Bab-10

1173 Words
Sorak sorai penonton masih menggema memenuhi seluruh arena ketika lagu terakhir resmi berakhir. Veanna berdiri di tengah panggung sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. Senyum tulus tak pernah lepas dari wajahnya. Di hadapannya, ribuan penggemar melambaikan light stick dan meneriakkan namanya tanpa henti. "Terima kasih sudah datang malam ini!" ucap Veanna sambil mengangkat mikrofon. "Aku harap kita bisa bertemu lagi di kota berikutnya. Hati-hati di jalan, semuanya. Sampai jumpa!" Tepuk tangan kembali membahana. Veanna melambaikan tangannya beberapa kali sebelum perlahan berjalan menuju sisi panggung. Begitu melewati tirai hitam, senyum profesional yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, berganti dengan napas panjang yang ia tahan sejak lagu terakhir selesai. "Kerja bagus, Ve!" "Penampilannya keren!" Beberapa kru menyapanya sambil berlalu-lalang. Veanna hanya membalas dengan anggukan dan senyum kecil sebelum melanjutkan langkah. Di ujung lorong sempit menuju backstage, terdapat beberapa anak tangga besi yang harus dilewati untuk turun dari panggung utama. Dengan gaun panjang yang dikenakannya, langkah Veanna otomatis melambat. Gaun sialan yang selalu saja menjadi masalah dalam hidup Veanna ketika dia sedang tour atau hal lainnya, apa tidak ada gaun yang ukurannya sedikit pendek agar tidak menjadi beban ketika Veanna berjalan? Ia menundukkan kepala, memperhatikan setiap pijakan agar tidak tersangkut pada ujung gaunnya. Saat hendak menuruni anak tangga pertama, sebuah tangan terulur di hadapannya. Wanita itu mendongak, Christopher berdiri satu anak tangga di bawahnya. Wajah pria itu tetap tenang seperti biasa, sementara tangan kanannya masih terulur menunggu. Demi apapun pria dingin itu sedang mencari perhatiannya atau bagaimana? “Hati-hati Nona.” Veanna menatap tangan itu sepersekian detik, lalu menatap penampilan Christopher yang berbeda dari yang lain. Tanpa banyak bicara dia meletakkannya tangannya di atas tangan Christopher dan tersenyum kecil. Genggaman tangan pria itu lumayan mantap, cukup kuat untuk menjaga keseimbangan, tapi tidak begitu berlebihan. Satu persatu wanita itu menuruni anak tangga dengan perlahan. Dan sialnya ujung gaunnya malah nyangkut di sudut pijakan berakhir. Wanita itu kaget hingga harus berjalan mundur satu langkah. Menyadari hal itu Christopher pun menahan Veanna agar tidak jatuh. Gaun yang ribet dan juga heels yang tinggi tentu saja mengganggu langkah kaki wanita itu. “Tunggu sebentar.” Dengan hati-hati Christopher membebaskan ujung gaunnya yang nyangkut tanpa membuat Veanna kehilangan keseimbangan. Begitu kedua kaki Veanna menginjak lantai backstage bersama dengan Christopher, pria itu segera melepas genggaman tangannya. Ada yang bilang dalam dirinya tapi dia harus tahu jika wanita yang dia genggam tangannya bukanlah wanita sembarangan. Jarak kembali seperti semula diantara mereka, seolah sentuhan singkat tadi memang hanya bagian dari pekerjaannya sebagai pengawal. Shandra yang sejak tadi memperhatikan mereka menatap aneh. Tidak seperti biasanya, ada sesuatu yang mungkin belum Veanna jelaskan pada dirinya. Melangkah mendekati, Shandra pun memberikan satu botol minuman pada Veanna. “Selamat ya Ve, pembukaan tour malam ini berhasil memukau banyak orang.” Veanna menerima botol itu lalu meminumnya beberapa teguk. Tenggorokannya masih terasa kering setelah hampir dua jam bernyanyi tanpa henti. Tapi hal itu terbayarkan dengan kepuasan mereka yang ikut bernari, berteriak, bahkan ikut bernyanyi bersama dengan Veanna. Ini jauh tidak seperti tour sebelumnya. "Penontonnya luar biasa." "Sold out," sahut Shandra bangga. "Bahkan masih banyak yang tidak kebagian tiket." Disisi lain Christopher memberikan handuk kecil yang di berikan kru untuk Veanna. Wanita itu menerimanya dengan senyum tipis, yah, seperti biasa tanggapan Christopher hanya sebuah anggukan kecil, senyum tipis dan juga deheman. Entah … tapi Veanna berpikir malam itu dan malam ini dia memiliki dua sifat yang sangat berbeda. Shandra yang menyadari hal itu tersenyum geli, dan meminta Veanna untuk istirahat. Lima belas menit lagi dia masih ada sesi foto bersama sponsor dan juga kompetensi pers. Christopher berdiri sedikit di sampingnya, memberi ruang sekaligus memastikan tidak ada seorang pun yang mendekat terlalu dekat ke arah Veanna. Baginya, penampilan di atas panggung memang telah selesai. Namun pekerjaannya sebagai pengawal baru benar-benar berakhir ketika Veanna kembali ke hotel dalam keadaan aman. *** Sesi foto bersama sponsor berakhir hampir pukul sebelas malam. Lampu kilat kamera yang sejak tadi tak henti menyala akhirnya padam. Veanna masih mempertahankan senyum profesionalnya hingga fotografer mengucapkan kata terakhir. "Baik, selesai. Terima kasih, Veanna." Wanita itu menganggukkan kepala kecil sebelum berjalan menuju ruang konferensi pers yang letaknya tidak jauh dari ballroom utama. Namun pekerjaannya belum benar-benar selesai. Belasan wartawan sudah menunggu dengan berbagai pertanyaan mengenai album terbarunya, konsep tour, hingga rencana kegiatan selama satu minggu kedepan. Veanna menjawab semuanya dengan tenang. Sesekali ia melempar senyum ketika salah seorang wartawan menggodanya mengenai jadwal yang begitu padat. "Semoga tournya lancar." "Terima kasih. Mohon doanya." Tepuk tangan kecil mengakhiri konferensi pers malam itu. Begitu keluar dari ruangan, Veanna langsung menghembuskan napas panjang. Bahunya terasa pegal, sementara kedua kakinya mulai protes karena sejak sore terus mengenakan sepatu hak tinggi. “Capek?” Ucap Shandra. Tentu saja capek, perjalanannya untuk ke kota ini memakan banyak waktu, sehingga dia tidak bisa istirahat dengan tenang. Sesampainya datang dia langsung manggung hingga tengah malam seperti ini. Apakah masih wajar wanita itu bertanya pada Veanna capek atau tidaknya? Protesan itu membuat Shandra tertawa, dia kembali menjelaskan jika besok pagi masih ada sesi siaran langsung bersama dengan radio. Setelah itu mereka harus menuju ke kota lainnya untuk tour ke dua. Mendengar hal itu Veanna benar-benar muak, satu Minggu kedepan … ah tidak … enam hari lagi dia harus mendengarkan ocehan Shandra tentang jadwal apa yang harus dia lakukan. Veanna masuk ke dalam mobil lebih dulu, disusul Shandra yang duduk di sebelahnya. Beberapa menit kemudian, mobil mulai meninggalkan area gedung pertunjukan. Tidak seperti biasanya, suasana di dalam mobil begitu sunyi. Veanna menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil memejamkan mata. Riasan yang masih menempel sempurna tidak mampu menyembunyikan wajah lelahnya. Christopher sesekali melirik melalui kaca spion. Tatapannya berhenti beberapa detik pada Veanna. Sejak pagi… Wanita itu hanya meminum kopi saat berangkat. Siang hari ia melewatkan makan karena harus menjalani gladi bersih. Menjelang tampil, ia hanya memakan beberapa potong buah agar tidak merasa terlalu kenyang di atas panggung. Setelah konser selesai, jadwal kembali dipenuhi sesi foto dan konferensi pers. Artinya… Hampir seharian penuh Veanna belum benar-benar makan. Christopher kembali mengalihkan pandangannya ke jalan. Beberapa menit kemudian, ia memperlambat laju mobil ketika melewati sebuah rumah makan yang masih buka. Shandra yang menyadari perubahan arah itu langsung mengangkat kepalanya. “Kita salah jalan?” Katanya yang dimana membuat Veanna juga langsung menatap sekeliling tempat mereka. “Tidak!!” “Lalu?” “Beri aku waktu lima menit.” Tanpa menunggu jawaban, Christopher turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah makan. Sekitar lima menit kemudian, Christopher kembali. Di tangannya terdapat sebuah kantong kertas berwarna coklat dan dua botol air mineral. Dia kembali duduk di kursi pengemudi sebelum menyerahkan kantong itu ke arah belakang. “Untuk Nona.” Veanna menerimanya dengan bingung, “Apa ini?” “Makanan.” Anak kecil pun juga akan tahu jika ini makanan. Tapi masalahnya Veanna tidak merasa memesan makanan itu pada Christopher maupun Shandra. Kenapa bisa makanan ini berada di tangannya? "Karena sejak pagi Nona belum makan dengan benar." Kalimat itu membuat Veanna terdiam. Dia perlahan membuka kantong kertas tersebut. Aroma sup hangat langsung memenuhi kabin mobil. Didalamnya juga terdapat nasi dan beberapa lauk sederhana yang dikemas rapi. "Kamu…” ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD