanna menunjukkan senyum manisnya di hadapan kakek.
“Kamu berangkat sekarang?”
“Iya Kek, hari ini mulai tour.”
Kakek tersenyum sambil menghentakkan tongkatnya pelan. “Kakek hampir lupa. Semoga tourmu berjalan dengan lancar ya.”
Veanna tersenyum kecil, dia pun menyentuh punggung tangan kakek dengan lembut. Dia hanya pergi tour selama satu Minggu, dan setelah itu dia akan segera pulang ke rumah ini. Kakek tidak perlu khawatir dengan hal itu, dia akan menjaga kesehatan dan juga kondisinya selama tour. Ini bukan yang pertama kalinya, bahkan entah sudah yang keberapa dan hasilnya cukup memuaskan. Kakek njha mengingatkan kondisi Veanna selama ini yang sulit sekali makan bahkan jarang makan dan kakek berpesan untuk terus terus video call agar kakek tahun jika wanita itu juga istirahat selama tour berlangsung.
“Tenang saja, aku akan lebih sering telepon Kakek setelah ini. Aku pergi dulu ya, jaga kesehatan ya Kek.”
Kakek hanya mengangguk sambil menatap dua koper besar di tangan Veanna. Wanita itu berjalan ke arah depan yang dimana Christoper telah menunggunya. Wanita itu tersenyum kecil dan memberikan dua koper itu pada Christopher. Lalu, duduk di sebelah kemudi dan memejamkan matanya. Dia masih kantuk dan harus terpaksa berangkat sepagi ini karena Shandra dan kru lainnya sudah berangkat lebih dulu.
Kakek yang melihat pria memasukkan dua koper besar milik Veanna pun menyipitkan pandangannya. Apa dia tidak salah lihat? Orang itu seperti dia kenal tapi karena pandangannya cukup buram sehingga membuatnya sedikit kesulitan untuk mengenali pria itu.
“Shandra bilang, dia sudah berangkat tinggal kita saja yang belum.” Ucap Veanna ketika merasa Christopher sudah duduk di sampingnya.
“Kalau begitu kita berangkat sekarang.”
***
Perjalanan menuju kota pertama memakan waktu beberapa jam. Selama di perjalanan, Veanna lebih banyak memejamkan mata sambil mendengarkan demo lagu yang akan dibawakannya malam nanti. Sesekali ia membuka mata ketika Shandra mengirimkan beberapa revisi kecil pada susunan acara melalui ponselnya.
Mobil akhirnya memasuki area belakang gedung pertunjukan.
Beberapa truk yang membawa perlengkapan panggung sudah lebih dulu terparkir rapi. Kru produksi berlalu-lalang dengan headset di telinga, sementara beberapa petugas keamanan berjaga di setiap akses masuk.
Christopher mematikan mesin mobil, lalu turun lebih dulu untuk membuka pintu belakang. "Kita sudah sampai, Nona."
Veanna mengangguk pelan sebelum turun. Matanya langsung menyapu bangunan megah di hadapannya. Spanduk berukuran besar dengan wajahnya terpampang di sisi gedung, lengkap dengan tulisan The Echoes Tour – First Stage.
Wanita itu menghela nafasnya lega. “Rasanya sudah lama sekali tidak seperti ini.”
Christopher melirik kesana kemari memastikan jika tempat ini aman dan cukup untuk menjaganya. “Mereka semua menunggu penampilan, Nona.”
Veanna tersenyum geli. “Itulah kenapa aku tidak boleh mengecewakan mereka.
Belum sempat Christopher menjawab dan sudah terdengar suara teriakan dari arah backstage. Veanna mendengar suara langkah kaki tergesa gesa yang berjalan ke arahnya. Tanpa menoleh pun Veanna tahu jika itu adalah ulah Shandra. Siapa lagi jika bukan wanita itu yang mungkin saja akan mengomel melihat kedatangan Veanna yang terlambat dua menit ini.
“Veanna … .” Teriaknya.
Shandra datang membawa map dan juga tablet yang terus dia bawa kemanapun dia berada. Wajahnya terlihat sedikit panik meskipun dipaksa harus tersenyum di depan banyak orang. Jangan sampai orang tahu jika dirinya panik dan semua ini akan kacau baku karena kepanikannya dia.
“Akhirnya kamu datang juga, Veanna.” Kata Shandra lega.
Veanna tertawa kecil. “Aku hanya terlambat dua menit saja.”
Tetap saja dua menit itu adalah waktu yang cukup berharga untuk Shandra dan juga yang lainnya. Ternyata Veanna tidak banyak berubah, dia masih suka telat meskipun sudah punya pengawal. Yah, walaupun telahnya tidak pernah banyak tetap saja hal itu mampu membuat jantung Shandra hampir lepas dari tempatnya. Wanita itu menggeleng kecil sambil memberikan kartu pengenal pada Veanna. Hari ini backstage cukup ketat karena banyak orang, sehingga pengawalannya di perketat. Dan Shandra meminta Christopher untuk tidak jauh-jauh dari Veanna apapun yang terjadi. Dia harus menjaga Veanna untuk tetap aman dan tidak ada luka sedikitpun.
“Persiapannya gimana?” Tanya Veanna sambil mengalungkan id pada lehernya.
Shandra menoleh sejenak, dia menunjukkan pada Veanna jika malam ini semuanya tertata rapi dari sound, panggung, lampu LED semuanya tersusun dengan rapi, tinggal fitting terakhir, istirahat sejenak lalu setelah itu Veanna akan perform di depan banyak orang.
Wanita itu sedikit gugup tapi sebisa mungkin dia mengendakikannyam Christopher meminta Veanna untuk segera berganti pakaian karena semua orang sudah menunggu. Pertunjukan beberapa menit lagi dan pria itu rasa sedikit memoles make up an juga mengganti baju sudah lebih dari cukup. Buru-buru wanita itu mengikuti langkah kaki Christopher untuk ke ruang gantian. Sedangkan Shandra dan yang lain kembali sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Seseorang kru menghampiri Shandra dan berkata, “Kak lampu LED sebelah kanan sudah normal. Tinggal menunggu gladi singkat.”
Shandra mengangguk. “Oke lima belas menit lagi kita mulai.”
Di balik tirai itu, ribuan kursi telah menunggu untuk dipenuhi para penggemar..Malam nanti… Bukan hanya album barunya yang akan diperkenalkan. Tetapi juga harapan baru yang diam-diam ingin dia mulai, meski kehidupan pribadinya masih dipenuhi tanda tanya.
"Nona." Suara Christopher membuyarkan lamunannya. "Ruang ganti sudah siap."
Veanna menoleh lalu menganggukkan kepala. "Terima kasih."
Ia melangkah mengikuti Christopher menuju ruang ganti, sementara Shandra kembali sibuk memberikan arahan kepada para kru. Hari pertama tour akhirnya benar-benar dimulai. Dan beberapa jam lagi, Veanna akan kembali berdiri di atas panggung, menyapa ribuan orang yang datang hanya untuk mendengar suaranya.
****